Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (2): Memilih Pemimpin

“Danru, maju ke depan! Tancapkan bendera kalian!”

Orang-orang yang berdiri di barisan paling depan maju beberapa langkah, kemudian menancapkan bendera masing-masing. “Danlas, maju ke depan! Tancapkan benderamu di sini!” Suara yang sama kembali memerintah.

Di saat itu pula saya merasa lega. Waktu menunjukkan sore hari, sekitar pukul empat. Seorang pelatih berdiri di hadapan para siswa PDW 2012 yang tengah berbaris menunggu instruksi. “Sekarang, saya akan membacakan pembagian regu baru. Orang yang paling pertama disebut adalah komandan regu!”

Kemudian terdengar nama-nama diteriakkan. Setiap nama yang disebut oleh pelatih mendapat balasan teriakan “Wanadri!” oleh siswa. Hari ketika saya menjadi danlas (komandan kelas) adalah hari paling pertama di Situ Lembang. Membawa bendera danlas, yang ukuran tongkat dan benderanya lebih besar dibandingkan bendera regu disertai logo PDW 2012, adalah aktivitas danlas. Ia harus menyiapkan para siswa ketika sedang materi kelas, melapor kepada pemateri bahwa siswa mereka siap menerima materi, juga laporan bahwa materi telah selesai. Ia pun memimpin rombongan perwakilan siswa yang mengambil makan dan minum di waktu istirahat. Ia pula yang menggiring perwakilan lainnya yang akan mencuci piring bekas makanan.

Peran danlas dirotasikan. Selama di Situ Lembang, rotasi terjadi tiap 2-3 hari. Bisa dikatakan, sayalah danlas yang paling “nyaman”–sebagai danlas hari pertama–dibandingkan yang lain. Tim Tatib (tata tertib) belum terlalu ganas. Maklum, saat itu semua siswa sangat kelelahan setelah longmarch hampir 24 jam tanpa tidur. Begitu tiba di tanah keramat itu, tidak ada waktu istirahat apalagi tidur bagi siswa (beberapa minggu seusai PDW, barulah saya diberi tahu kalau para pelatih pun mengangkat alis mendengar siswa tidak tidur). Kondisi ini pun dipahami oleh para pelatih.

Danlas, sebagai pemimpin utama para siswa, adalah orang yang paling pertama diminta pertanggungjawaban jika ada pelanggaran tata tertib. Tapi, seperti telah disampaikan, untung bagi saya di hari pertama Tatib belum begitu beraksi (walaupun hari itu saya mendapat dua tamparan akibat kesalahan pribadi). Sehingga amatlah wajar jika nafas lega dihembuskan ketika mendengar bahwa akan dilakukan rotasi regu, danru, dan danlas.

Hari kedua pun bergulir, dan saya tidak lagi memegang tongkat danlas Sesuai dugaan, aktivitas danlas di hari-hari berikutnya jauh lebih sibuk dan riweuh daripada hari pertama. Tatib pun mulai menunjukkan tajinya.

Menurut saya, danlas yang kedua inilah yang paling patut “dikasihani”. Shock training baru benar-benar dimulai di hari kedua, saat para siswa sudah tidur nyenyak. Siang itu Tatib mempersoalkan seorang siswa yang tidak jadi ke MCK di tengah malam karena tidak ada yang menemani. Berdasarkan peraturan, jika ada siswa yang mau buang air di atas jam light off—jam 22.30—maka harus buddy system atau tidak sendirian/ditemani. Entah kenapa di malam itu tak ada satupun temannya yang bisa dibangunkan.

Saya tidak ingat berapa kali bunyi “plak” terdengar dari pipi danlas siang itu, sepertinya hampir mencapai angka sepuluh. Dua di antaranya membuat ia terjatuh karena begitu kerasnya.

Kondisi danlas di hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda (walau menurut saya tidak separah danlas kedua). Mulai hari ke-4, siswa tidak lagi tidur di barak tentara, melainkan di bivak (tenda yang dibuat dari ponco maupun bahan alam). Dan, tugas danlas lebih ribet lagi. Jika saat di barak para siswa terkonsentrasi di satu tempat, tidak dengan bivak. Walau jarak bivak antar regu tidak terlalu jauh, tapi saat itu total ada 22 regu, dan danlas harus mondar-mandir dari regu satu hingga terakhir. Berlari, di malam hari yang dingin serta pakaian basah, membawa tongkat danlas yang berukuran besar, dan berteriak-teriak.

Prriiittt!! Bunyi peluit terdengar sekali. Teriakan “Danlaaaassss!!!” terdengar menyusul.

“Wanadri!” muncul jawaban.

“Danlas!! Cepat danlas!! Lelet kamu!!”

“Wanadri!”

Ketika danlas sedang berusaha secepat mungkin ke sumber suara, para siswa lain sedang asyik masak dan ganti baju tidur. “Semangat danlas…” beberapa siswa mencoba menyemangati.

“Kalian harus membantu danlas kalian!” begitu perintah tatib yang berkali-kali diulang. Para siswa hanya bisa menjawab “Wanadri!” sambil bernafas lega, karena prosesi hukuman baru saja selesai. Tapi, di pagi itu, lagi-lagi kami telat menyelesaikan makan pagi. Saat pelatih berteriak “Sepuluh hitungan harus sudah berbaris!” dan danlas menambahkan, “Ayo teman-teman semua, berbaris!” sambil lari berkeliling ke tiap regu, masih saja ada yang dengan santainya makan dendeng dan minum Jas Jus. Suara pelatih pun terdengar lagi, “Danlas! Ambil posisi push up (sambil mengenakan ransel) sampai seluruh pasukanmu berbaris!” Hmm, apakah menuruti perintah pemimpin begitu sulitnya?

“Sekarang, saya akan membacakan pembagian regu selanjutnya.” Bisa dikatakan, itu adalah kalimat yang paling melegakan bagi danlas. Sebaliknya, merupakan yang paling menegangkan bagisiswa lain. Bagaimana rasanya ketika danlas menancapkan benderanya? “Rasanya seperti melepas beban berat di pundak,” aku seorang mantan danlas.

Ini adalah prosesi pemilihan pemimpin…yang sangat unik menurut saya. Jika di luar sana orang-orang berebut—bahkan mengusahakan segala cara—untuk menjadi pemimpin, maka tidak di PDW ini. Semua orang akan berdoa agar bukan ia yang menjadi pemimpin. Saat pelatih telah membacakan nama danlas selanjutnya, siswa-siswa lain menghembuskan nafas lega. “Alhamdulillah…” bisik saya dalam hati, begitu tahu saya tidak terpilih lagi sebagai danlas.

Mengapa mereka begitu ingin menghindari amanah sebagai pemimpin? Tentu, karena tanggung jawabnya yang begitu besar. Jika danlas membuat kesalahan, tamparan keras akan membuatnya oleng. Bahkan, jika yang dimpinnya—para siswa—membuat kesalahan, seluruh komnandan regu putra akan diminta untuk menamparnya. Ditampar oleh 20 orang karena kesalahan orang lain, bukan kesalahannya! Bagi saya, yang kala itu menampar danlas karena kesalahan siswa lain, sangatlah menyakitkan.

Selain itu, tugas yang melelahkan benar-benar membuat enggan. Siswa lain pada umumnya sedang santai atau istirahat ketika danlas berlari-lari menjawab panggilan pelatih. Saat malam yang dingin, baju yang basah, tubuh yang kelelahan, dan mata yang mengantuk, kecenderungan manusia yang normal adalah tidak banyak beraktivitas dan segera beristirahat. Namun danlas harus mondar-mandir ke tiap bivak regu siswa dan bersuara lantang.

Karena itu, siapakah orang gila yang berani mengajukan diri untuk menanggung beban itu semua, dengan konsekuensi jika melakukan kesalahan akan mendapat tamparan yang keras,? Di sisi lain, mengapa begitu banyak orang gila di luar yang begitu berhasrat memegang kursi kepemimpinan? Mungkin karena PDW memiliki prosedur yang ketat: jika ada penyelewengan maka hukuman segera menyusul, sedangkan yang lain tidak. Pikiran naifkah, seolah tidak akan ada hukuman bagi mereka yang memimpin tapi menyeleweng dari prosedurnya? Saya salah satu orang yang berkeyakinan, jika hukuman di dunia begitu ringannya, maka hukuman dariNya akan sangat keras—jauh lebih keras daripada hukuman di PDW.

Seharusnya—menurut pandangan penulis—pemimpin ideal lahir bukan karena keringatnya mendapatkan jabatan, tapi karena diamanahkan. Ada maksud apa di balik hasrat seseorang yang begitu berambisi menjadi pemimpin? Jika maksud baik, haruskah ia mengorbankan segala cara demi mencapainya? Jika maksud baik, bukankah semua orang dapat menjadi pemimpin secara alamiah, tanpa harus berambisi menduduki jabatan?

“Kepemimpinan bukan diminta, tapi diberikan. given,” begitu kata Abah Iwan pada suatu malam.

Tapi, bukankah justru negeri ini butuh orang-orang yang tampil sebagai pemimpin? Banyak orang-orang dengan niat tidak tulus berambisi menduduki jabatan negeri ini, bukan? Jika orang-orang baik tidak ingin mengajukan diri sebagai pemimpin, akan selamanya negeri ini dipimpin oleh para bajingan?

Ah ya, soal yang satu ini memang rumit. Namun, seperti ketika PDW, danlas akan mampus jika susah payahnya tidak disupport oleh para siswa lain. Begitu juga di dunia nyata ini. Tampaknya urusan memimpin negeri dengan baik bukanlah sekedar mimpi atau cita-cita per individu, tapi milik kumpulan orang yang memiliki visi sama.

Advertisements
Categories: pembelajaran, wanadri | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: