Nyanyian Burung BulBul

Terkisah sebuah bukit beralaskan padang rumput yang hijau, di sana tegak sebuah kastil megah dengan hiasan yang berwarna-warni. Jika mengintip ke dalam, tampak beberapa anak berpakaian putih bersih disertai jubah mengkilap sedang berlari-larian. Ketika lelah, lari dihentikan, dan mereka mulai menganggu bocah perempuan yang tenggelam dalam rangkaian bunga. Orang-orang dewasa yang lewat pun mencoba menghentikan, dan tak sulit untuk menemukan cap kebangsawanan di pakaian mereka. Para bangsawan perlente itu pun meletakkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan ketenangan bagi seorang bayi mungil yang tertidur dalam ayunan.

Tak satupun makhluk kerajaan sana yang tak mengenal Raja sebagai manusia berpakaian paling mewah. Mahkota emas berkilat batu mulia sana-sini hanyalah aksesori jubah beliau yang mengkilap bagai mentari. Sang Ratu pun tak pernah mau kalah, dan beliau tak bosan-bosannya membandingkan kemewahan dirinya dengan suami. Dan itu semua belum dilengkapi dengan singgasana berukiran rumit dan sempurna. Konon, ruang singgasana tak pernah gelap karena selalu diterangi oleh cahaya perhiasannya.

Sekitar sepekan sekali, atau sepekan dua kali, kegemerlapan pesta memenuhi ruang dansa. Seluruh lampu yang terbuat dari kristal dinyalakan—seolah cahayanya menandingi surya pagi. Suara seruling, tabuh gendang, dan dawai senar mengiringi para tamu yang larut dalam tawa. Semua orang meloncat, semua orang menari, dan semua orang terbahak-bahak, hingga Raja pun tak segan lagi menaruh sedikit kehormatannya di malam itu. Ketika larut malam telah lewat, para tamu undangan berjalan menuju kereta sambil terhuyung. Muka mereka memerah, dan tiada lagi yang teringat dari malam itu, kecuali suara supir yang mengatakan bahwa mereka telah sampai di rumah.

Karena kebahagiaan telah melekat, kerajaan itu pun menjuluki diri mereka sendiri sebagai “Kerajaan Kebahagiaan”, dengan logo kastil beserta sinar matahari, melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Namun, pada suatu waktu, pesta yang telah dijadwalkan tiba-tiba ditiadakan. Sang Raja jatuh sakit, dan terkapar tanpa gerakan di ranjang. Tubuhnya menggigil meskipun sedang musim panas, wajahnya memerah bagai habis dirias, dan matanya pucat seperti foto pajangan. Telah berhari-hari kondisi demikian dialami orang nomor satu itu, dan penghuni kastil pun panik. Berbagai dokter dari berbagai sudut negeri pun didatangkan, tapi tak kunjung pula Raja mampu berdiri.

Di tengah kepanikan yang tak terarah, seorang pria berkaca mata penjaga perpustakaan mencoba menenangkan keadaan. Ia mengatakan telah tertulis dalam suatu buku bahwa hidup seekor burung bulbul langka di kerajaan itu. Dikatakan bahwa nyanyian burung itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sepertinya, cerita itu bukan dongeng belaka. Di kalangan rakyat, menyebar luas desas-desus tentang nyanyian seekor burung titisan malaikat yang menyembuhkan segala penderitaan.

Perintah untuk menangkap hewan penyembuh itu pun dikeluarkan. Agak sulit bagi tentara kerajaan untuk menemukannya, karena ia selalu hinggap di atas bukit di waktu subuh, dan menghilang entah ke mana ketika matahari naik. Meskipun begitu, para pasukan yang telah terlatih itu pun berhasil membawa pulang seekor burung bulbul dalam sangkar.

“Hai BulBul, telah tiba kepadaku berita tentang nyanyianmu yang membawa berkah,” kata si penjaga rak buku.

“Bukanlah keberkahan itu adalah nyanyianku,” jawab BulBul. “Tapi aku hanya bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh Sang Maha.”

“Jika demikian, tunjukkanlah tanggung jawab atas tugas muliamu kepada kami semua. Telah berhari-hari Raja berbaring tanpa daya, bermacam dokter telah didatangkan, tapi tampaknya tinggal engkaulah sang harapan.”

“Mengapa aku harus menyembuhkannya?”

“Karena jika engkau berhasil menyembuhkannya,” timpal ajudan Raja dengan geram, “timbunan emas akan mejadi sarapanmu sehari-hari. Tapi jika tidak, engkaulah yang akan menjadi sarapan kami!”

“Aku tidak bisa sarapan dengan emas,” kata BulBul dengan tenang. “BulBul tidak pernah membutuhkan emas, dan tidak takut jika harus menjadi sarapanmu. Tapi, baiklah. Sang Maha memerintahkanku untuk selalu menyembuhkan yang memebutuhkan tanpa memandang siapa.” Kemudian, rangkaian nada-nada pun mengalir memenuhi ruangan.

Pohon-pohon kini telah menghijau,

nan indah, nan rimbun, nan rindang,

membentangkan kesyahdauan di bukit-bukit kerajaan kebahagiaan.

Oh, tapi sungguh malang, Raja sang Kerajaan Kebahagiaan yang maha kaya

tidaklah bahagia kini, dan tidaklah keindahan pohon-pohon untuk dihayatinya.

Kini siapakah dia yang telah berbahagia,

Raja maha kaya yang telah terikat dengan ranjangnya,

atau si miskin yang berbaring di bawah keteduhan pepohonan Sang Maha?

Suara burung itu begitu nyaring, merdu, dan jernih bagai sungai. Bendera di ruangan berkibar seolah ikut bergetar, para manusia terhipnotis dalam khayalan lautan awan, dan para pemusik mencoba untuk mengiringi nyanyiannya, tapi tidak bisa!

Begitu nyanyian berakhir, gigilan Raja tak lagi terlihat. Matanya tak lagi pucat, dan dengan segera Raja bangkit. Ia pun menoleh ke arah burung.

“Wahai BulBul, mulialah Engkau. Akan kupastikan semua makhluk hidup di kerajaan ini menghormatimu, seperti mereka menghormatiku. Sekarang, sebutkanlah hadiah keinginanmu,” kata Raja.

“Kemuliaan bukanlah aku, melainkan yang telah menganugerahkan suara kepadaku. Kehormatan bukanlah hanya untukku, tapi untuk setiap makhluk yang memiliki keikhlasan nan suci. Hadiah keinginanku hanyalah agar terbang bebas kembali ke bukit tempat tinggalku,” jawab BulBul dengan suara nyaringnya.

“Emas dan perhiasan akan kuberi. Jika engkau memiliki makanan kesukaan maka sebutkan saja, pelayanku akan menghidangkannya. Tapi tidak kuizinkan kau untuk pergi. Tinggallah di kastil ini, dan sangkarmu akan dipercantik, hingga tak ada yang mengalahkan kecantikannya kecuali singgasanaku. Perintahku ini telah kukeluarkan, dan semua makhluk di sini menjadi saksi dan wajib mematuhinya,” Raja kemudian berdiri, meninggalkan kamar dan menuju ruang kerjanya.

Begitulah. BulBul tinggal di dalam kastil, di dalam sangkar terindah yang pernah ada. Ia digantung di dekat singgasana Raja, sehingga setiap kali Raja membutuhkan hiburan, BulBul pun akan dimintanya bernyanyi. Ketika pesta pekanan pun BulBul diagungkan seperti Raja. Nyanyiannya membuat mulut para tamu undangan menganga, tak sadar karena jiwanya berenang bersama alunan nada tersebut.

Suatu ketika, Raja kembali merasa tidak enak badan. Muncul kebiasaan yang unik pada dirinya:  Raja selalu menambah porsi makannya, ia tak henti-hentinya minum air, dan sering pula bangun tengah malam untuk buang air kecil. Jika biasanya energi selalu hadir di tengah hingar bingar pesta, kini tubuhnya lemas tak berdaya.

Burung BulBul diminta bernyanyi untuk memberi kesembuhan, tapi tidak satupun kondisinya membaik, malah semakin menjadi-jadi. Raja yang terkenal akan badannya yang besar dan perutnya yang tambun, kini terlihat kurus dan lunglai. Ia mulai mengeluhkan kepala yang berputar-putar, dan hilangnya sensasi rasa pada tangan dan kakinya. Pada satu waktu, kakinya tergores pisau yang tergeletak—yang membuatnya memarahi seluruh penghuni kastil—dan, setelah dibersihkan, lukanya tak kunjung pula sembuh. Malah, warna kulit kakinya yang dahulu paras merona kini menghitam bagaikan arang.

BulBul pun diminta bernyanyi berulang-ulang, agar penyakit aneh sang Raja bisa tersembuhkan. Tapi sekalipun tak ada tanda-tanda harapan. Raja meminta burung itu bernyanyi kembali, kemudian harmoni merdu namun sendu mengayunkan sudut-sudut ruangan:

Duhai singgasana nan megah, dapatkah kau menceritakan makhluk yang lebih tolol,

ketimbang orang yang serakah dalam kerakusannya?

Duhai singgasana nan megah, dapatkah kau menceritakan makhluk yang lebih tolol,

ketimbang orang yang tak sesal jua karena tak menyadari kerakusannya?

Duhai singgasana nan megah, kini kulihat kau tertawa tekekeh-kekeh,

rasa tawa yang telah lama kau tahan begitu lama terhadap empumu.

Dan kini, marilah kita tertawa dengan lepas,

dan biarkan seluruh makhluk di kerajaan ini menertawakan,

makhluk yang paling tolol, yang binasa dalam kerakusannya.

HAHAHAHAHAHAHAH!

“Burung tolol! Kenapa nyanyianmu kini tidaklah lagi menyembuhkanku?” bentak Raja.

“Bukanlah ia tidak menyembuhkan, tapi penyakit Tuan yang tidak dapat disembuhkan.”

“Apa katamu?”

“Tidakkah sadar, bahwa penyakit yang Tuan alami sekarang akibat keserakahan Tuan sendiri?”

“Jaga mulutmu, burung tolol!”

“Begitu banyak makanan bergemuk dan minuman manis dihidangkan di kastil ini. Dan kalian semua pun makan dengan begitu rakus. Sesungguhnya kalian telah kenyang, tapi masih tak henti makanan disantap, hingga membuat perut kalian semua menggelembung.” kata BulBul, masih dengan suara nyaringnya. “Padahal, di luar kastil ini, ada banyak pula manusia yang bernafas seperti Tuan, tapi tak pernah makan seperti Tuan makan, bahkan hampir tak makan sama sekali.

“Tuan menyebut kerajaan ini adalah Kerajaan Kebahagiaan. Tetapi yang bahagia hanyalah Raja dan keluarganya, bangsawan, dan penghuni kastil. Pernahkah Tuan keluar dari kastil ini untuk bertemu dengan rakyat Tuan?”

“Tidak! Untuk apa aku, Sang Raja yang perkasa, menemui rakyat jelata yang hina!” Raja berkata dengan geram.

“Tahukah Tuan, ke mana aku pergi setelah subuh dari bukitku? Setiap hari aku mengelilingi kerajaan, mencari dan menyembuhkan rakyat Tuan. Aku nyanyikan harmoni kedamaian dan kekuatan, dengan itu mereka bersyukur atau kesembuhan yang diberikan. Hampir seluruh rakyat di luar sana dalam kondisi menyedihkan, seolah mereka telah melakukan kesalahan karena lahir sebagai rakyat jelata.”

“Aku Raja yang mulia, pemilik Kerajaan Kebahagiaan! Setiap hari aku selalu makan makanan yang bergizi! Tetapi kenapa sekarang aku berpenyakit yang tiada bisa tersembuhkan!?”

“Duhai, beginilah nasib seorang manusia yang tolol. Kebanyakan mereka, karena kerakusan, mengganggap sesuatu hal yang berlebihan adalah kemuliaan. Padahal, Sang Maha telah mencipta semesta dengan seimbang. Ia juga meminta berkali-kali agar kita menengok semesta ini, adakah sesuatu yang tidak seimbang? Sungguh binasa mereka yang merusak keseimbangan Sang Maha, yang mengurangi ataupun yang melebihkan.

“Sekarang Tuan mengidap penyakit kelebihan makanan akibat kerakusan sendiri. Dan, sunggguh kasihan, penyakit karena kerakusan tiadalah ada obatnya,” kata BulBul dengan nada sendu.

“Aku Raja! Orang paling kaya di kerjaan ini! Akan aku panggil dokter dari seluruh dunia untuk menyembuhkanku!” bentak Raja.

“Silakanlah lakukan kehendak sesukamu. Tapi sayang sekali. Kaki Tuan yang menghitam akan semakin membusuk, hingga harus dipotong. Jadilah engkau Raja tanpa kaki—sungguh menyedihkan. Dan tidaklah hanya sampai di situ. Perlahan tapi pasti, seluruh tubuhmu tergerogoti, hingga engkau meninggal dalam keadaan menjijikkan dan tak satupun mau menguburmu. Bahkan, para leluhur sebelummu pun akan jijik dengan pewaris mereka yang begitu tolol.”

“Terkutuk engkau! Engkaulah yang akan kubinasakan! Kubakar kau hidup-hidup, dan dagingmu akan menjadi sarapan seluruh penghuni kastil!” Raja berdiri, dan mukanya memerah.

“Sesukamu, karena tugasku telah berakhir. Aku telah menyembuhkan rakyatmu yang menderita, dan memberi peringatan kepada Raja tolol. Hanyalah ku berharap para penerusmu tidak menutup mata dari sejarah ini dan tidak setolol dirimu.”

BulBul pun kemudian dibakar hidup-hidup. Tak lama ramalan BulBul terkabul: kaki Raja harus dipotong agar kehitamannya tak menyebar ke tubuhnya. Tapi, tak lama kemudian pula sang Raja meninggal dengan kondisi menyedihkan.

Mendengar burung BulBul dibakar, rakyat diam-diam marah dan diam-diam pula mereka menghimpun kekuatan. Amarah rakyat, seperti gelas, kemudian pecah menjadi pemberontakan. Dan para penghuni kastil yang berperut tambun terlena dalam kelelapan pesta pora. Kerajaan Kebahagiaan itu pun jatuh, bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur.

Advertisements
Categories: narasi | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: