Monthly Archives: August 2012

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012 (2): Memilih Pemimpin

“Danru, maju ke depan! Tancapkan bendera kalian!”

Orang-orang yang berdiri di barisan paling depan maju beberapa langkah, kemudian menancapkan bendera masing-masing. “Danlas, maju ke depan! Tancapkan benderamu di sini!” Suara yang sama kembali memerintah.

Di saat itu pula saya merasa lega. Waktu menunjukkan sore hari, sekitar pukul empat. Seorang pelatih berdiri di hadapan para siswa PDW 2012 yang tengah berbaris menunggu instruksi. “Sekarang, saya akan membacakan pembagian regu baru. Orang yang paling pertama disebut adalah komandan regu!”

Kemudian terdengar nama-nama diteriakkan. Setiap nama yang disebut oleh pelatih mendapat balasan teriakan “Wanadri!” oleh siswa. Hari ketika saya menjadi danlas (komandan kelas) adalah hari paling pertama di Situ Lembang. Membawa bendera danlas, yang ukuran tongkat dan benderanya lebih besar dibandingkan bendera regu disertai logo PDW 2012, adalah aktivitas danlas. Ia harus menyiapkan para siswa ketika sedang materi kelas, melapor kepada pemateri bahwa siswa mereka siap menerima materi, juga laporan bahwa materi telah selesai. Ia pun memimpin rombongan perwakilan siswa yang mengambil makan dan minum di waktu istirahat. Ia pula yang menggiring perwakilan lainnya yang akan mencuci piring bekas makanan.

Peran danlas dirotasikan. Selama di Situ Lembang, rotasi terjadi tiap 2-3 hari. Bisa dikatakan, sayalah danlas yang paling “nyaman”–sebagai danlas hari pertama–dibandingkan yang lain. Tim Tatib (tata tertib) belum terlalu ganas. Maklum, saat itu semua siswa sangat kelelahan setelah longmarch hampir 24 jam tanpa tidur. Begitu tiba di tanah keramat itu, tidak ada waktu istirahat apalagi tidur bagi siswa (beberapa minggu seusai PDW, barulah saya diberi tahu kalau para pelatih pun mengangkat alis mendengar siswa tidak tidur). Kondisi ini pun dipahami oleh para pelatih.

Danlas, sebagai pemimpin utama para siswa, adalah orang yang paling pertama diminta pertanggungjawaban jika ada pelanggaran tata tertib. Tapi, seperti telah disampaikan, untung bagi saya di hari pertama Tatib belum begitu beraksi (walaupun hari itu saya mendapat dua tamparan akibat kesalahan pribadi). Sehingga amatlah wajar jika nafas lega dihembuskan ketika mendengar bahwa akan dilakukan rotasi regu, danru, dan danlas.

Hari kedua pun bergulir, dan saya tidak lagi memegang tongkat danlas Sesuai dugaan, aktivitas danlas di hari-hari berikutnya jauh lebih sibuk dan riweuh daripada hari pertama. Tatib pun mulai menunjukkan tajinya.

Menurut saya, danlas yang kedua inilah yang paling patut “dikasihani”. Shock training baru benar-benar dimulai di hari kedua, saat para siswa sudah tidur nyenyak. Siang itu Tatib mempersoalkan seorang siswa yang tidak jadi ke MCK di tengah malam karena tidak ada yang menemani. Berdasarkan peraturan, jika ada siswa yang mau buang air di atas jam light off—jam 22.30—maka harus buddy system atau tidak sendirian/ditemani. Entah kenapa di malam itu tak ada satupun temannya yang bisa dibangunkan.

Saya tidak ingat berapa kali bunyi “plak” terdengar dari pipi danlas siang itu, sepertinya hampir mencapai angka sepuluh. Dua di antaranya membuat ia terjatuh karena begitu kerasnya.

Kondisi danlas di hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda (walau menurut saya tidak separah danlas kedua). Mulai hari ke-4, siswa tidak lagi tidur di barak tentara, melainkan di bivak (tenda yang dibuat dari ponco maupun bahan alam). Dan, tugas danlas lebih ribet lagi. Jika saat di barak para siswa terkonsentrasi di satu tempat, tidak dengan bivak. Walau jarak bivak antar regu tidak terlalu jauh, tapi saat itu total ada 22 regu, dan danlas harus mondar-mandir dari regu satu hingga terakhir. Berlari, di malam hari yang dingin serta pakaian basah, membawa tongkat danlas yang berukuran besar, dan berteriak-teriak.

Prriiittt!! Bunyi peluit terdengar sekali. Teriakan “Danlaaaassss!!!” terdengar menyusul.

“Wanadri!” muncul jawaban.

“Danlas!! Cepat danlas!! Lelet kamu!!”

“Wanadri!”

Ketika danlas sedang berusaha secepat mungkin ke sumber suara, para siswa lain sedang asyik masak dan ganti baju tidur. “Semangat danlas…” beberapa siswa mencoba menyemangati.

“Kalian harus membantu danlas kalian!” begitu perintah tatib yang berkali-kali diulang. Para siswa hanya bisa menjawab “Wanadri!” sambil bernafas lega, karena prosesi hukuman baru saja selesai. Tapi, di pagi itu, lagi-lagi kami telat menyelesaikan makan pagi. Saat pelatih berteriak “Sepuluh hitungan harus sudah berbaris!” dan danlas menambahkan, “Ayo teman-teman semua, berbaris!” sambil lari berkeliling ke tiap regu, masih saja ada yang dengan santainya makan dendeng dan minum Jas Jus. Suara pelatih pun terdengar lagi, “Danlas! Ambil posisi push up (sambil mengenakan ransel) sampai seluruh pasukanmu berbaris!” Hmm, apakah menuruti perintah pemimpin begitu sulitnya?

“Sekarang, saya akan membacakan pembagian regu selanjutnya.” Bisa dikatakan, itu adalah kalimat yang paling melegakan bagi danlas. Sebaliknya, merupakan yang paling menegangkan bagisiswa lain. Bagaimana rasanya ketika danlas menancapkan benderanya? “Rasanya seperti melepas beban berat di pundak,” aku seorang mantan danlas.

Ini adalah prosesi pemilihan pemimpin…yang sangat unik menurut saya. Jika di luar sana orang-orang berebut—bahkan mengusahakan segala cara—untuk menjadi pemimpin, maka tidak di PDW ini. Semua orang akan berdoa agar bukan ia yang menjadi pemimpin. Saat pelatih telah membacakan nama danlas selanjutnya, siswa-siswa lain menghembuskan nafas lega. “Alhamdulillah…” bisik saya dalam hati, begitu tahu saya tidak terpilih lagi sebagai danlas.

Mengapa mereka begitu ingin menghindari amanah sebagai pemimpin? Tentu, karena tanggung jawabnya yang begitu besar. Jika danlas membuat kesalahan, tamparan keras akan membuatnya oleng. Bahkan, jika yang dimpinnya—para siswa—membuat kesalahan, seluruh komnandan regu putra akan diminta untuk menamparnya. Ditampar oleh 20 orang karena kesalahan orang lain, bukan kesalahannya! Bagi saya, yang kala itu menampar danlas karena kesalahan siswa lain, sangatlah menyakitkan.

Selain itu, tugas yang melelahkan benar-benar membuat enggan. Siswa lain pada umumnya sedang santai atau istirahat ketika danlas berlari-lari menjawab panggilan pelatih. Saat malam yang dingin, baju yang basah, tubuh yang kelelahan, dan mata yang mengantuk, kecenderungan manusia yang normal adalah tidak banyak beraktivitas dan segera beristirahat. Namun danlas harus mondar-mandir ke tiap bivak regu siswa dan bersuara lantang.

Karena itu, siapakah orang gila yang berani mengajukan diri untuk menanggung beban itu semua, dengan konsekuensi jika melakukan kesalahan akan mendapat tamparan yang keras,? Di sisi lain, mengapa begitu banyak orang gila di luar yang begitu berhasrat memegang kursi kepemimpinan? Mungkin karena PDW memiliki prosedur yang ketat: jika ada penyelewengan maka hukuman segera menyusul, sedangkan yang lain tidak. Pikiran naifkah, seolah tidak akan ada hukuman bagi mereka yang memimpin tapi menyeleweng dari prosedurnya? Saya salah satu orang yang berkeyakinan, jika hukuman di dunia begitu ringannya, maka hukuman dariNya akan sangat keras—jauh lebih keras daripada hukuman di PDW.

Seharusnya—menurut pandangan penulis—pemimpin ideal lahir bukan karena keringatnya mendapatkan jabatan, tapi karena diamanahkan. Ada maksud apa di balik hasrat seseorang yang begitu berambisi menjadi pemimpin? Jika maksud baik, haruskah ia mengorbankan segala cara demi mencapainya? Jika maksud baik, bukankah semua orang dapat menjadi pemimpin secara alamiah, tanpa harus berambisi menduduki jabatan?

“Kepemimpinan bukan diminta, tapi diberikan. given,” begitu kata Abah Iwan pada suatu malam.

Tapi, bukankah justru negeri ini butuh orang-orang yang tampil sebagai pemimpin? Banyak orang-orang dengan niat tidak tulus berambisi menduduki jabatan negeri ini, bukan? Jika orang-orang baik tidak ingin mengajukan diri sebagai pemimpin, akan selamanya negeri ini dipimpin oleh para bajingan?

Ah ya, soal yang satu ini memang rumit. Namun, seperti ketika PDW, danlas akan mampus jika susah payahnya tidak disupport oleh para siswa lain. Begitu juga di dunia nyata ini. Tampaknya urusan memimpin negeri dengan baik bukanlah sekedar mimpi atau cita-cita per individu, tapi milik kumpulan orang yang memiliki visi sama.

Categories: pembelajaran, wanadri | Leave a comment

Sebuah Pelajaran dari PDW 2012: Mereka bukan Kuat, Tapi…

Kurang lebih, sekitar jam setengah empat kami terbangun. Dingin. Sarung bag–dua buah sarung yang dijahit jadi satu–harus rela dilepas, digantikan dengan pakaian basah. Pelan-pelan kami mengenakannya, sambil sedikit menggigil. Setelah itu, peregerakan pun harus kembali cepat. Bivak ponco yang kemarin malam dibuat sedemikian rupa agar nyaman ditempati mesti segera dibongkar. Simpul dibuka, tali digulung, dan ponco dilipat.

Tidak hanya itu. Pakaian-pakaian hangat kami–kaos lengan panjang, celana semipolar, jaket polar, sarung tangan, kaos kaki kering, kupluk–semua dilipat, dimasukkan ke dalam plastik, lalu dimasukkan dengan terburu-buru ke dalam ransel. Teriakan para pelatih terdengar dari jarak yang tidak terlalu. Tak lama, bunyi peluit tiga kali–kode semua siswa harus berkumpul–menandakan sudah pukul empat.

Setelah beberapa bentakan dan omelan, kami semua diarahkan ke arah area olahraga pagi–sebelum ke sana, kami digiring dulu ke tempat “pemandian”. Itu adalah sebuah dam yang menampung air Situ Lembang. Apa itu Situ Lembang? Adalah sebuah lembahan yang luas–katanya merupakan mantan kawah purba–dan menjadi area berlatih para siswa PDW selama kurang lebih 2 minggu. Pelatih bilang, tempat itu adalah keramat bagi Wanadri, dan merupakan tempat lahirnya para Wanadri.

Kami turun menuju dam. Dan, air dingin itu mulai memeluk sepatu kami, celana kami, baju olahraga kami, topi rimba kami, hingga kulit kami.

“Wanadriiiii! Wanadriiiii! Wanadriiiii!” kami terus berteriak sekencang-kencangnya untuk melupakan rasa dingin sekaligus menghangatkan tubuh.

Setelah selesai mandi, kami masuk ke sesi olahraga selanjutnya: jalan jongkok. Bagi saya pribadi, jalan jongkok merupakan bagian terberat di tahapuan basic Situ Lembang ini (dan ternyata bukan hanya saya yang berpendapat demikian). Pada hari pertama, kami berolah raga tanpa membawa ransel, sehingga dapat berjalan jongkok dengan ringan–walaupun saya saat itu disuruh mengulang karena curi-curi pakai lutut. Namun mulai hari kedua, ransel yang beratnya sekitar 15 kg menjadi teman kami di jalan jongkok ini. Pernah pada satu pagi saya disuruh pelatih untuk mengulang hingga empat kali gara-gara pakai lutut dan tangan.

Pusing. Berat. Capek. Sakit. Pegel. Nyeri. Ga tahan. Mau mati rasanya. Celangak-celinguk: pelatih tidak memperhatikan, saatnya pakai lutut dan tangan!

Di saat itulah, saat jalan jongkok pagi-pagi, saya melihat ada seorang yang melakukannya tanpa ransel. Ternyata ranselnya diangkut oleh teman di sebelahnya. Orang ini, yang terlihat jalan jongkok susah payah tanpa ransel, sebutlah namanya Ojan. Ia telah menikmati cedera kaki semenjak hari pertama PDW.

Adalah longmarch dari Jl. Aceh hingga Situ Lembang yang menjadi agenda kami di hari pertama itu. Start dimulai dari jam 5 pagi, dan finish di Situ Lembang jam 4 pagi keesokan harinya. Di hari itu, sekitar jam 11 malam, lima orang mengundurkan diri, baik dengan alasan medis maupun alasan tidak kuat.

Tapi salah satunya bukanlah Ojan. Kakinya telah lecet karena ia belum terbiasa longmarch (ada juga yang bilang ia belum pernah naik gunung dan berkegiatan di alam terbuka). Jalannya pun pelan. Tapi ia masih ada di sana, di Situ Lembang, sedang berlatih bersama para siswa lainnya. Olahraga pagi ia ikuti dengan berjalan pelan karena kesulitan berlari. Dengan pelan juga ia jalan jongkok–sepengetahuan saya hanya sekali ranselnya dibawakan oleh orang lain–sambil menahan sakit di kakinya.

“Tuan Ojan!”

“Tuan Ojan!”

“Tuan Ojan!”

Berkali-kali ia dipanggil pelatih karena pergerakannya yang lambat. Sempat kacamatanya tidak digunakan–entah karena hilang atau karena pecah–tapi ia masih tidak mau pulang/mengundurkan diri, hingga pelatih pun memberikannya kacamata baru. Sindiran adalah hal biasa baginya (sering ia dipanggil “Tuan Putri Ojan” oleh pelatih perempuan). Tapi ia masih berdiri di sana, ketika pada hari Kamis para siswa bersiap-siap meninggalkan Situ Lembang untuk memasuki tahap ORAD (olahraga arus deras)-Tebing Terjal. Hari itu telah ada (kurang lebih) 16 orang yang pulang, baik dengan alasan medis maupun mental. Tapi Ojan bukanlah salah satunya.

Di tahap arus deras-tebing terjal pun orang-orang mulai berguguran kembali. Satu karena kakinya rusak parah akibat jarang merawat kaki, satu karena merasa tidak kuat, satu karena sakit hati dengan pelatih, dan satu lagi karena kangen rumah.

Tapi di antara mereka tidak ada Ojan.

Panas. Matahari sedang berterik di sebuah langit tanpa awan. Akankah mendung? Sepertinya tidak, dan itu memupuskan harapanku di tengah hari. Dua buah baja panjang memantulkan cahayanya, begitu pula panasnya. Tidak ada pemandangan lain selain rel kereta yang seolah tak ada habisnya. Dan juga batu, di bantaran rel, jalur yang kaki kami injak. Baja panas: saya menyebutnya demikian untuk tahap longmarch rel kereta tersebut.

Panas. Keringat pun menjadi air mandi. Sebanyak-banyaknya air saya teguk–hingga perut menggembung–agar tidak tumbang. Di tiap pos–total ada lima pos–pelatih membasahi tubuh kami dengan air segar. Ahh! Benar-benar nikmat! Panas pun sementara bisa disembuhkan, tapi tidak dengan telapak kaki. Ketebalan mereka mulai terkikis oleh tusukan batu-batu kerikil besar di bantaran rel. Menjelang pos akhir, langkah kami goyang, dahi mengernyit, dan keluar suara meringkih kesakitan.

Barulah kami tahu, ketika di pos akhir, bahwa ada seorang yang terpaksa dipulangkan karena alasan medis. Tapi itu bukan Ojan.

Kami jalan menggunakan lutut. Menjaga keseimbangan, kemudian mengangkatnya satu per satu, melewati barisan lumpur coklat. Di sana banyak pematang yang bisa dilintasi, tapi kami diarahkan untuk menyeberangi tambak-tambak dengan tanah liat yang rapuh. Langkah biasa tidak bisa digunakan di sini, karena hanya akan membuat kami terhisap.

Beban ransel kadang mendorong kami terjatuh. Di tahap rawa laut ini, ransel menjadi sangat berat karena terisi dan tersarungi oleh lumpur. Dan jika sudah terjatuh, ransel yang begitu berat tidak kuat untuk diangkat, sehingga jadilah badan terperangkap. “Tolong…tolong…” kata seorang di dekat saya yang tertindih ranselnya sendiri. Saya sendiri saat itu sedang berjuang menyeberangi rawa, dan akan menguras tenaga banyak sekali jika saya balik dan membantu mengangkat ranselnya. Padahal, setelah menyeberangi rawa, untuk naik kembali ke pematang memerlukan valsava manuver (mengejan). “Lepas dulu ranselmu…” kata saya mencoba memberi solusi.

Di tahap ini, ada dua orang yang menangis. Satu karena sol sepatunya rusak, sehingga seolah ia berjalan tanpa sepatu–membiarkan telapak kakinya dihabisi. Satu lagi karena tidak kuat, dan lumpuh partial. Yang pertama tangisannya terhenti karena diberikan sepatu baru (sepatu bekas orang lain) oleh pelatih. Yang kedua adalah Ojan. Dua hari perlu kami lewati di tahap ini, dan Ojan menangis di hari pertama.

“Tuan Ojan di mana, Tuan Ojan?” teriak seorang pelatih. “MATI!!” sahut pelatih lain. (Percakapan ini menjadi bahan tertawaan kami seusai PDW)

“Ada satu orang yang mengundurkan diri, ya?”

“Iya. Si Ojan, gara-gara lumpuh.”

Toh, pada kenyataannya, Ojan masih terlihat saat tahap rawa laut berakhir.

Pukul 12 malam, dan terlihat beberapa orang mengenakan ransel besar berjalan melintasi jalan raya. Sepintas seperti orang-orang kuat yang menantang panjangnya jalan raya dengan gagah. Tapi tidak. Mereka adalah lesu, lelah, kantuk, lunglai, dan kesakitan. 60 km merupakan jarak yang perlu ditempuh, dan itu adalah Subang-Purwakarta. Jam setengah delapan pagi mereka berjalan dengan segarnya, dan jam 1 malam mereka mulai bergoyang.

Jalanan sepi, hanya kadang-kadang beberapa mobil melintas. Entah apa komentar si pengemudi mobil itu kalau melihat orang-orang loyo berjalan dengan langkah gontai.

Pada pukul 3.30 subuh pelatih mulai bilang, “Sebentar lagi sampai, Tuan.” Kata sebentar bagi saya berarti masih lumayan jauh, dan begitulah kenyataannya. Saya pun harus memegang tangan seorang lelaki di sebelah–teman seregu–karena langkahnya sudah begitu pelan dan tidak stabil. Tapi di pukul 4 subuh akhirnya sampai di sebuah gedung, sebuah kantor kepala desa Cihanjawar. Begitu sampai, kami semua bersegera membenamkan diri ke dalam sarung bag, di bawah bivak terpal buatan pelatih.

Pagi harinya, saya melihat ada dua bulla (gelembung di kulit berisi cairan yang biasa terlihat pada luka bakar). Tidak besar, tapi merekalah yang membuat perjalanan semalam begitu menyiksa. Saya harus bersyukur, karena hampir semua (atau semua?) siswa punya bulla, dan banyak yang ukurannya lebih besar. Bulla milik saya tidak perlu dipecahi karena ukurannya kecil, tidak seperti beberapa siswa yang berteriak kesakitan ketika ditangani medis.

Ojan? Di mana Ojan? “Saudara-saudaraku, mohon doanya. Saudara kita, Ojan, sedang diinfus di dalam gedung,” kata danlas (komandan kelas).

Dia pingsan di tengah-tengah perjalanan, dan membuat panik tim medis. Jika sampai diinfus seperti itu, sepertinya ia kekurangan banyak cairan. Apakah ini adalah akhir petualangannya?

Tapi, di malam hari menjelang tahap gunung hutan, danlas kembali memberi pengumuman, “Saudara-saudaraku! Saudara kita, Ojan, ingin bergabung, meskipun ketika longmarch kemarin tidak sampai finish. Apakah kalian mengizinkan?”

Ia berjalan dengan pelan dan dahi mengernyit. Tongkat digenggam sebagai alat bantu jalan, dan seorang kawan seregunya menemaninya dengan setia. Ia tertinggal jauh di belakang teman-teman seregunya yang lain. Mereka sedang beristirahat setelah berjalan mengikuti sudut kompas. “Kalau ada pelatih yang marah karena saya lambat, bilang aja kita sedang nunggu Ojan,” kata salah satu dari mereka.

Saya, yang kala itu juga ikut beristirahat, duduk sambil berpikir. Apa yang membuat ia bertahan hingga tahap ini? Dari mana ia mendapat kekuatan yang membuatnya terus bertahan? Saat itu siswa yang tersisa adalah 90 dari mulanya 115. Dua puluh lima orang mengundurkan diri dan kebanyakan dari mereka bukan karena alasan medis. Di antara mereka adalah orang yang sering naik gunung. Seorang merupakan yang paling sampai duluan ketika tahap longmarch menuju Situ Lembang. Ada juga yang merupakan atlet ORAD. Atlet ORAD! Orang bilang ia mencapai angka dua puluhan ketika tes pull up. Sedangkan Ojan adalah orang yang tidak punya pengalaman di alam terbuka dan mengikuti PDW karena disuruh oleh orang tuanya.

Saya mulai berfilosofi. Bukan kelemahan fisiklah yang membuat mereka pulang, melainkan kelemahan jiwa. Bukan kekuatan fisiklah yang membuat Ojan bertahan, melainkan kekuatan jiwa. Fisik tidak memiliki daya jika jiwa telah menyerah. Ketika energi sudah habis, jiwa yang kokoh akan terus memberi suplai energi tambahan.

“Fisik boleh lelah, tapi kalian tidak pernah boleh kehilangan semangat!”

“Bagi saya, semangat adalah kewajiban.”

“Selelah apa pun, jangan sampai kalian kehilangan konsentrasi dan akal sehat!”

Itu adalah kata-kata para pelatih yang terus saya ingat. Sebelum mengikuti PDW, kata “semangat” bagi saya adalah klise. Namun, di PDW, kata “semangat” adalah sumber energi yang sangat berharga. Jika tidak memilikinya, sudah pasti akan minta pulang. Ia lahir dari jiwa yang tidak mau menyerah, begitulah kesimpulan saya ketika melihat Ojan.

Kata pelatih, salah satu tujuan PDW adalah, “Melatih kalian agar tetap konsentrasi dalam kondisi seekstrem apa pun.” Setiap orang memiliki kekuatan fisik yang berbeda. Namun, di kondisi ekstrem seperti PDW, kekuatan fisik hanya keluar jika diberi komando oleh akal yang sehat. Ketika rasa lelah menghampiri setelah 12 jam berjalan sambil membawa beban, atau ketika pipi kesakitan karena digampar oleh dua puluh orang, atau ketika jari ngilu gara-gara push up jari sambil menggendong ransel, atau ketika nafas terengah di tengah lumpur rawa, orang yang akalnya jalan tahu bahwa ia masih sanggup. Sebaliknya, ketika akal sudah tidak fokus lagi, ia merasa sudah tidak sanggup lagi.

Akal memang sering sakit ketika seorang berada jauh di luar zona nyamannya. Tapi untungnya, ia masih dapat diobati, dan dokternya adalah hati/tekad yang kuat. Menurut saya, hampir semua siswa kala itu punya bisikan atau keinginan untuk pulang. Kasur empuk, selimut hangat, air kelapa, nasi padang, ayam bakar, dan kebebasan, adalah hal yang selalu terbayang di dalam kepala. Pikiran telah melayang ke mana-mana. Di sinilah, hati atau tekad sebagai benteng pertahanan terakhir. Mungkin, jiwa pantang menyerah lahir dari akal yang sehat dan tekad yang kuat.

Akhirnya saya paham. Mengapa kami harus longmarch, mengapa harus direndam, mengapa harus jalan jongkok, mengapa harus roll, mengapa harus digampar. Tentu untuk melatih fisik, tapi yang terpenting adalah membentuk mental/jiwa yang kuat. Pendidikan ini untuk mencetak orang-orang yang boleh sakit atau kelelahan, tapi tidak pernah boleh kehilangan semangat. Boleh sakit secara fisik, tapi tidak secara jiwa. Karena, fisik yang sakit dapat ditopang oleh jiwa. Namun, jika jiwa sakit, tidak ada yang dapat menopangnya.

Tanggal 15 Juli 2012, Kawah Upas begitu ramai. Bunyi tembakan dan dinamit ikut memeriahkan suasana. 90 orang dilantik kala itu menjadi Anggota Muda Wanadri. Hari itu terhitung sebagai hari lahirnya angkatan Elang Kabut (putra) dan Cantigi (putri). Terlihat Ojan–saya menyebutnya legenda PDW 2012–ikut upacara di antara mereka.

Mereka yang berdiri tegak di Kawah Upas bukanlah orang-orang  yang kuat, melainkan orang-orang yang sabar. Bukan orang-orang yang kuat secara fisik, melainkan jiwa.

Categories: pembelajaran, wanadri | 16 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: