Titik Belok

Hidup adalah sebuah perjalanan. Begitu kata banyak orang.

Sebuah perjalanan yang terus berlangsung selama kita hidup. Abah Iwan pernah bilang, “Hidup adalah pengembaraan dari satu waktu ke waktu menuju mati.” Perjalanan ini hanya akan berakhir bila memang telah menemui ajal. Rasulullah saw. pun bersabda, “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)

Bagaimanakah seseorang ketika akan melakukan perjalanan? Tentu ada banyak yang perlu dipersiapkan dan butuh perencanaan yang benar-benar matang. Mau ke mana? Mau pakai apa? Mau lewat mana? Jalurnya bagaimana? Berapa lama? Kondisi jalan yang akan dilalui bagaimana? Apa saja yang perlu dibawa? Dengan siapa saja kita akan berangkat?

Di akhir-akhir ini, penulis berkesempatan untuk mempelajari kembali tentang manajemen perjalanan. Tentu harus ditentukan dulu tempat apa yang akan dituju. Lalu, kenapa ke sana? Tujuan apa yang hendak dicapai? Apakah kondisi di sana sesuai untuk tujuan saya melakukan perjalanan? Misalkan saya ingin belajar navigasi di medan terbuka, tentu jangan sampai memilihi area yang vegetasinya rapat, tapi pilihlah padang rumput atau sabana atau kebun teh.

Setelah dipertimbangkan betul daerah yang akan dituju, yang perlu dicari selanjutnya adalah peta. Persisnya, lokasi mana yang akan dituju berdasasarkan peta? Secara lebh akurat, berapa koordinatnya? Kemudian, perlu ditentukan jalur mana saja yang akan dijadikan lintasan perjalanan. Melalui peta jugalah bisa tergambarkan kondisi medan yang dilalui. Apakah naik, apakah turun, apakah ada sungai?

Namun ternyata tidak cukup peta. Alat komunikasi pun perlu dioptimalkan untuk mendapatkan data informasi lebih mendetil. Di era informasi yang begitu mudah diakses seperti saat ini, adalah aneh jika data-data tidak digali terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan.

Dari data informasi, akan bisa diperoleh apakah jalur jalan kita tersebut sudah ada jalannya atau belum, apakah ada permukiman di sekitarnya, juga dari lokasi kita saat ini transportasi apa yang bisa digunakan untuk mencapainya dan melalui jalan raya apa.

Setelah perencanaan seperti ini selesai, lanjut ke perencanaan lainnya yaitu ke perbekalan, peralatan, transportasi, dan lain-lain, dan lain-lain.

Memang untuk sebuah perjalanan dibutuhkan perencanaan yang benar-benar terkaji. Tidak mengherankan jika perencanaan jauh lebih lama dbandingkan perjalanan itu sendiri. Namun, terkadang—lebih tepatnya sering—walaupun telah disusun sedemikian rupa, banyak hal-hal yang tidak terduga ketika tengah berada perjalanan sehingga tidak sesuai perencanaa. Atau bahkan harus mengubah rencana di saat itu juga.

Karena perjalanan adalah sesuatu yang “hidup”, tidak seperti seorang programmer yang memasukkan algoritma pemograman ke dalam komputer. Karena itulah otak manusia tidak bisa dibandingkan dengan komputer: ia tidak diciptakan untuk berimprovisasi, hanya menjalankan kode yang dimasukkan ke dalam dirinya.

Salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan ketika tengah melakukan perjalanan ialah orientasi. Adalah penting memastikan bahwa kita tengah berada di jalur yang benar, adalah kondisi medan yang tengah dilewati saat ini sesuai dengan yang direncanakan. Caranya orientasi ialah dengan melihat ke kiri dan kanan lalu menyocokkannya dengan gambaran medan yang seharusnya dilewati dalam perencanaan.

Memang terkesan sederhana, tapi percayalah, orientasi merupakan hal yang sering dilewatkan. Ketika tengah berjalan, seseorang kan cenderung terus berjalan tanpa sadar daerah mana yang sedang ia lewati. Dikiranya ia telah berada di jalur yang benar, tanpa sadar mungkin ia telah berbelok di tempat saya salah, atau pergerakannya yang salah, atau jangan-jangan dari titik awal saja sudah salah.

Orientasi sangatlah penting ketika berada di titik belok. Di titik ini orang-orang yang melakukan perjalanan harus benar-benar mampu berorientasi dan yakin bahwa benar mereka telah berada di jalur yang sesuai rencana. Jika gagal berorientasi di titik belok, maka dipastikan perjalanan selanjutnya akan nyasar entah ke mana. Salah belok, sudah tentu tidak akan sampai ke tujuan. Hal yang lebih parah lagi jika tiba di tujuan yang salah namun masih gagal orientasi.

Untuk sebuah perjalanan yang beberapa hari saja membutuhkan perencanaan dan eksekusi yang begitu rinci dan teliti. Sekarang bisa dibayangkan mengenai perjalanan yang begitu besar berupa kehidupan.

Tentu perjalanan kehidupan dibagi menjadi beberapa etape. Kita sering melihat bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang-orang yang berhasil merencanakan hidupnya. Kita juga bisa melihat bahwa orang-orang yang berhasil mencapai tujuan yang diinginkannya ialah—selain kerja keras untuk mencapainya—orang-orang yang sering orientasi bahwa ia berada di jalan yang benar.

Di tengah-tengah perjalanan tentu ada banyak hal yang begitu menggoyahkan hati untuk berbelok. Dan, sepertinya tidak sedikit yang akhirnya berbelok sebelum waktunya.

Orientasilah. Dengan memikirkan kembali tujuan yang hendak dicapai, dan memang tengah berada di jalan yang benar, maka tinggal membutuhkan kesabaran untuk mencapainya. Agar orientasi tidak terlewatkan, hal ini harus sering-sering dilakukan. Memang menambah beban, namun apalah artinya demi sebuah tujuan?

Bagaimana melakukan orientasi? Sama seperti ketika melakukan perjalanan di lapangan. Berhentilah sejenak. Lepas beban seperti ransel kemudian simpan. Lihat rencana yang telah disusun dan lihat sekitar. Dan tentu saja bertanya ke orang-orang sekitar adalah cara yang sangat efektif.

 

Advertisements
Categories: merenung, pembelajaran | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: