Tidak Perlu Buka Topengmu

“Aku ingin berhenti!” Rio tiba-tiba berdiri dari kursinya lalu mondar-mandir. “Apa? Berhenti Apa?” Riza yang tengah asyik dengan laptopnya menoleh ke arah sobatnya.

“Tidak pantas, tentu saja! Bukankah telah kusampaikan ini berkali-kali sejak dulu? Mungkin penampilan luarku terlalu mengagumkan…Nah! Itu dia salahnya!” Rio melipat tangannya, menunduk, melihat cermin sejenak, kemudian, mondar-mandir kembali.

Riza akhirnya melepaskan jemari-jemarinya dari keyboard laptop. Seluruh badannya ia putar, punggung ia sandarkan. “Apa masalahmu dengan penampilan luar yang mengagumkan? Itu tidak salah, bukan, selama bukan niat takabur?”

“Tentu saja! Semua kulakukan dengan niat seoptimal dan sebaik mungkin. Tapi, seolah itu hanya sandiwara. Orang-orang pun menaruh harapan yang besar. Huh, padahal mengurus diri sendiri aja masih tidak becus!” Ia meraih kursi di sudur ruangan, kemudian duduk.

“Ah, aku mengerti yang kau rasa.” Riza mengelus-elus kedua telapak tangannya dan tersenyum. “Aku sangat mengenal dirimu, sobat. Kesukaanmu, kesibukanmu, aktivitas sehari-harimu, hal-hal yang tidak biasa darimu, juga kebiasaan-kebiasaan burukmu.” Riza menjauh dari laptopnya dan fokus kepada lawan bicaranya.

“Yah. Memang, aku apa adanya, kau tahu persis. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan wajahku di balik topeng. Kau sudah tahu semuanya.” Rio menepuk pahanya, menunduk.

“Setiap orang memiliki topeng masing-masing.” Mulut Riza sedikit membuka, hal yang biasa ia lakukan ketika berbicara penuh pertimbangan. “Jangan kira aku pun tidak mengenakan topeng di luar sana. Justru, fungsi topeng harus kita syukuri dan maksimalkan.”

Rio sedikit terkejut “Hee? Bukankah itu hanya akan membuat kita menjadi seorang munafik?”

Senyuman Riza makin lebar. Matanya memejam sejenak, menunduk, kemudian menatap sobatnya dengan antusias. “Kau pikir, kita adalah sempurna, selalu melakukan hal dengan benar tanpa salah? Setiap orang punya kesalahan, besar atau kecil, dan aku yakin tiap orang pun punya sisi kebrengsekannya sendiri.”

Rio bersender pada kursinya, mendengarkan dengan serius. “Tidak menyebut sosok seperti Rasulullah saw. dan para sahabat beliau,” Riza melanjutkan, “entah besar atau kecil, tetap saja kesalahan itu bila diketahui orang lain, akan sangat memalukan. Wajarlah jika disembunyikan.”

“Untuk apa disembunyikan? Biarkanlah semua orang tahu betapa brengseknya diriku. Ini supaya tidak ada lagi orang yang berekspektasi lebih. Selama ini, seolah apa yang kulakukan adalah kemunafikan.”

“Walaupun memang kau orang brengsek,” Riza memajukan tubuhnya, tatapan matanya menjadi serius, “tapi itu bukan niat dan keinginanmu, kan? Sebaik aku mengenalmu, sebaik itulah pemahamanku akan keinginanmu untuk melakukan perbaikan. Lagipula, orang-orang di sekitarmu tak akan peduli dengan cerita melankolismu.”

“Setiap orang melakukan kesalahan atau kejahatan. Sama saja. Yang membedakan adalah keberanian mereka untuk menghadapi proses tanggung jawab,” lanjut Riza.

“Ahh…ya,” Rio mematukkan kepalanya ke depan, mencoba merenung.

“Tidak banyak orang berani mengakui kesalahannya, sebagaimana tidak banyak orang berani jujur terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melepas tanggung jawab, ketika itulah ia merepotkan orang lain. Di sinilah poin utamanya. Kamu mengerti kan?”

Rio mengangguk pelan. “Bahasa kasarnya, ‘Silakan kamu membuat kesalahan atau kejahatan sebesar apa pun, tapi jangan merepotkan orang lain.’ Saat membuat kesalahan, mungkin kau akan merepotkan teman-temanmu. Nah, di sanalah kau harus mengaku, meminta maaf, dan bertanggub jawab kepada mereka.”

“Iya, aku mengerti. Aku tidak akan lari, insyaAllah tidak akan pernah lari dari kenyataan pahit. Tapi, orang-orang tidak akan merasa repot jika semenjak awal mereka tidak menaruh harapan padaku, bukan?”

“Jika atas dasar itu kau melepas harapan-harapan yang mereka letakkan di bahumu, maka kau telah menyusahkan mereka.” Riza menutup laptopnya, mencabut baterai darinya, menggulung-gulungnya, kemudian berdiri. “Menyerah pada kesalahan yang dibuat, kemudian menghilang dari peradaban, benar-benar tingkah laku bocah tengil.”

Ia mengambil tas yang tergeletak di atas meja, membuka resletingnya, dan memasukkan laptop ke dalamnya. “Gunakan akal sehatmu, bukan emosi,” Riza meraba-raba jaket di dalam lemari. “Pikirkan dengan jernih, apakah dengan melepas harapan mereka, apakah dengan membuka topengmu, itu semua akan memecahkan masalah? Bukan! Berbadan tegaplah, bersuara lantanglah! Hadapi proses tanggung jawab—baik itu dihukum, dipermalukan, dihina, atau bahkan ditendang—dengan berani.”

Rio masih terdiam. Pandangannya menunduk, hal yang biasa ia lakukan jika sedang merenung. “Kemudian, setelah prosesi itu selesai, lanjutkan apa yang seharusnya kau kerjakan dengan semangat baru.” Bunyi resleting jaket terdengar. Ransel terpasang di bahu Riza. Ia kemudian menuju helm dan motornya.

“Apakah memang itu yang Tuhan harapkan dari manusia? Terus berjalan ke luar sambil mengenakan topeng, dan membiarkan orang lain tertipu dengan apa yang mereka lihat?” Rio berdiri menyusul Riza di dekat motornya.

“Kau harus terus mengenakan topengmu agar orang-orang di sekitarmu tidak kerepotan dengan kebusukanmu. Dunia tidak akan peduli, tapi kau harus tetap memenuhi kewajiban untuk mereka.” Bunyi deru mesin motor terdengar. Rio pun melihat Riza melangkah mundur bersama motornya. “Yang jelas, Ia memerintahkan agar kita tidak berputus asa. Percayalah padaNya yang mengampuni semua dosa.” Riza mengenakan helm dan memutar gas.

“Ampunan….Jika demikian adalah tobat sambal yang selama ini kulakukan.”

“Tobat sambal atau apa pun namanya itu, insyaAllah Ia tak pernah bosan mengampuni hambaNya, hingga hambaNya sendiri yang bosan bertobat.” Dari balik helmnya, Rio bisa melihat Riza tersenyum, Bersama bunyi mesin yang semakin kecil, ia menjauhi Rio yang masih menundukkan kepalanya.

Advertisements
Categories: Rio dan Riza | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: