Monthly Archives: April 2013

RAWA KEPUTUSASAAN

Setelah sekian lama tak menulis, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengenang kembali salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup. Saya sudah lama tidak terlibat dalam segala kegiatan Wanadri. Selepas PDW, ada program pendidikan lanjutan yang disebut dengan mamud (masa bimbingan anggota muda) kurang lebih selama 2 tahun.

Sekitar 3 bulan pertama kegiatan mamud saya ikuti. Pendidikan Gunung Hutan 2 dan 3 (saya absen Gunung Hutan 1 karena agenda akademik) masih ingat dalam ingatan. Bagaimana membaca topografi, menghitung sudut, menentukan titik-titik cek poin di peta, hingga membuat ROP (Rencana Operasi) dalam sebuah proposal perjalanan. Apa daya memori manusia tidaklah bersifat kekal, dan perlahan-lahan itu semua memudar. Yah, pilihan adalah pilihan. Tidak ada pilihan bodoh, kecuali pilihan yang disesali.

PDW berlangsung kurang lebih sebulan. Dua minggu pertama merupakan tahap basic di tanah pendidikan Situ Lembang. Setelah itu memasuki tahap medan operasi, yaitu ORAD-tebing terjal selama 2 hari, longmarch kereta api 1 hari, rawa laut 2 hari, longmarch jalan raya 2 hari 1 malam, dan sisanya tahap gunung hutan termasuk survival. Sekilas tahap survival pernah saya kenangkan dalam tulisan di blog ini. Sangat berkesan. Namun, menurut saya pribadi, tahap rawa laut merupakan tahap terberat dan tersulit.

PDW 2012 bukanlah PDW yang pertama kali saya ikut. Tahun 2010 saya juga pernah mengikutinya, namun gugur di tahap ini, rawa laut. Sambil mengorek ingatan yang semakin kabur, keinginan untuk menulis pun ingin saya tumbuhkan lagi.

***

Siang itu terik. Panas, dan juga kering. Namun tidak sempat lagi untuk memikirkannya. Karena kami harus terus berjalan, menelusuri pematang, sambil memanggul ransel yang begitu beratnya.

Tempat itu begitu terbuka. Tampak cakrawala seelurus area pandangan. Beberapa warna hijau terlihat di sisi, namun tidak tinggi, kebanyakan hanya berupa semak-semak. Warna yang dominan saat itu adalah coklat. Tanah bercampur lumpur coklat terlihat di mana-mana, di pematang, di pakaian, di tangan, juga di wajah. Begitu pula tambak-tambak petak yang membentang seluas mata memandang.

Kami berada di medan latihan rawa laut. Latihan ini merupakan bagian dari tahapan medan operasi, setelah sebelumnya melewati tahap basic selama 2 minggu. Tahap ini adalah tahap “terberat”: pakaian dan sepatu menjadi berat karena lumpur, terlebih ransel.

Walau telah melewati 2 minggu pertama PDW, tapi itu tidaklah menjadi penambah semangat bagiku. Tahun 2010 itu, langkah yang ada adalah langkah gontai, pandangan yang ada adalah pandangan yang buram, semangat yang ada adalah keputusasaan, pikiran yang ada adalah ingin pulang.

Berat! Ransel ini begitu berat! Sepertinya banyak sekali air yang masuk ke ransel, dampak dari packing yang asal-asalan. Dapat dirasakan lilitan saraf di bahu terjepit. Di medan ini, siswa diwajibkan memakai pelampung. Namun, mengenakan ransel di atas pelampung sangat sangat tidak nyaman, dan seolah menambah beban saraf bahu.

Perlahan, sensasi di ujung-ujung jari menghilang. Lengan terasa lemas untuk diayunkan.

“Tuan! Cepat jalannya, Tuan!”

Kapan berhenti untuk istirahat? Rasanya ingin duduk, melepas ransel, dan mengayun-ayunkan tangan.

“Tuan! Hei, Tuan! Rapatkan barisan dengan yang depan, Tuan!”

Jauh. Pematang masih jauh membentang. Tidak kuat lagi memanggul ransel sialan ini. Ingin kubuang! Benda brengsek ini kubuang saja!

“TUAANNN!!!”

Aku oleng. Bergoyang ke kanan, kemudian ke kiri. Pelatih itu cuman menggampar sekali, namun begitu kerasnya. Beberapa detik kemudian, setelah berdiri dengan stabil, terdengar suaraku sendiri yang berteriak, “Pelatih, saya ingin pulang, Pelatih…!”

***

“Tuan Sayyid, kamu mau pulang lagi, Tuan!!?”

Tahun itu 2012. Aku berjalan, pelan. Di dalam kolam tambak yang penuh lumpur bagaikan rawa, semua siswa hanya bisa berjalan pelan. Tidaklah mungkin berjalan tegap gagah, karena hanya akan membuatmu terhisap ke kegelapan. Terlihat, seluruh siswa, termasuk pelatih, melaju menggunakan kedua lututnya.

Lutut kanan kubawa ke depan. Badan menjadi sedikit oleng karena terbawa oleh ransel yang berat. Kemudian, lutut kiri menyusul ke depan. Lalu lutut kanan, kemudian lutut kiri lagi.

Seperempat hari pertama rawa laut digunakan untuk navigasi rawa. Awalnya aku berpikir, bagaimana mungkin bernavigasi di rawa yang sama sekali tidak ada titik ekstrem seperti puncak gunung atau bukit? Yang ada di sini hanyalah bentangan kolam tambak dan pematang, membentuk petak-petak rawa yang terjemur oleh terik matahari. Mungkin ada teori khususnya untuk bernavigasi di tanah yang datar, tapi itu tidak diajarkan di pendidikan dasar. Di hari itu, pelatih langsung memberi koordinat titik awal dan titik akhir, sehingga tugas siswa hanya memplotting di peta dan membidikkan kompas ke sudut tujuan.

Medan rawa laut hari pertama kebanyakan kolam yang dalam. Para siswa cukup melepas ransel, meletakkannya di depan untuk dijadikan pelampung, dan menggerakkan kaki seperti menggowes sepeda. Kami pun berenang.

“Nanti kalian kalau lulus PDW, ikut Klub Gowes Wanadri,” ujar seorang pelatih.

“Kalau lulus, hahahah,” timpal pelatih lain.

Akhir dari hari pertama, sekitar jam 2 siang, ialah “langkah kesabaran”, begitu aku menyebutnya. Sekitar 2 jam siswa berjalan mengikuti pelatih menyusuri pematang, entah ke mana. Mungkin terdengar seperti mudah, namun kondisi saat itu ialah kelelahan setelah menyeberangi rawa yang luas. Itu tidak seberapa, yang paling parah adalah bahu yang kesakitan karena harus memanggul ransel yang berat.

Sebelum berangkat ke medan rawa, pelatih memberi arahan cara packing yang benar agar tidak bocor kemasukan air rawa. Kalau biasanya isi ransel cukup dibungkus dengan satu lapis plastik ikan, kali ini dengan dua lapis, bahkan ada yang tiga. Namun, tetap saja, terasa ada air yang masuk ke dalam. Bahkan bercak lumpur yang menumpuk di luar ransel sudah cukup membuatnya menjadi lebih berat berkali lipat.

Aku sedikit membungkukkan badan, menggoyang-goyangkan bahu, dan menggerak-gerakkan ransel agar dinamis. Membiarkan bahu memanggul ransel dengan statis selama berjam-jam hanya akan membuat diri tersiksa.

Kala itu tidaklah saraf bahuku terjepit. Namun, terlihat dua siswa yang terlihat tersiksa. Yang satu mengernyit, menahan sakit di bahunya. Yang satu lagi membuka mulutnya, terengah-engah, dan air matanya mengucur.

Tersiksa. Itulah gambaran kondisi “langkah kesabaran” selama 2-3 jam itu. Rasanya ingin berhenti, duduk, menyandarkan ransel, bahkan melepasnya. Aku memandang ke barisan depan, lalu belakang. Para siswa membungkuk dan menggoyang-goyangkan bahunya, sambil melakukan “zikir”, “Wanadri…Wanadri…Wanadri” dengan suara pelan.

Tiba-tiba, seorang teman reguku di depan terjatuh di atas jembatan bambu. Kakinya tersangkut. Ia mengeran. Aku berusaha mengangkat bambu yang mengait kakinya, namun gagal. Akhirnya ia terbebas setelah dibantu seorang pelatih. Namun, setelah itu ada yang aneh dengannya. Bola matanya ke atas, mulutnya membuka, lidahnya menjulur, dan ia terus berucap, “Wanadri…Wanadri…Wanadri…”

Seorang pelatih berteriak keras di hadapannya, namun terus saja ia berujar, “Wanadri…Wanadri…Wanadri”, seolah tak sadar dengan lingkungannya. Kemudian pelatih itu menyiram wajah siswa itu dengan air. Ucapan “zikir”nya berhenti, bola matanya tak lagi ke atas. Akhirnya, ia pun menjawab dengan keras teriakan pelatih di hadapannya.

 

Hari ke-2 itu neraka sesungguhnya. Itu adalah ancaman pelatih di malam sebelumnya. Memang, tak butuh waktu lama untuk membuktikannya.

Tidak seperti rawa hari pertama yang kebanyakan kolam penuh air, medan yang para siswa lewati hari itu benar-benar lumpur. Ketika mendaratkan lutut, tampak lumpur itu menghisap tubuh kami perlahan. Kalau tidak segera maju, bisa-bisa tertanam. Karena terhisap, berat sekali untuk mengangkat lutut ke depan, ditambah beban ransel yang semakin berat. Tak jarang aku harus merangkak sambil menendang-nendangkan kaki dengan liar agar bisa menyeberang.

Ransel yang berat mendorong tubuh saat mendaratkan lutut. Bila gagal menjaga keseimbangan, yang terjadi adalah jatuh tengkurap, ditindih oleh ransel yang beratnya 20 kg lebih. Itulah yang terjadi pada seorang siswa di sebelah.

“Tolong…tolong…,” rintih siswa tersebut dalam nada putus asa. Ia tidak bisa bangun. Saat itu sebenarnya tiap siswa sangat sibuk untuk membebaskan diri sendiri dari hisapan lumpur. Aku pun hanya mampu memberi saran, “Lepas ranselmu….” Siswa itu melepasnya, dan berhasil bangun. Ia merangkak ke depan sambil menarik-narik ranselnya kesusahan. Aku pun sedikit membantu menariknya.

Setelah berjam-jam kepayahan melewati kesuraman, kami pun dibawa ke suatu tempat yang sepertinya adalah ujung dari padang tambak. Di sebelah utara, terlihat laut yang bergulung saling mengejar. Biasanya, jika menghirup aroma garam dan mendengar desir ombak, yang terbayang adalah pasir pantai. Tapi tidak ada yang semacam itu di sana.

Kami berdiri di atas pematang, memandang ombak. Tak lama, seorang pelatih memberi instruksi, dan kami bergerak mengikuti pelatih yang memimpin rombongan. Seorang pelatih yang berdiri di pinggir pematang tersenyum aneh, dan berkata pelan, “Selamat datang di rawa laut, Tuan.”

Para siswa di barisan depan diminta turun. Di sana, aku bisa melihat para siswa yang sepenuhnya berwarna coklat merangkak pelan, sangat pelan. Ransel dilepas dan diletakkan di depan. Mereka berjalan dengan cara mendorong ransel, kemudian menendang-nendang.

Giliranku pun tiba. Kuletakkan ransel di depan, kudorong, lalu dalam posisi merangkak kakiku menendang-nendang. Berhasil maju, beberapa senti. Kudorong lagi ranselku, kumerangkak, dan menendang-nendang. Kembali berhasil maju, sekian senti.

Terengah-tengah, aku mengintip pemandangan di depan melalui kacamataku yang penuh lumpur.

Terkesima.

Itu adalah luas. Rawa hitam yang luas. Ujung depan tidak terlihat, sedangkan ujung belakangnya dekat sekali, tempatku tadi start. Sambil mengedan, aku maju kembali. Mengangkat lutut kanan sambil menimpa ransel. Mengangkat lutut kiri dan kembali menimpa ransel. Berhasil meluncur, beberapa senti saja. Pinggangku sakit. Kaki pegal. Nafas memendek. Pikiran berandai-andai apakah kalori makan siang tadi masih tersisa.

Itu adalah rawa keputusasaan. Tidak tahu rawa ini berujung di mana. Tidak tahu ke mana. Namun, kami harus terus maju, tak ada lagi hal lain yang bisa dilakukan. Percuma minta pertolongan. Setiap siswa sibuk berjuang melewati rawa hitam ini. Bahkan ada juga yang tidak maju-maju.

Tidak tahu berapa lama. Tidak peduli berhasil atau tidak. Hanya satu yang perlu dipikirkan, yaitu melangkah. Dan melangkah. Dan melangkah.

***

Pernahkah kita berada di medan yang begitu luas? Begitu luas. Begitu luas. Begitu luas. Tidak terlihat ujungnya di mana. Tidak terbayangkan tujuannya seperti apa. Namun kita telah berada di tengah-tengah jalannya. Harus ke manakah kita? Apakah kembali? Benar, kembali? Benarkah harus menyesal di tengah jalan? Lalu pulang, sebagai pecundang?

Apakah kita merasa terjebak? Seperti berada di tengah-tengah kemacetan jalan raya? Mau berteriak sekeras apa pun, mau mengumpat-ngumpat sekasar apa pun, tetap tak ada yang bisa dilakukan, kecuali maju. Maju, walau perlahan, begitu pelan. Jika sabar, kelak akan tiba di tujuan juga. Benar begitu, bukan?

Untuk tiba di tujuan, yang dibutuhkan bukanlah kecepatan. Tapi kesabaran.

***

Kenapakah aku ada sini? Di suatu tempat yang entah di mana? Apa pula yang kulakukan? Seharusnya aku berada di sana, Di suatu titik di utara kota Bandung. Sedang belajar, bersama teman-teman kelompok. Membaca materi-materi. Mengikuti bimbingan. Membacakan presentasi kasus.

Tapi nyatanya aku berada di tengah rawa. Sedang merangkak.

Menyesal?

“Tuan Sayyid! Kamu mau pulang lagi di sini, Tuan!!?” teriak seorang pelatih.

Pecundang.

“Pulang saja kamu! 2 tahun lalu kamu pulang di sini kan, Tuan!”

Tahukah rasanya menjadi seorang pecundang?

“Kamu ini! Meninggalkan teman-teman kamu 2 tahun lalu!”

Penuh penyesalan. Saat pulang, tidak ada satu pun yang menyambut. Hanya tertawaan, hinaan, dan sindiran. Memang itulah yang pantas didapat bagi seorang pecundang.

Apa yang dirasakan saat melihat teman-teman yang kau tinggal di tengah latihan pada akhirnya menyanyikan lagu kemenangan? Apa yang dirasakan ketika melihat wajah temanmu pulang dengan wajah penuh kepuasan?

Mimpi apa yang selalu muncul di dalam lelap tidurmu?

Pecundang, mungkin adalah orang terlalu banyak berpikir saat seharusnya hanya fokus memikirkan satu hal. Tidak perlu memikirkan hal yang lain. Fokus saja ke hal yang harus dilakukan saat ini. Ketika berada di tengah-tengah jalan, hanya satu yang perlu dipikirkan: melangkah.

Penyesalan sejati itu adalah ketika memutuskan untuk menyerah dan kemudian menjadi pecundang.

***

Akhirnya memang aku pun tidak sampai garis akhir. Ketika berada di tengah-tengah, seorang pelatih meniup peluit, dan serentak para pelatih lain menginstruksikan kami untuk menepi. “Tuan, cepat menepi, Tuan! Air laut mau pasang, Tuan!” Meskipun sebagian besar menepi, tapi beredar kabar ada 4 atau 5 siswa berhasil mencapai garis finish.

Para siswa dibariskan di pematang, kemudian diinstruksikan mengikuti pelatih. Waktu itu sudah amat sore, mungkin sekitar jam 5. Tujuan dari perjalanan saat itu adalah “pulang” menuju truk angkutan.

Medan rawa laut sudah selesai. Ya. Yang perlu dilewati tinggal “langkah kesabaran”. Memang selama langkah itu kami begitu kelalahan. Berjalan dari ujung rawa menuju ujung satunya lagi setelah merangkak berjam-jam kembali menguji kesabaran.

Pada akhirnya, tujuan pun terlihat. Sebelum diangkut ke truk, kami “mandi” terlebih dahulu. Berendam di kolam air tawar, menggosok-gosok baju, celana, tangan, dan wajah agar terbebas dari lumpur.

Medan rawa laut telah terlewati. Tidak tahu bagi siswa yang lain, tapi bagiku medan ini dilewati bukan dengan kekuatan, tapi dengan ketabahan.

Ada seorang pemimpin negara yang berujar ketika negaranya sedang perang dengan tetangga. Pasukannya banyak menderita kekalahan, namun dengan percaya diri ia membuat pernyataan yang pantas diabadikan. Bahwa yang akan memenangkan perang bukanlah yang membunuh musuh paling banyak, tapi yang paling bertahan hingga akhir.

Categories: narasi, wanadri | 5 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: