Apa yang Membuat Tulisan Diminati untuk Dibaca?

tulis

Mungkin itu adalah pertanyaan yang berada di setiap benak yang hendak menulis. Memang tujuan merangkai kata tidaklah selalu untuk dibaca oleh orang lain: bisa saja sekedar mengekspresikan diri. Namun sebuah tulisan akan lebih berarti jika dibaca oleh orang—terlebih banyak orang—bukan?

Saat ini saya sedang diamanahi sebagai bidang publikasi tim Ekspedisi Arus Deras Wanadri yang akan menggelar petualangannya di Sungai Kluet, Aceh Selatan. Tugas utama bukanlah mendesain sarana-sarana publikasi semacam spanduk atau baligo—itu dipegang oleh bidang lain—melainkan menulis!

Yak, jika kita akan melakukan sebuah kegiatan besar, sebegitu besarnya hingga membutuhkan kerja besar dan waktu lama, sepertinya akan lebih elok kalau dipublikasikan. Bukan sekedar untuk berbangga diri, namun untuk menyampaikan pesan kepada orang luar tentang esensi sebuah ekspedisi dan petualangan. Lagipula, kegiatan semacam ini merupakan ‘ruh utama’ Wanadri: banyak masyarakat mengenal perhimpunan tentu dari kegiatan petualangan seperti ini.

Mencatat aktivitas tim sehari-hari, mendokumentasikan proses menuju ekspedisi, dan tentu saja menulis catatan perjalanan di setiap latihan adalah tugas utama si kunyuk publikasi ini. Namun ada misi besar buat si kunyuk, yaitu membuat sebuah buku!

Umumnya, menulis buku merupakan sebuah karya yang amat dibanggakan. Betapa banyak orang yang berusaha berkarya dengan merangkaikan tulisan dalam bentuk buku. Sekarang membuat buku pun dipermudah: banyak tumbuh percetakan yang mau menerbitkan buku-buku self-published. Untuk mensosialisasikannya ke masyarakat caranya juga amat variatif. Melalui self-published, penulis tidak harus terikat kontrak dengan penerbit, cukup mencetak sendiri sejumlah yang diinginkan, kemudian melakukan self-marketing. Tawarkan saja ke beberapa toko buku, uang pun masuk jika ada yang berminat dengan buku indie tersebut. Atau cara marketing sekarang amat banyak: mengiklankan buku melalui berbagai media dan menawarkannya ke orang-orang terdekat hingga terjauh.

Wah, terbayang jika buku ekspedisi ini berhasil terbit. Tidak hanya itu, tapi juga tersampaikan ke masyarakat, atau bahkan nongol di toko buku! Terlebih lagi menulis belumlah menjadi budaya di Wanadri. Hanya sedikit perjalanan yang berhasil didokumentasikan ke dalam bentuk buku: bahkan ekspedisi 7 Summit yang membentangkan merah-putih di luar negeri saja belum ada bukunya! Sebuah cita-cita bagi si kunyuk, yang diiyakan oleh seluruh personel. Iya iya saja, tapi tetap tugas ini hanya dibebankan ke satu orang kunyuk ini. Akan menjadi kebanggaan, bukan hanya pribadi, tapi juga tim ekspedisi.

Membuat sebuah buku ekspedisi tentu bisa macam-macam jenisnya. Bisa saja seperti sebuah laporan kegiatan, atau semacam galeri foto dengan sedikit kata-kata keterangan. Hmm, tapi apakah yang bisa membuat orang-orang tertarik untuk membaca buku ekspedisi ini?

Yah, apakah yang membuat orang-orang rela meengorbankan waktu mereka yang berharga hanya demi membaca tulisan?

“Secara teori, ada beberapa faktor, misalkan faktor kedekatan. Kalau kamu menulis kegiatan di Aceh, tentu akan menarik minat orang-orang Aceh,” kata kang Nondi. Akang tua ini bukanlah anggota Wanadri, namun cukup dekat dengan para anggota—terutama para senior—dan banyak memberikan kontribusi bagi perhimpunan.

“Selain itu, kalau ingin memasarkan buku, kamu juga harus menentukan segmen pasar. Apakah cukup terbatas kepada para penggiat alam terbuka, atau untuk umum? Nah, dengan menentukan segmen seperti ini, kamu bisa menentukan tulisan semacam apa yang akan diangkat,” lanjut beliau.

Kalau ingin menjangkau orang-orang umum, tulisan macam apa yang akan menarik minat mereka?

Berdasarkan pengamatan pribadi, orang kebayakan pada masa ini cenderung senang membaca hal-hal yang bersifat inspiratif. Tengok saja apa yang sering diviralkan di berbagai medsos. Selain berita, yang sering dishare berulang kali ialah hal-hal yang menumbuhkan inspirasi.

Apakah hal yang bisa menginspirasi?

“Menurut saya, Kang, tulisan yang umumnya menginspirasi ialah yang berupa cerita. Kisah pengalaman pribadi atau seseorang yang dapat menyentuh sisi emosi pembaca, atau bahkan cerita rekaan yang bisa diambil hikmahnya.”

“Nah, itu! Orang-orang saat ini membutuhkan cerita. Terlebih kalau inspirasi itu dapat diterapkan dalam kehidupan harian,” sambar kang Nondi sambil mengacungkan telunjuknya. “Rekamlah kegiatan ekspedisi kalian dalam bentuk cerita. Jangan hanya sekedar laporan—itu membosankan. Kalian bisa menceritakan hal-hal teknis, tapi angkatlah dalam bahasa yang populer.”

Mengapakah orang pada umumnya membutuh kisah inspiratif? Apakah dari setiap keseharian yang dijalani tidak ada inspirasi yang diambil? Sedang matikah radar mereka—begitu kang Nondi menyebutnya—yang berfungsi menangkap segala fenomena yang ada untuk diambil pelajarannya? Atau, memang saat ini rutinitas telah menjadi jebakan yang begitu menjenuhkan?

Mungkin itulah yang membuat novel-novel—baik kisah nyata atau rekaan—begitu laris di pasaran. Sedang dibutuhkan kisah yang mampu membangkitkan gairah, mendebarkan jantung begitu asyiknya, hingga menitikkan air mata sentimentil. Inspirasi adalah hal begitu dibutuhkan, dan lebih terasa renyah untuk dicerna jika dalam bentuk cerita. Baik itu fiksi atau nyata, sang penutur ceritalah yang memberi warna hitam-putihnya rutinitas.

Apalah manfaat sebuah perjalanan, jika tidak menghasilkan kisah untuk didongengkan? Jika hanya untuk disimpan, yang membuat diri sendiri tertawa geli ketika mengingatnya, tentu sangatlah disayangkan. Mereka butuh cerita-cerita yang begitu mengasyikkan dan mendebarkan, hingga mampu mengurangi waktu tidur mereka hanya untuk menyimak. Perjalanan tanpa sebuah cerita itu percuma, begitu kata seorang senior Wanadri.

Menceritakan perjalanan ekspedisi layaknya dongeng adalah sebuah tugas yang cukup menantang. Menantang? Ya, karena ekspedisi merupakan bentangan yang luas, dan tidak mungkin pengamatan si kunyuk seorang mampu menjangkau seluruhnya. Mampu menceritakan kembali apa yang diceritakan orang, kata kang Nondi, adalah hal yang sangat dituntut bagi pencerita.

Tapi, apakah cerita ekspedisi ini adalah hal yang sangat ingin didengar? Entah, karena manusia sendiri terkadang tidak mengetahui apa yang diinginkan hingga hal tersebut muncul di hadapan. Yang jelas, akan sangat berharga jika perjalanan yang memakan waktu hampir 2 bulan dan membutuhkan persiapan 6 bulan ini diangkat menjadi sebuah cerita.

Advertisements
Categories: merenung, pembelajaran, wanadri | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Apa yang Membuat Tulisan Diminati untuk Dibaca?

  1. Subhanallah bener banget mas, bikin buku! Jangan cuman ditulis di blog, pengalaman yang ga semua orang bisa alamin, bisa jadi sumber inspirasi bagi siapapun. Semangat mas hakam, jangan lupa kalo udah jadi bukunya kasi buat aku satu sebagai ganti double traktirannya, gak bisa gak komen baca tulisan ini hahahaha

    Like

  2. Candra N

    bahwa, perjalanan hanya meninggalkan jejak,dalam benak dan fikiran,jika tidak dituangkan dalam bentuk dokumentasi, kemasan dokumentasi yang menarik untuk disimak adalah bentuk penuturannya,,, bahasa kekinian, atau metafor metafor bak kembang gula warna-warni manis dan renyah,, akan menggiring banyak minat baca,tanpa meninggalkan esensi dari ekspedisi tersebut di paparan cerita nya,,,juga membawa pembaca ikut serta dalam perjalanan melalui paparan cerita tadi,,,kini Sastra pun ber evolusi,,,,dalam kemasan Populer memang banyak menarik Minat pembaca, bahkan para pelaku perjalanan ini yang banyak meng inspirasi,,, bisa dibuat dramaturgi nya ( penokohan) yang senyata- nyata nya,,, karena ini ekspedisi,,, Selamat Berkarya dengan Menulis,,,

    Hormat & Salam

    Candra

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: