Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (3): Menghargai Hidup

Samar-samar terdengar suara pelatih di kejauhan. Mereka membangunkan para siswa ke sana kemari. Jam yang terpasang di tangan menunjukkan pukul empat lebih, memerintahkan kami untuk bangun di subuh yang dingin. Ini salah satu perjuangan terberat: bangun pagi. Bivak yang basah oleh embun dan suhu yang dingin membuat para siswa enggan melepas sarung bagnya.

Tapi kami tidak boleh berlama-lama. Dua orang harus segera mengumpulkan nyawa dalam hitungan detik, memakai kaos kaki dan sepatu yang basah, dan berkumpul untuk mengambil air. Sisa orang dalam regu bisanya butuh hitungan menit untuk bergerak ke luar bivak. Setelah lamunan yang agak panjang, parafin pun dibakar dan diletakkan di kompor lapangan. Yang paling pertama dimasak tentu adalah air.

“Masak minuman apa nih?” kata saya sambil menuang air ke misting.

“Energen aja, campur milo,” jawaban dari dalam bivak terdengar. “Siap!” Dua bungkus energen dan satu bungkus milo pun kusiapkan.

Sekian menit kemudian dua orang yang tadinya mengambil air kembali. Setelah melempar veldples yang baru saja diisi, mereka langsung memburu energen-milo yang tinggal tersisa setengah misting,

“Keluarin semua lauk yang nyisa. Tempe orek, kentang, ikan asin, dendeng, abon…”

“Yang engga masak langsung ganti baju dan packing ya!”

“Masak air lagi dari veldples yang baru aja diisi!”

Para siswa mulai sibuk dengan rutinitas pagi masing-masing. Sepertinya pagi itu akan berjalan normal layaknya tiap pagi di tahap gunung-hutan. Namun, bunyi yang tidak disangka-sangka mengejutkan kami. Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Sejenak kami menghentikan aktivitas sambil berusaha mengidentifikasi bunyi tersebut—bunyi yang sebenarnya sangat familiar.

“Hei, itu bunyi peluit tiga kali. Berarti…”

“Semua harus kumpul.”

“Masa sih? Sekarang baru kan baru jam 5, dan kita belum makan pagi.”

“Itu panggilan buat danlas mungkin…”

Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Bunyi itu terdengar lagi, diikuti teriakan, “Semua kumpuuulll!!!”

Kami masih bergeming, tidak percaya. Akhirnya teriakan pelatih memecahnya. “Tuan! Segera packing, Tuan! Cepat, Tuan!”

Kami bergerak terburu-buru dengan agak kebingungan. Jelas kami belum makan pagi sama sekali, kecuali beberapa teguk energen. Beberapa di antara kami belum ganti baju, bivak belum dibongkar, barang-barang masih tercecer, dan ransel masih berantakan.

“Tuan! Cepat, Tuan! Kamu segera ganti baju, Tuan! Yang sudah ganti baju bongkar bivak dan packing!” Pagi itu diliputi dengan kepanikan, walau akhirnya kami turun juga menuju tempat berkumpul. Ternyata regu kami termasuk yang cepat, karena masih banyak yang di atas. Kami dapat melihat tidak sedikit siswa yang harus turun sambil jalan jongkok.

Setelah prosesi seremonial—yaitu hukuman—barulah kami tahu bahwa misting tidak akan lagi diisi dengan beras. Harum dendeng atau ikan asin tidak akan lagi tercium di pagi, siang, dan malam. Tidaklah akan lagi memasak energen atau milo sang pemicu hormon endorphin. Karena, “Mulai hari ini kalian masuk tahap Survival!”

“Waaaanaaaaadrrriiiii!”

Menu pagi hari itu adalah yang apa tersedia di lembahan. Lima belas menit dianggap sebagai waktu yang cukup bagi kami untuk “belanja” makanan. Serentak siswa menyerosot ke lembahan, bersenjatakan golok tebas, berburu makanan sebanyak-banyaknya. Lembahan adalah ladang sumber makanan, dan regu saya mendapatkan pakis, batang pohon pisang, buah pisang mentah, batang palem, dan begonia.

Berbeda dengan hari-hari biasa, yang cukup membakar parafin dengan korek, di tahap ini kami harus membuat api unggun untuk memasak. Maklum, tidak hanya bahan makanan, segala bahan bakar telah disita oleh pelatih. Hanya beberapa blok parafin dibagikan oleh pelatih sebagai pemicu api, bukan sebagai bahan bakar utama karena jumlahnya tidak akan cukup.

“Tuan Sayyid! Coba baca tulisan ini,” seorang pelatih menghampiri dan menunjukkan bungkus makanan.

“Biskuit gandum,” saya menjawab pelan. “Baca bawahnya.” “Kaya akan bla…bla…bla.” Kemudian pelatih itu mendorong bungkusan itu. “Coba cium baunya.” Setelah mendekatkan hidung, dan mendengar tawa pelan pelatih, saya kembali berusaha membuat api.

Para siswa membuat “sop”, terdiri dari bahan makanan yang disebutkan barusan berbumbu garam. Karena dimasak menggunakan api yang langsung membakar misting, aroma gosong sedikit tercium. Rasanya?

“(Srrruuppuuuttt) Hmmm…enak, enak…”

“Iya. Enak, enak…(srruupuutt…ssrrruupp). Kayaknya kurang asin, tambah lagi garamnya.”

“Bener, enak…” saya mencoba mengikuti.

Pergerakan di tahap survival tidaklah banyak. Kami berjalan berombongan—survival dinamis—mengikuti pelatih, melintasi punggungan dan lembahan. Jalurnya tidaklah menanjak, cenderung datar dan landai. Seingat saya, selama survival paling lama kami berjalan tidak sampai dua jam. Waktu banyak diisi dengan berhenti untuk berbelanja.

Di hari pertama, jam 14 pelatih sudah memerintah kami untuk mendirikan bivak alam, sebagai tempat perlindungan untuk ransel. Benar. Setelah susah payah membuat bivak, kami langsung disuruh ganti pakaian tidur dan membawa ponco.

“Malam ini kalian akan tidur kalong, tidur di pohon!” kata pelatih pada pukul empat sore. “Lewati malam ini dengan tabah!” pelatih itu menambahkan. Saya pikir kalimat terakhir hanya untuk memhiperbolakan suasana. Ternyata bukan: itu adalah kata-kata motivasi yang diteriakkan dengan tulus.

Tiap regu memiliki pohonnya masing-masing, dengan tingkat kesulitan panjat yang berbeda-beda. Menoleh ke sebelah kanan, saya bisa melihat seorang siswa berbadan kecil memanjat pohon dengan cepatnya seperti monyet. Namun, setelah siswa itu bergatung di dahan tempat tidurnya, orang berikutnya terlihat memanjat dengan kesulitan. Para pelatih meneriakinya dari bawah, tapi kurang membantu. Kemudian ia bergelantungan, dan tangannya tidak kuat menahan tubuhnya lama-lama, jadilah ia terjatuh. “Go****!” teriak seorang pelatih.

Melihat seorang teman terjatuh, saya tidak terlalu peduli karena sedang sibuk mempelajari bagaimana memanjat pohon sendiri. Ketika pelatih bertanya, “Siapa yang tidak bisa memanjat pohon?” spontan saya langsung mengangkat tangan.

Saat mulai memanjat, saya mengira akan bernasib lebih buruk daripada orang yang jatuh tadi. Ternyata tidak, malah mendapat pujian, “Tuh, akhirnya kami bisa manjat juga Tuan Sayyid!”

Tapi malam itu belum berakhir. Masih pukul setengah tujuh, dan saya masih kebingungan membuat jangkar untuk menahan tubuh. Tali temali adalah salah satu materi yang masuk telinga kiri keluar terlinga kiri (baca: mantul).

Pukul delapan, dan saya masih berkeringat berusaha membuat jangkar. Tidak hanya itu, sarung bag saya juga terjatuh. “Tuan Sayyid! Turun kamu! Ambil sarung bag kamu!” Merasa itu adalah salah perintah tergila di PDW, saya menjawab, “Tidak mungkin turun, Pelatih…”

Pukul sembilan: jangkar asal-asalan sukses dibuat. Karena tidak percaya dengan jangkar buatan sendiri, saya memilih tidur sambil memeluk pohon. Sehingga, posisi tidurnya adalah duduk dengan kaki menggelantung. Membiarkan kaki menggantung di udara hingga subuh adalah tidak mungkin! Akhirnya, kedua kaki saya tekuk menginjak pohon sambil duduk: jadilah tidur dalam posisi seperti jongkok. Posisi ini membuat saya harus terbangun tiap 2-4 jam untuk berdiri, meluruskan kaki, kemudian jongkok lagi, merem.

Kekhusyu’an tersebut tiba-tiba diganggu oleh suara pelatih. “Tuan, sarung bag siapa ini, Tuan!”

“Punya saya, Pelatih,” saya menjawab.

“’Saya’ itu siapa!?”

“Sayyid, W 1093.”

“Kamu turun sekarang juga! Ambil sarung bag kamu!”

“Tidak bisa turun, Pelatih.”

“Kalau tidak turun, saya suruh kamu dan teman-teman seregu kamu untuk laporan sampai pagi. Lakukan sekarang!”

Kami pun laporan satu per satu, menyebut nama dan nomor siswa. Satu putaran selesai. “Lanjutkan!” kata pelatih itu. Dua putaran selesai. “Lagi!” Tiga putaran selesai. “Terus, sampai pagiii…” Putaran ke empat selesai. “Ini! Ini! Ambil sarung bag kamu! Kalau ga pakai sarung bag bisa mati kedinginan kamu! Besok pagi regu ini menghadap saya!” Hingga tulisan ini dibuat, saya tidak tahu siapa pelatih misterius tersebut karena regu saya tidak jadi menghadap.

Dalam keadaan duduk jongkok, saya mengerti kenapa malam ini harus dilewati dengan tabah. Gelap, angin yang dingin, sedikit rasa takut kalau-kalau jatuh, dan posisi tidur yang tidak nyaman; ini adalah satu-satunya malam di PDW yang ingin cepat diakhiri. Benar kata pelatih itu, malam tersebut hanya bisa dilewati bukan dengan fisik yang kuat, tapi dengan ketabahan.

Beberapa suara aksesori terdengar malam itu. Pertama adalah suara tangisan perempuan. Ckckck, serem amat gelap-gelap gini ada suara orang nangis. “Hei, kamu kenapa nangis?” suara siswa perempuan mengikuti tangisan itu, diikuti hembusan nafas lega dari hidung saya.

Kedua adalah suara gedebug, diikuti suara beberapa pelatih yang marah-marah, dan teriakan “Wanadri! Wanadri!” dari siswa berbadan gemuk.

Ketiga, suara seorang siswa yang tiba-tiba laporan di tengah malam yang seharusnya sunyi. Seorang pelatih mendekat, “Tuan! Siapa yang suruh laporan, Tuan!” Di waktu itu, para pelatih sebenarnya tengah berkumpul untuk briefing, sehingga tidak mungkin ada pelatih yang meminta laporan. “Tadi ada dua orang pelatih yang meminta saya laporan, Pelatih,”siswa tersebut menjawab.

“Pelatih siapa?”

“Tidak tahu, Pelatih.”

Hening.

Saya kurang tahu kelanjutan ceritanya. Tak lama, para pelatih berkeliaran ke pohon para siswa, membangunkan kami semua, dan memerintahkan kami untuk laporan. Seusai PDW, barulah saya diceritakan kalau pernah ada seorang siswa meninggal ketika tidur pohon gara-gara “berpuasa”/memilih tidak makan di tahap survival.

Hari kedua tidaklah berbeda. Kami berjalan tidak terlalu cepat dalam satu baris, diiringi pelatih yang kadang-kadang berteriak, “Tuan, teriakan ‘Wanadri’nya, Tuan!”, menapaki punggungan, lembahan, dan berhenti untuk berbelanja.

Mulai hari kedua hasil belanjaan siswa mulai variatif. Ada yang berhasil mendapatkan kadal Sedangkan pendapatan regu saya tidak jauh beda: pakis, batang pisang, begonia.

Bicara begonia, awalnya saya agak heran kalau tumbuhan yang suka mengapung di air itu bisa dimakan. Ternyata, tumbuhan yang kata bu guru merupakan hama itu rasanya sangat “lezat” dan menjadi “snack” favorit. Asam-kecut, itu adalah satu-satunya rasa yang kutemukan di hutan. “Jangan terlalu banyak makan begonia, nanti jadi bego-nian!” komentar pelatih.

Selain begonia, ada juga tanaman (atau buah?) honje. Yang ini rasanya sangat amat betul-betul kecut, jauh lebih kecut dibanding jeruk sunkist. Ketika memakannya, lidah dan bibir terasa perih, tapi itu bukan penghalang untuk menikmati rasa.

Air terlihat mendidih, kami pun menyiapkan sendok dan berdoa. Srrruuupppuuuttt. Ketika itu, saya mulai belajar, bahwa makanan di gunung hutan hanya dikenal satu istilah: enak. Tidak dikenal istilah yang lain.

Hari kedua tahap survival bukanlah hari yang akan dilupakan bagi angkatan Elang Kabut-Cantigi. Siang itu hujan, untuk pertama kalinya semenjak PDW 2012 dilangsungkan. Namun, sekalinya hujan, ia langsung deras—sangat deras! Pelatih langsung membariskan kami yang kala itu sedang berbelanja.

“Keluarkan ponco kalian! Topi rimba dikenakan di atas ponco!”

“Tuan, tidak diam, Tuan! Gerak-gerakkan tubuh kalian!”

“Danru, kamu perintahkan anggota kamu untuk terus gerak. Kalau ada anggota kamu yang diam, saya gampar kamu!”

Saya sangat paham bahwa di saat dingin, terutama hujan, tubuh sama sekali tidak boleh diam. Ia harus terus digerakkan, harus ada panas yang dihasilkan, dan pembuluh darah harus diusahakan agar tidak menyempit. Salah satu pembunuh pendaki gunung tersering adalah hipotermi.

Hujan itu begitu derasnya, sampai-sampai pelatih membatalkan perintah membangun bivak alam solo, diganti dengan bivak alam regu. “Semuanya bergerak! Semuanya bekerja! Tidak ada yang diam! Ada yang mencari kayu dan daun, ada yang membangun bivak, ada yang membuat api!”

Menyalakan api di tengah hujan adalah skill tersendiri dalam membuat api. Tapi, karena hujan itu, kami pun diajarkan bagaimana mengerjakannya.

“Keinginan! Yang paling penting dalam survival adalah keinginan untuk bertahan hidup!” teriak pelatih pendamping sambil menarik-narik topi saya.

Setelah mengikuti berbagai instruksi, api pun berkobar menyala. Tidak hanya di sana, tapi juga di dalam hati; benar kata teman bahwa api dapat membangkitkan semangat di tengah dingin seperti itu. “Ini saya dengar di Lampung: kalau kalian bisa membuat api di tengah hujan, berarti sudah bisa mengurus bini dan anak.” Itu adalah pernyataan pelatih yang hingga kini tidak saya lupakan.

Jam 4 pagi di hari ketiga survival: ampun dinginnya dan ampun basahnya. Tapi kami harus segera bangun dan duduk, dan bergerak. Di tahap survival ini, setelah bangun tidur hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat api. Jika tidak ada api, kami akan kedinginan dan tentu saja tidak bisa masak.

Pakai sepatu, mencari kayu, mengumpulkannya, mengiris-ngirisnya, memotong-motongnya, menyusunnya, menyalakannya. Pagi itu alam telah mengajarkan, bahwa kami harus membunuh rasa malas untuk dapat bertahan hidup.

Hari ketiga adalah hari Jumat. Awal hari diawali dengan survival statis: belanja bahan makanan di sekitar bivak. Saya pun menggenggam golok tebas, mengamati pohon pisang, menebangnya, membelahnya, dan mengambil bagian tengahnya. Batang pisang lagi, pakis lagi, begonia lagi. Kebosanan mulai hadir. Rasanya ingin makan martabak coklat spesial campur keju dekat stasiun Bandung.

“Tuan Sayyid, coba lihat. Ini apa, Tuan?” Seorang pelatih menghampiri api unggun kami.

“Roti bakar, Pelatih.” Ada coklat di dalamnya dan dibakar dengan mentega.

“Coba cium baunya, Tuan. Hahahah.” Saat itu ada yang di dalam kepala tiap siswa adalah bayangan makanan yang ingin dimakan pertama kali begitu PDW usai.

Sop pakis-batang pisang telah mendidih. Sepertinya masih ada getah di airnya, tapi kami harus tetap makan. “Semuanya makan! Tidak boleh ada yang puasa!” Itu adalah instruksi yang diucapkan berulang kali. Sebenarnya adalah ide gila memilih puasa di tahap surival ini. Sudah pasti lemas, tak ada tenaga, dan saya tak berani membayangkan kondisi seperti itu di tengah hutan.

Sekitar jam 11, danlas berkeliling dan mengumumkan bahwa salat jumat akan segera dilaksanakan, dan tiap regu harus menyediakan dua ponco. Itu adalah salat jumat yang ke-4 di PDW, dua hari menjelang pelantikan. Dan, salat jumat adalah satu-satunya waktu di PDW yang dikumandangkan azan.

Sayangnya, kami tidak bisa mengikuti khutbah dengan khusyu. Meskipun khatib tampak bersemangat menyampaikan pesan-pesannya, namun kepala kami terus mematuk-matuk ke bawah.

Ada satu waktu, ketika di tengah-tengah khutbah, sang khatib berdoa. Umumnya jamaah akan menjawab “Amin”. Tapi ada satu siswa yang entah terlalu lelah atau apa, ia menjawab dengan “Wanadri!” Saat itu tak ada satupun yang tertawa, namun beberapa hari kemudian kami terbahak-bahak mengenangnya.

Survival memasuki hari ke-4. Apa saja yang kudapatkan selama itu? Kucoba untuk mengingat itu semua. “Survival bukanlah tentang mencari makanan, melainkan tentang menghargai hidup” Itu adalah perkataan pelatih saat seremoni pembukaan survival.

Menghargai hidup. Suatu hal yang jarang sekali kuperhatikan ketika di tengah kota. Di sini, tengah-tengah belantara ini, hakikatnya kami tengah berjuang untuk bertahan hidup. Bagaimana agar bertahan hidup? Adalah segala yang kami lakukan dalam empat hari ini. Menyiapkan golok, turun ke lembahan, memotong-motong tumbuhan untuk dimasak—bahkan sampai menusuk daka-daka dengan harapan mendapat cacing. Mencari-cari ranting dan kayu, mengupas kulitnya, memotong-motongnya, menyusunnya agar api menyala, sehingga kami bisa memasak. Menebas-nebas dedaunan dan batang kayu, menancapkannya untuk menjadi tiang pancang, menyusunnya agar menjadi atap (sambil berdoa supaya tidak hujan karena bivak yang saya buat berantakan).

Itu semua harus dilakukan walau lapar, walau makanannya itu lagi itu lagi, walau terbayang berbagai macam cemilan dalam khyalan, walau tubuh ini begitu tak bertenaga karena minimnya asupan karbohidrat. Tapi itu semua harus dilakukan walau malas, walau dingin, walau basah kehujanan, walau ingin terus istirahat dan istirahat. Jika tak dilakukan, kami akan mati.

Alam telah mengajarkan bahwa untuk bertahan hidup, kami harus menghargai hidup, dan untuk menghargai hidup, kami tidak boleh malas. Jika malas, kami akan menggigil dalam kedinginan, basah dalam kehujanan, terkapar dalam kelaparan, dan mati dalam kesia-siaan.

Siang hari, kami tiba di lapangan rumput dan berbaris. Seorang pelatih maju ke depan: pelatih yang sama yang membuka tahap survival. Beliau berdiri di hadapan kami, kemudian berteriak, “Dengan ini, tahap survival DITUTUP!”

Bunyi DUUUAARRR!!! membahana di lembah itu, menaikkan asa para siswa untuk terus berteriak, “Wanaadrriiiiiiii!!!”

Kami pun duduk melingkar, mengelilingi bungkusan-bungkusan plastik yang dibawa oleh panitia.Isinya adalah buah pisang—buah pisang asli, bukan batang pisang atau jantung pisang—tempe bacem, lontong, dan energen.

Saya berani bersumpah, buah pisang yang saya makan kala itu adalah makanan terlezat yang pernah kumakan! Begitu pula lontong dan tempe bacemnya. Buyar sudah segala bayangan makanan lezat yang sebelumnya terus dibayangkan.

Alhamdulillah…” kataku sambil memenjamkan mata, menikmati lezatnya buah pisang.

Beberapa menit kemudian, kami bersiap-siap kembali. Ransel dikenakan dan bendera regu diangkat. Perjalanan kami kali ini berupa pendakian punggungan yang lumayan terjal. Saya menengadah, tersenyum, karena tahu bahwa kami sedang menuju tanah pelantikan: kawah upas.

Advertisements
Categories: narasi, pembelajaran, wanadri | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (3): Menghargai Hidup

  1. ibarat maaicih, tidur pohon tuh di pdw level 10na

    Like

  2. ini keren banget!!!
    *sumpah!!!

    ” Alam telah mengajarkan bahwa untuk bertahan hidup, kami harus menghargai hidup, dan untuk menghargai hidup, kami tidak boleh malas. Jika malas, kami akan menggigil dalam kedinginan, basah dalam kehujanan, terkapar dalam kelaparan, dan mati dalam kesia-siaan “

    Like

  3. Asliii baca dariii atasss marinding ketika pelatih berteriak “TUAN” untuk para peserta PDW tidak sabar saya ingin mengikuti PDW2016 dan menyandang gelar nama “TUAN” yg di sematkan pelatih
    *WANADRI*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: