Monthly Archives: May 2012

Apa yang Kapten Amerika Lakukan

Sebagian di antara kita mungkin telah mengetahui siapa kapten Amerika. Dia adalah salah seorang dari sekian banyak tokoh superhero yang dipublikasikan oleh Marvel Comic. Mungkin kapten Amerika adalah tokoh superhero Marvel paling pertama; komik pertamanya dipublikasikan tahun 1941. Yah, tokoh jadul memang.

Akhir-akhir ini, figur kapten Amerika kembali terkenal. Pada tahun 2011, ia dipopulerkan oleh film box office berjudul Captain America: The First Avenger. Kemudian, di tahun ini ia muncul lagi dalam film yang amat dinanti-nantikan oleh penonton di seluruh belahan dunia: The Avengers.

Di film The Avengers, menurut penulis tokoh yang patut diacungi jempol adalah si kapten dengan pakaian norak. Ia telah melakukan suatu hal yang tidak dilakukan oleh Avengers lainnya. Apa yang kapten Amerika lakukan?

The Avengers merupakan proyek yang dicanangkan oleh organisasi mata-mata bernama SHIELD yang bekerja di bawah pemerintah Amerika. Proyek itu dipimpin oleh seorang mata-mata bernama Samuel Jackson, eh, Nick Fury. Agenda proyeknya: mengumpulkan para manusia dengan kemampuan super untuk menghadapi ancaman yang tidak bisa dilawan oleh manusia. Para manusia tidak biasa yang dikumpulkan adalah Hawkeye, Black Widow, Captain America, Iron Man, Hulk, dan Thor–yang terakhir ini sebenarnya tidak diundang, tapi akhirnya dia bergabung.

Kumpulan orang-orang yang luar biasa, bukan? Apa yang terbayang jika mendengar orang-orang dengan kemampuan super dikumpulkan untuk menjalankan suatu misi? Menakjubkan, menegangkan, misi akan diselesaikan dengan mudah, musuh akan gentar, atau penonton akan terpukau? Penulis rasa, kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi yang pertama kali muncul adalah “kacau balau”.

Betapa tidak? Orang-orang di atas adalah para manusia super, yang biasa menyelesaikan masalah menggunakan kekuatannya dengan caranya sendiri. Ketika mereka bersama-sama, apakah mereka akan bergerak bersama sebagai satu tim, atau bergerak dengan metode masing-masing? Jawaban terakhirlah yang cenderung dilakukan oleh kumpulan orang-orang luar biasa.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada film. Pada awal tahun 2000an, klub terkenal asal Spanyol bernama Real Madrid melakukan pembelian bintang secara besar-besaran, seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Roberto Carlos, dan David Beckham. Pada tahun 2002 dan 2003 klub itu cukup sukses, tapi tidak untuk tiga musim berikutnya. Atau, kisah klub Manchester City, yang dibeli oleh Abu Dhabi United Group pada tahun 2008. Di musim panas 2009, City mengocek lebih dari 100 juta pounds. Namun, gelar baru bisa mereka peroleh tahun 2011–piala FA.

Orang-orang hebat yang berkumpul bukanlah suatu jaminan. Karena, yang dibutuhkan bukanlah akumulasi kinerja-kinerja individu, tapi satu kinerja tim. Di sepakbola sendiri, sudah berkali-kali kejadian tim raksasa dikalahkan oleh tim gurem yang menampilkan strategi dan kerja sama mengagumkan.

Begitulah yang terjada pada para pembalas dendam ini. Di antara mereka muncul sikap saling curiga. Ada sikap meremehkan kepada yang lain karena merasa lebih superior. Ketika seorang manusia biasa bernama Samuel Jackson, eh, Nick Fury memberikan komando, mereka semua enggan menurutinya dengan baik. “We are not soldiers!!” begitu kata Tony Stark si Manusia Setrika. Alhasil, debat sengit di antara mereka pun dimanfaatkan oleh musuh.

Layaknya film pada umumnya, akhir cerita berjalan lebih baik. Setelah musuh yang tadinya berhasil ditangkap kemudian melarikan diri, mereka pun menyusun formasi ulang. Ketika musuh-musuh yang kuat berdatangan, mereka bersatu.

Bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk melawan musuh? Di saat itu, atas inisiatif sendiri tanpa instruksi dari siapa pun, kapten Amerika memberi perintah tentang strategi penyerangan: ia tampil sebagai pemimpin secara alami.

Ada satu fakta yang unik. Captain America bukanlah yang paling kuat di antara mereka. Kekuatannya tidak sebesar Hulk atau Thor, ia pun tidak sejenius dan semodern Iron Man. Tapi, bagaimana bisa komandonya dituruti?

Teori kepemimpinan ada banyak ragam dan versinya. Di sini, penulis hanya ingin sedikit menarik benang hikmah dari apa yang dilakukan oleh pahlawan super dengan kostum biru garis merah yang old fashioned.

1. Tegaskan tujuan bersama

Saat di antara para Avengers muncul sikap saling curiga, dan mereka mulai enggan menuntaskan misi dalam tim, kapten Roger menegaskan tujuan mereka berada di sana: menyelesaikan misi yang diberikan. Hal itu setidaknya menyadarkan mereka bahwa ada hal yang lebih penting daripada sekedar berkonflik.

Tujuan, atau visi, adalah syarat pertama berdirinya suatu tim. Ia juga yang membuat para anggota tim untuk tetap memiliki motivasi bekerja. Seringkali, orang-orang mulai tidak totalitas bekerja dikarenakan ia hanya mengerjakan hal yang dianggap sebagai rutinitas: ia lupa apa maksud dan tujuan ia bekerja.

2. Mengenali medan

Medan di sini tentu saja bukan berarti ibukota Sumatera Utara, tapi ruang lingkup. Ketika para musuh mulai memporak-porandakan kota, kapten Roger sadar bahwa kerusakan tersebut tidak boleh meluas: gerakan musuh tidak boleh melebihi area tertentu. Selain itu, ada banyak korban sipil yang terperangkap dalam bangunan yang hancur atau sedang dikepung musuh. Juga, pintu masuk para musuh harus segera ditutup, dan “raja terakhir” harus segera diurus.

Setelah memahami betul kondisinya, pahlawan dengan senjata perisai bulat ini pun langsung memberikan komando kepada para rekannya.

3. Memiliki bargaining position

Apakah ketika kapten Amerika memberikan perintah langsung dituruti begitu saja? Ternyata tidak. Pada satu adegan, sang kapten sedang memberikan perintah kepada kepada para polisi yang telah datang. Kapten memerintah seputar kondisi di area perang. Namun, seorang polisi bertanya, mengapa aku harus menuruti perintahmu? Memang kau siapa?

Yah, tentu. Saat perintah datang, orang-orang yang mendengarnya akan melihat dulu siapa yang memberi perintah. Jika yang memberinya adalah memang orang yang punya posisi untuk memerintah, perintah akan dituruti. Tapi jika tidak, untuk apa? Seseorang harus memiliki “sesuatu”, yang membuat posisinya kuat, sehingga mampu memberikan pengaruh. Bukankah ada teori yang bilang bahwa kepemimpinan itu adalah seni memengaruhi dan tidak lebih?

Bagaimana agar memiliki bargaining position? Tentu, harus ada pencapaian atau karya yang dihasilkan, sehingga memberikan pengaruh. Karya ini bisa bermacam-macam: benda yang dihasilkan, ilmu pengetahuan, jataban yang diduduki, atau pengalaman. Semakin hebat dan besar karya yang dihasilkan, semakin banyak pula orang yang akan terpengaruh. Bahkan ketika ia bukanlah orang yang dalam posisi untuk memberi perintah, kata-katanya akan didengar ketika menginstruksikan sesuatu. Sebaliknya, jika yang instruksi yang sama disampaikan oleh yang berbeda dan tidak memiliki bargaining position, takkan ada seorang pun yang mengacuhkannya.

Begitu pula dengan Captain America. Setelah melihat aksi si kapten menghajar para musuh dengan begitu perkasanya, barulah si polisi menuruti kata-katanya.

4. Memberi pekerjaan sesuai dengan potensi anggota tim

Kapten Roger memerintah Iron Man dan Hawkeye untuk menghajar musuh dari atas. Thor diinstruksikan untuk memanfaatkan kekuatan petir, Hulk diminta membasmi setiap musuh yang menghadang, sedangkan Black Widow bersama kapten menghalau musuh di darat sekaligus menyelematkan warga sipil.

Itulah bagaimana sang kapten layak memberi komando. Ia mengetahui medan perangnya, dan memimpin para Avengers untuk meyerang musuh sesuai kelebihan masing-masing. Penting untuk mengenali potensi tiap anggota dan memberinya pekerjaan sesuai kemampuannya. Banyak cerita tentang orang-orang yang diberdayakan tidak sesuai kemampuanlebihnya, yang berakibat tidak efektifnya pekerjaan dan membuat orang-orang tersebut pundung/kecewa.

5. Komunikasi yang disesuaikan dengan pendengar

Hulk, smash!” Itulah perintah kapten kepada Hulk. Dengan tersenyum, Hulk pun langsung loncat ke dinding gedung untuk meremukkan setiap musuh.

Komunikasi adalah seni tersendiri. Tidak ada aturan baku bagaimana berkomunikasi dengan baik dan benar. Baik dan benar pada satu orang, belum tentu baik dan benar pada orang lain. Baik dan benar pada satu kondisi, belum tentu baik dan benar pada kondisi lain. Sehingga, orang harus cerdas agar komunikasinya efektif: pesannya tersampaikan, dipahami dengan betul oleh lawan bicara, dan dapat diaplikasikan dengan benar.

Berapa banyak kinerja tim yang tidak memuaskan dikarenakan miskomunikasi, atau komunikasi yang tidak memuaskan antara pemimpin tim dengan anggotanya? Mungkin, komunikasi yang efektif tidaklah harus dengan cara yang rumit, tapi dengan cara yang paling dipahami oleh pendengar. Seperti apa yang kapten lakukan: cukup berkata “smash!“, lawan bicaranya langsung mengerti dan melaksanakan instruksinya dengan baik.

 

Satu hal yang juga penting adalah–berkaca dari film yang mantap itu–menjadi pemimpin tidak berarti menjadi yang paling hebat atau berkualitas. Memang, setiap kondisi memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Adakalanya komandan harus seperti bintang: ia memancarkan cahayanya sendiri menyinari sekelilingnya. Biasanya ini dibutuhkan pada tim yang beranggotakan orang-orang yang biasa saja dan membutuhkan revitalisasi. Namun, ketika isinya adalah orang-orang super hebat–bagaikan bintang-bintang dengan cahayanya masing-masing–yang dibutuhkan bukanlah bintang yang paling besar, namun langit yang menaungi mereka semua. Inilah peran kapten Amerika, yaitu menjadi fasilitator bagi kemampuan hebat para anggotanya.

Film ini memiliki ending yang bahagia. Sang penjahat dihukum, dan para pahlawan pembela kebenaran berpencar ke alamnya masing-masing. Sepertinya ada baiknya juga tidak berlama-lama mengumpulkan mereka di satu titik. Pepatah mengatakan kalau dalam satu hutan tidak boleh ada dua singa–apalagi enam. Namun, Samuel Jackson menyatakan bahwa ketika dunia membutuhkan, mereka akan kembali.

Ketika waktunya tiba bagi dunia membutuhkan mereka kembali, akankah Captain America kembali muncul sebagai pemimpin? Mungkin ini salah satu pertanyaan yang menuntut adanya sekuel.

Advertisements
Categories: pembelajaran | 4 Comments

Indonesia Butuh Diktator?

Diskusi dan dialog tentang kebangsaan tak pernah usai. Ada berapakah orang-orang dengan niat baik berusaha membangun negeri ini menjadi lebih baik? Tentu sangat banyak. Bukan hanya mereka yang bersemangat dalam dialog-dialog terbuka saja yang demikian, tetapi juga mereka yang berada dalam kursi parlemen dan pemerintahan. Sering terdengar niat-niat baik para wakil rakyat dan pemerintah ingin memajukan negara. Berbagai program dan kebijakan yang bertujuan mensejahterakan rakyat pun diaplikasikan. Kenyataannya? Orang-orang yang bersemangat dalam dialog terbuka tersebut juga sangat bersemangat mengecam kebijakan-kebijakan pemerintah.

Era reformasi sudah hampir 13 tahun dimasuki oleh negeri khatulistiwa ini. “Reformasi”, yang menurut bahasa berarti pembentukan formasi ulang. Tapi, formasi apakah yang diubah? Apa hasil dari penyusunan formasi ulang ini selama 13 tahun? Bukankah banyak yang mengatakan, ketika memasuki era reformasi justru angka korupsi semakin mengganas?

Ke manakah mereka para barisan yang turun ke jalan pada Mei 1999? Para nurani yang bersih, para intelektual yang terasah, para semangat yang membara? Para pita suara yang tak lelah berteriak untuk menurunkan tirani?

Mungkin mereka sekarang sedang berada di rumah, di perusahaan, di kampus kembali, atau di tempat kerja masing-masing. Namun, tak sedikit kini mereka berada di kursi-kursi parlemen atau birokrasi. Ketika para pejuang ini mengambil alih parlemen atau pemerintahan, tentu kita semua mengekspektasikan harapan baru, bukan?

Tapi, kenapa tidak ada perubahan yang berarti pada negeri ini? Kenapa angka korupsi justru semakin besar? Kenapa aktivitas politik sekarang malah jadi aksi teatrikal? Kenapa masih banyak yang miskin, melarat, bodoh, buta huruf, harga-harga semakin naik? Bukankah saat ini posisi pejabat tinggi dipegang oleh para pejuang pergerakan dan rakyat sekarang tengah menikmati demokrasi?

Mungkin sudah saatnya proses regenerasi dilakukan kembali. Saatnya para generasi muda–yang telah mengasah intelektualitas mereka di kampus, yang telah mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah melalui kajian-kajian ilmiah, yang telah mengikuti berbagai macam seminar atau pelatihan kepemimpinan–mengambil alih kepemimpinan negeri ini.

Ah, tapi akankah kita memiliki ekspektasi yang sama? Yakinkah kita para orang baru ini mampu membawa negeri ini ke arah yang lebih baik? Bukankah orang-orang yang kini duduk di kursi-kursi langit juga sama: telah mengasah intelektualitas mereka di kampus, telah mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah melalui kajian-kajian ilmiah, telah mengikuti berbagai macam seminar atau pelatihan kepemimpinan? Lalu, apa bedanya? Mampukah orang-orang yang kini bergelut di dunia normatif dan sebra ideal (baca: kampus) tetap dalam niatnya yang bersih ketika memasuki realita?

Ketika para generasi baru ini memasuki pemerintahan, mungkin tidak banyak langkah baru yang diambil: langkah-langkah yang sama seperti pemerintahan saat ini akan diambil kembali. Mereka akan memperjuangkan demokrasi agar kesejahteraan rakyat terjamin,

Ada pertanyaan menarik: apa yang sedang dicari oleh negeri ini? Demokrasi atau kesejahteraan? Tampaknya demokrasi. Indonesia telah menjelma menjadi salah satu negara paling demokratis di planet bumi. Tiap rakyat bebas berpendapat dan berbicara, termasuk menghina presiden.

Apakah demokrasi saat ini telah berhasil membawa kesejahteraan? Coba bandingkan dengan era orde baru, apakah kesejahteraan semakin tercapai? Atau, mungkin memang negeri ini hanya butuh demokrasi, tidak butuh kesejahteraan?

Benarkah setiap suara rakyat harus dipenuhi? Jika pernah berdialog dengan anak-anak jalanan yang tidak sekolah, maka dapat disimpulkan bahwa mereka tidak sekolah bukan sekedar tidak mampu–sumbangan-sumbangan untuk hal semacam ini ada banyak–tapi itu adalah pilihan mereka. Daripada susah-susah sekolah–harus belajar, mengerjakan PR, dan tidak dapat uang sepeser pun–lebih enak bebas di jalanan dan mengais rupiah melalui mengamen, bukan?

Benarkah setiap suara rakyat harus dipenuhi? Mari berhitung: berapa jumlah masyarakat yang sepakat dan tidak sepakat untuk melestarikan tontonan-tontonan yang tidak mendidik? Apa alasan orang-orang mempertahankan tayangan-tayangan yang sebenarnya membodohi masyarakat tersebut–terutama anak-anak? Mungkin karena “seni” atau “hiburan”.

Benarkah setiap suara rakyat harus dipenuhi? Agama mana yang tidak sepakat bahwa pornografi dan pornoaksi sifatnya merusak? Mengapa mengesahkan RUU itu saja susahnya minta ampun? Banyak yang bilang pornografi dan pornoaksi sifatnya relatif dan tidak ada batasan bakunya. Tapi, jika memang punya niat yang kuat, bukankah akah mudah merumuskan itu semua?

Untuk membuat negeri ini maju, ada banyak langkah-langkah nyata yang bisa diambil. Namun, tampaknya rakyat sendirilah yang akan menentang langkah-langkah itu.

Mahatir, mantan PM Malaysia, pernah bilang kurang lebih seperti ini: lebih baik menghapus demokrasi daripada harus melarat dan makan daging tikus. Moammar Khadafi dikenal sebagai tiran. Tapi di balik itu, ia mampu memprivatisasi sumber daya alam negaranya, dan mempergunakannya untuk kesejahteraan negerinya. Bahkan, bila ada mahasiswa asing yang ingin belajar di sana, ia akan mendapat beasiswa dari pemerintah.

Mungkin, ada sebuah skenario yang bisa dijalankan. Begini naskahnya.

Negeri ini membutuhkan “diktator”, tapi dalam arti yang positif. Ia memiliki niat dan usaha untuk memajukan negeri, dan untuk itu ia perlu memberlakukan kebijakan-kebijakan yang sama sekali tidak populer. Pendidikan menjadi program utamanya: untuk menyiapkan penerus-penerus bangsa puluhan tahun ke depan. Untuk itu, ia harus “memaksa” setiap elemen untuk sekolah. Bahkan bila perlu, ia menghapus tradisi atau kebudayaan setempat yang menolak kemajuan (seperti di beberapa daerah terpencil).

Setiap hiburan atau tayangan yang tidak mendidik dilarang. Sebagai gantinya, media-media yang mendidik disebarluaskan. Selebriti-selebriti asing yang menjual nilai-nilai hedonitas dilarang tampil.

Seleksi birokrat diperketat, peraturan dan kedisiplinan dibuat strik, belanja birokrat diperkecil dan nilai-nilai “melayani masyarakat” menjadi dogma. Sumber daya-sumber daya strategis diprivatisasi dan tidak boleh dikelola oleh swasta juga asing. Hukuman mati diberlakukan–walaupun aktivis HAM akan menentang–terutama bagi para koruptor. Intervensi-intervensi asing, bahkan yang sifatnya mengancam, dengan tegar tidak dihiraukan.

Lawan-lawan atau bahkan mitra politiknya tidak akan setuju dan berusaha menjegal. Namun, agar tidak mengganggu, mereka pun disingkirkan.

Apa yang akan terjadi? Ya, mudah ditebak. Demonstrasi hebat akan berlangsung di mana-mana. Media-media, walaupun telah dikontrol, secara underground akan mengecam. Pihak-pihak oposisi akan bersatu dan menyusun kekuatan. Mungkin akan ada sedikit anarki. Asing pun akan ikut memanaskan suasana. Tapi, demi belangsungnya kebijakan, semua itu diredam dengan paksa.

Usia pemerintahan itu tidak akan lama. Baik itu melalui demonstrasi rakyat yang makin menggila atau agresi militer asing yang bekerja sama dengan oposisi, ia akan dikepung dari berbagai sudut. Atau, setelah merasa tugasnya berakhir, diktator itu akan turun.

Kemudian, ia akan diganti dengan pemimpin yang demokratis dan mendengar suara rakyatnya. Kebijakan-kebijakan yang dijalankan pun sifatnya populis, walaupun tidak begitu mendidik. Namun, apa yang ada di negeri saat itu adalah hasil dari pemimpin sebelumnya. Setiap masyarakat kini berpendidikan, terbiasa dengan budaya belajar dan kerja keras, cenderung memilih hiburan dan media yang sifatnya mendidik, sumber-sumber daya dilindungi pemerintah, dan setiap pihak yang merugikan negara dihukum dengan begitu kerasnya.

Si pemimpin demokratis ini tidak perlu susah-susah menjalankan program baru. Ia tinggal melanjutkan program-program sebelumnya, ditambah beberapa kebijakan populis. Ia pun akan dicintai rakyatnya karena mendengarkan suara mereka dan membawa kesejahteraan. Sebaliknya, si pemimpin diktator akan dikucilkan, atau mencari perlindungan ke luar negeri, atau dihukum mati, atau dibunuh oleh orang-orang tak dikenal.

Dan, tidak banyak yang tahu, bahwa si pemimpin demokratis adalah sobat dari si diktator. Cerita tentang kediktatoran, turunnya diktator, dan naiknya pemimpin yang demokratis merupakan skenario yang mereka susun bersama–termasuk pengorbanan sang diktator di akhir.

 

Mengapa perlu ada konsep tiran atau pemaksaan di sini? Itu semua untuk “merestorasi budaya”. Agak pahit, tapi memang kerja keras dan belajar bukanlah budaya negeri ini. Yang ada adalah budaya santai, kerja sedikit sambil bermimpi penghasilan banyak, dan hidup seadanya tanpa memiliki cita-cita yang tinggi. Setidaknya, itulah komentar kolonial ketika datang ke Indonesia, “Pribumi yang bodoh dan malas.” Akibatnya, orang-orang pribumi harus dipaksa. Hingga sekarang budaya itu masih kuat, bahkan dilegitimasi pemerintah. Contoh program BLT–program yang sangat jitu untuk membuat masyarakat makin malas.

Salah satu contoh hasil dari pemaksaan tersebut adalah terbentangnya jalan pantura di masa Daendels. Jalan itu begitu lurusnya, tidak berkelok-kelok seperti jalur selatan. Di sana terdapat jalan cadas pangeran: jalan yang membentang di atas jurang. Mungkinkah jalan itu dibuat oleh masyarakat negeri ini tanpa pemaksaan? Hingga tahun 2012, jalur utara dan selatan masih begitu-begitu saja. Tidak ada perbaikan yang berarti, yang membuat jumlah korban terus meningkat ketika mudik lebaran.

Mungkin, kebanyakan masyarakat negeri ini seperti anak kecil, dan mendidik negeri ini pun seperti mendidik anak kecil. Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Kecenderungan yang ada adalah untuk terus “bermain” dan hidup enak. Akibatnya, mereka perlu dipahamkan. Tapi, memahamkan orang banyak itu tidaklah mudah, sehingga jalan pemaksaan harus diambil, hingga mereka benar-benar mengerti apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang mereka mau. Kecuali, ada suatu sistem yang bekerja secara sistematis dan bergerak secara massal memahamkan masyarakat–itu pun kalau ada.

Ahh, ini hanya ide gila. Tidak perlu dihiraukan. Lagipula, di manakah diktator yang berniat baik ini ada?

Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely.

Categories: gajelas | 1 Comment

Rumatan

Tindakan operasi sudahlah hal lumrah dalam dunia medis. Masyarakat umum pun tidak asing lagi dengan istilah tersebut, dan dapat mengerti bahwa operasi merupakan salah satu upaya penyembuhan jika memang sesuai indikasi.

Mungkin istilah tersebut agak mengerikan bagi sebagian orang. Bagaimana tidak? Walau jenisnya ada banyak, tapi operasi identik dengan kegiatan menyayat kulit, membuka organ dalam, darah bercecer ke mana-mana…siapa yang tidak khawatir jika mengetahui bahwa badannya akan dirobek dan bagian dalam tubuhnya akan diobok-obok?

Mengapa khawatir? Mungkin ada pemikiran bahwa tindakan keras seperti itu akan menghasilkan nyeri yang luar biasa. Tapi, untuk satu hal ini sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena adalah tuntutan bagi dokter untul membuat pasien merasa tidak sakit selama operasi.

Ketika akan dilakukan tindakan operasi, tindakan bius–istilah medisnya anestesi–merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum operasi dimulai, maka pasien sudah tentu dibuat menjadi tidak sakit atau dibius. Akibatnya, seseorang tidak akan mengalami rasa nyeri sedikitpun selama operasi.

Anestesi sendiri ditemukan pada tahun 1840-an. Meskipun demikian, jauh sebelum waktu itu telah dikenal tindakan pembiusan sederhana.

Misalnya, seorang anak yang hendak disunat “dibius” terlebih dahulu dengan cara dicekik sebentar. Setelah si anak tidak sadar, barulah ia disunat. Orang Cina dahulu menggunakan canabis atau ganja. Orang Yunani menggumakan tanaman belladona sebelum tindakan operasi. Atau, pasien disuguhi alkohol hingga menjadi mabuk. Cara lain yang sangat tua adalah menggunakan tongkat kayu untuk membuat seseorang menjadi pingsan.

Kini, pembiusan atau anestesi adalah unsur yang sangat penting dalam dunia medis. Tak terbayangkan jumlah angka kesakitan atau penderitaan tanpa ilmu anestesi. Walau, ada anekdot yang bilang, “Anestesi itu kerjaannya mengganggu. Orang lagi bangun dipaksa tidur, dan ketika lagi enak-enaknya tidur dipaksa bangun.”

Ketika orang hendak dioperasi, ia akan diberikan obat anestesi terlebih dahulu. Terutama pada pasien yang akan dibuat tidur, ada 3 obat yang akan diberikan: obat yang membuat tidur, obat penghilang rasa nyeri, dan obat yang merelakskan otot-otot tubuh. Pemberian obat di awal ini, yang membuat pasien tertidur, disebut dengan “anestesi induksi”. Jumlah obat yang diperlukan untuk membuat pasien tertidur disebut dengan “dosis induksi”. Ia seringnya diberikan melalui jarum suntik. Saat pasien sudah tidak merasa sensasi nyeri dan kehilangan kesadaran, tindakan operasi sudah bisa dimulai.

Selesaikah tindakan anestesi ketika pasien sudah terlelap dalam tidurnya? Memang belum. Setiap obat memberikan efek bagi tubuh tidak akan selamanya. Ada lama waktu atau durasi obat tersebut berefek bagi tubuh seseorang. Setelah obat selesai berefek bagi tubuh, ia pun akan dikeluarkan dari tubuh, baik melalui kencing, tinja, atau keringat.

Bagitu juga dengan obat anestesi. Umumnya ia bekerja hanya beberapa menit. Apa yang akan terjadi jika sekian menit tersebut lewat dan efek obat habis? Pasien akan bangun. Apa jadinya jika pasien bangun sedangkan badan dan organ dalamnya masih diobok-obok?

Untuk mencegahnya, ada obat yang digunakan lagi untuk menjaga agar pasien tetap tidur. Tindakan yang berfungsi untuk tetap menjaga pasien tetap tertidur atau hilang rasa nyerinya disebut dengan “anestesi rumatan”. Jumlah obat yang diperlukan untuk tindakan tersebut disebut dengan “dosis rumatan”. Biasanya obat ini diberikan lewat jalan nafas.

Hal seperti ini pun juga perlu terus diawasi. Kalau jumlah rumatan terlalu banyak, ia dapat membuat pasien tenggelam dalam tidur dan tidak akan bangun lagi untuk selamanya. Kalau terlalu sedikit, pasien bisa bangun.

Kesimpulannya, tindakan rumatan adalah hal yang amat penting. Ia tidak bisa diremehkan dan merupakan prosedur tetap. Jika diabaikan, maka akan dianggap sebagai tindakan malpraktek.

Istilah tindakan rumatan mungkin tidak hanya penting dalam dunia medis. Kita sama-sama mengerti pemeliharaan atau rumatan adalah penting, sama pentingnya ketika memulai sesuatu. Untuk mengerjakan sesuatu, hal tersulitnya adalah “memulai”. Kemudian setelah memulai, hal tersulit berikutnya adalah “memelihara”.

Misal, dalam kehidupan berorganisasi. Semua orang sangat bersemangat ketika memulai sesuatu. Tapi, terutama pada organisasi yang sifatnya sukarela/tidak digaji, berapa banyak organisasi yang sungguh-sungguh memerhatikan pemeliharaan? Seringkali, tindakan rumatan diremehkan dan kurang diberi perhatian khusus.

Kisah yang sama berulang kali terdengar tentang orgnasisasi di sini dan di sana. Di awal-awal kepengurusan atau ketika pelantikan pengurus, nuansa semangat akan membuat berbagai elemen di sana euforia. Mimpi-mimpi utopis pun diteriakkan dengan percaya dirinya. “Harapan baru” adalah slogan yang muncul di tiap awal kepengurusan.

Namun, seberapa lama ruh itu bertahan? Apakah aura euforia itu memiliki durasi yang abadi? Diarahkan ke mana mimpi-mimpi utopis itu? Anekdot pun berbicara: ketika di awal, jumlah pengurus sekian; di tengah-tengah tinggal setengahnya; di akhir yang tersisa tinggal badan pengurus hariannya saja. Klasik, bukan?

Mungkin banyak yang menafikan bahwa manusia bukanlah malaikat yang bisa terus bertasbih memuji Tuhan beratus-ratus tahun tanpa bosan. Semangatnya mudah terbolak-balik. Hatinya bukanlah prosesor komputer yang bisa bekerja seharian tanpa mengeluh.

Bagaimana menjaga itu semua? Tentu tindakan rumatan tidak bisa diremehkan. Bahkan orang-orang berkualitas semacam para sahabat Rasulullah saw. pun durasi semangat imannya “hanya” bertahan selama 3 hari. Setelah itu, mereka memerlukan rumatan. Penulis berpendapat, amat beruntung orang-orang yang ikut kegiatan pengajian yang rutin dan terorganisasi.

Tindakan rumatan bukanlah kegiatan insidental. Ia perlu dilakukan secara terencana dan terorganisasi dengan rapih. Bahkan perlu dilakukan secara rutin dan terus-menerus dievaluasi. Ini dikarenakan sudah fitrah manusia: asupan yang masuk ke dalam tubuh manusia–baik itu makanan, obat, atau motivasi–tidak selamanya akan mengalir dalam darah manusia. Ia kelak akan dibuang ke luar tubuh.

Dosis rumatan pun perlu diperhatikan. Jika terlalu banyak, ia akan menenggalamkan orang-orang dalam utopia. Pun jika terlalu sedikit, ia akan membuat “bangun”: pengaruhnya tidak akan lagi efektif.

Tapi, rumatan tidak hanya diperlukan dalam tindakan medis atau organisasi saja, bukan? Ia pun vital perannya dalam kehidupan secara umum. Karena, yang mencapai tujuan bukanlah yang melangkah di awal atau di tengah-tengah, tapi yang bertahan hingga akhir.

Categories: pembelajaran | Leave a comment

Rutinitas

Seorang itu telah bersiap-siap pagi-pagi benar. Mandi pagi dan sarapan telah ia lakukan jam setengah enam dan jam enam. Jam enam kurang lima mobil sudah harus dipanaskan, dan jam enam ia sudah harus meninggalkan garasinya agar tidak terjebak macet.

Ah, sial! Sekarang sudah jam enam seperempat nih!

Sambil sedikit menguap, gas mobilnya diinjak lebih dalam, mengingat jam tujuh ia harus sudah di tempat. Kalau tidak, habislah riwayatnya.

Ia menguap lagi, mengingat semalam ia terpaksa begadang. Tujuan pun akhirnya dicapai dengan selamat–selamat dari sisi nyawa maupun waktu. Sekitar dua jam kurang laporan pagi diikuti dengan anggun.

Jam menunjukkan jam dua belas kurang sedikit. Yeah, akhirnya bisa istirahat setelah diceramahi begitu lama. Ah, tapi jam satu ada bimbingan euy. Adduuhh…belum dibaca lagi bahan presentasinya, ini sih bakal dapat tugas tambahan bonus omelan lagi!

Akhirnya jam dinding dengan bersahabat menunjukkan jam empat sore. Dengan kening agak nyut-nyutan, telinga panas, dan langkah gemulai, seseorang yang sakit kepala dengan agak lega menuju tempat parkir mobilnya.

Tapi kelegaan hanya bertahan sebentar. Yah, Bandung sekarang amat berbeda dengan ketika ia masih bocah: jalanan macet di mana-mana.

Hadeuuhh…ini sepeda motor pake jalan seenaknya aja! Ya Allah, andai ada dunia tanpa sepeda motor!

Jika keberangkatan hanya membutuhkan waktu setengah jam, kepulangan memakan waktu satu setengah jam! Tapi akhirnya garasi terlihat. Kemudian lelah, ngantuk, dan kasur. Ada yang bilang tidur sore itu bikin sinting, tapi saat itu tak ada yang peduli.

Ada tugas yang harus dikerjakan. Waktu dua setengah jam pun harus direlakan demi tugas–plus internetan plus facebookan plus twitteran. Setelah selesai, materi tugas buatan sendiri dan yang dibuat oleh kawan sekelompok harus dipelajari benar-benar kalau tidak ingin mendapat tugas dan omelan tambahan. Materi pun dipelajari dengan sedikit minat–sambil tiduran.

Kurang dari 30 detik, ingatan telah melayang entah ke mana…

Seorang itu telah bersiap-siap pagi-pagi benar. Mandi pagi dan sarapan telah ia lakukan jam setengah enam dan jam enam. Jam enam kurang lima mobil sudah harus dipanaskan, dan jam enam ia sudah harus meninggalkan garasinya agar tidak terjebak macet.

Ah, sial! Sekarang sudah jam enam seperempat nih!

Sambil sedikit menguap, gas mobilnya diinjak lebih dalam, mengingat jam tujuh ia harus sudah di tempat. Kalau tidak, habislah riwayatnya.

***

Apakah manusia memang diciptakan untuk sebuah rutinitas? Jika merenungi apa yang dilakukan oleh manusia kebanyakan setiap harinya, maka rutinitas adalah kata yang tepat.

Bangun tidur. Berangkat sekolah atau kerja. Pulang ke rumah. Mengerjakan tugas. Tidur. Bangun tidur. Berangkat sekolah atau kerja. Pulang ke rumah. Mengerjakan tugas. Tidur. Bangun tidur…

Image

Aahh…memang rutinitas bukan? Apa yang orang-orang lakukan layaknya rotasi bumi yang tidak pernah berhenti atau berbalik arah: monoton.

Tentu sudah sekian tahun kegiatan-kegiatan rutinitas telah dilalui begitu saja. Namun, mengapa selalu ada kata-kata keluhan? Bukankah itu semua sudah berkali-kali dilewati, tapi…kenapa ya tetap saja ada rasa bosan, suntuk, jenuh, malas, dan sebagainya, dan sebagainya?

Hmm, mungkin salah satu fitrah hidup adalah rutinitas. Jantung, paru-paru, liver, ginjal, mereka tak pernah bosan dengan rutinitas. Alhamdulillah, tidak terbayangkan kalau mereka jenuh dan meminta cuti sejenak…

Bahkan, disebutkan malaikat sekian tahun dan tahun dan tahun terus dan terus dan terus bertasbih. Tanpa lelah, jenuh, bosan. Ckckck…tidak terbayang kalau sekian banyak tahun kegiatannya hanya bertasbih.

Mungkin itu pula sifat manusia, bukan? Bahwa ia makhluk yang mudah jenuh, mudah bosan, ingin variasi dan bermacam-macam warna? Karena itulah, tampaknya ada banyak sekali–bahkan mungkin tidak terbatas–variasi kegiatan yang bisa dilakukan oleh satu orang manusia. Bahkan, amal-amal ibadah pun banyak macamnya. Seorang yang jenuh dengan suatu amalan, ia bisa berpindah ke amalan lainnya (sebatas bukan amalan wajib).

“Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.” (HR Ibn Hibban)

Karena itu, adalah penting untuk memiliki kegiatan dengan warna beda dibandingkan dengan aktivitas keseharian. Apa yang dilakukan Sherlock Holmes ketika jenuh memikirkan kasus? Ia akan beralih ke biolanya, atau percobaan-percobaan kimianya yang baunya memuakkan.

Tapi, tetap saja ada kegiatan rutin yang tidak bisa ditinggalkan, karena telah “terjebak”.

Benarkah terjebak? Bukankah semua kegiatan yang terpaksa dilakukan rutin itu telah dipilih sebelumnya? Aku tahu kalau apa yang akan aku hadapi adalah kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja dan tidak bisa ditinggalkan. Tapi kenapa aku tetap memilihnya? Karena ada yang hendak aku capai…

Ah, ya, mungkin inilah yang sering terlupa. Atau memang diingat tapi sengaja dilupakan. Atau, gambaran apa yang ingin dicapai itu mulai buyar dari dalam hati: tak ada lagi keinginan kuat untuk mencapai itu.

Seorang dewasa bukan lagi anak kecil yang “terpaksa” masuk sekolah karena perintah orang tuanya, tanpa mengerti kenapa ia mesti memakai pakaian putih-merah. Seorang dewasa sudah cukup kuasa untuk menentukan aktivitas apa yang ingin dilakukan. Karena itu, memikirkan tujuan yang ingin dicapai dan memantapkannya di dalam hati merupakan syarat wajib sebelum menentukan pilihan. Jika hal itu dilewat, maka pilihannya menjadi tidak sah.

Yah, sekarang saatnya memantapkan kembali di dalam hati tentang pilihan-pilihan yang telah dibuat. Dan, tampaknya memantapkan keyakinan hati pun juga merupakan sebuah “rutinitas wajib”.

Categories: gajelas | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: