Monthly Archives: April 2012

Benar-Benar Bodoh

“Jadi, kamu sudah membuat keputusan?”

Riza yang tiba-tiba memunculkan suaranya mengejutkan lawan bicaranya yang tengah melamun. “Ah, ya. Saya sudah membuat keputusan. Dan kamu sendiri tahu apa itu.”

“Kamu tetap memilih keputusan itu?”

“Ya. Saya sudah mantap.”

“Lalu bagaimana dengan orang-orang di sekelilingmu?”

Rio terdiam sejenak, berusaha berpikir dalam, tapi tidak berhasil. “Entahlah, saya tidak memedulikannya. Ini adalah keputusan saya sendiri, pilihan saya sendiri, dan akibatnya pun untuk diri saya sendiri. Walaupun, saya sendiri sebenarnya ga yakin…” kata-katanya diakhiri dengan suara yang pelan.

“Kenapa ga yakin? Katanya kamu sudah membuat keputusan? Kenapa sekarang malah mempertanyakan keputusanmu sendiri?”

“Iya. Saya sudah mencoba memikirkannya dengan sejernih mungkin. Mungkin memang masih banyak pilihan lain yang bisa diambil dengan hasil yang sama. Tapi…meskipun sudah berusaha menyingkirkan sisi emosi, kata hati saya tidak pernah berubah.”

“Ya sudah kalau begitu. Itu pilihanmu sendiri, resiko dan akibat ditanggung sendiri.”

“Memang benar, tapi sepertinya ini adalah kebodohan. Benar-benar bodoh.”

“Itu suatu kebodohan atau tidak,” Riza melipat tangannya dan mulai mondar-mandir, “apa yang sudah kamu putuskan tidak bisa kamu tarik lagi. Dunia ini memang keras bagi kita untuk menentukan pilihan.”

“Ya, tapi, tapi…banyak hal yang akan dilewatkan kalau keputusan ini tetap diambil. Berat melihat semua itu terbang begitu saja. Saya masih ingin menggenggam mereka semuanya, erat-erat.”

Riza berhenti dari langkah-langkahnya dan menghela nafas sejenak. “Itulah yang dinamakan dengan pengorbanan.”

“Pengorbanan? Benarkah setiap keputusan diambil harus ada yang terkorbankan?”

“Ya. Pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma’. Begitu juga ada banyak jalan yang disediakan dalam hidup, dan ga mungkin kita ambil semuanya!”

Rio diam. Ia menundukkan kepala dan bola matanya, hal yang selalu ia lakukan ketika berpikir.

“Seperti ketika kamu menyetir mobil menuju rumah,” Riza mengambil kursi lalu duduk, “ada banyak jalannya, bukan? Semuanya sama, menuju tujuanmu, tapi kamu harus memilih salat satu. Ga terbayang kan kalau kamu bisa mengambil semua jalannya?”

Rio masih diam. Ia menatap sobatnya itu. Mata Riza yang seperti melamun dan bibirnya yang sedikit membuka telah Rio lihat berkali-kali pada kesempatan yang sama: ketika Riza membicarakan hal-hal yang penuh dengan pertimbangan.

“Karena itu, tiap kali kamu memutuskan sesuatu, pada saat itu juga ada yang dikorbankan. Dan pengorbanan adalah sesuatu yang sangat mahal harganya.”

Riza kemudian bersandar dan duduk lebih relaks, “Sangat-sangat mahal,” jari nomor duanya menunjuk ke atas. “Kalau kamu sampai ga yakin sama yang kamu pilih dan yang kamu korbankan, berarti kamu telah membuang sesuatu yang sangat, sangat mewah.”

“Menurut kamu, keputusan yang saya buat ini apakah memang tepat?”

Riza tersenyum lebar. “Tepat atau tidak, hanya kamu sendiri yang bisa menjawab. Tapi, menurut saya, keputusan yang kamu buat itu adalah bodoh. Benar-benar bodoh.”

Rio tidak merespon, karena jawaban itu telah ia duga sejak lama. Riza pun bangkit dari kursinya, “Tapi, saya yakin ada tujuan jelas yang ingin kamu capai dari keputusan ini kan?”

Rio menganngguk pelan.

“Karena banyak yang akan dikorbankan, dan mahal harganya, kita harus yakin dengayn tujuan yang ingin kita capai dari keputusan diambil. Untuk membuktikan apakah kita yakin atau tidak, coba kita wujudkan tujuan itu dalam bentuk vision: ia dapat kita lihat dan bayangkan dalam kepala kita. Sekarang, kamu bisa melihat dan bayangkan apa yang ingin kamu capai dari keputusanmu?”

Rio kemudian menengadah, menatap ke kejauhan. “Yah, saya bisa melihatnya…meskipun agak samar-samar.”

Jaket hujan di sofa disambar Riza, sakunya dirogoh, kemudian helm yang ada di kamar ia ambil.

“Keputusan yang bodoh adalah keputusan yang dibuat tanpa kita bisa melihat apa tujuan dari keputusan itu.”

Sebuah kunci yang dipegang Riza dipasangkan ke lubang kuncinya, diputar, disusul dengan suara deru mesin. “Kalau kamu telah membuat keputusan dengan tujuan yang jelas, kemudian orang-orang menyebutnya itu sebagai keputusan bodoh, tapi kamu tetap memilihnya, berarti itu adalah keputusan yang berani.”

Rio melihat sobatnya itu naik ke atas motornya, mengenakan helm, dan mundur perlahan-lahan. “Dan kamu tahu apa itu ‘keberanian’ kan? Orang yang berani adalah orang sebenarnya takut, dan orang-orang memintanya berhenti, tapi ia tetap maju.”

Kaca helm diturunkan dan deru mesin berbunyi semakin kencang. “Apakah keputusan saya ini bodoh atau tidak, pada akhirnya harus saya buktikan sendiri. Di akhir nanti mungkin kita akan sama-sama tahu, apakah orang-orang akan menertawai atau mengakui,” kata Rio menjelang sobatnya melajukan motor.

Riza tersenyum, dan tak lama ia menghilang dari pandangan Rio.

Advertisements
Categories: Rio dan Riza | Tags: | Leave a comment

Asa Abadi

26/4/2012

Jaga di ruang resusitasi RSHS, melihat pasien tua (78) sedang berbaring tak berdaya. Nafas tersengal, kesadaran entah terbangun atau tidak, dan terlihat sedang memperjuangkan sesuatu. Masker oksigen dipasang dan tanda vitalnya dimonitor.
Akanhkan ini ada gunanya? Toh, pasien sudah berusia lanjut, didiagnosis diabetes, plus komplikasi stroke.
Adakah gunanya ia terus dirawat? Jika sembuh pun, mungkin usianya takkan lama lagi, mengingat penyakitnya kronis. Lantas, kenapa ia tampak berusaha untuk terus bernafas, seolah memperjuangkan sesuatu yang amat berharga?
Beberapa waktu lagi, bukan, tidak lama lagi aku pun akan bernasib demikian: menua dengan fungsi tubuh yang mulai menurun, dengan bonus penyakit kronis.
Yah, memang normalnya begitu, bukan? Ketika tiap yang bernyawa diciptakan olehNya, di saat itu pula ia “diprogram” dan “direncanakan” untuk mati.
Kalau muncul pertanyaan, “Jika begitu, lalu untuk apa kita selama hidup bersusah payah? Untuk apa belajar dan bekerja keras, kalau pun masa depan kita begitu-begitu saja?” penulis yakin masing-masing telah memiliki jawaban yang mantap.
Hanya saja, hal-hal “rutin” seperti ini akan menguatkan pemikiran: bahwa usia muda dan produktif amatlah berharga. Ia priceless, dan jika terlewati maka takkan bisa dipanggil untuk kembali.
Ia terlalu berharga untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan yang di saat tua akan disesali. Ia juga terlalu berharga jika diisi dengan aktivitas yang berorientasi pada kesuksesan pribadi, karena itu semua akan lenyap terkubur bersama jasad. Ia pun terlalu berharga jika hanya berisi kehidupan yang menunggu kematian.
Usia kita tidaklah lama, namun harus ada sesuatu yang membuat kita abadi. Fisik pastilah suatu saat akan mati dan membusuk, namun harus ada sesuatu dari diri kita yang diabadikan oleh mereka yang masih hidup. Apakah itu pemikiran, ide, karya nyata, atau manfaat yang luas. Entah sekian, puluhan, atau bahkan ratusan tahun kemudian.
Usia muda dan produktif adalah benda mewah dan mahal yang dihadiahkan oleh Tuhan, dan ia tersia-siakan begitu saja jika tidak dimaksudkan untuk menciptakan “keabadian”.
Jika pun kematian datang, maka itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Karena, mungkin, kematian bukanlah untuk ditunggu, tapi untuk dicari: mencari kematian yang mulia dan terhormat.

Categories: gajelas | Leave a comment

Belajar dari Kepemimpinan Jantung

Image

Muhammad (saw.) bin Abdullah, sekitar abad ke-7, berkata:

“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging. jika gumpalan daging itu bagus maka akan baguslah seluruh anggota tubuh. Jika gumpalan daging itu rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, gumpalan daging itu adalah Qalb.” (HR. Bukhari-Muslim)

Secara populer, kata qalb diartikan sebagai hati dalam arti nonfisik. Adalah “sesuatu” yang sifatnya tidak nyata dan tidak terlihat, yang memuat emosi berupa senang-sedih dan cinta-benci, juga “sesuatu” yang menentukan kepribadian manusia.

Mungkin ada sedikit kebingungan dalam mengartikan kata hati dalam bahasa Indonesia. Hati, secara fisik, adalah organ liver/hepar, yaitu organ yang berfungsi untuk mengatur metabolisme dalam tubuh manusia. Dalam arti nonfisik, hati adalah apa yang telah dijelaskan di paragraf atas.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, hati nonfisik adalah heart. Dan, qalb secara bahasa memiliki arti heart atau jantung.

Jantung adalah organ yang mengatur peredaran darah ke seluruh tubuh manusia. Muhammad saw. sendiri mengartikan jantung sebagai “segumpal daging, yang jika bagus maka akan baguslah seluruh anggota tubuh.”

Benarkah, jika memiliki “jantung yang bagus”, kita akan memiliki “seluruh anggota tubuh yang bagus”? Tanpa perlu repot bertanya semacam itu, kita akan mengartikan qalb sebagai hati nonfisik: jika kita memiliki “hati yang baik”, seluruh anggota tubuh kita pun akan memiliki kerpibadian yang baik pula. Mata kita menjadi baik (menjaga pandangan), lidah kita menjadi baik (hanya mengucapkan kebaikan), tangan kita menjadi baik (digunakan untuk amal-amal saleh), dan seterusnya.

Tapi mari sejenak bertanya kembali, jika memiliki jantung yang baik, akankah kita memiliki seluruh anggota yang baik? Mungkin pertanyaan ini agak gila: mana mungkin hanya dengan memiliki jantung yang sehat, kita akan memiliki bola mata yang indah, hidung yang mancung, dan kulit yang putih!

Tuhan, dengan segala kekuasaanNya, menjadikan jantung sebagai mesin inti yang mendistribusikan nutirisi ke seluruh anggota tubuh. Gizi yang dimakan oleh manusia pada akhirnya akan masuk ke usus, lalu disedot ke darah, yang kemudian makanan tersebut akan didistribusikan hingga ke tubuh bagian paling ujung.

Bagaimana mungkin darah bisa mengangkut dari ke ujung kepala hingga ke ujung kaki? Tentu karena ia dipompa oleh jantung. Jika jantung enggan untuk memompa, maka makanan tersebut tidak akan sampai ke seluruh anggota tubuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jantunglah (secara tidak langsung) sang penyalur makanan ke tubuh.

Seseorang yang karena suatu dan lain hal jantungnya tidak berdetak, nutrisi dalam darah berupa makanan dan oksigen tidak dapat disalurkan, dan ini dapat berakibat kematian. Di sini, jantung memiliki peran yang “sentral”.

Kemudian, jika jantungnya cukup kuat memompa, namun pembuluh darahnya bocor atau sel-sel darah merah yang mengikat oksigen rusak/mati, hal sama pun terjadi. Atau, jika dalam pembuluh darah terdapat sumbatan-sumbatan (misalnya lemak), organ yang terhambat pemberian nutrisinya akan mengalam kerusakan (contoh: orang terkena stroke). Atau, jika jantung dan pembuluh dan sel darahnya baik, namun sel-sel tubuh tidak bisa menerima nutrisi yang diberikan (misalnya pada penyakit gula/diabetes), juga dapat berakibat fatal. Sel tubuh yang defisit nutrisi tersebut akan mati kemudian membusuk.

Jadi, bisakah kita kemudian berkesimpulan bahwa dengan mempunyai jantung yang bagus, kita akan memiliki seluruh anggota tubuh yang bagus?

Kita (setidaknya penulis) dapat berpikir bahwa jantung memiliki fungsi yang sentral dalam tubuh. Atau, dalam istilah penulis, jantung adalah “pemimpin tubuh”.

Dapat dibayangkan jika tubuh kita ini adalah “negara”, dengan sel-sel tubuh adalah masyarakatnya dan jantung adalah pemimpinnya. Apa jadinya jika dalam suatu negara terdapat pemimpin tidak mampu mendistribusikan “nutrisi” ke seluruh rakyatnya? Sama seperti tubuh manusia: rakyat tersebut akan “mati”.

Seorang intelek pernah berkata, bahwa akar dari setiap permasalahan yang ada pada suatu negara adalah “krisis kepemimpinan”. Di antara sekian banyak masalahnya yang komples, inti utama dari itu semua adalah kepemimpinan negara tersebut.

Buku-buku sejarah telah mengisahkan suatu peradaban mencapai puncak kejayaan (golden age) ketika dipimpin oleh kepemimpinan yang amat berkualitas. Sebaliknya, runtuhnya suatu peradaban awal mulanya dikarenakan tidak adanya kepemimpinan yang baik.

Kepemimpinan di sini tidak berarti “satu orang” atau “satu sosok”. Menurut hemat penulis, tidak mungkin sesosok pemimpin yang amat berkualitas mampu membangun peradaban yang luar biasa jika para staf atau bawahannya payah.

Jantung tak mampu menyampaikan nutrisi ke para rakyatnya jika pembuluh darahnya bocor, atau tersumbat, atau sel-sel darahnya rusak, atau para rakyatnya sendiri yang tidak mampu menerima nutrisi tersebut. Begitu pula, satu orang pemimpin takkan pernah bisa menyejahterakan rakyat jika terdapat kebocoran pada staf-stafnya, atau para staf tersebut “rusak”, atau terdapat faktor-faktor yang menyumbat (baik internal maupun eksternal), atau bahkan jika rakyatnya sendiri yang memang “tidak mau disejahterakan”.

Tidak mau disejahterakan? Misal: orang-orang yang sebenarnya mampu/dimampukan untuk mendapat pendidikan, namun akhirnya menolak dan lebih memilih dimanjakan dengan bantuan langsung atau semacamnya.

Melalui organ tubuh, manusia bisa mengambil pelajaran: kepemimpinan tidak bisa ditegakkan melalui satu orang atau individualis, tapi harus bersifat kolektif.

Ketika seseorang memiliki anggota tubuh yang sakit, atau sakit tersebut bersifat sistemik (melibatkan seluruh anggota tubuh), maka seorang tersebut harus segera berobat tanpa ditunda ke pihak yang memang mengerti penyakit tersebut dan mampu menyembuhkannya. Mengobati diri sendiri tidaklah disarankan, bahkan seorang dokter secara etika kurang baik jika melakukan selfmedication. Begitu pula ketika masyarakat atau negara sedang sakit, baik sakit di organ-organ tertentu saja atau bersifat sistemik: ia harus segera berobat kepada yang mengetahui tentang penyakit tersebut dan memang mampu menyembuhkannya.

Tapi, siapa yang mengerti penyakit tersebut dan mampu menyembuhkannya?

Categories: pembelajaran | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: