Tukang Kepruk

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal Epimenides. Dia adalah manusia—entah manusia tulen atau manusia setengah dewa—yang keberadaannya dikisahkan oleh mitos. Sebagai seorang yang berasal dari pulau Kreta, cerita mistik Yunani mengenang dia sebagai peramal. Diceritakan, ketika menggembala domba milik ayahnya, ia tertidur selama 57 tahun di dalam sebuah gua, lalu terbangun dalam kondisi teranugrah kemampuan membaca masa depan.

Namanya tidak begitu banyak diketahui, namun ada pernyataannya yang amat populer. Epimenides, seorang yang berasal dari pulau Kreta, mengatakan bahwa “semua orang Kreta adalah pembohong.”

Benarkah semua orang Kreta adalah pembohong? Jika demikian, berarti apa yang Epimenides katakan pun adalah kebohongan. Logika tersebut menyatakan semua orang Kreta adalah “orang yang jujur”, yang berarti Epimenides pun berkata jujur, sehingga pernyataan “semua orang Kreta adalah pembohong” adalah sebuah kebenaran?

Istilah ini dikenal sebagai paradox Epimenides atau Liar Paradox. Pernyataan yang bersifat saling bertentangan ini masuk ke dalam arena logika. Ada banyak analisis logis yang berusaha menjelaskan paradox ini, tapi mari kita lihat pernyataan ini seutuhnya.

Saya yakin statement semacam ini tidaklah asing dalam topik pembicaraan antara lidah dan telinga kita. Mungkin kita beranggapan bahwa apa yang Epimenides katakan adalah sebuah hiperbola atau melebih-lebihkan. Bila dilihat latar belakangnya, sebenarnya ia tidak sepakat dengan anggapan orang-orang Kreta kebanyakan bahwa Zeus bersifat mortal. Ia meyakini sedalam-dalamnya bahwa kebenaran versinya adalah Zeus merupakan tuhan yang bersifat abadi.

Hal ini tentu sangat tidak asing dalam perbendaharaan percakapan kita, bukan? Orang-orang sering melebih-lebihkan untuk memberikan suatu penguatan. Atau, terlebih lagi, untuk menarik perhatian orang-orang yang mendengarnya agar mengerutkan dahinya dan menganggap perkataan tersebut sebagai sesuatu yang serius.

Contoh perkataan yang dilebih-lebihkan untuk penguatan makna adalah yang pernah diberitakan secara ramai oleh media, yaitu penuntutan agar KPK dibubarkan. Serius nih KPK akan dibubarkan? Bukankah korupsi di negeri ini masih merajalela? Bahkan tidak ada tanda-tanda ia akan menjinak, melainkan semakin ganas: ia menyebar dan tumbuh dengan amat cepat?

Kenyataannya, kini tidak ada tanda-tanda lembaga independen tersebut dibubarkan. Yang ada adalah pembahasan UU terkait lembaga tersebut agar terdapat batasan-batasan kewenangan. Toh, alasan dari munculnya tuntutan agar KPK dibubarkan adalah anggapan bahwa KPK memiliki wewenang yang tak terbatas dan dapat bertindak seenaknya, sehingga dirasa perlu ada hukum yang membatasinya.

Mungkin tidaklah mudah untuk membangun opini agar ada UU yang membatasi wewenang lembaga antikorupsi tersebut. Jalan pintas pun digunakan: melakukan “pukulan ekstrem” di awal, agar tercipta “gelombang opini”. Lalu, setelah pukulan itu cukup telak, langkah mundur pun dilakukan; pernyataan ekstrem ditarik karena ia telah menunaikan tugasnya: membangun “gelombang opini”, lalu diganti dengan statement yang lebih lunak. Efeknya pun terasa: publik yang telah terpukul dengan telak pun menerima “langkah lunak”. Seorang pengamat politik pernah menulis, bahwa orang-orang yang melakukan pukulan ekstrem ini disebut dengan “tukang kepruk”. Ia memukul hingga pecah, kemudian pecahan-pecahan tersebut disusun kembali menjadi bentuk yang diinginkan—tentu pecahan-pecahan tersebut akan senang bila disusun kembali.

Tidakkah kita sering melihat para “tukang kepruk” ini di sekitar kita? Mungkin ia tidak jujur sepenuhnya, dan tidak pula sepenuhnya bohong. Ketika ada suatu pernyataan, ada baiknya kita tidak sekedar melihat hitam-putihnya atau jujur-bohongnya, tapi juga lihat maksud atau latar belakang dari keluarnya perkataan tersebut. Sikap ini akan melahirkan sikap “kritis”.

Namun kritis bukanlah berarti selalu curiga. Bukanlah hal yang konstruktif bila tiap kalimat yang keluar dari politisi selalu ditanggapi negatif, yang berujung pada kritikan pedas hingga kutukan—yang kita pun bertanya, bukankah kutukan hanyalah bersifat destruktif?

Di era informasi seperti sekarang—walau sebuah artikel mengatakan kini sudah saatnya kita mengucapkan, “Goodbye information age, hello conceptual era!”—berpikir atas setiap hal yang didengar atau dibaca merupakan sebuah keharusan dan kebutuhan. Informasi yang banyak diterima tanpa diolah terlebih dulu hanya akan mengakibatkan kelebihan infromasi, kemudian lahirlah mereka: orang-orang yang terasing dengan realita, atau bebek-bebek yang selalu mengekor indungnya.

Epimenides tidaklah bermaksud mendiskreditkan bangsanya sendiri. Ia hanya melantangkan keimanan dan terang-terangan menentang orang yang tidak sepaham dengannya. Tidaklah begitu penting jika kita menghabiskan pikiran hanya untuk memutar-mutar logika sebuah paradox, tapi akan lebih bermakna jika kita memahami apa maksud dari tukang kepruk itu.

Agaknya adalah hal yang sulit untuk membuktikan kebenaran—membuktikan seseorang melakukan tindak korupsi sukarnya bukan kepalang—sehingga kebenaran atau kebohongan terkadang sifatnya relatif. Dunia tidak selalu hitam-putih, karena itulah ada warna abu-abu. Orang yang bijak tidak akan selalu melukis kanvasnya dengan warna monochrome, tapi penuh warna—ia tidak terpaku pada benar-salah suatu hal, tapi menelisik maksud di balik itu semua untuk kemudian menggagaskan hal yang konstruktif.

Advertisements
Categories: gagasan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: