Menjadi Kartini

Anda tahu Piccolo? Sebagai orang dengan masa kecil yang bahagia tentu takkan melewatkan kisah Dragon Ball. Makhluk berwarna hijau ini berasal dari Planet Namec. Hal yang unik dari makhluk planet namec ialah caranya bereproduksi, yaitu dengan memuntahkan telor, yang kemudian telor tersebut akan menetas menjadi manusia Planet Namec baru.

Bayangkan jika manusia bumi bereproduksi dengan cara demikian (baca: tanpa proses perkawinan)! Tentu hidup terasa kurang menyenangkan, bukan?

Adalah anugerah Allah, tercipta manusia dalam dua jenis yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Masing-masing jenis memiliki ciri khas dan karakteristik berbeda. Fungsinya sebagai manusia pun tidak sama: sifat khas pada masing-masing genderlah yang membuatnya optimal dalam menjalankan perannya.

Meskipun demikian, bukan hal yang mustahil jika laki-laki mengambil fungsi perempuan dan perempuan mengambil fungsi laki-laki. Namun, sy pribadi melihat, hampir semua (atau semua?) fungsi laki-laki diambil alih oleh perempuan.

Sebagai pencari nafkah? Bukan hal yang aneh di telinga jika seorang istri memiliki penghasilan lebih besar daripada suaminya. Bahkan mungkin kita juga pernah mendengar penghidupan keluarga yang bergantung kepada penghasilan sang istri.

Sebagai pekerja kasar? Pekerja kasar perempuan bisa kita jumpai.

Sebagai pemimpin imperium? Kita mengenal Ratu Victoria, yang pada masa pemerintahannya Inggris begitu digdaya melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia.

Sebagai tukang jotos? Preman? Bodyguard? Ahli beladiri?

Di sisi lain, ada fungsi perempuan yang tidak akan pernah tergantikan oleh laki-laki, yaitu sebagai seorang IBU. Takkan pernah bisa laki-laki mengandung dan menyusu anak. Begitu pula dengan kasih sayang. Adalah fitrah bila anak memiliki kecenderungan dan keterikatan yang lebih kepada ibu. Atau, jika dibandingkan, anak lebih membutuhkan kasih sayang ibu ketimbang ayah—sekali lagi, jika dibadingkan.

Di masa modern ini, sudah lama terjadi pergeseran fungsi seorang ibu. Tidak ada lagi sosok di keluarga yang memberi perhatian penuh dan pendidikan di rumah secara intensif kepada anak. Seringkali fungsi tersebut digantikan oleh PRT.

Tidak sedikit kaum ibu lebih sibuk dengan pekerjaannya ketimbang mengurus anak. Mencari materi dianggap sebagai prioritas utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Dari pagi sampai sore, biarlah anak dipegang oleh PRT, malam harinya baru berinteraksi dengan orang tua—itu pun kalau pulang kerjanya ga kemaleman. Saat beranjak tumbuh, anak sudah mulai bisa mengatur dirinya sendiri. Biarlah ia mengurus urusannya sedangkan sang ibu bekerja makin keras, interaksi baru terjadi jika sang anak membutuhkan uang.

Lebih parah, ada—banyak malahan—ibu yang tidak mau merasakan rasa sakit ketika melahirkan, padahal itu adalah pengorbanan alami seorang ibu. Demi menghindarinya, operasi cesar pun diajukan kepada dokter kandungan. Masyarakat haruslah paham bahwa operasi cesar harus dilakukan berdasarkan indikasi yang benar, semisal gawat janin atau eklamsi (hipertensi & kejang pada ibu hamil). Jika operasi dilakukan tanpa indikasi, maka tindakan tersebut adalah malpraktek.

Semua itu dilakukan atas nama emansipasi dengan tokoh panutannya Raden Adjeng Kartini.

Benarkah Kartini memperjuangkan emansipasi demikian?

Mungkin kita pernah membaca tulisan-tulisan yang mengatakan bahwa pengangkatan Kartini sebagai pahlawan kaum wanita adalah kontroversi. Apa yang sudah Kartini lakukan dibandingkan dengan Cut Nyak Dien—yang turun ke medan perang mengusir penjajah? Di beberapa media bahkan Kartini disebut sebagai propaganda Orde Lama, disukai oleh penjajah Belanda, konspirasi Wahyudi, bla bla bla bla….

Memang betul tokoh-tokoh perempuan seperti Cut Nyak Dien, Keumalahayati, Rohana Kudus, dll sangat pantas diangkat sebagai pahlawan wanita Indonesia. Tapi kenapa hanya Kartini yang dikenang? Hingga sejak bangku SD kita didoktrin tentang tanggal 21 April dan lagu Ibu Kita Kartini.

Terlepas dari alasan pihak pemerintah saat itu, bagi sy pribadi, Kartini ialah tokoh yang sangat pantas mendapat respek besar. Di tahun-tahun sebelumnya memang sy pun berpendapat Kartini tidak pantas menjadi tokoh yang dipanuti negeri ini, hingga beberapa menit lalu membaca surat-suratnya.

Sosok kritis yang mengagumkan! Itulah kesan sy ketika membaca beberapa tulisan-tulisannya. Sy pribadi pun sekarang lebih mengenal beliau sebagai “penguntai kata-kata yang begitu indah”.

Latar belakang kondisi saat itu membuat RA Kartini tidak banyak pilihan. Gelar ningrat membuatnya menikmati pendidikan sekolah, namun itu semua harus putus ketika berusia 12 tahun. “Kelak ketika engkau dewasa Nil, kamu akan menjadi Raden Ayu yang akan disunting atau dinikahi oleh laki-laki keturunan bangsawan yang sederajat dengan kakek atau pun ayahanda kita,” begitu kata kakak laki-lakinya.

Trinil, panggilan akrab Kartini, pun harus mendekam di dalam rumah tanpa merasakan kebebasan dunia luar. Di saat inilah kegelisahan begitu bergejolak, yang akhirnya termuntahkan dalam untaian kata-kata yang begitu indah.

Kesempatan mengenyam pendidikan dasar membuatnya mampu berbahasa Belanda dan bergaul dengan orang-orang Eropa (Belanda) yang sekolah di Jepara. Di tengah pengurungannya, bercarik-carik kertas korespondensi pun mengalir.

“Gadis itu kini telah berusia 12,5 tahun. Waktu telah tiba baginya untuk mengucap selamat tinggal pada masa kanak-kanak. Dan meninggalkan bangku sekolah, tempat dimana ia ingin terus tinggal. Meninggalkan sahabat-sahabat Eropah-nya, di tengah mana ia selalu ingin terus berada.

Ia tahu, sangat tahu bahkan, pintu sekolah yang memberinya kesenangan yang tak berkeputusan telah tertutup baginya. Berpisah dengan gurunya yang telah mengucap kata perpisahan yang begitu manis. Berpisah dengan teman-teman yang menjabat tangannya erat-erat dengan air mata berlinangan.

Dengan menangis-nangis ia memohon kepada ayahnya agar diijinkan untuk turut bersama abang-abangnya meneruskan sekolah ke HBS di Semarang. Ia berjanji akan belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan orang tuanya. Ia berlutut dan menatap wajah ayahnya. Dengan berdebar-debar ia menanti jawab ayahnya yang kemudian dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya yang hitam.

‘Tidak!’ jawab ayahnya lirih dan tegas.

Ia terperanjat. Ia tahu apa arti ‘tidak’ dari ayahnya.

Ia berlari. Ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Ia hanya ingin sendiri dengan kesedihannya.

Dan menangis tak berkeputusan.

Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya.”

(Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1899)

 

“Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah – ini saya ketahui lama kemudian – telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini. Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar. Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi. Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.”

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.” (Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899)

 

“Mengapa kami ditindas? Itu membuat kami memberontak. Mengapa kami harus mundur? Mengapa sayap kami harus dipotong? Tak lain karena tuduhan dan fitnah orang-orang kerdil yang berpandangan picik. Untuk memuaskan orang-orang macam itulah kami harus melepaskan cita-cita kami. Andaikan betul-betul perlu, benar-benar tidak dapat dielakkan, kami akan tunduk. Namun kenyataannya tidak demikian. Segala-galanya berkisar pada pendapat umum. Semua harus dikorbankan untuk itu. Dikatakan: Orang akan bilang ini atau bilang itu, kalau kami lakukan apa yang kami lakukan dengan seluruh jiwa kami. Dan siapakah orang-orang itu? Dan untuk orang-orang macam itu kami harus menekan keinginan kami, harus membunuh cita-cita kami, dan mundur kembali ke alam gelap.” (Kartini, 1901).

 

Ialah kegelisahan sosok kritis yang berontak dengan kebudayaan Jawa saat itu yang membatasi pendidikan bagi kaum hawa. Seolah bernyanyi meskipun tembok yang tinggi menghalangiku, tak satupun yang mempu menghalangiku, tokoh yang dipingit ini pun membaca buku-buku dan surat kabar. Melalui buku-buku itulah Kartini tertarik dengan kemajuan berpikir wanita Eropa. Ia pun mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk ia ajari baca dan tulis.

Kemudian Kartini pun mempelajari istilah emansipasi.

“Bukan hanya suara dari luar saja, suara yang datang dari Eropah yang beradab, yang hidup kembali itu, yang datang masuk ke dalam hati saya, yang jadi sebab saya ingin supaya keadaan yang sekarang ini berubah. Pada masa saya masih kanak-kanak, ketika kata EMANSIPATIE belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. Keadaan sekeliling saya memilukan hati, menerbitkan air mata karena sedih yang tidak terkatakan, keadaan itulah yang membangunkan keinginan hati saya itu. Dan karena suara yang datang dari luar yang tiada putus-putusnya sampai kepada saya, keras makin keras jua, maka bibit yang ada dalam hati saya, yaitu perasaan yang merasakan duka nestapa orang lain yang amat saya kasihi, tumbuhlah, sampai berurat berakar, hidup subur serta dengan rindangnya.” (s.d.a, 25 Mei 1899)

Emansipasi apakah yang diperjuangkan oleh Kartini? Apakah kesetaraan gender, seperti yang sering digembar-gemborkan kaum feminisme?

Berikut adalah surat yang ditujukan kepada Prof. Anton dan Nyonya, 1901

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”

 Kartini juga menulis:

 “Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.

Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak

Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”(Kartini, 1903)

 

Di sinilah letak gagal pahamnya (atau sengaja gagal?) kebanyakan orang akan yang diperjuangkan oleh Kartini. Adalah benar kebebasan berpendidikan yang ia keluhkan dalam surat-suratnya, namun, menurutnya, kenapa kaum perempuan harus berpendidikan? Agar menjadi seorang ibu yang memberikan pendidikan moral kepada anak-anaknya.

Kini, pendidikan sudah bebas dikunyah oleh tiap gender. Namun, ada satu poin perjuangan yang kini malah ditinggalkan, yaitu berperan sebagai ibu yang mendidik anaknya.

Mungkin kebanyakan beranggapan, untuk apa sekolah tinggi kalau pada akhirnya hanya kebanyakan di rumah seperti PRT? Kartini sendiri pun menyatakan, bagaimana seorang ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?

Seorang dosen Teknik Fisika ITB pernah bilang yang kurang lebih isinya, “Buat mahasiswa perempuan, walaupun ada yang berencana menjadi ibu rumah tangga, tetap penting untuk berpendidikan tinggi. Kalau nanti gendong anak, ‘Lucunya kamu, anakku. Senyummu mirip lambang integral.’”

Ibu sy pun sering mengulang pernyataan ini, “Yang menentukan anak pintar itu ibunya. Makanya, kamu carilah jodoh yang pintar sekolahnya.”

Tentu bukanlah hal yang salah jika perempuan bekerja. Bila memiliki manfaat yang bisa diberikan untuk masyarakat, sekaligus menambah penghasilan keluarga, kenapa tidak? Namun, inilah hikmah dalam Islam kenapa kaum laki-laki wajib mencari nafkah sedangkan perempuan tidak wajib. Penghasilan seorang suami wajib diberikan untuk kebutuhan keluarga, sedangkan penghasilan istri adalah hak sepenuhnya untuk digunakan secara pribadi. Mengapa wanita tidak wajib bekerja? Agar memiliki waktu yang cukup untuk mendidik anak. Jika wanita bekerja, mendidik anak tetap merupakan prioritas yang tidak boleh dilupakan.

Di mana-mana dapat ditemukan penyimpangan nilai-nilai kekartinian. Disebutkan para pendaki gunung wanita yang gagah perkasa disebut “Pendaki Kartini” (memang Kartini pernah naik gunung ya?). Begitu juga dengan wanita yang memiliki sederet prestasi yang luar biasa, disebut dengan “Kartini Masa Kini”, padahal belum tentu memiliki kemampuan mendidik anak.

Kemudian, ada satu lagi poin perjuangan Kartini yang hampir tidak pernah disampaikan ke masyarakat luas. Tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis kepada Ny. Van Kol:

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.”

Mengapa kumpulan surat Kartini diberi judul ”Habis Gelap Terbilah Terang”? Judul ini merupakan gagasan Kartini sendiri. Mr. J.H. Abendanon ialah orang yang membukukan surat-surat Kartini, dan buku itu berjudul ”Dor Duisternis Toot Licht, yang dalam Bahasa Indonesia artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Penjajah Belanda melarang penerjamahan Al-Quran ke bahasa jawa karena dikhawatirkan akan menumbuhkan pemberontakan. Kondisi ini membuat Kartini tidak memahami agamanya, dan pikirannya yang kritis berontak, “Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca”. Agustus 1902, Kartini pun menulisAku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.”

Hingga Kartini bertemu Kyai Soleh Darat yang mengajarkan tafsir Al-Fatihah. Seketika itu pula, ia kagum dengan keindahan Al-Quran. “Selama ini Al-Fatihah GELAP bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi TERANG-BENDERANG sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

Kartini mati muda. Empat hari setelah melahirkan anaknya, tepatnya tanggal 17 September 1904, 25 tahun menjadi usia terakhirnya. Sudah sampai mana perkembangan Kartini belajar Islam? Tidak ada keterangan sejarah yang menjelaskan. Pun terjemah Al-Quran yang ditulis oleh Kyai Soleh Darat untuk Kartini hanya sampai surat Ibrahim karena dibatasi oleh usia.

Tanggal 21 April, selain memakai pakaian kebaya dan foto selfie, ada baiknya kaum wanita memperingati tidak hanya jasad, tapi juga hal-hal yang ia perjuangkan. Jika kebebasan berpendidikan sudah tercapai, maka masih ada sisa perjuangan Kartini yang belum tuntas, yaitu mendidik moral anak bangsa dan berupaya memperbaiki citra Islam.

Tiada hal yang lebih menyenangkan ketika berada di kegelapan, selain mendapatkan cahaya. Dan, hanya Allah-lah yang mengeluarkan seorang dari kegelapan menuju cahaya.

”Allah pelindung orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka DARI KEGELAPAN MENUJU CAHAYA…” (Al-Baqarah: 257)

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: