Cerita Anak-Anak (2): Bocah Jalanan

Bagaimanakah prolog cerita seorang manusia dimulai? Segala sesuatu yang menjadi kisah tersendiri tentu memiliki permulaan, begitu pula dengan kisah hidup manusia. Seperti cerita-cerita drama atau teatrikal, alur suatu babak sering dipengaruhi oleh alur babak sebelumnya dan memengaruhi alur babak setelahhnya. Karena itu, mengetahui awal mula suatu cerita bagai menemukan jalur tali yang membentuk simpul.

Hal tersebut tidak berbeda bagi cerita yang dituliskan oleh bocah-bocah, di sana, di suatu pinggiran jalan.

Adalah senyuman polos khas anak jalanan, yang didapat oleh pemuda berwajah suram yang berjalan dengan ragu. Sebenarnya, bukanlah ditujukan kepada sang pemuda senyuman itu diuraikan, tapi kepada Abah Charly sang juragan sate, yang kerap kali berperan seolah pengasuh mereka.

Malam itu sekitar jam sembilan malam, dan trotoar pinggiran jalan Inggit Garnasih, atau biasa disebut Pelana, masih berisik. Pedagang-pedagang buah masih setia menunggu gerobaknya. Tukang jajanan kaki lima juga masih nangkring. Alfamart masih diisi banyak orang, dan bocah-bocah berwajah kucel dan berkulit kotor karena tidak pernah mandi berlarian menuju Abah. Juragan sate maranggi pun menyahut dengan hangat.

Di tengah jalan, seorang bocah pendek, bontot, berjalan dengan mulut menganga sambil membawa kertas yang terbakar. “Siapa dia?” tanya pemuda suram. Namun Abah yang telah lama mengasuh bocah-bocah jalanan Pelana pun menggeleng. Tak lama, wajah-wajah polos yang kucel dan kotor penuh debu bermunculan.

“Aa’. Aa’. Ini saya luka. Tolong diobatin,” rengek seorang perempuan kecil. Ia berjalan dengan bertelanjang kaki menghampiri kawan-kawannya di depan Alfamart. “Dea,” kata si suram. “Kamu dari mana? Koq kemarin-kemarin ga keliatan?”

“Baru datang, tadi dianterin orang tua. Aa’, ini luka yang waktu itu aa’ obatin ga sembuh,” ia semakin merengek, terduduk di trotoar, dan menunjukkan kelingkingnya. “Mana? Mana?” pemuda suram mencoba melihatnya. Kurang lebih seminggu yang lalu ia pernah meneteskan alkohol dan betadine ke kelingking yang luka terinjak sepatu.

“Dea, sendal yang Abah kasih waktu itu mana?” tanya Abah.

“Iya, Dea, sendalnya mana?” tambah si pemuda. Seorang bocah laki-laki yang selalu mengenakan jaket menunjukkan kantong kresek yang berisi sandal. “Ini sandalnya, A’,” kata bocah itu yang bernama Dadi.

“Kenapa ga dipake sandalnya, Dea? Nah kan, lukanya jadi ga sembuh-sembuh,” kata pemuda suram sambil menjatuhkan beberapa tetes betadine, menutupnya dengan kapas, dan mengikatnya dengan tensoplas. “Sandalnya dipake, ya. Kalo engga, lukanya ga akan sembuh-sembuh.”

Mata mungil, wajah imut, rambut yang licin sebenarnya membuat bocah perempuan itu terlihat lucu dan menawan. Berapa usianya? Hmm, mungkin sekitar 10 tahun. Akhirnya, sandal karet berwarna pink dikeluarkan dari kresek dan diinjak oleh kaki kecil. Pemuka suram itu masih saja mengelus-ngelus rambut Dea yang licin, merasa gemas, seolah bocah itu adalah kucing Persia.

Sebenarnya amatlah menyesakkan, mengetahui bocah mungil itu (usianya sepentaran dengan anak kelas 4-5 SD) telah melakukan hubungan seksual, dan dia bukanlah satu-satunya. Abah Charly bilang hanya satu bocah perempuan di sana yang mengaku belum pernah berhubungan badan. Ada juga seorang anak laki-laki sebaya dengan anak kelas 2-3 SMP, entah berapa kali telah berhubungan kelamin dan gonta-ganti pasangan, ia sudah mengeluarkan nanah dalam kencingnya. Rasa nyerinya pun dikeluhkan menjalar hingga ke ginjal.

“Dea, tadi datang ke sini diantar orang tua?” si pemuda bertanya. Bocah itu mengangguk. “Sekarang orang tua Dea di mana?”

“Di rumah.”

“Engga pulang ke rumah aja, Dea, kumpul sama orang tua?”

“Engga,” jawab anak itu, menandakan bahwa kehidupan jalanan adalah pilihannya.

Bocah-bocah saling berteriak dengan lepas, dan kehadiran tiga orang dewasa di sana—Abah Charly, pemuda bermuka suram, dan si rambut tipis—membuat orang-orang yang lewat merasa tertarik untuk melihat-lihat. Di suatu sisi, beberapa anak duduk dengan tenang, merunduk, mendekatkan hidung ke kaosnya. Di balik pakaian itu—baju biru pendukung Persib—tersembunyi kaleng silinder berisi lem aibon.

Mereka terdiam, seakan menikmati aroma zat perekat berwarna kekuningan itu memasuki hidung, saluran pernafasan, hingga otak. Beberapa bahkan menghirupnya dengan terang-terangan, melekatkan kaleng silinder itu ke hidung secara langsung.

“Jefri, sini Jefri,” si muka suram memanggil seorang bocah buceri—bule ngecet sendiri. “Masih memar, ga? Coba liat.”

“Udah mendingan.”

“Ya udah, sini, sini. Aa’ olesin thrombopob lagi ya.”

Setidaknya bocah buceri itu memiliki sepasang mata yang lebih segar. Ketika pertama kali si suram dan si buceri bertemu—di trotoar seberang Pasar Baru—rambut bocah itu belum pirang, tapi matanya terlihat sayu. Ucapannya terpatah-patah. “’Kamu mabok, ya?’” tanya Abah, ketika itu. “’Engga, engga mabok. Orang mabok mah jalannya gini nih,’” Jefri menirukan gaya jalan orang teler. Lalu ia kembali, berkata dengan terputus-putus, dan memasang mata sayu di tengah keremangan malam.

Setelah diolesi thrombopob, buceri kembali mondar-mandir, sambil menghirup lem aibon di balik kaos Persibnya. Kenapa matamu memar, tanya Abah kepada Jefri suatu waktu. Karena sendawa di depan orang, terus saya dipukul, jawabnya dengan nada tak bersalah.

Si rambut tipis juga terlihat asik mengobati luka-luka luar yang dialami oleh bocah-bocah lain. “Aa’, mau diplester kayak Dea,” rengek seorang bocah bernama Umi. “Ga usah, ini dibiarkan terbuka supaya cepat kering,” kata rambut tipis. “Ga mau! Ga mau! Pokoknya harus dikasih kapas dan diplester!”

“Kamu namanya siapa?” tanya Abah ke bocah bontot berwajah hitam yang tadi membawa kertas terbakar. “Kamu baru ya di sini?”

“Dia gagu, ga bisa bicara A’,” seru seorang bocah.

“Namanya Fajar,” sahut bocah lain

“Orang tuanya nyariin terus, tapi dia ga mau pulang.”

Memang benar. Si bontot itu cuma bisa menyebut “A’! A’!” sambil menunjuk ke suatu arah, dan tidak ada seorang pun yang mengerti apa maksudnya.

Malam itu, Fajar yang tidak bisa mingkem terlihat ke sana kemari, tapi Nurdin—seorang bocah berjaket kuning yang tidak pernah mandi—tidak nampak. Bocah itu begitu manja, hingga pernah pada suatu waktu ia nempel terus ke Abah, seolah juragan sate itu adalah ibu yang akan menyusuinya. Mata Nurdin selalu tampak sayu dan pucat. Hobinya adalah ngelem, dan pandangan matanya tiada arti. “’Nurdin mah suka nge-dextro terus,’” lapor kawannya pada suatu malam ke Abah. Pernah juga terlihat wajahnya begitu teler—seolah jiwanya sedang berenang-renang di negeri khayalannya.

“Ya! Sini semuanya kumpul! Kita kumpul di sana aja ya!” kata-kata Abah menggerakkan bocah-bocah itu duduk dengan rapi di depan sebuah toko yang sudah tutup. “Ya, ayo semuanya kumpul,” kata-kata payah itu diucapkan oleh pemuda suram yang mencoba ikut-ikutan.

Tak lama, Abah menjelaskan tentang tata cara puasa dan hal-hal yang membatalkannya. “Puasa dilakukan dari subuh sampe magrib. Kalo puasa ga boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa: makan, minum, melakukan hubungan seksual, merokok, ngelem.” Anak-anak mendengarkan sambil cengar-cengir, jail ke satu sama lain. Lalu, satu per satu anak-anak itu pun belajar mengucapkan doa buka puasa dan niat berpuasa.

“Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta’aalaa,” ucap pemuda suram mencoba mengajarkan seorang bocah.

“Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sayati…” ucap bocah itu.

“Haadzihis sanati,” ulang si pemuda.

“Haadzihis sayati,” ulang si bocah.

“Haadzihis sa-na-ti.”

“Haadzihis sa-ya-ti.”

“SA-NA-TI!”

“SA-YA-TI!”

Saat kata-kata doa itu asik diteriakkan, beberapa bocah yang duduk dibelakang punya keasikan lain: merokok. Saat seorang selesai menghisapnya dengan nikmat, langsung rokok itu dioper ke temannya. Setelah temannya selesai, rokok itu pun dioper kepada yang lain. Begitu seterusnya.

Hari Jumat itu, 5 Agustus 2011, mencatat alur cerita bocah-bocah jalanan di Pelana. Bagaimanakah prolog cerita hidup mereka dimulai? Apakah awal mula cerita bagi mereka begitu menyedihkan, hingga tiap adegan dalam hidup mereka selalulah pantas untuk ditangisi?

Prolog kehidupan tidaklah sesuatu yang bisa dipilih oleh manusia. Ia sudah ditentukan, dan telah tertentukan sebelum manusia itu lahir. Apakah ia lahir dari orang tua pemulung sampah atau gelandangan, atau memiliki kecacatan tubuh, atau kehadirannya tidak diinginkan oleh sang orang tua, adalah itu semua beragam pembuka cerita milik beragam manusia.

Dan, seperti aksi teatrikal, babak pertama pun memengaruhi adegan-adegan berikutnya. Karena kisah kehidupan adalah bukanlah lingkaran-lingkaran yang tak berhubungan satu sama lain, melainkan adalah mata-mata rantai yang terus sambung-menyambung. Jika begitu, tidak adilkah dunia, selalu menyisakan ketetapan pahit bagi para pelakon cerita kehidupan ini?

Setidaknya, cerita kehidupan merupakan drama paling unik. Ia bukanlah kisah picisan yang tiap detil skenarionya tak pernah bisa diubah. Jika babak pertama cerita hidup ini telah tertentukan sebagaimana adanya, maka merupakan potensi manusia untuk menyusun batu bata cerita baru pada adegan berikutnya.

William Shakespeare pernah berkata dalam salah satu karya teaternya:

Seluruh dunia ini adalah panggung,

dan semua pria dan wanita hanyalah pemain.

Mereka memiliki pintu keluar dan masuknya;

dan satu orang di masanya memainkan banyak peran…

Setiap laki-laki dan perempuan adalah pemain dalam panggung drama kehidupannya, tapi tidak hanya itu: mereka sekaligus juga sutradara dan penulis skenarionya. Walau permulaan kisah telah menjadi ketepan, tapi saat itu juga manusia memiliki pilihan: menentukan jalan cerita babak kehidupan selanjutnya sesuai kehendaknya.

Dalam Al Quran, Tuhan memberikan manusia kebebasan untuk memilih kehidupan: “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,” (Asy-Syams: 8).

Ada banyak prolog cerita kehidupan manusia yang tidak menggembirakan, bahkan begitu menyedihkan. Tapi itu bukanlah hal yang penting. Adalah semua itu urusan Tuhan yang mengehendakinya, dan urusan manusia adalah menentukan episode-episode kehidupan selanjutnya.

Namun, bocah-bocah jalanan dia atas adalah sekelompok orang-orang yang terlanjur. Hakikatnya mereka memiliki pilihan: beberapa di antara mereka memiliki orang tua yang hidup dengan cukup layak. Tapi merekalah yang memilih untuk hidup di jalanan karena berbagai alasan: menginginkan kebebasan, tidak tahan dengan orang tua tiri, atau sudah terlanjur terjerat dalam kehidupan jalanan. Kemudian, kehidupana jalanan ternyata tidak selamanya membahagiakan, hingga jalan-jalan kebahagiaan instan pun menjadi pilihan: ngelem, merokok, dan seks bebas.

Keterlanjuran-keterlanjuran itulah yang harus segera dilepaskan dari sendi-sendi mereka. Tapi mereka hanyalah anak-anak, tidak sepenuhnya memahami kebutuhan asasi mereka dan terbatasnya kekuatan yang dimiliki. Karena itulah, diperlukan orang-orang yang paham dan memiliki kekuatan, berperan seperti malaikat turun dari langit, seperti Abah Charly dalam cerita di atas.

Masih adakah masa depan untuk mereka? Ah ya, tentu ada, karena mereka adalah pelakon sekaligus sutradara kehidupan mereka. Tapi mereka hanyalah anak-anak, yang miskin pendidikan, moral, dan harta. Di sinilah muncul peran para sutradara tambahan, yang mau mengorbankan sebagian waktu dan tenaganya untuk mereka yang kurang beruntung.

“Kasihan ya mereka. Sudah hidup sengsara di dunia, dan bisa-bisa mereka sengsara juga di akhirat,” kata Abah, mengomentari tingkah laku bocah-bocah jalanan yang gemar merokok, ngelem, berhubungan seks bebas, dan tidak tahu tata cara salat. Tapi subuh itu, Sabtu 6 Agustus 2011, kertas-kertas iklan digelar sebagai sajadah, mukena dibagikan, dan azan dikumandangkan di pinggiran jalan Pelana. Walau masih mereka salat sambil cekikikan dan saling mendorong-menendang, setidaknya tinta harapan sedang dicoba untuk ditorehkan di skenario hidup para bocah jalanan.

 

Advertisements
Categories: narasi, pembelajaran | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Cerita Anak-Anak (2): Bocah Jalanan

  1. Sangat menggugah hati gan kemasan artikelnya…thanks ya kang udah berbagi cerita indah ini..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: