Monthly Archives: September 2012

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (4): Esensi Upacara

Pagi itu masih berkabut. Suhu dingin khas lembah Situ Lembang merasuk ke kulit-kulit yang tengah berada di sana. Terlihat kulit-kulit itu memerah, mengelupas, diganti dengan kulit yang baru, membentuk keropeng. Kelak kulit-kulit yang kedinginan itu akan tersengat panasnya lembah di siang hari.

Tapi pagi itu masih berkabut. Elang membentangkan sayap di balik kabut itu, mengawasi para siswa yang tengah olahraga pagi. Lapangan berumput yang luas itu sebenarnya adalah lapangan upacara. Namun, di salah satu sudutnya, dapat terlihat para siswa melepas baju olahraga, bersahabat dengan dingin dalam gerakan senam pagi.

Tiba-tiba dengan cepat mereka diminta untuk mengenakan kembali kaos putih mereka. Terburu-buru dan tergesa-gesa pakaian itu dikenakan. Para pelatih kemudian menggiring mereka menuju sisi lapangan yang dekat dengan tiang bendera.

“Cepat! Cepat! Jangan bikin malu kalian!” bisik seorang pelatih dalam ketegasannya.

“Cepat! Langsung berbaris! Tidak bingung!” Para siswa berlari secepat mungkin, sedikit kebingungan kenapa mereka harus terburu-buru seperti itu. Mereka menoleh ke sebelah kanan: tampak barisan orang berbaju hijau berjalan sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi.

DRUK! DRUK! DRUK! DRUK! DRUK!

Bunyi itu menggema. Buyi itu dihasilkan oleh dentuman sepatu yang kompak seolah menggambarkan kegagahan pasukan Raider yang tengah berlatih di lembah yang sama.

“Berhenti, GRAK!” Spontan bunyi hentakan berhenti pada irama yang sama. Saya bisa melihat mereka berbaris dengan rapi—sangat rapi! Tidak ada sedikitpun ketidaklurusan, tidak ada satu pun gerakan tambahan! Berbeda dengan kami yang selalu dimarahi karena kesulitan membentuk barisan yang lurus.

Itu adalah pukul 6 pagi. Jam upacara pagi atau penaikan bendera yang secara rutin dilaksanakan di Situ Lembang. Tentara Raider memiliki posisi hormat dengan gaya mereka sendiri—posisi yang mereka teriakkan sebagai “hormat senjata”. Kami pun hormat dengan gaya kami sendiri: posisi hormat seperti kebanyakan orang.

Walaupun warna pakaian kami berbeda, walaupun posisi hormat kami berbeda, tapi kami pagi itu tengah menghormati panji yang sama: merah putih.

Upacara memang tidak setiap hari dilakukan selama PDW. Seremoni ini dilaksanakan—seingat saya—di gedung sate tempat upacara pembukaan, di Situ Lembang, di Bantar Caringin, dan di tanah pelantikan Kawah Upas. Protokol upacara saat pembukaan dan pelantikan mungkin mengadopsi protokol ala militer, seperti penggunaan alat musik trompet dan drum. Pada Situ Lembang dan Bantar Caringin, pelaksanaannya hanya  berupa upacara penaikan dan penurunan bendera. Dilakukan setiap jam 6: pagi untuk penaikan dan sore untuk penurunan.

Jika dipikir-pikir, mengapa Wanadri sampai sebegini niatnya menyelenggarakan upacara bendera saat pendidikan? Awalnya saya berpikir, tentu saja, untuk penanaman nasionalisme dan cinta tanah air. Pendidikan dan pelatihan yang tengah dijalani dengan keras harus tetap diniatkan sebagai pengabdian kepada negeri.

Sekitar sebulan setengah seusai PDW, kami diingatkan oleh Abah Iwan akan esensi upacara bendera. Bahwa esensi itu telah lama menghilang dari setiap pelaksanaan upacara. Bahwa kini hanya berupa seremonial, tanpa memahami betul apa maknanya. Bahkan esensi itu tak pernah ditanamkan ketika upacara bendera dilangsungkan tanggal 17 Agustus di Istana Negara.

“Esensi upacara bendera adalah ‘menghargai’,” begitu kata Abah Iwan.

Adalah menghargai komandan upacara meskipun orangnya telah kita kenal. Ketika ia memberi perintah, maka kita harus mengikutinya dengan gerakan yang tegap. Begitu juga kepada inspektur upacara. Walaupun amanat yang disampaikan bukanlah hal yang seru untuk didengar, bahkan membosankan,  tapi tetap kita harus mendegarnya tanpa gerakan tambahan. Itu adalah bentuk sikap kita menghargai mereka.

Yah, memang itulah yang kali ini agak sulit ditemukan: sikap menghargai orang lain. Jika kitalah yang ada di posisi mereka—komandan atau inspektur upacara—tentu kita ingin dihargai dengan cara didengarkan, bukan?

Jika menelusuri lebih dalam lagi, maka sesungguhnya kita tengah menghormati perjuangan para pahlawan terdahulu. Posisi hormat kepada bendera bukanlah bentuk penyembahan kepada selembar kain berwarna merah putih. Namun, hakikatnya kita tengah memberikan posisi hormat kepada mereka yang telah menyumbangkan darah mereka—juga keluarga mereka—untuk kemerdekaan tanah air.

Bagaimanakah bentuk penghargaan kita kepada mereka? Tentu bukanlah dengan memahat patung berwajah mereka atau mengabadikan nama mereka menjadi nama jalan. Tentu saja, dengan meneruskan cita-cita perjuangan mereka. Tentu saja, dengan melanjutkan jejak mereka yaitu berjuang menjadikan negeri ini adil dan sejahtera.

Sayangnya, hal ini tidak pernah ditanamakan di upacara bendera manapun. Alhasil, kegiatan ini hanya menjadi rutinitas atau seremoni yang membosankan.  Alih-alih menumbuhkan semagat perjuangan dalam aktivitas, yang didapat hanyalah rasa lelah setelah berdiri sekian jam di bawah terik matahari.

Hal seperti ini juga sering ditemukan dalam salat. Setelah berkutat dengan pekerjaan atau aktivitas yang memeras stamina fisik maupun otak, Tuhan memanggil melalui azanNya untuk menghadap. Seharusnya, di momen itulah kita menyandarkan segala kejenuhan dan kelelahan kepadaNya. Saat menghadap kepada Tuhan tanpa perantara itulah seharusnya kita mengingat kembali, bahwa semua pekerjaan itu adalah amal yang kita persembahkan kepadaNya. Jika hal seperti ini dipahami, setidaknya sehari minimal lima kali mendapat recharge semangat, sehingga tidak ada tempat untuk jenuh dan malas.

Begitu pula pada Pendidikan Dasar Wanadri. Sekeras apa pun pendidikan yang diikuti, para siswa tidak boleh lupa bahwa itu mereka jalani sebagai pengabdian kepada negeri. Orang-orang yang dilahirkan di pendidikan ini harus menjadi orang-orang yang tabah dan tangguh menghadapi berbagai persoalan—seekstrem apa pun persoalan itu. “Tidak mengeluh! Hadapi dengan riang gembira!” Itu adalah kata-kata yang sering kali diulang di setiap PDW. Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh negeri untuk menjadi pemimpin.

Sebagaimana telah tersebutkan dalam “Hakikat Wanadri” nomor satu:

“Wanadri itu mengembara dan menempuh daerah-daerah demi kepentingan tanah air dan ilmu pengetahuan”

Advertisements
Categories: wanadri | 1 Comment

Tidak Perlu Buka Topengmu

“Aku ingin berhenti!” Rio tiba-tiba berdiri dari kursinya lalu mondar-mandir. “Apa? Berhenti Apa?” Riza yang tengah asyik dengan laptopnya menoleh ke arah sobatnya.

“Tidak pantas, tentu saja! Bukankah telah kusampaikan ini berkali-kali sejak dulu? Mungkin penampilan luarku terlalu mengagumkan…Nah! Itu dia salahnya!” Rio melipat tangannya, menunduk, melihat cermin sejenak, kemudian, mondar-mandir kembali.

Riza akhirnya melepaskan jemari-jemarinya dari keyboard laptop. Seluruh badannya ia putar, punggung ia sandarkan. “Apa masalahmu dengan penampilan luar yang mengagumkan? Itu tidak salah, bukan, selama bukan niat takabur?”

“Tentu saja! Semua kulakukan dengan niat seoptimal dan sebaik mungkin. Tapi, seolah itu hanya sandiwara. Orang-orang pun menaruh harapan yang besar. Huh, padahal mengurus diri sendiri aja masih tidak becus!” Ia meraih kursi di sudur ruangan, kemudian duduk.

“Ah, aku mengerti yang kau rasa.” Riza mengelus-elus kedua telapak tangannya dan tersenyum. “Aku sangat mengenal dirimu, sobat. Kesukaanmu, kesibukanmu, aktivitas sehari-harimu, hal-hal yang tidak biasa darimu, juga kebiasaan-kebiasaan burukmu.” Riza menjauh dari laptopnya dan fokus kepada lawan bicaranya.

“Yah. Memang, aku apa adanya, kau tahu persis. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan wajahku di balik topeng. Kau sudah tahu semuanya.” Rio menepuk pahanya, menunduk.

“Setiap orang memiliki topeng masing-masing.” Mulut Riza sedikit membuka, hal yang biasa ia lakukan ketika berbicara penuh pertimbangan. “Jangan kira aku pun tidak mengenakan topeng di luar sana. Justru, fungsi topeng harus kita syukuri dan maksimalkan.”

Rio sedikit terkejut “Hee? Bukankah itu hanya akan membuat kita menjadi seorang munafik?”

Senyuman Riza makin lebar. Matanya memejam sejenak, menunduk, kemudian menatap sobatnya dengan antusias. “Kau pikir, kita adalah sempurna, selalu melakukan hal dengan benar tanpa salah? Setiap orang punya kesalahan, besar atau kecil, dan aku yakin tiap orang pun punya sisi kebrengsekannya sendiri.”

Rio bersender pada kursinya, mendengarkan dengan serius. “Tidak menyebut sosok seperti Rasulullah saw. dan para sahabat beliau,” Riza melanjutkan, “entah besar atau kecil, tetap saja kesalahan itu bila diketahui orang lain, akan sangat memalukan. Wajarlah jika disembunyikan.”

“Untuk apa disembunyikan? Biarkanlah semua orang tahu betapa brengseknya diriku. Ini supaya tidak ada lagi orang yang berekspektasi lebih. Selama ini, seolah apa yang kulakukan adalah kemunafikan.”

“Walaupun memang kau orang brengsek,” Riza memajukan tubuhnya, tatapan matanya menjadi serius, “tapi itu bukan niat dan keinginanmu, kan? Sebaik aku mengenalmu, sebaik itulah pemahamanku akan keinginanmu untuk melakukan perbaikan. Lagipula, orang-orang di sekitarmu tak akan peduli dengan cerita melankolismu.”

“Setiap orang melakukan kesalahan atau kejahatan. Sama saja. Yang membedakan adalah keberanian mereka untuk menghadapi proses tanggung jawab,” lanjut Riza.

“Ahh…ya,” Rio mematukkan kepalanya ke depan, mencoba merenung.

“Tidak banyak orang berani mengakui kesalahannya, sebagaimana tidak banyak orang berani jujur terhadap dirinya sendiri. Ketika seseorang melepas tanggung jawab, ketika itulah ia merepotkan orang lain. Di sinilah poin utamanya. Kamu mengerti kan?”

Rio mengangguk pelan. “Bahasa kasarnya, ‘Silakan kamu membuat kesalahan atau kejahatan sebesar apa pun, tapi jangan merepotkan orang lain.’ Saat membuat kesalahan, mungkin kau akan merepotkan teman-temanmu. Nah, di sanalah kau harus mengaku, meminta maaf, dan bertanggub jawab kepada mereka.”

“Iya, aku mengerti. Aku tidak akan lari, insyaAllah tidak akan pernah lari dari kenyataan pahit. Tapi, orang-orang tidak akan merasa repot jika semenjak awal mereka tidak menaruh harapan padaku, bukan?”

“Jika atas dasar itu kau melepas harapan-harapan yang mereka letakkan di bahumu, maka kau telah menyusahkan mereka.” Riza menutup laptopnya, mencabut baterai darinya, menggulung-gulungnya, kemudian berdiri. “Menyerah pada kesalahan yang dibuat, kemudian menghilang dari peradaban, benar-benar tingkah laku bocah tengil.”

Ia mengambil tas yang tergeletak di atas meja, membuka resletingnya, dan memasukkan laptop ke dalamnya. “Gunakan akal sehatmu, bukan emosi,” Riza meraba-raba jaket di dalam lemari. “Pikirkan dengan jernih, apakah dengan melepas harapan mereka, apakah dengan membuka topengmu, itu semua akan memecahkan masalah? Bukan! Berbadan tegaplah, bersuara lantanglah! Hadapi proses tanggung jawab—baik itu dihukum, dipermalukan, dihina, atau bahkan ditendang—dengan berani.”

Rio masih terdiam. Pandangannya menunduk, hal yang biasa ia lakukan jika sedang merenung. “Kemudian, setelah prosesi itu selesai, lanjutkan apa yang seharusnya kau kerjakan dengan semangat baru.” Bunyi resleting jaket terdengar. Ransel terpasang di bahu Riza. Ia kemudian menuju helm dan motornya.

“Apakah memang itu yang Tuhan harapkan dari manusia? Terus berjalan ke luar sambil mengenakan topeng, dan membiarkan orang lain tertipu dengan apa yang mereka lihat?” Rio berdiri menyusul Riza di dekat motornya.

“Kau harus terus mengenakan topengmu agar orang-orang di sekitarmu tidak kerepotan dengan kebusukanmu. Dunia tidak akan peduli, tapi kau harus tetap memenuhi kewajiban untuk mereka.” Bunyi deru mesin motor terdengar. Rio pun melihat Riza melangkah mundur bersama motornya. “Yang jelas, Ia memerintahkan agar kita tidak berputus asa. Percayalah padaNya yang mengampuni semua dosa.” Riza mengenakan helm dan memutar gas.

“Ampunan….Jika demikian adalah tobat sambal yang selama ini kulakukan.”

“Tobat sambal atau apa pun namanya itu, insyaAllah Ia tak pernah bosan mengampuni hambaNya, hingga hambaNya sendiri yang bosan bertobat.” Dari balik helmnya, Rio bisa melihat Riza tersenyum, Bersama bunyi mesin yang semakin kecil, ia menjauhi Rio yang masih menundukkan kepalanya.

Categories: Rio dan Riza | Leave a comment

#dulu dan #kini

#dulu aku bermimpi

Bahwa ingin bisa terbang, mengepakkan sayap bersama burung-burung mungil. Aku di atas sana, di langit biru itu: merasakan terpaan angin yang sejuk, bergoyang ke utara dan selatan, begitu juga timur dan barat. Memandang dengan haru biru yang luas, dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik, hingga ke Samudera Atlantik. Kemudian gunung-gunung yang hijau, dipenuhi pohon-pohon yang berdiri perkasa. Apa nama gunung itu? Ahh, aku tak pernah mau peduli, karena aku sedang bermimpi. Menyeringai lebar, tertawa dengan bahasa burung mungil, dan menyanyikan lagu tradisional mereka.

#kini aku bertekad

Agar bisa berjalan dengan tenang dan damai. Melintasi padang rumput, sungai, bukit, dan lembah, menggunakan kakiku, bukan sayap rekaan. Satu, dua, dan tiga melangkah. Tidak lagi ingin terbang, karena tentu akan melewatkan berbagai keindahan di kiri kananku! Aku juga bisa merasakan nikmatnya duduk meluruskan kaki di puncak, ketika telah berjalan berjam-jam mendaki punggungan. Apa nama puncak itu? Ahh, aku tahu namanya, karena tidak lagi bermimpi. Aku telah bangun dari mimpi panjang, kemudian berjalan—atau berlari—untuk menyatakan mimpi-mimpi itu. Menyeringai, tertawa, sambil bernyanyi dengan bahasaku sendiri.

Apakah perbedaan pada keduanya?

Mungkin masa #dulu adalah masa konyol, karena masih begitu polosnya. Tapi tidak. Masa #dulu adalah masa bermimpi. Masa-masa mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya untuk bermimpi seindah mungkin.

Dan #kini, adalah masa bangun dari mimpi. Membuka mata, dan berjalan dengan misi menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata.

Mimpi #dulu dan #kini tidaklah pernah berbeda. Ia masih sama: menginginkan keindahan. Hanya saja, #dulu masih membayangkan keindahan secara abstrak, dan #kini mampu melukis kembali keabstrakan itu menjadi hal nyata. Bahkan, hal yang jauh lebih indah dapat terungkap setelah kenyataan diamati dengan teliti. #dulu hanya membayangkan lautan, pegunungan, dan pepohonan. #kini bisa merasakan pada rumput, punggungan, lembahan, sungai, dan lainnya.

Berbedakah #dulu dan #kini?

#dulu aku bermimpi, #kini aku berjalan. Masih dengan mimpi yang sama, tidak pernah berubah.

Categories: merenung | Leave a comment

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (3): Menghargai Hidup

Samar-samar terdengar suara pelatih di kejauhan. Mereka membangunkan para siswa ke sana kemari. Jam yang terpasang di tangan menunjukkan pukul empat lebih, memerintahkan kami untuk bangun di subuh yang dingin. Ini salah satu perjuangan terberat: bangun pagi. Bivak yang basah oleh embun dan suhu yang dingin membuat para siswa enggan melepas sarung bagnya.

Tapi kami tidak boleh berlama-lama. Dua orang harus segera mengumpulkan nyawa dalam hitungan detik, memakai kaos kaki dan sepatu yang basah, dan berkumpul untuk mengambil air. Sisa orang dalam regu bisanya butuh hitungan menit untuk bergerak ke luar bivak. Setelah lamunan yang agak panjang, parafin pun dibakar dan diletakkan di kompor lapangan. Yang paling pertama dimasak tentu adalah air.

“Masak minuman apa nih?” kata saya sambil menuang air ke misting.

“Energen aja, campur milo,” jawaban dari dalam bivak terdengar. “Siap!” Dua bungkus energen dan satu bungkus milo pun kusiapkan.

Sekian menit kemudian dua orang yang tadinya mengambil air kembali. Setelah melempar veldples yang baru saja diisi, mereka langsung memburu energen-milo yang tinggal tersisa setengah misting,

“Keluarin semua lauk yang nyisa. Tempe orek, kentang, ikan asin, dendeng, abon…”

“Yang engga masak langsung ganti baju dan packing ya!”

“Masak air lagi dari veldples yang baru aja diisi!”

Para siswa mulai sibuk dengan rutinitas pagi masing-masing. Sepertinya pagi itu akan berjalan normal layaknya tiap pagi di tahap gunung-hutan. Namun, bunyi yang tidak disangka-sangka mengejutkan kami. Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Sejenak kami menghentikan aktivitas sambil berusaha mengidentifikasi bunyi tersebut—bunyi yang sebenarnya sangat familiar.

“Hei, itu bunyi peluit tiga kali. Berarti…”

“Semua harus kumpul.”

“Masa sih? Sekarang baru kan baru jam 5, dan kita belum makan pagi.”

“Itu panggilan buat danlas mungkin…”

Prriiittt…prriiittt…prrriiiiitttt. Bunyi itu terdengar lagi, diikuti teriakan, “Semua kumpuuulll!!!”

Kami masih bergeming, tidak percaya. Akhirnya teriakan pelatih memecahnya. “Tuan! Segera packing, Tuan! Cepat, Tuan!”

Kami bergerak terburu-buru dengan agak kebingungan. Jelas kami belum makan pagi sama sekali, kecuali beberapa teguk energen. Beberapa di antara kami belum ganti baju, bivak belum dibongkar, barang-barang masih tercecer, dan ransel masih berantakan.

“Tuan! Cepat, Tuan! Kamu segera ganti baju, Tuan! Yang sudah ganti baju bongkar bivak dan packing!” Pagi itu diliputi dengan kepanikan, walau akhirnya kami turun juga menuju tempat berkumpul. Ternyata regu kami termasuk yang cepat, karena masih banyak yang di atas. Kami dapat melihat tidak sedikit siswa yang harus turun sambil jalan jongkok.

Setelah prosesi seremonial—yaitu hukuman—barulah kami tahu bahwa misting tidak akan lagi diisi dengan beras. Harum dendeng atau ikan asin tidak akan lagi tercium di pagi, siang, dan malam. Tidaklah akan lagi memasak energen atau milo sang pemicu hormon endorphin. Karena, “Mulai hari ini kalian masuk tahap Survival!”

“Waaaanaaaaadrrriiiii!”

Menu pagi hari itu adalah yang apa tersedia di lembahan. Lima belas menit dianggap sebagai waktu yang cukup bagi kami untuk “belanja” makanan. Serentak siswa menyerosot ke lembahan, bersenjatakan golok tebas, berburu makanan sebanyak-banyaknya. Lembahan adalah ladang sumber makanan, dan regu saya mendapatkan pakis, batang pohon pisang, buah pisang mentah, batang palem, dan begonia.

Berbeda dengan hari-hari biasa, yang cukup membakar parafin dengan korek, di tahap ini kami harus membuat api unggun untuk memasak. Maklum, tidak hanya bahan makanan, segala bahan bakar telah disita oleh pelatih. Hanya beberapa blok parafin dibagikan oleh pelatih sebagai pemicu api, bukan sebagai bahan bakar utama karena jumlahnya tidak akan cukup.

“Tuan Sayyid! Coba baca tulisan ini,” seorang pelatih menghampiri dan menunjukkan bungkus makanan.

“Biskuit gandum,” saya menjawab pelan. “Baca bawahnya.” “Kaya akan bla…bla…bla.” Kemudian pelatih itu mendorong bungkusan itu. “Coba cium baunya.” Setelah mendekatkan hidung, dan mendengar tawa pelan pelatih, saya kembali berusaha membuat api.

Para siswa membuat “sop”, terdiri dari bahan makanan yang disebutkan barusan berbumbu garam. Karena dimasak menggunakan api yang langsung membakar misting, aroma gosong sedikit tercium. Rasanya?

“(Srrruuppuuuttt) Hmmm…enak, enak…”

“Iya. Enak, enak…(srruupuutt…ssrrruupp). Kayaknya kurang asin, tambah lagi garamnya.”

“Bener, enak…” saya mencoba mengikuti.

Pergerakan di tahap survival tidaklah banyak. Kami berjalan berombongan—survival dinamis—mengikuti pelatih, melintasi punggungan dan lembahan. Jalurnya tidaklah menanjak, cenderung datar dan landai. Seingat saya, selama survival paling lama kami berjalan tidak sampai dua jam. Waktu banyak diisi dengan berhenti untuk berbelanja.

Di hari pertama, jam 14 pelatih sudah memerintah kami untuk mendirikan bivak alam, sebagai tempat perlindungan untuk ransel. Benar. Setelah susah payah membuat bivak, kami langsung disuruh ganti pakaian tidur dan membawa ponco.

“Malam ini kalian akan tidur kalong, tidur di pohon!” kata pelatih pada pukul empat sore. “Lewati malam ini dengan tabah!” pelatih itu menambahkan. Saya pikir kalimat terakhir hanya untuk memhiperbolakan suasana. Ternyata bukan: itu adalah kata-kata motivasi yang diteriakkan dengan tulus.

Tiap regu memiliki pohonnya masing-masing, dengan tingkat kesulitan panjat yang berbeda-beda. Menoleh ke sebelah kanan, saya bisa melihat seorang siswa berbadan kecil memanjat pohon dengan cepatnya seperti monyet. Namun, setelah siswa itu bergatung di dahan tempat tidurnya, orang berikutnya terlihat memanjat dengan kesulitan. Para pelatih meneriakinya dari bawah, tapi kurang membantu. Kemudian ia bergelantungan, dan tangannya tidak kuat menahan tubuhnya lama-lama, jadilah ia terjatuh. “Go****!” teriak seorang pelatih.

Melihat seorang teman terjatuh, saya tidak terlalu peduli karena sedang sibuk mempelajari bagaimana memanjat pohon sendiri. Ketika pelatih bertanya, “Siapa yang tidak bisa memanjat pohon?” spontan saya langsung mengangkat tangan.

Saat mulai memanjat, saya mengira akan bernasib lebih buruk daripada orang yang jatuh tadi. Ternyata tidak, malah mendapat pujian, “Tuh, akhirnya kami bisa manjat juga Tuan Sayyid!”

Tapi malam itu belum berakhir. Masih pukul setengah tujuh, dan saya masih kebingungan membuat jangkar untuk menahan tubuh. Tali temali adalah salah satu materi yang masuk telinga kiri keluar terlinga kiri (baca: mantul).

Pukul delapan, dan saya masih berkeringat berusaha membuat jangkar. Tidak hanya itu, sarung bag saya juga terjatuh. “Tuan Sayyid! Turun kamu! Ambil sarung bag kamu!” Merasa itu adalah salah perintah tergila di PDW, saya menjawab, “Tidak mungkin turun, Pelatih…”

Pukul sembilan: jangkar asal-asalan sukses dibuat. Karena tidak percaya dengan jangkar buatan sendiri, saya memilih tidur sambil memeluk pohon. Sehingga, posisi tidurnya adalah duduk dengan kaki menggelantung. Membiarkan kaki menggantung di udara hingga subuh adalah tidak mungkin! Akhirnya, kedua kaki saya tekuk menginjak pohon sambil duduk: jadilah tidur dalam posisi seperti jongkok. Posisi ini membuat saya harus terbangun tiap 2-4 jam untuk berdiri, meluruskan kaki, kemudian jongkok lagi, merem.

Kekhusyu’an tersebut tiba-tiba diganggu oleh suara pelatih. “Tuan, sarung bag siapa ini, Tuan!”

“Punya saya, Pelatih,” saya menjawab.

“’Saya’ itu siapa!?”

“Sayyid, W 1093.”

“Kamu turun sekarang juga! Ambil sarung bag kamu!”

“Tidak bisa turun, Pelatih.”

“Kalau tidak turun, saya suruh kamu dan teman-teman seregu kamu untuk laporan sampai pagi. Lakukan sekarang!”

Kami pun laporan satu per satu, menyebut nama dan nomor siswa. Satu putaran selesai. “Lanjutkan!” kata pelatih itu. Dua putaran selesai. “Lagi!” Tiga putaran selesai. “Terus, sampai pagiii…” Putaran ke empat selesai. “Ini! Ini! Ambil sarung bag kamu! Kalau ga pakai sarung bag bisa mati kedinginan kamu! Besok pagi regu ini menghadap saya!” Hingga tulisan ini dibuat, saya tidak tahu siapa pelatih misterius tersebut karena regu saya tidak jadi menghadap.

Dalam keadaan duduk jongkok, saya mengerti kenapa malam ini harus dilewati dengan tabah. Gelap, angin yang dingin, sedikit rasa takut kalau-kalau jatuh, dan posisi tidur yang tidak nyaman; ini adalah satu-satunya malam di PDW yang ingin cepat diakhiri. Benar kata pelatih itu, malam tersebut hanya bisa dilewati bukan dengan fisik yang kuat, tapi dengan ketabahan.

Beberapa suara aksesori terdengar malam itu. Pertama adalah suara tangisan perempuan. Ckckck, serem amat gelap-gelap gini ada suara orang nangis. “Hei, kamu kenapa nangis?” suara siswa perempuan mengikuti tangisan itu, diikuti hembusan nafas lega dari hidung saya.

Kedua adalah suara gedebug, diikuti suara beberapa pelatih yang marah-marah, dan teriakan “Wanadri! Wanadri!” dari siswa berbadan gemuk.

Ketiga, suara seorang siswa yang tiba-tiba laporan di tengah malam yang seharusnya sunyi. Seorang pelatih mendekat, “Tuan! Siapa yang suruh laporan, Tuan!” Di waktu itu, para pelatih sebenarnya tengah berkumpul untuk briefing, sehingga tidak mungkin ada pelatih yang meminta laporan. “Tadi ada dua orang pelatih yang meminta saya laporan, Pelatih,”siswa tersebut menjawab.

“Pelatih siapa?”

“Tidak tahu, Pelatih.”

Hening.

Saya kurang tahu kelanjutan ceritanya. Tak lama, para pelatih berkeliaran ke pohon para siswa, membangunkan kami semua, dan memerintahkan kami untuk laporan. Seusai PDW, barulah saya diceritakan kalau pernah ada seorang siswa meninggal ketika tidur pohon gara-gara “berpuasa”/memilih tidak makan di tahap survival.

Hari kedua tidaklah berbeda. Kami berjalan tidak terlalu cepat dalam satu baris, diiringi pelatih yang kadang-kadang berteriak, “Tuan, teriakan ‘Wanadri’nya, Tuan!”, menapaki punggungan, lembahan, dan berhenti untuk berbelanja.

Mulai hari kedua hasil belanjaan siswa mulai variatif. Ada yang berhasil mendapatkan kadal Sedangkan pendapatan regu saya tidak jauh beda: pakis, batang pisang, begonia.

Bicara begonia, awalnya saya agak heran kalau tumbuhan yang suka mengapung di air itu bisa dimakan. Ternyata, tumbuhan yang kata bu guru merupakan hama itu rasanya sangat “lezat” dan menjadi “snack” favorit. Asam-kecut, itu adalah satu-satunya rasa yang kutemukan di hutan. “Jangan terlalu banyak makan begonia, nanti jadi bego-nian!” komentar pelatih.

Selain begonia, ada juga tanaman (atau buah?) honje. Yang ini rasanya sangat amat betul-betul kecut, jauh lebih kecut dibanding jeruk sunkist. Ketika memakannya, lidah dan bibir terasa perih, tapi itu bukan penghalang untuk menikmati rasa.

Air terlihat mendidih, kami pun menyiapkan sendok dan berdoa. Srrruuupppuuuttt. Ketika itu, saya mulai belajar, bahwa makanan di gunung hutan hanya dikenal satu istilah: enak. Tidak dikenal istilah yang lain.

Hari kedua tahap survival bukanlah hari yang akan dilupakan bagi angkatan Elang Kabut-Cantigi. Siang itu hujan, untuk pertama kalinya semenjak PDW 2012 dilangsungkan. Namun, sekalinya hujan, ia langsung deras—sangat deras! Pelatih langsung membariskan kami yang kala itu sedang berbelanja.

“Keluarkan ponco kalian! Topi rimba dikenakan di atas ponco!”

“Tuan, tidak diam, Tuan! Gerak-gerakkan tubuh kalian!”

“Danru, kamu perintahkan anggota kamu untuk terus gerak. Kalau ada anggota kamu yang diam, saya gampar kamu!”

Saya sangat paham bahwa di saat dingin, terutama hujan, tubuh sama sekali tidak boleh diam. Ia harus terus digerakkan, harus ada panas yang dihasilkan, dan pembuluh darah harus diusahakan agar tidak menyempit. Salah satu pembunuh pendaki gunung tersering adalah hipotermi.

Hujan itu begitu derasnya, sampai-sampai pelatih membatalkan perintah membangun bivak alam solo, diganti dengan bivak alam regu. “Semuanya bergerak! Semuanya bekerja! Tidak ada yang diam! Ada yang mencari kayu dan daun, ada yang membangun bivak, ada yang membuat api!”

Menyalakan api di tengah hujan adalah skill tersendiri dalam membuat api. Tapi, karena hujan itu, kami pun diajarkan bagaimana mengerjakannya.

“Keinginan! Yang paling penting dalam survival adalah keinginan untuk bertahan hidup!” teriak pelatih pendamping sambil menarik-narik topi saya.

Setelah mengikuti berbagai instruksi, api pun berkobar menyala. Tidak hanya di sana, tapi juga di dalam hati; benar kata teman bahwa api dapat membangkitkan semangat di tengah dingin seperti itu. “Ini saya dengar di Lampung: kalau kalian bisa membuat api di tengah hujan, berarti sudah bisa mengurus bini dan anak.” Itu adalah pernyataan pelatih yang hingga kini tidak saya lupakan.

Jam 4 pagi di hari ketiga survival: ampun dinginnya dan ampun basahnya. Tapi kami harus segera bangun dan duduk, dan bergerak. Di tahap survival ini, setelah bangun tidur hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat api. Jika tidak ada api, kami akan kedinginan dan tentu saja tidak bisa masak.

Pakai sepatu, mencari kayu, mengumpulkannya, mengiris-ngirisnya, memotong-motongnya, menyusunnya, menyalakannya. Pagi itu alam telah mengajarkan, bahwa kami harus membunuh rasa malas untuk dapat bertahan hidup.

Hari ketiga adalah hari Jumat. Awal hari diawali dengan survival statis: belanja bahan makanan di sekitar bivak. Saya pun menggenggam golok tebas, mengamati pohon pisang, menebangnya, membelahnya, dan mengambil bagian tengahnya. Batang pisang lagi, pakis lagi, begonia lagi. Kebosanan mulai hadir. Rasanya ingin makan martabak coklat spesial campur keju dekat stasiun Bandung.

“Tuan Sayyid, coba lihat. Ini apa, Tuan?” Seorang pelatih menghampiri api unggun kami.

“Roti bakar, Pelatih.” Ada coklat di dalamnya dan dibakar dengan mentega.

“Coba cium baunya, Tuan. Hahahah.” Saat itu ada yang di dalam kepala tiap siswa adalah bayangan makanan yang ingin dimakan pertama kali begitu PDW usai.

Sop pakis-batang pisang telah mendidih. Sepertinya masih ada getah di airnya, tapi kami harus tetap makan. “Semuanya makan! Tidak boleh ada yang puasa!” Itu adalah instruksi yang diucapkan berulang kali. Sebenarnya adalah ide gila memilih puasa di tahap surival ini. Sudah pasti lemas, tak ada tenaga, dan saya tak berani membayangkan kondisi seperti itu di tengah hutan.

Sekitar jam 11, danlas berkeliling dan mengumumkan bahwa salat jumat akan segera dilaksanakan, dan tiap regu harus menyediakan dua ponco. Itu adalah salat jumat yang ke-4 di PDW, dua hari menjelang pelantikan. Dan, salat jumat adalah satu-satunya waktu di PDW yang dikumandangkan azan.

Sayangnya, kami tidak bisa mengikuti khutbah dengan khusyu. Meskipun khatib tampak bersemangat menyampaikan pesan-pesannya, namun kepala kami terus mematuk-matuk ke bawah.

Ada satu waktu, ketika di tengah-tengah khutbah, sang khatib berdoa. Umumnya jamaah akan menjawab “Amin”. Tapi ada satu siswa yang entah terlalu lelah atau apa, ia menjawab dengan “Wanadri!” Saat itu tak ada satupun yang tertawa, namun beberapa hari kemudian kami terbahak-bahak mengenangnya.

Survival memasuki hari ke-4. Apa saja yang kudapatkan selama itu? Kucoba untuk mengingat itu semua. “Survival bukanlah tentang mencari makanan, melainkan tentang menghargai hidup” Itu adalah perkataan pelatih saat seremoni pembukaan survival.

Menghargai hidup. Suatu hal yang jarang sekali kuperhatikan ketika di tengah kota. Di sini, tengah-tengah belantara ini, hakikatnya kami tengah berjuang untuk bertahan hidup. Bagaimana agar bertahan hidup? Adalah segala yang kami lakukan dalam empat hari ini. Menyiapkan golok, turun ke lembahan, memotong-motong tumbuhan untuk dimasak—bahkan sampai menusuk daka-daka dengan harapan mendapat cacing. Mencari-cari ranting dan kayu, mengupas kulitnya, memotong-motongnya, menyusunnya agar api menyala, sehingga kami bisa memasak. Menebas-nebas dedaunan dan batang kayu, menancapkannya untuk menjadi tiang pancang, menyusunnya agar menjadi atap (sambil berdoa supaya tidak hujan karena bivak yang saya buat berantakan).

Itu semua harus dilakukan walau lapar, walau makanannya itu lagi itu lagi, walau terbayang berbagai macam cemilan dalam khyalan, walau tubuh ini begitu tak bertenaga karena minimnya asupan karbohidrat. Tapi itu semua harus dilakukan walau malas, walau dingin, walau basah kehujanan, walau ingin terus istirahat dan istirahat. Jika tak dilakukan, kami akan mati.

Alam telah mengajarkan bahwa untuk bertahan hidup, kami harus menghargai hidup, dan untuk menghargai hidup, kami tidak boleh malas. Jika malas, kami akan menggigil dalam kedinginan, basah dalam kehujanan, terkapar dalam kelaparan, dan mati dalam kesia-siaan.

Siang hari, kami tiba di lapangan rumput dan berbaris. Seorang pelatih maju ke depan: pelatih yang sama yang membuka tahap survival. Beliau berdiri di hadapan kami, kemudian berteriak, “Dengan ini, tahap survival DITUTUP!”

Bunyi DUUUAARRR!!! membahana di lembah itu, menaikkan asa para siswa untuk terus berteriak, “Wanaadrriiiiiiii!!!”

Kami pun duduk melingkar, mengelilingi bungkusan-bungkusan plastik yang dibawa oleh panitia.Isinya adalah buah pisang—buah pisang asli, bukan batang pisang atau jantung pisang—tempe bacem, lontong, dan energen.

Saya berani bersumpah, buah pisang yang saya makan kala itu adalah makanan terlezat yang pernah kumakan! Begitu pula lontong dan tempe bacemnya. Buyar sudah segala bayangan makanan lezat yang sebelumnya terus dibayangkan.

Alhamdulillah…” kataku sambil memenjamkan mata, menikmati lezatnya buah pisang.

Beberapa menit kemudian, kami bersiap-siap kembali. Ransel dikenakan dan bendera regu diangkat. Perjalanan kami kali ini berupa pendakian punggungan yang lumayan terjal. Saya menengadah, tersenyum, karena tahu bahwa kami sedang menuju tanah pelantikan: kawah upas.

Categories: narasi, pembelajaran, wanadri | 4 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: