Monthly Archives: December 2011

O, Manglayang

Sebuah pagi, yang cerah dengan ganjil. Sebuah terik matahari, entah apakah ia ikhlas untuk memberikan sinarnya. Tapi ia tidak tahu, karena dedaunan menutupinya dari terik pagi hari.

Apakah pohon-pohon itu tengah melihatnya? Seseorang, yang melangkahkan satu, dua, dan tiga ayunan kaki menujunya? Mereka tetap bisu dan diam, belumlah ada angin yang membuat mereka bergoyang ke kiri dan ke kanan seperti pada sore hari. Tapi kebisuan itu sudah cukup: tak ada yang bisa menyangkal kegagahan pohon-pohon pinus yang tegap berdiri bagaikan angkuh.

Sensasi ini selalu sama, yaitu rumput-rumput hijau, tanah coklat, dan suara-suara penghuni bumi. Memang bukanlah kebisingan yang hendak dicari, tapi ke-khusyuk-an: zikir para makhluk dengan cara mereka yang sulit dimengerti.

O, Manglayang, akankah engkau selalu sama seperti ini? Membuat kami harus menengadahkan kepala menghadapmu?

Tapi engkau selalu enggan menampakkan wajahmu,dan memilih cadar berupa awan mendung.

Belum ada jawaban yang terdengar. Dan memang tak pernah ada yang mengharapkan jawaban di kaki gunung. Mereka harus mencarinya ke puncak, mereka harus membuktikannya, bahwa mereka pantas meraih jawaban tersebut.

Seseorang itu kembali tersenyum, bukan lagi karena  angin sejuk dan aroma tanah yang ia inderakan, tapi menangisi orang yang tengah putus asa. Di sana: di tengah-tengah semak dan rerumputan, juga air yang keruh. Tapi saat itu bukanlah untuk mengasihani orang lain. Bahwa menit-menit hingga jam pendakian sedang menuntut adalah hal yang tak bisa dipungkiri.

Bagaimanakah rasa putus asa terbentuk? Mengapa ada rasa itu, apakah itu bukti lemahnya manusia? Mengapa selalu ada mereka yang berjiwa gagah berani dan yang pengecut di atas bumi yang sama? Jika mereka berasal dari unsur-unsur yang sama, jika mereka diciptakan melalui proses yang sama tanpa pengecualian, apakah selalu ada keadilan yang dimaknai dengan kerja keras?

Sejarah selalu menuliskan para manusia yang bersuara lantang di bawah penyiksaan. Mereka berakhir dengan mengenaskan bagi sebagian pembaca, tapi tidak bagi mereka sendiri: mereka telah mengakhirinya dengan indah. Terkadang, lembaran yang sama juga menceritakan orang-orang yang senantiasa bersembunyi dan menghindar. Sebagian tidak berakhir buruk seperti orang-orang yang pertama, tapi hingga akhir hayat tak ada satu pun yang mau menghargai mereka.

Jika memang demikian, kenapakah ada rasa takut terhadap kematian? Lebih parah lagi, rasa takut itu bukan terhadap hal yang ekstrem seperti kematian, tapi lebih rendah lagi? Sebenarnya, apakah yang manusia senantiasa takutkan? Seringnya abstrak, tak jelas dan tak nyata: mereka takut terhadap rasa takut itu sendiri, dan kenyataan ini amat pahit.

O, Manglayang. Jika demikian, mengapa selalu kaki ini ingin mundur? Mengapa tangan ini tak pernah berani mengepal? Mengapa mata ini terlalu payah untuk menatap ke depan? Mengapa lidah ini menggemari kata-kata keluhan?

Masih belum terdengar jawaban. Keringat mulai berjatuhan, dan nafas tersengal. Berhenti, dan menatap ke atas: tanjakan-tanjakan masih tidak bersahabat. Ah, sebuah satu jam telah terlewati. Hari ini sungguh beruntung bahwa hujan tidak mau membersamai. Sebuah satu jam, waktu yang amat singkat bagi tidur dan permainan, tapi cukup bagi perenungan makna-makna.

Waktu terkadang adalah hal yang unik. Sering bersifat relatif, meskipun telah diciptakan jam. Menghitung lima menit layaknya setahun dan bisa membuat gila. Mungkin ini menandakan bahwa fitrahnya makhluk untuk terus bergerak dan tidak menghabisi dirinya dengan diam. Lalu, samakah yang dirasakan oleh gunung, rerumputan, dan pohon-pohon? Sekian ratus tahun bahkan lebih waktu mereka lewati dalam diam, tapi mereka tidak pernah hilang kewarasan. Sebaliknya tetap tenang, bijak, misterius. Ah, tasbih setiap makhluk memang sulit dimengerti.

Setengah jam yang baru terlewati kembali, dan tanjakan pun menghilang, tergantikan dengan tanah yang lapang. Masih tidak ada apa-apa di sana, hanya suara-suara alam tanpa desiran angin. Inikah upaya pembuktian seorang manusia? Tidak ada apa pun yang berhasil dibuktikan, pohon-pohon di sana pun tak pernah mau menjadi saksi. Jika demikian, apakah yang mampu menghapus segala keraguan dan keluhan?

O, Manglayang. Bisakah kau ajarkan aku makna dari jati diri? Mengapa kami selalu gagal memaknai apa-apa yang telah kehidupan ajarkan? Masih adakah nilai-nilai kesabaran dalan setiap jiwa yang gagal?

Itu semua tak perlu kembali kau tanyakan, Manglayang menjawab. Kau pun tau, juga mengerti, bahwa tak perlulah mencari hal-hal yang sudah ada dalam diri.

O, Manglayang. Benarkah bahwa sifat-sifat ksatria bukanlah anugerah dari raja-raja mulia? O, Manglayang, benarkah seseorang menjadi pengecut dan penakut adalah karena pilihannya sendiri, bukan karena warisan darah para setan yang menggoda?

Manglayang menjawab, selalu tak ada tempat bagi hal tiba-tiba terjadi di dunia ini. Bahkan Tuhan tidaklah  menciptakan aku dan kamu begitu saja: selalu ada tahap-tahap yang amat jelas dan indah untuk diceritakan. Hingga kau berada di tanah lapang ini pun, selalu ada tahap-tahap yang amat jelas dan indah untuk diceritakan.

O, Manglayang, seindah apakah kisah mereka yang senantiasa berdiri tegap hingga akhir? Seindah apakah kisah mereka yang tetap bertahan untuk terus berjalan dan berjalan dan berjalan di gunung-gunung tinggi dunia?

Manglayang kembali menjawab, kisah mereka selalu indah untuk diceritakan. Namun, kisah mereka telah selesai, berakhir. Saatnya kisahmulah yang diceritakan. Sekarang, turun dan teruslah berjalan. Jika Tuhan mengizinkan kita bertemu kembali, ceritakanlah kisahmu, apakah itu indah atau busuk.

Advertisements
Categories: gajelas, merenung | Leave a comment

Ustad Lubis

Assalamu’alaykum, Ustad Lubis

Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh

Ustad Lubis, perkenalkan, kami mahasiswa yang ingin silaturahim dengan Ustad.

Oh, ya, silakan.

Ustad Lubis, kami ingin memberikan sumbangan untuk masjid sebagai kenang-kenangan. Kami berencana untuk memperbaiki atap masjid yang bolong-bolong.

Alhamdulillah. Jazakallah atas bantuannya. Saya sangat menerima niat baik kalian.

Senang sekali kami bisa membantu. Mengapa atap masjid bisa begitu rusak, Ustad Lubis?

Yah, dulu pernah ada hujan besar di sini. Masjid pun sampai terkena bajir. Waktu itu banyak sekali atap yang lepas, bahkan sampai mau runtuh. Akhirnya waktu itu saya pasang saja tiang dari kayu. Tuh, kamu lihat kan? Ada dua balok kayu yang dipasang. Sebenarnya niatnya hanya untuk sementara, sebelum seluruh atapnya yang terbuat dari internit diganti.

Ustad Lubis sendiri yang memasang dua balok kayu itu?

Iya, dibantu sama….ada babeh, yang biasa bantu-bantu untuk konstruksi masjid.

Ustad Lubis, kami lihat atap masjid itu terbuat dari internit. Bukankah akan lebih baik jika kami menyumbang bukan dalam bentuk uang tapi langsung berupa internit? Cukupkah demikian? Selain internit, apa lagi yang harus kami sumbangkan?

Silakan. Ini, saya tulis apa saja yang perlu dibeli. Biar kalian saja yang membelinya sehingga apa yang saya terima adalah langsung barangnya.

Ustad Lubis, kami telah membali barang-barang yang telah dipesan oleh Ustad. Diletakkan di halaman masjid saja, eh? Rasanya ingin pula kami membantu dalam pemasangan, sehingga silaturahim yang terjalin di antara kita tidak hanya dalam bentuk materi.

Tidak apa, tidak perlu. Tangganya hanya satu. Besok akan mulai saya kerjakan bersama babeh. Ya, letakkan saja di halaman masjid. Mudah-mudahan dalam waktu 3 hari semua atap masjid yang terlepas sudah terpasang kembali.

Ustad Lubis, tidak seperti biasanya Ustad memakai celana tiga perempat dan pakaian santai yang penuh dengan cat. Sedang membuat perekat adalah yang sedang dilakukan oleh Ustad, bukan?

Iya. Internitnya perlu dicat dulu sebelum dipasang. Ini perekat yang diperlukan untuk pemasangannya. Huh….capek juga ya, hahaha (sambil melap keringat).

Mengapa nama ustad adalah Lubis? Apakah ustad berasal dari Medan?

Tidak, tempat tinggal saya aslinya tidak jauh dari sini. Entah kenapa juga orang tua memberi nama saya Lubis, mungkin hanya sekedar ikut-ikutan, hahah. Dulu saya pertama kali ke masjid ini sekitar lima tahun yang lalu. Halaman masjid kala itu tidak seperti sekarang, dahulu penuh dengan rerumputan tinggi. Saya pun memotong rumput-rumput itu, dan seperti yang kalian lihat, sekarang halaman masjid sudah disemen.

Nama tentulah bukan hal yang sembarang diberikan oleh orang tua kita. Nama adalah doa, bukankah begitu, sehingga Rasulullah saw. mengubah nama Yatsrib yang berkonotasi ‘memaki’ atau ‘kotor’ menjadi Madinah Al Munawaroh atau ‘Kota yang Disinari’? Ah, halaman masjid ini cukup luas untuk berbagai kegiatan, ya kan Ustad Lubis?

Benar. Seperti yang kalian saksikan sendiri. Halaman ini digunakan untuk wisuda sekolah pengajian untuk anak-anak. Panggung pun bisa didirikan di sini, tidak hanya di halaman balai desa yang kemarin dipakai dangdutan. Waktu itu pun kalian ikut lomba makan kerupuk di halaman ini, hingga membuat anak-anak tertawa (tersenyum).

Kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ustad Lubis dan para warga yang telah mengundang kami ke acara tersebut, hingga kami disuguhi makan gratis, padahal kami tidak membawa apa-apa. Saat itu, jelas kami melihat tidak semua tamu undangan disuguhi makanan.

(Tersenyum)

Kami lihat Ustad Lubis ketika itu menjadi MC. Apakah Ustad Lubis pula yang merancang acara wisuda tersebut? Apakah panggung dan proyektor juga diurus oleh Ustad Lubis? Kemudian baju toga anak-anak itu, dipesan oleh Ustad Lubis juga kan?

Ya. Saya menjadi seksi Acara merangkap MC, seksi logistik, pengisi acara, yang mengundang para orang tua siswa, dan pelantik kelulusan anak-anak. Tentu warga juga ikut membantu. Saya berharap anak-anak tetap menanamkan nilai Islam di masing-masing hatinya, dan tak henti mau belajar Islam. Saya yakin, salah satu dari mereka kelak akan menjadi pemimpin negeri ini, entah menteri atau pejabat. Jika para menteri atau pejabat adalah mereka yang menanamkan nilai Islam di hatinya dan menyatakannya dalam kehidupan, negeri ini menjadi negara maju bukan hanya mimpi….

Ustad Lubis, maaf kami berkunjung malam-malam ke rumah Ustad. Kami ingin menanyakan kabar pemasangan atap masjid. Lebih dari tiga hari telah terlewati. Mengapa Ustad Lubis tidak meminta bantun warga saja? Toh, masjid ini digunakan dan dinikmati bersama-sama.

Biarlah. Kalau meminta bantuan warga, mereka harus dibayar. Belum tentu mereka mau bekerja tanpa dibayar alias gratis. Tidak apa-apa, pekerjaannya juga tinggal sebentar lagi. InsyaAllah di hari ke lima semua internit telah terpasang.

Ustad Lubis, kami melihat ustad mengajar anak-anak setiap siang hingga sore dari hari Senin-Sabtu. Adakah guru ngaji lain selain Ustad Lubis?

Ah, ya. Siang sampe sore jadwal ngaji anak-anak yang lebih besar, sedangkan sore jadwalnya anak-anak yang lebih kecil. Pengajarnya hanya saya dan istri saya saja….tidak ada yang lain. Sebenarnya saya ingin meminta tolong kalian untuk bantu ngajar ngaji juga, tapi saya ga enak, khawatir kalian sibuk, hahahah.

Tidak, seharusnya kamilah yang menawarkan diri. Mungkin bukan hanya untuk transfer ilmu kami yang tidak seberapa, tapi untuk menjalin tali silaturahim yang bukan hanya berbasiskan materi. Dan….waktu tidak terasa hingga kami harus pergi dari sini. Kami ingin izin pamit, sekaligus memberi kenang-kenangan. Memang lagi-lagi ini bersifat materil. Tapi, semoga setiap kali Ustad mengenakan baju koko yang tidak seberapa ini, tali silaturahim yang tak kasatmata ini dapat tersusun kembali. Terima kasih Ustad, jika Allah mengizinkan melalui kehendakNya, mungkin ada kesempatan bagi kita untuk lebih mengokohkan persaudaraan.

Ya, demikianlah. Begitu pula terima kasih terucap kepada teman-teman semua. Kehadiran kalian insyaAllah bukanlah hal untuk dilupakan. Memang ditakdirkan bahwa manusia akan selalu datang dan pergi, bukan? Tapi setidaknya bukan hanya untuk sekedar lewat; ada air mata yang jatuh mengiringi kepergian, bukankah itu tanda bahwa kalian pernah menetap di hati kami? Selamat jalan. Semoga silaturahim di antara kita layaknya persaudaraan atas dasar keimanan: tetap kekal hingga membawa kita ke alam keabadian. Dan kelak kalian telah tumbuh menjadi pemimpin negeri ini, semoga tak melupakan masjid kecil di suatu desa, anak-anak yang belajar di sana sambil tertawa kegirangan, dan para manusia yang ikhlas mendidik karakter dan moral melalui ajaran agama.

Categories: narasi | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: