Asa Abadi

26/4/2012

Jaga di ruang resusitasi RSHS, melihat pasien tua (78) sedang berbaring tak berdaya. Nafas tersengal, kesadaran entah terbangun atau tidak, dan terlihat sedang memperjuangkan sesuatu. Masker oksigen dipasang dan tanda vitalnya dimonitor.
Akanhkan ini ada gunanya? Toh, pasien sudah berusia lanjut, didiagnosis diabetes, plus komplikasi stroke.
Adakah gunanya ia terus dirawat? Jika sembuh pun, mungkin usianya takkan lama lagi, mengingat penyakitnya kronis. Lantas, kenapa ia tampak berusaha untuk terus bernafas, seolah memperjuangkan sesuatu yang amat berharga?
Beberapa waktu lagi, bukan, tidak lama lagi aku pun akan bernasib demikian: menua dengan fungsi tubuh yang mulai menurun, dengan bonus penyakit kronis.
Yah, memang normalnya begitu, bukan? Ketika tiap yang bernyawa diciptakan olehNya, di saat itu pula ia “diprogram” dan “direncanakan” untuk mati.
Kalau muncul pertanyaan, “Jika begitu, lalu untuk apa kita selama hidup bersusah payah? Untuk apa belajar dan bekerja keras, kalau pun masa depan kita begitu-begitu saja?” penulis yakin masing-masing telah memiliki jawaban yang mantap.
Hanya saja, hal-hal “rutin” seperti ini akan menguatkan pemikiran: bahwa usia muda dan produktif amatlah berharga. Ia priceless, dan jika terlewati maka takkan bisa dipanggil untuk kembali.
Ia terlalu berharga untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan yang di saat tua akan disesali. Ia juga terlalu berharga jika diisi dengan aktivitas yang berorientasi pada kesuksesan pribadi, karena itu semua akan lenyap terkubur bersama jasad. Ia pun terlalu berharga jika hanya berisi kehidupan yang menunggu kematian.
Usia kita tidaklah lama, namun harus ada sesuatu yang membuat kita abadi. Fisik pastilah suatu saat akan mati dan membusuk, namun harus ada sesuatu dari diri kita yang diabadikan oleh mereka yang masih hidup. Apakah itu pemikiran, ide, karya nyata, atau manfaat yang luas. Entah sekian, puluhan, atau bahkan ratusan tahun kemudian.
Usia muda dan produktif adalah benda mewah dan mahal yang dihadiahkan oleh Tuhan, dan ia tersia-siakan begitu saja jika tidak dimaksudkan untuk menciptakan “keabadian”.
Jika pun kematian datang, maka itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Karena, mungkin, kematian bukanlah untuk ditunggu, tapi untuk dicari: mencari kematian yang mulia dan terhormat.

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: