Waktu Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Image

Kapankah manusia mendekatkan diri kepada Tuhan? Perlukah mereka? Adakah sedikit saja keinginan untuk membuat mereka dekat kepada Tuhan? Atau, masih percayakah mereka kepada Tuhan?

Pertanyaan yang amat mendasar bagi manusia saat ini. Segala sesuatu yang harus dapat terjelaskan oleh teori, juga lahirnya metode ilmiah, membuat kita hanya melihat hal-hal yang nyata. Sedangkan Tuhan terlalu suci untuk dilihat oleh mata manusia.

Begitu juga eksistensi surga dan neraka. Begitu banyak ayat-ayat Tuhan di dalam Al Quran, yang menjanjikan surga bagi mereka yang rajin beramal dan neraka bagi yang sebaliknya. Namun, surga-neraka dianggap sebagai hal yang abstrak: entah ada atau tidak. Tidak sedikit pun gambaran keindahan surga dan ancaman neraka memberikan pengaruh dalam kehidupan yang penuh dengan hal-hal nyata.

Kemudian, Tuhan pun diklaim telah ‘mati’. Ia sudah ‘terlalu tua’ dan ‘kuno’, sehingga bukan zaman lagi Ia mengatur kehidupan manusia. Lalu diangkatlah tuhan yang baru untuk menggantikan yang mati, yaitu rasionalitas, ilmu pengetahuan, teknologi-teknologi ilmiah.

Meskipun begitu, terkadang Tuhan menjadi objek pelampiasan ketika terjadi musibah besar yang tak terelakkan. Bumi ini masih mengandung hal-hal misterius yang tak bisa ditundukkan manusia. Di banyak waktu kita ia berotasi dengan tenang, seolah berdansa dengan anggun di atas panggung. Tapi, suatu waktu ia bisa menembus batas keanggunannya, seakan breakdance dengan rusuh. Dan itu semua di luar batas kemampuan manusia: tak ada yang bisa dilakukan selain terperangah dan ketakutan, kemudian Tuhan pun disalahkan.

Tentu tidak semua orang demikian. Banyak yang percaya kepada Tuhan, walaupun kepercayaannya kurang kuat untuk mendorongnya untuk taat. Tuhan hanya ada di dalam hati atau pikiran, tidak di dalam rumah, sekolah, tempat kerja, dan tempat-tempat lain kehidupan.

Tapi, sepertinya selalu ada ‘waktu spesial’ yang membuat hamba-hambaNya tersebut secara tiba-tiba mendekatkan diri kepadaNya. Waktu spesial tersebut disebut dengan masa-masa sulit dan sempit.

Bahwa kemampuan dan kekuatan manusia tidak tak terbatas adalah kenyataan yang tak pernah bisa  ditolak. Saat muncul hal-hal yang dianggap melampaui kapasitasnya, hingga membuatnya takut dan cemas, keluarlah jurus pamungkas itu: doa. Tidak tahu kepada siapa harus minta pertolongan, tak ada tempat bergantung, tak ada yang menguatkan, hingga ia pun akhirnya menaruh harapan terakhirnya kepada sesuatu yang selama ini dianggap abstrak.

Lemahkah manusia, hingga harus berharap kepada sesuatu yang tak bisa dilihat? Sayangnya setiap manusia harus mengakui kenyataan, bahwa adalah ‘fitrah’ atau ‘kecenderungan’, ketika merasa tak memiliki daya, untuk bergantung kepada sesuatu yang memiliki kekuatan yang sangat besar bahkan tak terhingga.

Satu contoh yang sangat baik adalah masa-masa ujian. Bisa disebut masa-masa itu adalah ‘masa-masa penuh cahaya’: bahwa banyak orang menjadi dekat kepada Tuhan. Mungkin hal tersebut dilakukan tanpa sepenuhnya dipikirkan. Di saat itu, rasio tidak lagi terlalu dibutuhkan.

Doa itu pun tidak cukup untuk dilisankan di dalam hati atau lidah, tapi juga diekspresikan melalui media. Alhasil, timeline twitter menjadi wadah yang efektif untuk menumpahkan harapan kepada Tuhan.

Itu semua bukanlah hal yang mengejutkan. Tuhan sendiri pun telah menyampaikan lewat firmanNya:

“…Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Yunus: 22)

Sesuatu yang sebelumnya dianggap abstrak kemudian menjadi nyata dan begitu dekat dalam setiap detakan jantung dan nafas. Tidak diperlukan penjelasan yang ilmiah kenapa hal tersebut terjadi. Namun, waktu spesial ini tidaklah lama. Begitu sang kesulitan sudah dapat teratasi dan terlewati, hal yang nyata kembali abstrak.

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar…” (Yunus: 23)

Di saat ini, Tuhan sudah tidak diperlukan lagi. Ucapan ‘alhamdulillah’ dianggap sudah cukup sebagai rasa terima kasih. Itu ketika hasil yang diperoleh memuaskan. Jika hasil yang diperoleh mengecewakan, yang ada adalah rasa kesal dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’” (Al Fajr: 15-16)

Masa-masa ujian adalah masa-masa yang penuh cahaya, yaitu ketika banyak orang mendekatkan diri kepada Tuhan. Adalah fitrah jika manusia dalam keadaan lemah berdoa dan berharap agar Tuhan Yang Maha Kuat menolongnya. Dan mungkin adalah kecenderungan ketika manusia telah melewati masa-masa sulit, ia merasa sudah tidah butuh Tuhan lagi.

Advertisements
Categories: gagasan, merenung | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Waktu Mendekatkan Diri kepada Tuhan

  1. kam, nanti cerita juga mengenai hasil skripsimu yaa. yg mentoring2 itu :). nuhun.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: