O, Manglayang

Sebuah pagi, yang cerah dengan ganjil. Sebuah terik matahari, entah apakah ia ikhlas untuk memberikan sinarnya. Tapi ia tidak tahu, karena dedaunan menutupinya dari terik pagi hari.

Apakah pohon-pohon itu tengah melihatnya? Seseorang, yang melangkahkan satu, dua, dan tiga ayunan kaki menujunya? Mereka tetap bisu dan diam, belumlah ada angin yang membuat mereka bergoyang ke kiri dan ke kanan seperti pada sore hari. Tapi kebisuan itu sudah cukup: tak ada yang bisa menyangkal kegagahan pohon-pohon pinus yang tegap berdiri bagaikan angkuh.

Sensasi ini selalu sama, yaitu rumput-rumput hijau, tanah coklat, dan suara-suara penghuni bumi. Memang bukanlah kebisingan yang hendak dicari, tapi ke-khusyuk-an: zikir para makhluk dengan cara mereka yang sulit dimengerti.

O, Manglayang, akankah engkau selalu sama seperti ini? Membuat kami harus menengadahkan kepala menghadapmu?

Tapi engkau selalu enggan menampakkan wajahmu,dan memilih cadar berupa awan mendung.

Belum ada jawaban yang terdengar. Dan memang tak pernah ada yang mengharapkan jawaban di kaki gunung. Mereka harus mencarinya ke puncak, mereka harus membuktikannya, bahwa mereka pantas meraih jawaban tersebut.

Seseorang itu kembali tersenyum, bukan lagi karena  angin sejuk dan aroma tanah yang ia inderakan, tapi menangisi orang yang tengah putus asa. Di sana: di tengah-tengah semak dan rerumputan, juga air yang keruh. Tapi saat itu bukanlah untuk mengasihani orang lain. Bahwa menit-menit hingga jam pendakian sedang menuntut adalah hal yang tak bisa dipungkiri.

Bagaimanakah rasa putus asa terbentuk? Mengapa ada rasa itu, apakah itu bukti lemahnya manusia? Mengapa selalu ada mereka yang berjiwa gagah berani dan yang pengecut di atas bumi yang sama? Jika mereka berasal dari unsur-unsur yang sama, jika mereka diciptakan melalui proses yang sama tanpa pengecualian, apakah selalu ada keadilan yang dimaknai dengan kerja keras?

Sejarah selalu menuliskan para manusia yang bersuara lantang di bawah penyiksaan. Mereka berakhir dengan mengenaskan bagi sebagian pembaca, tapi tidak bagi mereka sendiri: mereka telah mengakhirinya dengan indah. Terkadang, lembaran yang sama juga menceritakan orang-orang yang senantiasa bersembunyi dan menghindar. Sebagian tidak berakhir buruk seperti orang-orang yang pertama, tapi hingga akhir hayat tak ada satu pun yang mau menghargai mereka.

Jika memang demikian, kenapakah ada rasa takut terhadap kematian? Lebih parah lagi, rasa takut itu bukan terhadap hal yang ekstrem seperti kematian, tapi lebih rendah lagi? Sebenarnya, apakah yang manusia senantiasa takutkan? Seringnya abstrak, tak jelas dan tak nyata: mereka takut terhadap rasa takut itu sendiri, dan kenyataan ini amat pahit.

O, Manglayang. Jika demikian, mengapa selalu kaki ini ingin mundur? Mengapa tangan ini tak pernah berani mengepal? Mengapa mata ini terlalu payah untuk menatap ke depan? Mengapa lidah ini menggemari kata-kata keluhan?

Masih belum terdengar jawaban. Keringat mulai berjatuhan, dan nafas tersengal. Berhenti, dan menatap ke atas: tanjakan-tanjakan masih tidak bersahabat. Ah, sebuah satu jam telah terlewati. Hari ini sungguh beruntung bahwa hujan tidak mau membersamai. Sebuah satu jam, waktu yang amat singkat bagi tidur dan permainan, tapi cukup bagi perenungan makna-makna.

Waktu terkadang adalah hal yang unik. Sering bersifat relatif, meskipun telah diciptakan jam. Menghitung lima menit layaknya setahun dan bisa membuat gila. Mungkin ini menandakan bahwa fitrahnya makhluk untuk terus bergerak dan tidak menghabisi dirinya dengan diam. Lalu, samakah yang dirasakan oleh gunung, rerumputan, dan pohon-pohon? Sekian ratus tahun bahkan lebih waktu mereka lewati dalam diam, tapi mereka tidak pernah hilang kewarasan. Sebaliknya tetap tenang, bijak, misterius. Ah, tasbih setiap makhluk memang sulit dimengerti.

Setengah jam yang baru terlewati kembali, dan tanjakan pun menghilang, tergantikan dengan tanah yang lapang. Masih tidak ada apa-apa di sana, hanya suara-suara alam tanpa desiran angin. Inikah upaya pembuktian seorang manusia? Tidak ada apa pun yang berhasil dibuktikan, pohon-pohon di sana pun tak pernah mau menjadi saksi. Jika demikian, apakah yang mampu menghapus segala keraguan dan keluhan?

O, Manglayang. Bisakah kau ajarkan aku makna dari jati diri? Mengapa kami selalu gagal memaknai apa-apa yang telah kehidupan ajarkan? Masih adakah nilai-nilai kesabaran dalan setiap jiwa yang gagal?

Itu semua tak perlu kembali kau tanyakan, Manglayang menjawab. Kau pun tau, juga mengerti, bahwa tak perlulah mencari hal-hal yang sudah ada dalam diri.

O, Manglayang. Benarkah bahwa sifat-sifat ksatria bukanlah anugerah dari raja-raja mulia? O, Manglayang, benarkah seseorang menjadi pengecut dan penakut adalah karena pilihannya sendiri, bukan karena warisan darah para setan yang menggoda?

Manglayang menjawab, selalu tak ada tempat bagi hal tiba-tiba terjadi di dunia ini. Bahkan Tuhan tidaklah  menciptakan aku dan kamu begitu saja: selalu ada tahap-tahap yang amat jelas dan indah untuk diceritakan. Hingga kau berada di tanah lapang ini pun, selalu ada tahap-tahap yang amat jelas dan indah untuk diceritakan.

O, Manglayang, seindah apakah kisah mereka yang senantiasa berdiri tegap hingga akhir? Seindah apakah kisah mereka yang tetap bertahan untuk terus berjalan dan berjalan dan berjalan di gunung-gunung tinggi dunia?

Manglayang kembali menjawab, kisah mereka selalu indah untuk diceritakan. Namun, kisah mereka telah selesai, berakhir. Saatnya kisahmulah yang diceritakan. Sekarang, turun dan teruslah berjalan. Jika Tuhan mengizinkan kita bertemu kembali, ceritakanlah kisahmu, apakah itu indah atau busuk.

Advertisements
Categories: gajelas, merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: