Monthly Archives: October 2011

Tadi Siang Saya Bermimpi

Tadi siang saya bermimpi.

Apakah yang orang ketahui tentang mimpi? Mungkin hanyalah rangkaian-rangkaian ketidakjelasan. Tidak ada apa-apa di sana, tidak ada kenyataan, tidak ada wajah kita. Orang-orang selalu berusaha untuk mencari makna dalam rantai-rantai tidak nyata tersebut. Adalah hak setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk memberi tafsir, namun terkadang tetap saja, kata “makna” dan “pengertian” memiliki definisi yang tidak pasti. Atau, katakanlah memang ada sebutir makna yang tersembunyi, tapi bagaimana bisa ia muncul dalam skenario cerita yang begitu tak karuan?

Tadi siang saya bermimpi.

Adakah mimpi bisa bertransformasi dalam kenyataan? Terkadang indra manusia ikut melayang ke alam tersebut. Melihat, mendengar, menyentuh, merasa. Apakah mimpi berusaha untuk memberontak alam nyata? Mungkin iya, tapi bukan mimpi tersebut yang memberontak, melainkan sang penikmat mimpi. Hingga, tidur dan bangun pun seolah tak memiliki  perbedaan. Ia ‘tidur’ untuk ‘bangun’, dan kemudian terpaksa ‘bangun’ meninggalkan alam nyatanya.

Tadi siang saya bermimpi.

‘Mimpi’ dan ‘mimpi’ apakah memiliki arti yang sama? Apa hubungannya antara ‘rangkaian ketidakjelasan yang sama sekali tidak dikehendaki’ dengan ‘cita-cita, visi, atau targetan’? Atau mungkin hubungan tersebut adalah menyedihkan, bahwa segala cita-cita, harapan, visi pribadi merupakan hal-hal yang tidak jelas dan tidak nyata.

Tadi siang saya bermimpi.

Tapi bukan hari ini, karena, terlepas diinginkan atau tidak, alam mimpi sedang tidak ingin menghadirkan diri menghibur saya yang sedang terlelap. Tidak terlalu dapat diingat dengan jelas, samar-samar, seolah ia sedang lari untuk bersembunyi.

Kisahnya tentang: diri saya yang sedang duduk di dalam mobil, mengendarainya. Jalanan yang dilalui bukanlah yang sehari-hari dilewati di alam nyata, melainkan batu-batu rata putih—seperti jalanan menuju gedung atau bangunan megah gaya kuno. Jalanan sepi, tak ada seorang pun, yah, seolah saya adalah raja yang sedang pulang menuju istananya. Namun saya berhenti—yak, berhenti, di jalanan putih mulus tadi yang menanjak. Jalan terlihat menyempit dan semakin menanjak, menuju celah keraguan—di tikungan, sepi dan sangat asing.

Lirikan mata saya terhadap celah itu tidak lama, karena kemudian mobil yang ditumpangi tidak tahan berhenti terus-terusan: ia merosot ke bawah, dengan cepat pula! Gas diinjak dengan putus asa, dan memang sia-sia. Mobil tidak kuat untuk naik, ia mundur ke bawah dengan terlalu cepat.

Di sekitar titik terbawah, akhirnya pun terhenti. Gas kembali diinjak, mobil kemudian berjalan ke depan-atas, tapi ada yang tidak sama. Jalanan tidak lagi berwarna putih bagaikan pasir pantai, melainkan merah, begitu juga kelajuan mobil yang tidak lagi semantap dulu. Dan bukan lagi kesepian menuansa, tapi banyak orang di atas, dan mereka menggelindingkan barel besar! Agaknya, mobil yang saya tumpangi masih punya tekad untuk terus melaju, ke atas, ke atas, terus ke atas, tapi celah itu tidaklah tampak lagi.

Tadi siang saya bermimpi.

Benarkah mimpi untuk ditafsir? Bukankah terkadang mimpi bisa menjadi bahan permainan, atau latihan rasa penasaran dan bertanya-tanya?

Mungkin mimpi hanyalah rangkaian ketidakjelasan. Tidak ada apa-apa di sana, tidak ada kenyataan, tidak ada wajah kita. Mimpi bukanlah yang mudah diingat, dan mudah terlupakan, sehingga apabila masih tersimpan memorinya tentu ada makna khusus di sana, yang menunggu untuk ditafsirkan.

Orang-orang bilang, mimpi adalah gambaran yang tersimpan dalam alam bawah sadar. Apakah ia bisa bertransformasi menjadi kenyataan? Mungkin saja, bahkan mimpi pun bisa saja adalah kenyataan itu sendiri. Seseorang yang pernah menanjak begitu mulus dan lancarnya, bagaikan melangkah di atas pasir putih, selalukah harus berhadapan dengan aksioma bahwa tidaklah selamanya indah? Karena memang, jalan menanjak tidak hanya menuntut kerja otot betis dan paha, tapi juga jantung yang harus berdetak makin cepat. Hingga, mereka semua tersangkut dalam satu keraguan: celah yang sempit dan asing.

Mencapai puncak gunung adalah cita-cita dan target setiap pendaki—tentu saja. Hal tersebut dideklarasikan ketika berada di kaki gunung, ketika mentap puncak yang ujungnya tak bisa terlihat, terhalangi kabut keabadian. Mendaki gunung bukanlah perkara kekuatan fisik, tapi mental: mereka yang mentalnya lemah takkan pernah berteriak keras di puncak, lalu itu semua pun menjadi ‘mimpi’ belaka.

Mengulang? Tidak semuanya mau, karena berarti harus kembali semuanya dari titik terendah. Menurut hukum alam, usaha yang dibutuhkan pun lebih besar jika mobil berjalan dari posisi berhenti. Dan tidaklah lagi sama: jalanan indah yang dahulu pernah ditinggalkan, kini berubah. Tidak lagi sepi, karena orang-orang baru telah lahir ke dunia. Mungkin saja tidak beruntung, apa-apa yang menjadi penghalang tiba-tiba muncul di saat yang tepat. Yah, memang, mengulang itu tidaklah mudah, tapi itu adalah jalan satu-satunya  bila ingin tetap melihat matahari terbit di puncak.

Tadi siang saya bermimpi.

Serangkaian ketidakjelasan yang tak pernah diinginkan. Namun ketika bangun, segala ketidakjelasan tersebut harus ditata, diorganisasi, untuk ditransformasikan menjadi cita-cita, visi, targetan.

Advertisements
Categories: gajelas, merenung | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: