Monthly Archives: July 2013

Berorientasi Proses

Image

Apa yang ada di dalam pikiran ketika mendengar kata “belajar”? Kesan yang timbul mungkin bukanlah yang menyenangkan.

Hal tersebut telah tertanam sejak kecil, bukan? Bagi masa kanak-kanak, yang menjadi orientasi adalah “bermain”. Dan saat mendengar kata bermain, yang terbayangkan adalah segala hal menyenangkan, mengasyikkan, yang bila dialakukan membuat kita lupa akan waktu, membuat pikiran menjadi lepas dan tenang. Tentu, kesan yang timbul adalah menyenangkan.

Kata “belajar” dan “bermain” seolah saling menegasikan. Belajar adalah kegiatan yang membosankan, menjenuhkan, perlu perjuangan keras, dan kalau bisa diselesaikan sesegera mungkin supaya bisa segera bermain kembali. Telah tertanam bahwa yang disebut dengan belajar adalah duduk di meja belajar, membaca buku tebal, dan menulis di buku catatan.

KBBI sendiri mengartikan belajar adalah berusaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. Tidak heran pada umumnya orang-orang belajar hanya ketika di bangku sekolah atau pendidikan tinggi saja. Kuliah, baik sarjana, magister, atau doktor, pun terkadang dikejar hanya untuk memperoleh pekerjaan atau status sosial yang tinggi.

Belajar dan bermain adalah sama-sama kata kerja, yang artinya menunjukkan suatu proses. Perbedaannya adalah tujuan dari proses tersebut. Tujuan dari belajar adalah untuk memperoleh ilmu, wawasan, hal baru, atau pengalaman, sedangkan belajar—masih menurut KBBI—adalah untuk menyenangkan hati. Apakah memperoleh ilmu, wawasan, hal baru, pengalaman, tidak bisa diiriskan dengan menyenangkan hati?

Terkadang kita sering melihat sesuatu dari sudut pandang sempit. Seperti mengintip dari lubang kunci, apa yang terlihat hanya sebesar lubang tersebut. Tidak mustahil sedikitnya yang dapat dilihat membuat salah persepsi.

Agar memperoleh sudut pandang yang luas, ada baiknya kita terbang ke atas, atau mendaki gunung yang tinggi. Apa yang terlihat dari atas adalah bentangan yang luas. Akan terkagum, takjub, terpana saat kita melihat sesuatu yang begitu luas dan tidak terbatasi bidang-bidang sempit.

Suka atau tidak, proses hidup sangatlah identik dengan belajar. Setiap harinya selalu ada hal baru. Bahkan dalam rutinitas keseharian pun, apa yang terjadi pada satu hari tidak mungkin identik dengan hari-hari lainnya.  Karena ada hal baru, kita akan berusaha adaptasi dengan hal tersebut. Proses adaptasi ini adalah proses belajar yang sangat sederhana. Besar kecilnya output yang diperoleh mungkin tergantung seberapa besar fokus kita terhadap usaha adaptasi tersebut.

Setiap bertambahnya usia, semakin banyak proses belajar yang dilakukan sebagai proses adaptasi. Saat berusia 3 bulan, kita belajar merangkak. Pada 6 bulan, kita pun belajar untuk duduk. Saat merayakan ulang tahun pertama kali, kita pun belajar berdiri.

Begitu masuk sekolah, di luar mata pelajaran sekolah, dimulai proses belajar menerima eksistensi orang-orang di luar keluarga atau bersosialisasi. Ketika menginjak usia remaja, proses belajar untuk menentukan pilihan. Saat berada di bangku perguruan tiggi, kita pun belajar untuk mulai merencanakan masa depan. Lalu muncullah proses belajar untuk berpenghasilan, berbagi hidup dengan pasangan, dan sebagainya, dan sebagainya.

Keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tiap fase hidup mungkin bergantung bagaimana ia menyadari bahwa itu semua adalah proses belajar. Bagi yang menafikan bahwa ia sedang belajar, solusi dari proses yang dijalani tidak akan memuaskan atau bahkan tidak didapatkan sama sekali. Jika sadar kemudian fokus terhadap, hasil yang diperoleh akan semakin maksimal.

Kebanyakan lingkungan menuntut kita berorientasi pada hasil. Sebagaimana kita banyak melihatnya pada iklan-iklan lowongan kerja, bahwa yang dibutuhkan adalah calon karyawan yang berorinteasi pada hasil. Tidak ada satu pun yang membutuhkan orang yang berorientasi pada proses. Tentu, dunia tidak mau peduli bagaiamana pun proses yang dijalani—atau seberapa sulit proses tersebut—yang penting hasilnya memuaskan perusahaan, atasan, dosen, atau mereka.

Kondisi ini membuat kita hilang fokus terhadap proses. Kegiatan belajar pun hanya dianggap sebagai cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Akibatnya, setelah tujuan tercapai, proses belajar tidak diperlukan lagi.

Proses belajar di sini bukanlah sekedar menuntut ilmu di sekolah tinggi. Apa yang terjadi sehari-hari pun dirasa tidak perlu diambil pelajaran lagi. Hal-hal sederhana seperti belajar untuk bersabar, belajar untuk melapangkan dada, belajar untuk tetap antusias, belajar untuk mendengarkan, belajar menahan emosi, adalah proses belajar yang tidak mengenal istilah selesai.

Apa yang membuat orang begitu senang? Pikiran lepas? Bebas dari beban? Tertawa terbahak-bahak? Tidak ada tugas yang menunggu?

Saya berpendapat, salah satu yang membuat kita senang adalah ketika menemukan sesuatu yang menantang. Tantangan tidak saja membuat senang, tapi kan menjadikan kita antusias. Ada sedikit peningkatan detak jantung, ada sedikit peningkatan aliran darah, dan juga ada pengembangan senyuman. Tantangan ini bagi sebagian orang sama menyenangkannya dengan bermain.

Belajar merupakan ruh kehidupan itu sendiri. Ruh ini akan memberi energi yang menggerakkan otot-otot tubuh yang malas bergerak.

Jika berhenti berproses, dengan alasan sudah bosan, merasa sudah cukup, atau tujuan pribadi telah tercapai, mungkin beban-beban yang mengisi pikiran telah terangkat. Namun, tumbuhnya gairah dan antusiasme seperti pada anak-anak yang sedang menemukan hal baru tidak lagi terasa, Mungkin pikiran menjadi tenang dan lepas, tapi tidak adanya tantangan untuk berproses, maka yang hinggap adalah kehambaran.

Atau enggan berproses karena sepenuhnya berorientasi pada hasil. Jika hasil sudah memuaskan harapan, untuk apa lagi berproses? Itulah yang ada pada penilaian di sekitar kita. Tapi tentu kita tidak bisa melupakan, bahwa kelak mereka hidup tak lama. Begitu juga diri sendiri, akan habis eksistensinya. Sebentar lagi, hanya menunggu waktu. Jika waktu itu tiba, kita akan menuju penilaian yang tidak ada yang mampu menandingi keadilannya. Tuhan tidaklah menilai sesuatu hanya dari hasil, tapi Ia begitu menghargai proses. Bahkan belum berproses, baru sebatas niat, pun sudah dihargai.

Tidak perlu khawatir jika berorientasi pada proses dan tidak ada satu pun orang yang menghargai. Yakin bahwa proses yang maksimal akan dihargai langsung oleh Tuhan akan membuat kita tenang.

Categories: pembelajaran | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: