Apa yang Kapten Amerika Lakukan

Sebagian di antara kita mungkin telah mengetahui siapa kapten Amerika. Dia adalah salah seorang dari sekian banyak tokoh superhero yang dipublikasikan oleh Marvel Comic. Mungkin kapten Amerika adalah tokoh superhero Marvel paling pertama; komik pertamanya dipublikasikan tahun 1941. Yah, tokoh jadul memang.

Akhir-akhir ini, figur kapten Amerika kembali terkenal. Pada tahun 2011, ia dipopulerkan oleh film box office berjudul Captain America: The First Avenger. Kemudian, di tahun ini ia muncul lagi dalam film yang amat dinanti-nantikan oleh penonton di seluruh belahan dunia: The Avengers.

Di film The Avengers, menurut penulis tokoh yang patut diacungi jempol adalah si kapten dengan pakaian norak. Ia telah melakukan suatu hal yang tidak dilakukan oleh Avengers lainnya. Apa yang kapten Amerika lakukan?

The Avengers merupakan proyek yang dicanangkan oleh organisasi mata-mata bernama SHIELD yang bekerja di bawah pemerintah Amerika. Proyek itu dipimpin oleh seorang mata-mata bernama Samuel Jackson, eh, Nick Fury. Agenda proyeknya: mengumpulkan para manusia dengan kemampuan super untuk menghadapi ancaman yang tidak bisa dilawan oleh manusia. Para manusia tidak biasa yang dikumpulkan adalah Hawkeye, Black Widow, Captain America, Iron Man, Hulk, dan Thor–yang terakhir ini sebenarnya tidak diundang, tapi akhirnya dia bergabung.

Kumpulan orang-orang yang luar biasa, bukan? Apa yang terbayang jika mendengar orang-orang dengan kemampuan super dikumpulkan untuk menjalankan suatu misi? Menakjubkan, menegangkan, misi akan diselesaikan dengan mudah, musuh akan gentar, atau penonton akan terpukau? Penulis rasa, kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi yang pertama kali muncul adalah “kacau balau”.

Betapa tidak? Orang-orang di atas adalah para manusia super, yang biasa menyelesaikan masalah menggunakan kekuatannya dengan caranya sendiri. Ketika mereka bersama-sama, apakah mereka akan bergerak bersama sebagai satu tim, atau bergerak dengan metode masing-masing? Jawaban terakhirlah yang cenderung dilakukan oleh kumpulan orang-orang luar biasa.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada film. Pada awal tahun 2000an, klub terkenal asal Spanyol bernama Real Madrid melakukan pembelian bintang secara besar-besaran, seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Roberto Carlos, dan David Beckham. Pada tahun 2002 dan 2003 klub itu cukup sukses, tapi tidak untuk tiga musim berikutnya. Atau, kisah klub Manchester City, yang dibeli oleh Abu Dhabi United Group pada tahun 2008. Di musim panas 2009, City mengocek lebih dari 100 juta pounds. Namun, gelar baru bisa mereka peroleh tahun 2011–piala FA.

Orang-orang hebat yang berkumpul bukanlah suatu jaminan. Karena, yang dibutuhkan bukanlah akumulasi kinerja-kinerja individu, tapi satu kinerja tim. Di sepakbola sendiri, sudah berkali-kali kejadian tim raksasa dikalahkan oleh tim gurem yang menampilkan strategi dan kerja sama mengagumkan.

Begitulah yang terjada pada para pembalas dendam ini. Di antara mereka muncul sikap saling curiga. Ada sikap meremehkan kepada yang lain karena merasa lebih superior. Ketika seorang manusia biasa bernama Samuel Jackson, eh, Nick Fury memberikan komando, mereka semua enggan menurutinya dengan baik. “We are not soldiers!!” begitu kata Tony Stark si Manusia Setrika. Alhasil, debat sengit di antara mereka pun dimanfaatkan oleh musuh.

Layaknya film pada umumnya, akhir cerita berjalan lebih baik. Setelah musuh yang tadinya berhasil ditangkap kemudian melarikan diri, mereka pun menyusun formasi ulang. Ketika musuh-musuh yang kuat berdatangan, mereka bersatu.

Bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk melawan musuh? Di saat itu, atas inisiatif sendiri tanpa instruksi dari siapa pun, kapten Amerika memberi perintah tentang strategi penyerangan: ia tampil sebagai pemimpin secara alami.

Ada satu fakta yang unik. Captain America bukanlah yang paling kuat di antara mereka. Kekuatannya tidak sebesar Hulk atau Thor, ia pun tidak sejenius dan semodern Iron Man. Tapi, bagaimana bisa komandonya dituruti?

Teori kepemimpinan ada banyak ragam dan versinya. Di sini, penulis hanya ingin sedikit menarik benang hikmah dari apa yang dilakukan oleh pahlawan super dengan kostum biru garis merah yang old fashioned.

1. Tegaskan tujuan bersama

Saat di antara para Avengers muncul sikap saling curiga, dan mereka mulai enggan menuntaskan misi dalam tim, kapten Roger menegaskan tujuan mereka berada di sana: menyelesaikan misi yang diberikan. Hal itu setidaknya menyadarkan mereka bahwa ada hal yang lebih penting daripada sekedar berkonflik.

Tujuan, atau visi, adalah syarat pertama berdirinya suatu tim. Ia juga yang membuat para anggota tim untuk tetap memiliki motivasi bekerja. Seringkali, orang-orang mulai tidak totalitas bekerja dikarenakan ia hanya mengerjakan hal yang dianggap sebagai rutinitas: ia lupa apa maksud dan tujuan ia bekerja.

2. Mengenali medan

Medan di sini tentu saja bukan berarti ibukota Sumatera Utara, tapi ruang lingkup. Ketika para musuh mulai memporak-porandakan kota, kapten Roger sadar bahwa kerusakan tersebut tidak boleh meluas: gerakan musuh tidak boleh melebihi area tertentu. Selain itu, ada banyak korban sipil yang terperangkap dalam bangunan yang hancur atau sedang dikepung musuh. Juga, pintu masuk para musuh harus segera ditutup, dan “raja terakhir” harus segera diurus.

Setelah memahami betul kondisinya, pahlawan dengan senjata perisai bulat ini pun langsung memberikan komando kepada para rekannya.

3. Memiliki bargaining position

Apakah ketika kapten Amerika memberikan perintah langsung dituruti begitu saja? Ternyata tidak. Pada satu adegan, sang kapten sedang memberikan perintah kepada kepada para polisi yang telah datang. Kapten memerintah seputar kondisi di area perang. Namun, seorang polisi bertanya, mengapa aku harus menuruti perintahmu? Memang kau siapa?

Yah, tentu. Saat perintah datang, orang-orang yang mendengarnya akan melihat dulu siapa yang memberi perintah. Jika yang memberinya adalah memang orang yang punya posisi untuk memerintah, perintah akan dituruti. Tapi jika tidak, untuk apa? Seseorang harus memiliki “sesuatu”, yang membuat posisinya kuat, sehingga mampu memberikan pengaruh. Bukankah ada teori yang bilang bahwa kepemimpinan itu adalah seni memengaruhi dan tidak lebih?

Bagaimana agar memiliki bargaining position? Tentu, harus ada pencapaian atau karya yang dihasilkan, sehingga memberikan pengaruh. Karya ini bisa bermacam-macam: benda yang dihasilkan, ilmu pengetahuan, jataban yang diduduki, atau pengalaman. Semakin hebat dan besar karya yang dihasilkan, semakin banyak pula orang yang akan terpengaruh. Bahkan ketika ia bukanlah orang yang dalam posisi untuk memberi perintah, kata-katanya akan didengar ketika menginstruksikan sesuatu. Sebaliknya, jika yang instruksi yang sama disampaikan oleh yang berbeda dan tidak memiliki bargaining position, takkan ada seorang pun yang mengacuhkannya.

Begitu pula dengan Captain America. Setelah melihat aksi si kapten menghajar para musuh dengan begitu perkasanya, barulah si polisi menuruti kata-katanya.

4. Memberi pekerjaan sesuai dengan potensi anggota tim

Kapten Roger memerintah Iron Man dan Hawkeye untuk menghajar musuh dari atas. Thor diinstruksikan untuk memanfaatkan kekuatan petir, Hulk diminta membasmi setiap musuh yang menghadang, sedangkan Black Widow bersama kapten menghalau musuh di darat sekaligus menyelematkan warga sipil.

Itulah bagaimana sang kapten layak memberi komando. Ia mengetahui medan perangnya, dan memimpin para Avengers untuk meyerang musuh sesuai kelebihan masing-masing. Penting untuk mengenali potensi tiap anggota dan memberinya pekerjaan sesuai kemampuannya. Banyak cerita tentang orang-orang yang diberdayakan tidak sesuai kemampuanlebihnya, yang berakibat tidak efektifnya pekerjaan dan membuat orang-orang tersebut pundung/kecewa.

5. Komunikasi yang disesuaikan dengan pendengar

Hulk, smash!” Itulah perintah kapten kepada Hulk. Dengan tersenyum, Hulk pun langsung loncat ke dinding gedung untuk meremukkan setiap musuh.

Komunikasi adalah seni tersendiri. Tidak ada aturan baku bagaimana berkomunikasi dengan baik dan benar. Baik dan benar pada satu orang, belum tentu baik dan benar pada orang lain. Baik dan benar pada satu kondisi, belum tentu baik dan benar pada kondisi lain. Sehingga, orang harus cerdas agar komunikasinya efektif: pesannya tersampaikan, dipahami dengan betul oleh lawan bicara, dan dapat diaplikasikan dengan benar.

Berapa banyak kinerja tim yang tidak memuaskan dikarenakan miskomunikasi, atau komunikasi yang tidak memuaskan antara pemimpin tim dengan anggotanya? Mungkin, komunikasi yang efektif tidaklah harus dengan cara yang rumit, tapi dengan cara yang paling dipahami oleh pendengar. Seperti apa yang kapten lakukan: cukup berkata “smash!“, lawan bicaranya langsung mengerti dan melaksanakan instruksinya dengan baik.

 

Satu hal yang juga penting adalah–berkaca dari film yang mantap itu–menjadi pemimpin tidak berarti menjadi yang paling hebat atau berkualitas. Memang, setiap kondisi memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Adakalanya komandan harus seperti bintang: ia memancarkan cahayanya sendiri menyinari sekelilingnya. Biasanya ini dibutuhkan pada tim yang beranggotakan orang-orang yang biasa saja dan membutuhkan revitalisasi. Namun, ketika isinya adalah orang-orang super hebat–bagaikan bintang-bintang dengan cahayanya masing-masing–yang dibutuhkan bukanlah bintang yang paling besar, namun langit yang menaungi mereka semua. Inilah peran kapten Amerika, yaitu menjadi fasilitator bagi kemampuan hebat para anggotanya.

Film ini memiliki ending yang bahagia. Sang penjahat dihukum, dan para pahlawan pembela kebenaran berpencar ke alamnya masing-masing. Sepertinya ada baiknya juga tidak berlama-lama mengumpulkan mereka di satu titik. Pepatah mengatakan kalau dalam satu hutan tidak boleh ada dua singa–apalagi enam. Namun, Samuel Jackson menyatakan bahwa ketika dunia membutuhkan, mereka akan kembali.

Ketika waktunya tiba bagi dunia membutuhkan mereka kembali, akankah Captain America kembali muncul sebagai pemimpin? Mungkin ini salah satu pertanyaan yang menuntut adanya sekuel.

Advertisements
Categories: pembelajaran | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Apa yang Kapten Amerika Lakukan

  1. wahh seru banget kayaknya gan,,

    Like

  2. Johannes FM

    Siapa kapten Indonesia sob? Visi dan misinya apa?

    Like

  3. dimas

    Keren..filosofisnya

    Like

  4. kak aku izin copy setengah dari entri ini ya 🙂 aku satu2nya penggemar berat captain america disekolah & dengan entri dari kakak ini mungkin aku bisa ngasih tau ke mereka yang suka ngeremehin captain. makasih sebelumnya kak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: