Membawa Agama ke Tataran Ilmiah

Sekitar bulan Maret, dengan sedikit terpaksa saya mengunjungi perpustakaan. Tujuan saya ke sana bukanlah untuk belajar atau mendalami ilmu, tapi mencai inspirasi untuk topik skripsi.

Tanpa sengaja, saya menghampiri rak dengan tulisan “bagian jiwa”. Di sana terdapat sederet buku-buku kuning yang berlabel bagi ilmu kesehatan jiwa. Yang menarik adalah, ada banyak penelitian yang topiknya seputar “kecemasan”. Mengukur kecemasan secara superficial tidaklah sulit: cukup membagikan kuesioner yang siap dipakai karena sudah tervalidasi. Kemudian, terlintas ide untuk membandingkan tingkat kecemasan mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan yang tidak. Mungkin akan jadi penelitian yang menarik. Tapi kemudian muncul lagi ide yang lebih aneh, yaitu membandingkan tingkat kecemasan mahasiswa yang mengikuti halaqah  atau mentoring agama Islam dengan yang tidak.

Sepintas itu adalah ide yang menggelikan, dan mungkin akan ditertawakan oleh para dosen. Tapi saya memikirkan efek yang akan diperoleh jika ternyata penelitian ini berhasil dan membuahkan hasil yang diharapkan.

Akhir-akhir ini saya selalu memahami kegiatan halaqah/liqo/mentoring sebagai kegiatan pembentuk kepribadian manusia yang paling efektif. Dilaksanakan secara rutin seminggu sekali, dalam kelompok kecil, bersama murobbi/mentor yang senantiasa mengawasi perkembangan mentees-nya. Ditambah, saya melihat langsung orang-orang hasil didikan halaqah yang memang memiliki kualitas dan kapasitas ynag luar biasa, tidak hanya di bidang agama.

Dengan semangat topik ini pun diajukan. Benar saja, beberapa teman saya terkekeh geli melihat judul penelitian ilmiah yang saya tawarkan. Bahkan, di sekitar bulan  November ketika penelitian tersebut sedang dikerjakan, seseorang melihat dengan pandangan aneh dan bertanya dengan keraguan, “Emang judul ini disetujui oleh pembimbing?”

Namun padangan dosen tidaklah seburuk yang dibayangkan. Seorang dosen statistik memberikan ide judul yang lebih mungkin untuk dilakukan. Setelah berkonsultasi dengan dokter psikiatri pun, topik tentang halaqah ini akhirnya resmi menjadi salah satu topic skripsi FK Unpad tahun 2011/2012.

Ketika SMA, salah seorang teman yang begitu pintar dan rajin membaca buku kimia pernah berkata kepada saya, “Itu urusan agama. Jangan campur adukkan ilmu pengetahuan dengan agama.”

Toh, menjadikan kegiatan agama sebagai bahan penelitian ilmiah ternyata bukanlah hal yang asing. Sebelumnya, telah ada mahasiswa yang meneliti tentang pengaruh tilawah Al Quran dengan hembusan nafas maksimum.

Mungkin masih menjadi perdebatan yang hangat di dunia saat ini, yaitu apakah agama adalah hal yang ilmiah atau bukan. Sejak zaman enlightment atau renaissance, segala hal di dunia ini dituntut untuk bersifat ilmiah atau terdapat penjelasan logis. Jika ada suatu hal yang tidak didapatkan penjelasan gamblangnya, maka hal tersebut akan dianggap sebagai mitos.

Jadi, apakah agama adalah hal yang ilmiah? Memang banyak hal di dalam agama yang sulit dijangkau oleh nalar atau mustahil untuk dijelaskan. Meskipun sudah ada beberapa pembuktian ilmiah terhadap beberapa ayat Al Quran, seperti “turunnya” besi di dalam Al Quran (Al Hadid [57]: 25), peristiwa big bang (Al Anbiya [21]: 30), air tawar yang tidak bercampur dengan air asin (Al Furqon [25]: 53, embryogenesis (Al Mukminun [23]: 13-14), tetap saja agama adalah masalah keimanan. Bahkan agama pun menerangkan banyak hal-hal gaib yang memang tidak mungkin dapat dicapai oleh otak kita.

Memang banyak kita temukan cendikiawan yang ateis. Sebut saja salah satu ilmuwan fisika fenomenal saat ini: Stephen Hawking. Menurutnya, jika manusia telah berhasil menggabungkan dua teori besar fisika, maka “itu akan menjadi kemenangan akal manusia—dengan itu kita akan mengatahui jalan pikiran Tuhan” (Stephen Hawking, Brief History of Time).  “Karena adanya hukum alam, seperti gravitasi, semesta dapat mencipta dirinya sendiri dari ketiadaan,” kata Hawking. “Tak perlu untuk menyeru pada Tuhan untuk menyalakan kertas biru dan mengatur alam semesta.”

Buku "The Grand Design"

Begitu pula di dunia psikiatri. Salah satu dokter jiwa yang memiliki pengaruh besar dalam teori psikiatri, Sigmund Freud, adalah seorang ateis.

“Orang beragama adalah,” kata Freud, “sebuah ketidakberdayaan, kekanak-kanakan, sebua regresi untuk narsisme primer, psikosis batas, sebuah negara primitive anak-anak yang murah, sebuah obsesi neurotik universal.” Pun seorang psikolog Albert Ellis, seorang psikolog yang mengembangkan Rationale Emotive Behavior Therapy. “Pemikiran irasional, gangguan emosi,” menurut Ellis.

Namun, banyak juga para cendikiawan yang bertuhan atau tidak menafikan agama dalam kehidupan sehari-hari. “Sains tanpa agama adalah pincang, agama tanpa sains adalah buta,” adalah merupakan pernyataan yang terkenal dari salah satu manusia terjenius di planet bumi, Albert Einstein.

Pun di dunia kesehatan jiwa. Sebenarnya, penelitian yang saya lakukan bukanlah penelitian pertama yang meneliti pengaruh atau efek agama terhadap kesehatan jiwa.

Trujillo (2001) dan Kiresuk (2001) di pembahasannya tentang Cultural Psychiatry dalam Comprehensive Textbook of Psychiatry, menyatakan bahwa faktor spiritualitas berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Moussaoui (2003) menyatakan perlu variabel keagamaan ditegakkan dalam klasifikasi diagnosis psikiatri, dan intervensi dalam psikoterapi yang dikenal sebagai psychoreligius therapy.

Oganisasi kesehatan dunia, WHO, juga tidak ketinggalan. Sejak 1984, WHO menambahkan aspek agama dalam batasan sehat selain aspek fisik (organobiologik), mental (psikologik/psikiatrik), dan sosial.

Bagaimana dengan penelitian ilmiah?

Dalam penelitian Azhar, et. al. (1994), didapatkan hasil bahwa pasien yang menerima terapi tambahan psikoreligius (doa, zikir, baca Al Quran) menunjukkan perbaikan gejala yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang mendapat terapi konvensional. Sternthal et al, 2010, telah meneliti bahwa masyarakat yang menghadiri kegiatan keagamaan sepekan sekali memiliki gejala kecemasan yang lebih rendah daripada yang hadir sebulan sekali atau tidak pernah.

Hingga titik ini, agama dapat dianggap sebagai suatu hal yang ilmiah. Bukan berarti segala sesuatu dalam agama dapat dijelaskan secara ilmiah—karena itu tidak akan mungkin—tetapi agama dapat dibawa dalam penelitian-penelitian ilmiah.

Nilai-nilai religi pun tidak perlu sungkan untuk disampaikan dalam forum atau pertemuan ilmiah. Saya pernah dengar, bahwa dahulu dalam suatu forum ilmiah para dokter, seorang pembicara yang memulai dengan ucapan salam ditertawakan. Namun kini sudah berbeda. Artinya, seorang yang bertuhan pada hakikatnya bukanlah sekedar orang yang menikmati keyakinannya secara peribadi, tapi juga menyebarkan nilai-nilai ketuhanan tersebut ke berbagai lingkungan dan kesempatan, termasuk di lingkungan dan kesempatan yang berbau ilmiah.

Bertuhan atau tidak adalah hak setiap orang. Tuhan sendirilah yang memberikan pilihan tersebut. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syams: 8)

Begitu pula pada para ilmuwan. Sebagian ada yang amat mengagungkan ilmu pengetahuan dan menganggap agama sebagai sesuatu yang tidak logis, yang tidak dapat dijelaskan. Sebenarnya, ilmu pengetahuan sendiri pun sering tidak logis dan tidak dapat dijelaskan. Mengapa penyakit ini menghasilkan gejala ini, mengapa hanya di kanan tidak di kiri, mengapa bakteri ini senang di daerah ini, mengapa kuman pertama menghasilkan reaksi radang begini sedangkan kuman kedua menghasilkan reaksi radang begitu. Berapa banyak mahasiswa kedokteran yang kebingungan karena textbook andalan mereka tidak dapat menjelaskan suatu fenomena penyakit, dan hanya mencantumkan “not known” atau “not fully understood”? Medicine is fragile science.

Bahkan, teori yang dipaparkan oleh Stephen Hawking di buku The Grand Design belum bisa disebut ilmiah, karena belum ada pembuktian observatif. Sebagian kalangan menilai buku itu sebagai “filsafat Hawking”.

Walau banyak ilmuwan menganggap Tuhan tidak ilmiah, tetap saja mereka harus menerima kenyataan bahwa banyak hal-hal nyata di dunia ini yang masih “tidak ilmiah” karena tidak dapat dijelaskan.

Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al Kahfi: 109)

“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al Israa’: 85)

***

Hasil penelitian saya tidaklah menggembirakan. Perbedaan penurunan kecemasan antara mereka yang rutin mengikuti halaqah dengan yang tidak rutin tidaklah signifikan.

Kebanyakan mahasiswa baru—subjek penelitian saya adalah mahasiswa baru—mengalami kecemasan karena masalah adaptasi akademik. Setelah sekitar 2 bulan lebih kuliah, mereka pun dapat beradaptasi. Kecemasan mereka jadi hilang—baik yang rajin halaqah maupun yang tidak. Namun, ada satu responden yang terang-terangan mengatakan kegiatan halaqah-lah yang dapat membuat turun kecemasannya. Ada satu lagi yang mengatakan, “Saya ingin mentoring terus. Kalo bisa selamanya…”

Walaupun banyak orang-orang besar dan ilmuwan yang menentang keberadaan Tuhan dari dunia keilmiahan, namun hidayah Tuhan tetap saja mengalir. Tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi ketika Tuhan berkehendak memberikan petunjuk, meskipun banyak yang tidak senang,

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (As Saff: 8)

Advertisements
Categories: gajelas, pembelajaran | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: