Monthly Archives: January 2012

Membawa Agama ke Tataran Ilmiah

Sekitar bulan Maret, dengan sedikit terpaksa saya mengunjungi perpustakaan. Tujuan saya ke sana bukanlah untuk belajar atau mendalami ilmu, tapi mencai inspirasi untuk topik skripsi.

Tanpa sengaja, saya menghampiri rak dengan tulisan “bagian jiwa”. Di sana terdapat sederet buku-buku kuning yang berlabel bagi ilmu kesehatan jiwa. Yang menarik adalah, ada banyak penelitian yang topiknya seputar “kecemasan”. Mengukur kecemasan secara superficial tidaklah sulit: cukup membagikan kuesioner yang siap dipakai karena sudah tervalidasi. Kemudian, terlintas ide untuk membandingkan tingkat kecemasan mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan yang tidak. Mungkin akan jadi penelitian yang menarik. Tapi kemudian muncul lagi ide yang lebih aneh, yaitu membandingkan tingkat kecemasan mahasiswa yang mengikuti halaqah  atau mentoring agama Islam dengan yang tidak.

Sepintas itu adalah ide yang menggelikan, dan mungkin akan ditertawakan oleh para dosen. Tapi saya memikirkan efek yang akan diperoleh jika ternyata penelitian ini berhasil dan membuahkan hasil yang diharapkan.

Akhir-akhir ini saya selalu memahami kegiatan halaqah/liqo/mentoring sebagai kegiatan pembentuk kepribadian manusia yang paling efektif. Dilaksanakan secara rutin seminggu sekali, dalam kelompok kecil, bersama murobbi/mentor yang senantiasa mengawasi perkembangan mentees-nya. Ditambah, saya melihat langsung orang-orang hasil didikan halaqah yang memang memiliki kualitas dan kapasitas ynag luar biasa, tidak hanya di bidang agama.

Dengan semangat topik ini pun diajukan. Benar saja, beberapa teman saya terkekeh geli melihat judul penelitian ilmiah yang saya tawarkan. Bahkan, di sekitar bulan  November ketika penelitian tersebut sedang dikerjakan, seseorang melihat dengan pandangan aneh dan bertanya dengan keraguan, “Emang judul ini disetujui oleh pembimbing?”

Namun padangan dosen tidaklah seburuk yang dibayangkan. Seorang dosen statistik memberikan ide judul yang lebih mungkin untuk dilakukan. Setelah berkonsultasi dengan dokter psikiatri pun, topik tentang halaqah ini akhirnya resmi menjadi salah satu topic skripsi FK Unpad tahun 2011/2012.

Ketika SMA, salah seorang teman yang begitu pintar dan rajin membaca buku kimia pernah berkata kepada saya, “Itu urusan agama. Jangan campur adukkan ilmu pengetahuan dengan agama.”

Toh, menjadikan kegiatan agama sebagai bahan penelitian ilmiah ternyata bukanlah hal yang asing. Sebelumnya, telah ada mahasiswa yang meneliti tentang pengaruh tilawah Al Quran dengan hembusan nafas maksimum.

Mungkin masih menjadi perdebatan yang hangat di dunia saat ini, yaitu apakah agama adalah hal yang ilmiah atau bukan. Sejak zaman enlightment atau renaissance, segala hal di dunia ini dituntut untuk bersifat ilmiah atau terdapat penjelasan logis. Jika ada suatu hal yang tidak didapatkan penjelasan gamblangnya, maka hal tersebut akan dianggap sebagai mitos.

Jadi, apakah agama adalah hal yang ilmiah? Memang banyak hal di dalam agama yang sulit dijangkau oleh nalar atau mustahil untuk dijelaskan. Meskipun sudah ada beberapa pembuktian ilmiah terhadap beberapa ayat Al Quran, seperti “turunnya” besi di dalam Al Quran (Al Hadid [57]: 25), peristiwa big bang (Al Anbiya [21]: 30), air tawar yang tidak bercampur dengan air asin (Al Furqon [25]: 53, embryogenesis (Al Mukminun [23]: 13-14), tetap saja agama adalah masalah keimanan. Bahkan agama pun menerangkan banyak hal-hal gaib yang memang tidak mungkin dapat dicapai oleh otak kita.

Memang banyak kita temukan cendikiawan yang ateis. Sebut saja salah satu ilmuwan fisika fenomenal saat ini: Stephen Hawking. Menurutnya, jika manusia telah berhasil menggabungkan dua teori besar fisika, maka “itu akan menjadi kemenangan akal manusia—dengan itu kita akan mengatahui jalan pikiran Tuhan” (Stephen Hawking, Brief History of Time).  “Karena adanya hukum alam, seperti gravitasi, semesta dapat mencipta dirinya sendiri dari ketiadaan,” kata Hawking. “Tak perlu untuk menyeru pada Tuhan untuk menyalakan kertas biru dan mengatur alam semesta.”

Buku "The Grand Design"

Begitu pula di dunia psikiatri. Salah satu dokter jiwa yang memiliki pengaruh besar dalam teori psikiatri, Sigmund Freud, adalah seorang ateis.

“Orang beragama adalah,” kata Freud, “sebuah ketidakberdayaan, kekanak-kanakan, sebua regresi untuk narsisme primer, psikosis batas, sebuah negara primitive anak-anak yang murah, sebuah obsesi neurotik universal.” Pun seorang psikolog Albert Ellis, seorang psikolog yang mengembangkan Rationale Emotive Behavior Therapy. “Pemikiran irasional, gangguan emosi,” menurut Ellis.

Namun, banyak juga para cendikiawan yang bertuhan atau tidak menafikan agama dalam kehidupan sehari-hari. “Sains tanpa agama adalah pincang, agama tanpa sains adalah buta,” adalah merupakan pernyataan yang terkenal dari salah satu manusia terjenius di planet bumi, Albert Einstein.

Pun di dunia kesehatan jiwa. Sebenarnya, penelitian yang saya lakukan bukanlah penelitian pertama yang meneliti pengaruh atau efek agama terhadap kesehatan jiwa.

Trujillo (2001) dan Kiresuk (2001) di pembahasannya tentang Cultural Psychiatry dalam Comprehensive Textbook of Psychiatry, menyatakan bahwa faktor spiritualitas berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Moussaoui (2003) menyatakan perlu variabel keagamaan ditegakkan dalam klasifikasi diagnosis psikiatri, dan intervensi dalam psikoterapi yang dikenal sebagai psychoreligius therapy.

Oganisasi kesehatan dunia, WHO, juga tidak ketinggalan. Sejak 1984, WHO menambahkan aspek agama dalam batasan sehat selain aspek fisik (organobiologik), mental (psikologik/psikiatrik), dan sosial.

Bagaimana dengan penelitian ilmiah?

Dalam penelitian Azhar, et. al. (1994), didapatkan hasil bahwa pasien yang menerima terapi tambahan psikoreligius (doa, zikir, baca Al Quran) menunjukkan perbaikan gejala yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang mendapat terapi konvensional. Sternthal et al, 2010, telah meneliti bahwa masyarakat yang menghadiri kegiatan keagamaan sepekan sekali memiliki gejala kecemasan yang lebih rendah daripada yang hadir sebulan sekali atau tidak pernah.

Hingga titik ini, agama dapat dianggap sebagai suatu hal yang ilmiah. Bukan berarti segala sesuatu dalam agama dapat dijelaskan secara ilmiah—karena itu tidak akan mungkin—tetapi agama dapat dibawa dalam penelitian-penelitian ilmiah.

Nilai-nilai religi pun tidak perlu sungkan untuk disampaikan dalam forum atau pertemuan ilmiah. Saya pernah dengar, bahwa dahulu dalam suatu forum ilmiah para dokter, seorang pembicara yang memulai dengan ucapan salam ditertawakan. Namun kini sudah berbeda. Artinya, seorang yang bertuhan pada hakikatnya bukanlah sekedar orang yang menikmati keyakinannya secara peribadi, tapi juga menyebarkan nilai-nilai ketuhanan tersebut ke berbagai lingkungan dan kesempatan, termasuk di lingkungan dan kesempatan yang berbau ilmiah.

Bertuhan atau tidak adalah hak setiap orang. Tuhan sendirilah yang memberikan pilihan tersebut. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syams: 8)

Begitu pula pada para ilmuwan. Sebagian ada yang amat mengagungkan ilmu pengetahuan dan menganggap agama sebagai sesuatu yang tidak logis, yang tidak dapat dijelaskan. Sebenarnya, ilmu pengetahuan sendiri pun sering tidak logis dan tidak dapat dijelaskan. Mengapa penyakit ini menghasilkan gejala ini, mengapa hanya di kanan tidak di kiri, mengapa bakteri ini senang di daerah ini, mengapa kuman pertama menghasilkan reaksi radang begini sedangkan kuman kedua menghasilkan reaksi radang begitu. Berapa banyak mahasiswa kedokteran yang kebingungan karena textbook andalan mereka tidak dapat menjelaskan suatu fenomena penyakit, dan hanya mencantumkan “not known” atau “not fully understood”? Medicine is fragile science.

Bahkan, teori yang dipaparkan oleh Stephen Hawking di buku The Grand Design belum bisa disebut ilmiah, karena belum ada pembuktian observatif. Sebagian kalangan menilai buku itu sebagai “filsafat Hawking”.

Walau banyak ilmuwan menganggap Tuhan tidak ilmiah, tetap saja mereka harus menerima kenyataan bahwa banyak hal-hal nyata di dunia ini yang masih “tidak ilmiah” karena tidak dapat dijelaskan.

Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al Kahfi: 109)

“…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al Israa’: 85)

***

Hasil penelitian saya tidaklah menggembirakan. Perbedaan penurunan kecemasan antara mereka yang rutin mengikuti halaqah dengan yang tidak rutin tidaklah signifikan.

Kebanyakan mahasiswa baru—subjek penelitian saya adalah mahasiswa baru—mengalami kecemasan karena masalah adaptasi akademik. Setelah sekitar 2 bulan lebih kuliah, mereka pun dapat beradaptasi. Kecemasan mereka jadi hilang—baik yang rajin halaqah maupun yang tidak. Namun, ada satu responden yang terang-terangan mengatakan kegiatan halaqah-lah yang dapat membuat turun kecemasannya. Ada satu lagi yang mengatakan, “Saya ingin mentoring terus. Kalo bisa selamanya…”

Walaupun banyak orang-orang besar dan ilmuwan yang menentang keberadaan Tuhan dari dunia keilmiahan, namun hidayah Tuhan tetap saja mengalir. Tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi ketika Tuhan berkehendak memberikan petunjuk, meskipun banyak yang tidak senang,

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (As Saff: 8)

Advertisements
Categories: gajelas, pembelajaran | Leave a comment

Menghubungkan Titik-Titik

Image

Connecting Dots merupakan salah satu permainan anak-anak, sebuah puzzle, yang menghubungkan titik-titik bernomor dengan garis hingga membentuk sebuah gambar. Awalnya, kumpulan titik-titik itu hanya seperti tebaran bulatan-bulatan hitam yang abstrak dan tak berbentuk. Namun setelah titik-titik itu dihubungkan, terbentuklah suatu hal yang bermakna, yang dapat diinterpretasi anak-anak hingga membuat mereka tersenyum.

Mungkin bagi dewasa permainan ini cukup membosankan. Hanya dengan mengikuti arahan nomor-nomor di tiap titik, terbentuklah satu bentuk gambar pasti yang diinginkan oleh sang pembuat. Tapi saya berpikir, bagaimana jika titik-titik itu tidak diberi nomor? Mungkinkah akan terbentuk gambar lain yang bahkan tidak dimaksudkan oleh pembuat? Gambar yang dihasilkan akan terbatas jika hanya membuat garis antar titik-titik yang dibatasi oleh sang pembuat. Lalu, bagaimana jika kita diberi sebuah kertas yang berisi titik-titik yang memenuhi kertas tersebut tanpa nomor? Tentu setiap orang dapat membuat garis antar titik sesuka hati hingga membuat gambar yang amat bervariasi, bukan?

Setidaknya, itulah yang hendak disampaikan oleh Seteve Jobs (1955-2011) dalam pidatonya yang terkenal di Stanford University. Pada tahun 2005, Steve Jobs, yang tidak pernah seumur hidupnya lulus dari universitas, mendapat kesempatan untuk menyampaikan inspirasinya di hadapan para mahasiswa Stanford yang sedang dalam upacara kelulusan.

Image

“Saya amat merasa terhormat,” katanya, “bisa bersama Anda di upacara kelulusan salah satu universitas terkemuka di dunia” “Saya tidak pernah lulus dari kampus,” ia melanjutkan, “Sejujurnya ini merupakan yang terdekat bagi saya dengan kelulusan kampus.”

Jobs menyampaikan 3 hal utama berdasarkan pengalaman pribadinya. Salah satunya adalah cerita ia memutuskan untuk drop out dari Universitas Reed. Ia sama sekali tidak menemukan ketertarikan di kampusnya—yang orang tuanya telah menguras tabungan mereka agar Jobs dapat kuliah di kampus terkemuka itu. Setelah memutuskan untuk mengundurkan diri, ia tidak langsung menghilang begitu saja dari kampus. Dengan statusnya sebagai mahasiswa drop out, ia tidak diwajibkan mengambil mata kuliah yang tidak disukai, dan bisa mengikuti kelas apa saja yang menurutnya menarik.

Pernah ia begitu tertarik dengan kaligarafi yang tertempel pada dinding-dinding kampus. Memandangnya sebagai suatu keindahan, kelas kaligrafi pun diikuti, tempat ia mempelajari jenis tulisa San Serif dan memvariasikan spasi antar huruf. Terdapat keindahan di sana, dan Jobs menyenangi keindahan tersebut.

Apa manfaat kaligrafi bagi kehidupan sehari-hari? Tidak ada saat itu, tidak ada sama sekali kecuali untuk mengagumi keindahan. Namun, berkat kelas tunggal kaligrafi tesebut, Macintosh menjadi komputer pertama dengan tipografi indah. Berkat di-drop out, katanya, lahirlah Mac dengan berbagai bentuk tulisan dan spasi tulisan yang proporsional.

Mengundurkan diri dari kampus, menurutnya, adalah satu titik. Belajar kaligrafi secara bebas juga adalah satu titik, begitu juga dengan upayanya membuat Mac di garasi orang tuanya. Jika tampak dari luar, titik-titik tersebut seperti berjauhan, berseberangan, dan tidak memiliki koneksi sama sekali. Tapi tidak bagi orang yang memiliki pulpen kreativitas: titik-titik itu pun dapat dihubungkan, hingga terciptalah suatu gambar yang indah, yaitu Mac. Menurut Jobs, inilah yang disebut dengan connecting dots.

Dari ceramah pendiri perusahaan Apple tersebut, setidaknya ada beberapa benang merah yang bisa ditarik:

1. Pelajari dan lakukan hal yang disukai. Jobs meninggalkan kelas yang ia tidak minat sama sekali. Ada passion di tempat lain, yang sepertinya tidak penting, tapi passion tersebut begitu menggairahkan dan ia cintai. Cinta sejatinya tersebut tidak pernah mengkhianatinya, dan memberinya jalan yang begitu inspiratif.

2. Tinggalkan hal yang memang tidak menarik minat. Ada banyak disiplin ilmu dan hal yang bisa dipelajari di abad ini. Ada berapakah cabang ilmu pengetahuan saat ini? Tentu amat banyak. Namun semua hal tersebut ada tidak untuk dipelajari semua. Mempelajari suatu hal yang tidak menarik minat, hingga pada akhirnya menjadi hapalan sekilas dan catatan-catatannya dibuang ke tong sampah, tentu adalah kegiatan sia-sia dan membuang waktu. Sherlock Holmes pernah melontarkan hal yang mirip, bahwa ada banyak yang bisa dipelajari di dunia ini, namun apabila ada hal yang tidak berguna bagi pekerjaan sempat masuk ke otak, maka memori tersebut harus segera dihapus.

3. Membuat titik-titik. Permainan connecting dots membosankan bagi orang dewasa karena begitu simple dan tidak ada tantangan: cukup menarik garis antara titik-titik yang diberi nomor, jadilah gambar satu bentuk yang kaku. Berbeda jika titik-titik itu banyak dan menyebar. Ada banyak garis yang bisa dibuat, gambar yang terbentuk, bahkan bisa dibuat banyak gambar dalam satu kertas. Begitu juga kehidupan.

Roger Pulvers menulis di Times tentang pengamatannya terhadap para pemuda Jepang yang kurang inovatif seperti yang mereka tunjukkan pasca perang dunia II. Alasannya adalah mereka membuat titik yang monoton yang hanya bisa dihubungkan oleh satu garis. Apa yang mereka pelajari begitu sempit dan terjurus pada profesi tertentu saja. Mungkin banyak yang beranggapan bahwa apa yang perlu dipelajari hanyalah hal-hal yang akan membawa ke masa depan yang terjamin. Akhirnya, terjadilah kehidupan monoton dan tidak indah.

Dengan banyak membuat titik-titik dalam kehidupan, maka akan ada banyak garis yang bisa divariasikan. Tinggal gunakan pulpen atau pensil kreativitas, terbentuklah gambar-gambar indah, yang mungkin sebelumnya tidak pernah tebayangkan oleh kita. “Jadilah orang yang tidak karuan dan tidak fokus. Itu akan membawa Anda untuk menemukan potensi personal Anda,” begitu kesimpulan dari Pulvers.

4. Bahwa titik-titik dihubungkan bukan dengan maju ke arah masa depan, tapi dengan menengok masa lalu. Awalnya, titik-titik terbuat seolah secara abstrak dan mengacak. Namun, setelah membuat titik yang cukup banyak dan memenuhi selembar kertas, barulah seseorang dapat menghubungkannya. Mungkin inilah yang banyak dikhawatirkan banyak orang, bahwa mereka khawatir tidak dapat menemukan koneksi antara yang mereka minat pelajari dengan kesuksesan. Akibatnya, hal yang ditekuni pun adalah yang bersifat monoton dan kaku, meskipun bukan itulah minat sesungguhnya. Ada banyak jalan menuju Roma, begitu juga kesuksesan hidup. “Sukses” adalah istilah yang bersifat relatif dan dapat divariasikan. Tidak melulu dimaknakan sebagai pencapaian meraih profesi dengan gaji besar.

Setiap pengalaman hidup adalah satu titik, atau bahkan beberapa titik. Bukan, setiap detik yang dialami pun dapat menjadi titik. Terkadang Tuhan pun memberikan titik yang tidak kita duga sama sekali. Tapi adakah pemberian Tuhan sia-sia? Ia meminta para manusia ciptaanNya untuk kreatif menghubungkan titik-titik itu untuk menjadi gambar yang bahkan mungkin tidak pernah disadari sebelumnya.

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Ar Ra’d: 11)

Categories: gagasan, pembelajaran | 2 Comments

Waktu Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Image

Kapankah manusia mendekatkan diri kepada Tuhan? Perlukah mereka? Adakah sedikit saja keinginan untuk membuat mereka dekat kepada Tuhan? Atau, masih percayakah mereka kepada Tuhan?

Pertanyaan yang amat mendasar bagi manusia saat ini. Segala sesuatu yang harus dapat terjelaskan oleh teori, juga lahirnya metode ilmiah, membuat kita hanya melihat hal-hal yang nyata. Sedangkan Tuhan terlalu suci untuk dilihat oleh mata manusia.

Begitu juga eksistensi surga dan neraka. Begitu banyak ayat-ayat Tuhan di dalam Al Quran, yang menjanjikan surga bagi mereka yang rajin beramal dan neraka bagi yang sebaliknya. Namun, surga-neraka dianggap sebagai hal yang abstrak: entah ada atau tidak. Tidak sedikit pun gambaran keindahan surga dan ancaman neraka memberikan pengaruh dalam kehidupan yang penuh dengan hal-hal nyata.

Kemudian, Tuhan pun diklaim telah ‘mati’. Ia sudah ‘terlalu tua’ dan ‘kuno’, sehingga bukan zaman lagi Ia mengatur kehidupan manusia. Lalu diangkatlah tuhan yang baru untuk menggantikan yang mati, yaitu rasionalitas, ilmu pengetahuan, teknologi-teknologi ilmiah.

Meskipun begitu, terkadang Tuhan menjadi objek pelampiasan ketika terjadi musibah besar yang tak terelakkan. Bumi ini masih mengandung hal-hal misterius yang tak bisa ditundukkan manusia. Di banyak waktu kita ia berotasi dengan tenang, seolah berdansa dengan anggun di atas panggung. Tapi, suatu waktu ia bisa menembus batas keanggunannya, seakan breakdance dengan rusuh. Dan itu semua di luar batas kemampuan manusia: tak ada yang bisa dilakukan selain terperangah dan ketakutan, kemudian Tuhan pun disalahkan.

Tentu tidak semua orang demikian. Banyak yang percaya kepada Tuhan, walaupun kepercayaannya kurang kuat untuk mendorongnya untuk taat. Tuhan hanya ada di dalam hati atau pikiran, tidak di dalam rumah, sekolah, tempat kerja, dan tempat-tempat lain kehidupan.

Tapi, sepertinya selalu ada ‘waktu spesial’ yang membuat hamba-hambaNya tersebut secara tiba-tiba mendekatkan diri kepadaNya. Waktu spesial tersebut disebut dengan masa-masa sulit dan sempit.

Bahwa kemampuan dan kekuatan manusia tidak tak terbatas adalah kenyataan yang tak pernah bisa  ditolak. Saat muncul hal-hal yang dianggap melampaui kapasitasnya, hingga membuatnya takut dan cemas, keluarlah jurus pamungkas itu: doa. Tidak tahu kepada siapa harus minta pertolongan, tak ada tempat bergantung, tak ada yang menguatkan, hingga ia pun akhirnya menaruh harapan terakhirnya kepada sesuatu yang selama ini dianggap abstrak.

Lemahkah manusia, hingga harus berharap kepada sesuatu yang tak bisa dilihat? Sayangnya setiap manusia harus mengakui kenyataan, bahwa adalah ‘fitrah’ atau ‘kecenderungan’, ketika merasa tak memiliki daya, untuk bergantung kepada sesuatu yang memiliki kekuatan yang sangat besar bahkan tak terhingga.

Satu contoh yang sangat baik adalah masa-masa ujian. Bisa disebut masa-masa itu adalah ‘masa-masa penuh cahaya’: bahwa banyak orang menjadi dekat kepada Tuhan. Mungkin hal tersebut dilakukan tanpa sepenuhnya dipikirkan. Di saat itu, rasio tidak lagi terlalu dibutuhkan.

Doa itu pun tidak cukup untuk dilisankan di dalam hati atau lidah, tapi juga diekspresikan melalui media. Alhasil, timeline twitter menjadi wadah yang efektif untuk menumpahkan harapan kepada Tuhan.

Itu semua bukanlah hal yang mengejutkan. Tuhan sendiri pun telah menyampaikan lewat firmanNya:

“…Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Yunus: 22)

Sesuatu yang sebelumnya dianggap abstrak kemudian menjadi nyata dan begitu dekat dalam setiap detakan jantung dan nafas. Tidak diperlukan penjelasan yang ilmiah kenapa hal tersebut terjadi. Namun, waktu spesial ini tidaklah lama. Begitu sang kesulitan sudah dapat teratasi dan terlewati, hal yang nyata kembali abstrak.

“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar…” (Yunus: 23)

Di saat ini, Tuhan sudah tidak diperlukan lagi. Ucapan ‘alhamdulillah’ dianggap sudah cukup sebagai rasa terima kasih. Itu ketika hasil yang diperoleh memuaskan. Jika hasil yang diperoleh mengecewakan, yang ada adalah rasa kesal dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’” (Al Fajr: 15-16)

Masa-masa ujian adalah masa-masa yang penuh cahaya, yaitu ketika banyak orang mendekatkan diri kepada Tuhan. Adalah fitrah jika manusia dalam keadaan lemah berdoa dan berharap agar Tuhan Yang Maha Kuat menolongnya. Dan mungkin adalah kecenderungan ketika manusia telah melewati masa-masa sulit, ia merasa sudah tidah butuh Tuhan lagi.

Categories: gagasan, merenung | 1 Comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: