Rumatan

Tindakan operasi sudahlah hal lumrah dalam dunia medis. Masyarakat umum pun tidak asing lagi dengan istilah tersebut, dan dapat mengerti bahwa operasi merupakan salah satu upaya penyembuhan jika memang sesuai indikasi.

Mungkin istilah tersebut agak mengerikan bagi sebagian orang. Bagaimana tidak? Walau jenisnya ada banyak, tapi operasi identik dengan kegiatan menyayat kulit, membuka organ dalam, darah bercecer ke mana-mana…siapa yang tidak khawatir jika mengetahui bahwa badannya akan dirobek dan bagian dalam tubuhnya akan diobok-obok?

Mengapa khawatir? Mungkin ada pemikiran bahwa tindakan keras seperti itu akan menghasilkan nyeri yang luar biasa. Tapi, untuk satu hal ini sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena adalah tuntutan bagi dokter untul membuat pasien merasa tidak sakit selama operasi.

Ketika akan dilakukan tindakan operasi, tindakan bius–istilah medisnya anestesi–merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum operasi dimulai, maka pasien sudah tentu dibuat menjadi tidak sakit atau dibius. Akibatnya, seseorang tidak akan mengalami rasa nyeri sedikitpun selama operasi.

Anestesi sendiri ditemukan pada tahun 1840-an. Meskipun demikian, jauh sebelum waktu itu telah dikenal tindakan pembiusan sederhana.

Misalnya, seorang anak yang hendak disunat “dibius” terlebih dahulu dengan cara dicekik sebentar. Setelah si anak tidak sadar, barulah ia disunat. Orang Cina dahulu menggunakan canabis atau ganja. Orang Yunani menggumakan tanaman belladona sebelum tindakan operasi. Atau, pasien disuguhi alkohol hingga menjadi mabuk. Cara lain yang sangat tua adalah menggunakan tongkat kayu untuk membuat seseorang menjadi pingsan.

Kini, pembiusan atau anestesi adalah unsur yang sangat penting dalam dunia medis. Tak terbayangkan jumlah angka kesakitan atau penderitaan tanpa ilmu anestesi. Walau, ada anekdot yang bilang, “Anestesi itu kerjaannya mengganggu. Orang lagi bangun dipaksa tidur, dan ketika lagi enak-enaknya tidur dipaksa bangun.”

Ketika orang hendak dioperasi, ia akan diberikan obat anestesi terlebih dahulu. Terutama pada pasien yang akan dibuat tidur, ada 3 obat yang akan diberikan: obat yang membuat tidur, obat penghilang rasa nyeri, dan obat yang merelakskan otot-otot tubuh. Pemberian obat di awal ini, yang membuat pasien tertidur, disebut dengan “anestesi induksi”. Jumlah obat yang diperlukan untuk membuat pasien tertidur disebut dengan “dosis induksi”. Ia seringnya diberikan melalui jarum suntik. Saat pasien sudah tidak merasa sensasi nyeri dan kehilangan kesadaran, tindakan operasi sudah bisa dimulai.

Selesaikah tindakan anestesi ketika pasien sudah terlelap dalam tidurnya? Memang belum. Setiap obat memberikan efek bagi tubuh tidak akan selamanya. Ada lama waktu atau durasi obat tersebut berefek bagi tubuh seseorang. Setelah obat selesai berefek bagi tubuh, ia pun akan dikeluarkan dari tubuh, baik melalui kencing, tinja, atau keringat.

Bagitu juga dengan obat anestesi. Umumnya ia bekerja hanya beberapa menit. Apa yang akan terjadi jika sekian menit tersebut lewat dan efek obat habis? Pasien akan bangun. Apa jadinya jika pasien bangun sedangkan badan dan organ dalamnya masih diobok-obok?

Untuk mencegahnya, ada obat yang digunakan lagi untuk menjaga agar pasien tetap tidur. Tindakan yang berfungsi untuk tetap menjaga pasien tetap tertidur atau hilang rasa nyerinya disebut dengan “anestesi rumatan”. Jumlah obat yang diperlukan untuk tindakan tersebut disebut dengan “dosis rumatan”. Biasanya obat ini diberikan lewat jalan nafas.

Hal seperti ini pun juga perlu terus diawasi. Kalau jumlah rumatan terlalu banyak, ia dapat membuat pasien tenggelam dalam tidur dan tidak akan bangun lagi untuk selamanya. Kalau terlalu sedikit, pasien bisa bangun.

Kesimpulannya, tindakan rumatan adalah hal yang amat penting. Ia tidak bisa diremehkan dan merupakan prosedur tetap. Jika diabaikan, maka akan dianggap sebagai tindakan malpraktek.

Istilah tindakan rumatan mungkin tidak hanya penting dalam dunia medis. Kita sama-sama mengerti pemeliharaan atau rumatan adalah penting, sama pentingnya ketika memulai sesuatu. Untuk mengerjakan sesuatu, hal tersulitnya adalah “memulai”. Kemudian setelah memulai, hal tersulit berikutnya adalah “memelihara”.

Misal, dalam kehidupan berorganisasi. Semua orang sangat bersemangat ketika memulai sesuatu. Tapi, terutama pada organisasi yang sifatnya sukarela/tidak digaji, berapa banyak organisasi yang sungguh-sungguh memerhatikan pemeliharaan? Seringkali, tindakan rumatan diremehkan dan kurang diberi perhatian khusus.

Kisah yang sama berulang kali terdengar tentang orgnasisasi di sini dan di sana. Di awal-awal kepengurusan atau ketika pelantikan pengurus, nuansa semangat akan membuat berbagai elemen di sana euforia. Mimpi-mimpi utopis pun diteriakkan dengan percaya dirinya. “Harapan baru” adalah slogan yang muncul di tiap awal kepengurusan.

Namun, seberapa lama ruh itu bertahan? Apakah aura euforia itu memiliki durasi yang abadi? Diarahkan ke mana mimpi-mimpi utopis itu? Anekdot pun berbicara: ketika di awal, jumlah pengurus sekian; di tengah-tengah tinggal setengahnya; di akhir yang tersisa tinggal badan pengurus hariannya saja. Klasik, bukan?

Mungkin banyak yang menafikan bahwa manusia bukanlah malaikat yang bisa terus bertasbih memuji Tuhan beratus-ratus tahun tanpa bosan. Semangatnya mudah terbolak-balik. Hatinya bukanlah prosesor komputer yang bisa bekerja seharian tanpa mengeluh.

Bagaimana menjaga itu semua? Tentu tindakan rumatan tidak bisa diremehkan. Bahkan orang-orang berkualitas semacam para sahabat Rasulullah saw. pun durasi semangat imannya “hanya” bertahan selama 3 hari. Setelah itu, mereka memerlukan rumatan. Penulis berpendapat, amat beruntung orang-orang yang ikut kegiatan pengajian yang rutin dan terorganisasi.

Tindakan rumatan bukanlah kegiatan insidental. Ia perlu dilakukan secara terencana dan terorganisasi dengan rapih. Bahkan perlu dilakukan secara rutin dan terus-menerus dievaluasi. Ini dikarenakan sudah fitrah manusia: asupan yang masuk ke dalam tubuh manusia–baik itu makanan, obat, atau motivasi–tidak selamanya akan mengalir dalam darah manusia. Ia kelak akan dibuang ke luar tubuh.

Dosis rumatan pun perlu diperhatikan. Jika terlalu banyak, ia akan menenggalamkan orang-orang dalam utopia. Pun jika terlalu sedikit, ia akan membuat “bangun”: pengaruhnya tidak akan lagi efektif.

Tapi, rumatan tidak hanya diperlukan dalam tindakan medis atau organisasi saja, bukan? Ia pun vital perannya dalam kehidupan secara umum. Karena, yang mencapai tujuan bukanlah yang melangkah di awal atau di tengah-tengah, tapi yang bertahan hingga akhir.

Advertisements
Categories: pembelajaran | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: