Benar-Benar Bodoh

“Jadi, kamu sudah membuat keputusan?”

Riza yang tiba-tiba memunculkan suaranya mengejutkan lawan bicaranya yang tengah melamun. “Ah, ya. Saya sudah membuat keputusan. Dan kamu sendiri tahu apa itu.”

“Kamu tetap memilih keputusan itu?”

“Ya. Saya sudah mantap.”

“Lalu bagaimana dengan orang-orang di sekelilingmu?”

Rio terdiam sejenak, berusaha berpikir dalam, tapi tidak berhasil. “Entahlah, saya tidak memedulikannya. Ini adalah keputusan saya sendiri, pilihan saya sendiri, dan akibatnya pun untuk diri saya sendiri. Walaupun, saya sendiri sebenarnya ga yakin…” kata-katanya diakhiri dengan suara yang pelan.

“Kenapa ga yakin? Katanya kamu sudah membuat keputusan? Kenapa sekarang malah mempertanyakan keputusanmu sendiri?”

“Iya. Saya sudah mencoba memikirkannya dengan sejernih mungkin. Mungkin memang masih banyak pilihan lain yang bisa diambil dengan hasil yang sama. Tapi…meskipun sudah berusaha menyingkirkan sisi emosi, kata hati saya tidak pernah berubah.”

“Ya sudah kalau begitu. Itu pilihanmu sendiri, resiko dan akibat ditanggung sendiri.”

“Memang benar, tapi sepertinya ini adalah kebodohan. Benar-benar bodoh.”

“Itu suatu kebodohan atau tidak,” Riza melipat tangannya dan mulai mondar-mandir, “apa yang sudah kamu putuskan tidak bisa kamu tarik lagi. Dunia ini memang keras bagi kita untuk menentukan pilihan.”

“Ya, tapi, tapi…banyak hal yang akan dilewatkan kalau keputusan ini tetap diambil. Berat melihat semua itu terbang begitu saja. Saya masih ingin menggenggam mereka semuanya, erat-erat.”

Riza berhenti dari langkah-langkahnya dan menghela nafas sejenak. “Itulah yang dinamakan dengan pengorbanan.”

“Pengorbanan? Benarkah setiap keputusan diambil harus ada yang terkorbankan?”

“Ya. Pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma’. Begitu juga ada banyak jalan yang disediakan dalam hidup, dan ga mungkin kita ambil semuanya!”

Rio diam. Ia menundukkan kepala dan bola matanya, hal yang selalu ia lakukan ketika berpikir.

“Seperti ketika kamu menyetir mobil menuju rumah,” Riza mengambil kursi lalu duduk, “ada banyak jalannya, bukan? Semuanya sama, menuju tujuanmu, tapi kamu harus memilih salat satu. Ga terbayang kan kalau kamu bisa mengambil semua jalannya?”

Rio masih diam. Ia menatap sobatnya itu. Mata Riza yang seperti melamun dan bibirnya yang sedikit membuka telah Rio lihat berkali-kali pada kesempatan yang sama: ketika Riza membicarakan hal-hal yang penuh dengan pertimbangan.

“Karena itu, tiap kali kamu memutuskan sesuatu, pada saat itu juga ada yang dikorbankan. Dan pengorbanan adalah sesuatu yang sangat mahal harganya.”

Riza kemudian bersandar dan duduk lebih relaks, “Sangat-sangat mahal,” jari nomor duanya menunjuk ke atas. “Kalau kamu sampai ga yakin sama yang kamu pilih dan yang kamu korbankan, berarti kamu telah membuang sesuatu yang sangat, sangat mewah.”

“Menurut kamu, keputusan yang saya buat ini apakah memang tepat?”

Riza tersenyum lebar. “Tepat atau tidak, hanya kamu sendiri yang bisa menjawab. Tapi, menurut saya, keputusan yang kamu buat itu adalah bodoh. Benar-benar bodoh.”

Rio tidak merespon, karena jawaban itu telah ia duga sejak lama. Riza pun bangkit dari kursinya, “Tapi, saya yakin ada tujuan jelas yang ingin kamu capai dari keputusan ini kan?”

Rio menganngguk pelan.

“Karena banyak yang akan dikorbankan, dan mahal harganya, kita harus yakin dengayn tujuan yang ingin kita capai dari keputusan diambil. Untuk membuktikan apakah kita yakin atau tidak, coba kita wujudkan tujuan itu dalam bentuk vision: ia dapat kita lihat dan bayangkan dalam kepala kita. Sekarang, kamu bisa melihat dan bayangkan apa yang ingin kamu capai dari keputusanmu?”

Rio kemudian menengadah, menatap ke kejauhan. “Yah, saya bisa melihatnya…meskipun agak samar-samar.”

Jaket hujan di sofa disambar Riza, sakunya dirogoh, kemudian helm yang ada di kamar ia ambil.

“Keputusan yang bodoh adalah keputusan yang dibuat tanpa kita bisa melihat apa tujuan dari keputusan itu.”

Sebuah kunci yang dipegang Riza dipasangkan ke lubang kuncinya, diputar, disusul dengan suara deru mesin. “Kalau kamu telah membuat keputusan dengan tujuan yang jelas, kemudian orang-orang menyebutnya itu sebagai keputusan bodoh, tapi kamu tetap memilihnya, berarti itu adalah keputusan yang berani.”

Rio melihat sobatnya itu naik ke atas motornya, mengenakan helm, dan mundur perlahan-lahan. “Dan kamu tahu apa itu ‘keberanian’ kan? Orang yang berani adalah orang sebenarnya takut, dan orang-orang memintanya berhenti, tapi ia tetap maju.”

Kaca helm diturunkan dan deru mesin berbunyi semakin kencang. “Apakah keputusan saya ini bodoh atau tidak, pada akhirnya harus saya buktikan sendiri. Di akhir nanti mungkin kita akan sama-sama tahu, apakah orang-orang akan menertawai atau mengakui,” kata Rio menjelang sobatnya melajukan motor.

Riza tersenyum, dan tak lama ia menghilang dari pandangan Rio.

Advertisements
Categories: Rio dan Riza | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: