Rutinitas

Seorang itu telah bersiap-siap pagi-pagi benar. Mandi pagi dan sarapan telah ia lakukan jam setengah enam dan jam enam. Jam enam kurang lima mobil sudah harus dipanaskan, dan jam enam ia sudah harus meninggalkan garasinya agar tidak terjebak macet.

Ah, sial! Sekarang sudah jam enam seperempat nih!

Sambil sedikit menguap, gas mobilnya diinjak lebih dalam, mengingat jam tujuh ia harus sudah di tempat. Kalau tidak, habislah riwayatnya.

Ia menguap lagi, mengingat semalam ia terpaksa begadang. Tujuan pun akhirnya dicapai dengan selamat–selamat dari sisi nyawa maupun waktu. Sekitar dua jam kurang laporan pagi diikuti dengan anggun.

Jam menunjukkan jam dua belas kurang sedikit. Yeah, akhirnya bisa istirahat setelah diceramahi begitu lama. Ah, tapi jam satu ada bimbingan euy. Adduuhh…belum dibaca lagi bahan presentasinya, ini sih bakal dapat tugas tambahan bonus omelan lagi!

Akhirnya jam dinding dengan bersahabat menunjukkan jam empat sore. Dengan kening agak nyut-nyutan, telinga panas, dan langkah gemulai, seseorang yang sakit kepala dengan agak lega menuju tempat parkir mobilnya.

Tapi kelegaan hanya bertahan sebentar. Yah, Bandung sekarang amat berbeda dengan ketika ia masih bocah: jalanan macet di mana-mana.

Hadeuuhh…ini sepeda motor pake jalan seenaknya aja! Ya Allah, andai ada dunia tanpa sepeda motor!

Jika keberangkatan hanya membutuhkan waktu setengah jam, kepulangan memakan waktu satu setengah jam! Tapi akhirnya garasi terlihat. Kemudian lelah, ngantuk, dan kasur. Ada yang bilang tidur sore itu bikin sinting, tapi saat itu tak ada yang peduli.

Ada tugas yang harus dikerjakan. Waktu dua setengah jam pun harus direlakan demi tugas–plus internetan plus facebookan plus twitteran. Setelah selesai, materi tugas buatan sendiri dan yang dibuat oleh kawan sekelompok harus dipelajari benar-benar kalau tidak ingin mendapat tugas dan omelan tambahan. Materi pun dipelajari dengan sedikit minat–sambil tiduran.

Kurang dari 30 detik, ingatan telah melayang entah ke mana…

Seorang itu telah bersiap-siap pagi-pagi benar. Mandi pagi dan sarapan telah ia lakukan jam setengah enam dan jam enam. Jam enam kurang lima mobil sudah harus dipanaskan, dan jam enam ia sudah harus meninggalkan garasinya agar tidak terjebak macet.

Ah, sial! Sekarang sudah jam enam seperempat nih!

Sambil sedikit menguap, gas mobilnya diinjak lebih dalam, mengingat jam tujuh ia harus sudah di tempat. Kalau tidak, habislah riwayatnya.

***

Apakah manusia memang diciptakan untuk sebuah rutinitas? Jika merenungi apa yang dilakukan oleh manusia kebanyakan setiap harinya, maka rutinitas adalah kata yang tepat.

Bangun tidur. Berangkat sekolah atau kerja. Pulang ke rumah. Mengerjakan tugas. Tidur. Bangun tidur. Berangkat sekolah atau kerja. Pulang ke rumah. Mengerjakan tugas. Tidur. Bangun tidur…

Image

Aahh…memang rutinitas bukan? Apa yang orang-orang lakukan layaknya rotasi bumi yang tidak pernah berhenti atau berbalik arah: monoton.

Tentu sudah sekian tahun kegiatan-kegiatan rutinitas telah dilalui begitu saja. Namun, mengapa selalu ada kata-kata keluhan? Bukankah itu semua sudah berkali-kali dilewati, tapi…kenapa ya tetap saja ada rasa bosan, suntuk, jenuh, malas, dan sebagainya, dan sebagainya?

Hmm, mungkin salah satu fitrah hidup adalah rutinitas. Jantung, paru-paru, liver, ginjal, mereka tak pernah bosan dengan rutinitas. Alhamdulillah, tidak terbayangkan kalau mereka jenuh dan meminta cuti sejenak…

Bahkan, disebutkan malaikat sekian tahun dan tahun dan tahun terus dan terus dan terus bertasbih. Tanpa lelah, jenuh, bosan. Ckckck…tidak terbayang kalau sekian banyak tahun kegiatannya hanya bertasbih.

Mungkin itu pula sifat manusia, bukan? Bahwa ia makhluk yang mudah jenuh, mudah bosan, ingin variasi dan bermacam-macam warna? Karena itulah, tampaknya ada banyak sekali–bahkan mungkin tidak terbatas–variasi kegiatan yang bisa dilakukan oleh satu orang manusia. Bahkan, amal-amal ibadah pun banyak macamnya. Seorang yang jenuh dengan suatu amalan, ia bisa berpindah ke amalan lainnya (sebatas bukan amalan wajib).

“Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Karena itu, adalah penting untuk memiliki kegiatan dengan warna beda dibandingkan dengan aktivitas keseharian. Apa yang dilakukan Sherlock Holmes ketika jenuh memikirkan kasus? Ia akan beralih ke biolanya, atau percobaan-percobaan kimianya yang baunya memuakkan.

Tapi, tetap saja ada kegiatan rutin yang tidak bisa ditinggalkan, karena telah “terjebak”.

Benarkah terjebak? Bukankah semua kegiatan yang terpaksa dilakukan rutin itu telah dipilih sebelumnya? Aku tahu kalau apa yang akan aku hadapi adalah kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja dan tidak bisa ditinggalkan. Tapi kenapa aku tetap memilihnya? Karena ada yang hendak aku capai…

Ah, ya, mungkin inilah yang sering terlupa. Atau memang diingat tapi sengaja dilupakan. Atau, gambaran apa yang ingin dicapai itu mulai buyar dari dalam hati: tak ada lagi keinginan kuat untuk mencapai itu.

Seorang dewasa bukan lagi anak kecil yang “terpaksa” masuk sekolah karena perintah orang tuanya, tanpa mengerti kenapa ia mesti memakai pakaian putih-merah. Seorang dewasa sudah cukup kuasa untuk menentukan aktivitas apa yang ingin dilakukan. Karena itu, memikirkan tujuan yang ingin dicapai dan memantapkannya di dalam hati merupakan syarat wajib sebelum menentukan pilihan. Jika hal itu dilewat, maka pilihannya menjadi tidak sah.

Yah, sekarang saatnya memantapkan kembali di dalam hati tentang pilihan-pilihan yang telah dibuat. Dan, tampaknya memantapkan keyakinan hati pun juga merupakan sebuah “rutinitas wajib”.

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: