Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (4): Esensi Upacara

Pagi itu masih berkabut. Suhu dingin khas lembah Situ Lembang merasuk ke kulit-kulit yang tengah berada di sana. Terlihat kulit-kulit itu memerah, mengelupas, diganti dengan kulit yang baru, membentuk keropeng. Kelak kulit-kulit yang kedinginan itu akan tersengat panasnya lembah di siang hari.

Tapi pagi itu masih berkabut. Elang membentangkan sayap di balik kabut itu, mengawasi para siswa yang tengah olahraga pagi. Lapangan berumput yang luas itu sebenarnya adalah lapangan upacara. Namun, di salah satu sudutnya, dapat terlihat para siswa melepas baju olahraga, bersahabat dengan dingin dalam gerakan senam pagi.

Tiba-tiba dengan cepat mereka diminta untuk mengenakan kembali kaos putih mereka. Terburu-buru dan tergesa-gesa pakaian itu dikenakan. Para pelatih kemudian menggiring mereka menuju sisi lapangan yang dekat dengan tiang bendera.

“Cepat! Cepat! Jangan bikin malu kalian!” bisik seorang pelatih dalam ketegasannya.

“Cepat! Langsung berbaris! Tidak bingung!” Para siswa berlari secepat mungkin, sedikit kebingungan kenapa mereka harus terburu-buru seperti itu. Mereka menoleh ke sebelah kanan: tampak barisan orang berbaju hijau berjalan sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi.

DRUK! DRUK! DRUK! DRUK! DRUK!

Bunyi itu menggema. Buyi itu dihasilkan oleh dentuman sepatu yang kompak seolah menggambarkan kegagahan pasukan Raider yang tengah berlatih di lembah yang sama.

“Berhenti, GRAK!” Spontan bunyi hentakan berhenti pada irama yang sama. Saya bisa melihat mereka berbaris dengan rapi—sangat rapi! Tidak ada sedikitpun ketidaklurusan, tidak ada satu pun gerakan tambahan! Berbeda dengan kami yang selalu dimarahi karena kesulitan membentuk barisan yang lurus.

Itu adalah pukul 6 pagi. Jam upacara pagi atau penaikan bendera yang secara rutin dilaksanakan di Situ Lembang. Tentara Raider memiliki posisi hormat dengan gaya mereka sendiri—posisi yang mereka teriakkan sebagai “hormat senjata”. Kami pun hormat dengan gaya kami sendiri: posisi hormat seperti kebanyakan orang.

Walaupun warna pakaian kami berbeda, walaupun posisi hormat kami berbeda, tapi kami pagi itu tengah menghormati panji yang sama: merah putih.

Upacara memang tidak setiap hari dilakukan selama PDW. Seremoni ini dilaksanakan—seingat saya—di gedung sate tempat upacara pembukaan, di Situ Lembang, di Bantar Caringin, dan di tanah pelantikan Kawah Upas. Protokol upacara saat pembukaan dan pelantikan mungkin mengadopsi protokol ala militer, seperti penggunaan alat musik trompet dan drum. Pada Situ Lembang dan Bantar Caringin, pelaksanaannya hanya  berupa upacara penaikan dan penurunan bendera. Dilakukan setiap jam 6: pagi untuk penaikan dan sore untuk penurunan.

Jika dipikir-pikir, mengapa Wanadri sampai sebegini niatnya menyelenggarakan upacara bendera saat pendidikan? Awalnya saya berpikir, tentu saja, untuk penanaman nasionalisme dan cinta tanah air. Pendidikan dan pelatihan yang tengah dijalani dengan keras harus tetap diniatkan sebagai pengabdian kepada negeri.

Sekitar sebulan setengah seusai PDW, kami diingatkan oleh Abah Iwan akan esensi upacara bendera. Bahwa esensi itu telah lama menghilang dari setiap pelaksanaan upacara. Bahwa kini hanya berupa seremonial, tanpa memahami betul apa maknanya. Bahkan esensi itu tak pernah ditanamkan ketika upacara bendera dilangsungkan tanggal 17 Agustus di Istana Negara.

“Esensi upacara bendera adalah ‘menghargai’,” begitu kata Abah Iwan.

Adalah menghargai komandan upacara meskipun orangnya telah kita kenal. Ketika ia memberi perintah, maka kita harus mengikutinya dengan gerakan yang tegap. Begitu juga kepada inspektur upacara. Walaupun amanat yang disampaikan bukanlah hal yang seru untuk didengar, bahkan membosankan,  tapi tetap kita harus mendegarnya tanpa gerakan tambahan. Itu adalah bentuk sikap kita menghargai mereka.

Yah, memang itulah yang kali ini agak sulit ditemukan: sikap menghargai orang lain. Jika kitalah yang ada di posisi mereka—komandan atau inspektur upacara—tentu kita ingin dihargai dengan cara didengarkan, bukan?

Jika menelusuri lebih dalam lagi, maka sesungguhnya kita tengah menghormati perjuangan para pahlawan terdahulu. Posisi hormat kepada bendera bukanlah bentuk penyembahan kepada selembar kain berwarna merah putih. Namun, hakikatnya kita tengah memberikan posisi hormat kepada mereka yang telah menyumbangkan darah mereka—juga keluarga mereka—untuk kemerdekaan tanah air.

Bagaimanakah bentuk penghargaan kita kepada mereka? Tentu bukanlah dengan memahat patung berwajah mereka atau mengabadikan nama mereka menjadi nama jalan. Tentu saja, dengan meneruskan cita-cita perjuangan mereka. Tentu saja, dengan melanjutkan jejak mereka yaitu berjuang menjadikan negeri ini adil dan sejahtera.

Sayangnya, hal ini tidak pernah ditanamakan di upacara bendera manapun. Alhasil, kegiatan ini hanya menjadi rutinitas atau seremoni yang membosankan.  Alih-alih menumbuhkan semagat perjuangan dalam aktivitas, yang didapat hanyalah rasa lelah setelah berdiri sekian jam di bawah terik matahari.

Hal seperti ini juga sering ditemukan dalam salat. Setelah berkutat dengan pekerjaan atau aktivitas yang memeras stamina fisik maupun otak, Tuhan memanggil melalui azanNya untuk menghadap. Seharusnya, di momen itulah kita menyandarkan segala kejenuhan dan kelelahan kepadaNya. Saat menghadap kepada Tuhan tanpa perantara itulah seharusnya kita mengingat kembali, bahwa semua pekerjaan itu adalah amal yang kita persembahkan kepadaNya. Jika hal seperti ini dipahami, setidaknya sehari minimal lima kali mendapat recharge semangat, sehingga tidak ada tempat untuk jenuh dan malas.

Begitu pula pada Pendidikan Dasar Wanadri. Sekeras apa pun pendidikan yang diikuti, para siswa tidak boleh lupa bahwa itu mereka jalani sebagai pengabdian kepada negeri. Orang-orang yang dilahirkan di pendidikan ini harus menjadi orang-orang yang tabah dan tangguh menghadapi berbagai persoalan—seekstrem apa pun persoalan itu. “Tidak mengeluh! Hadapi dengan riang gembira!” Itu adalah kata-kata yang sering kali diulang di setiap PDW. Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh negeri untuk menjadi pemimpin.

Sebagaimana telah tersebutkan dalam “Hakikat Wanadri” nomor satu:

“Wanadri itu mengembara dan menempuh daerah-daerah demi kepentingan tanah air dan ilmu pengetahuan”

Advertisements
Categories: wanadri | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (4): Esensi Upacara

  1. Wulan Purnama Sari

    Selamat sudah menjadi anggota Wanadri, Bang! Semua artikel tag Wanadri udah saya baca. Seru banget ya… Jadi iri… Omong-omong ada foto Ojan ga di facebook page Pendidikan Dasar Wanadri 2012? Sukses selalu… Tetap semangat ya…. Terus nulis. Saya tahun kemarin juga mau ikut Pendidikan Dasar Wanadri, tapi urung daftar dan tidak jadi karena beberapa alasan. Mudah-mudahan Pendidikan Dasar selanjutnya bisa ikut.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: