Cerita Anak-Anak (1): Bocah-Bocah Al Kautsar

Sekitar jam setengah sembilan malam atau lebih, mobil Yaris hitam parkir dengan kagok di halaman suatu masjid di Lembang. Keluarlah dua orang: seorang pemuda murung dan seorang juragan sate, Abah Charly namanya. Tapi ternyata ia bukan sembarang juragan sate. Dengan semangat, Abah mengambil dua kardus dari bagasi, dan satu kardus lagi diangkat dengan susah payah oleh si pemurung.

“Dulu kondisinya ga kayak gini. Sekarang jadi bagus karena udah ada donatur yang nyumbang,” bisik Abah ke sang pemuda, begitu bangunan bercat oranye-putih tegak di hadapan mereka. Bentuknya seperti flat, dengan empat lantai termasuk lantai dasarnya. Di satu sudut, terpasang spanduk biru bermodelkan dua bocah berpeci dan berjilbab, bertuliskan “Panti Al Kautsar”.

Abah Charly menengadah ke lantai empat sambil teriak. Muncullah kepala-kepala kecil di lantai atas tersebut. “Awas, nanti jatuh,” seru Abah. Antara bocah-bocah dengan Abah terjadi saling menyahut, hingga muncul seorang bapak-bapak bersinglet putih.

“Langsung saja ke atas,” katanya. Pak singlet putih itu pun langsung mengambil salah satu kardus yang dibawa oleh Abah. Tiga orang itu kemudian menaiki tangga, terlihat beberapa bocah di berdiri di pinggir. Begitu di puncak, pemuda murung mengikuti jalan cepat Abah dengan agak kebingungan: mau dibawa ke mana ini?

Ujung lorong itu adalah ruangan, yang pintunya dibuka oleh seorang bocah, dan sang juragan sate masuk tanpa ragu, diikuti pengikutnya dengan ragu. Ruangan itu ternyata semacam aula, ukurannya pas dipakai seminar atau kuliah, atau taman kanak-kanak karena penuh dengan bocah-bocah, laki-laki dan perempuan. Ah, bukan taman kanak-kanak, karena tampaknya banyak yang seusia sekolah dasar bahkan SMP.

Abah Charly meletakkan dua kardus yang tadi dibawa ke dekatnya duduk—persis di depan dan tengah ruangan. Akhirnya anak muda yang masih murung mengerti, bahwa si Abah sudah terbiasa datang ke sana, layaknya tempat bermainnya, dan para bocah di sana tampak merindukannya. Senyuman polos khas anak-anak, lebar, nyengir, ada juga yang malu-malu—mungkin karena melihat pemuda murung yang sebenarnya ganteng itu—adalah sambutan yang diberikan saat pemilik sate maranggi itu masuk.

Dengan segera dan tanpa keraguan, mic ruangan itu disambar oleh Abah. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh!”

Bocah-bocah menjawab, tepatnya berteriak, dengan serentak. “Alhamdulillah…akhirnya kita bertemu kembali…akang minta maaf kalau ga datang waktu ulang tahun panti….” lanjut Abah.

Tali rafia yang mengikat satu kardus di dekatnya dilepas. “Ini akang bawain sabun cuci. Ada banyak nih. Seneng ga?”

“Senaaaannggg!!”

“Terus ini ada satu paket dua sabun mandi, sampo, sikat gigi buat masing-masing…cukuplah ya sampe lebaran nanti….” Anak-anak menjawabnya dengan tawa cengengesan.

Abah pun melanjutkan pembicaraan yang tidak terlalu didengar si pemuda, karena ia asyik memfoto dan memperhatikan kepolosan bocah-bocah di sana. Selain beragam usia, tampaknya ada yang datang dari luar Jawa juga. Terlihat beberapa bocah berkulit hitam khas Indonesia timur—laki-laki dan perempuan. Seorang bocah kecil laki-laki bertampang timur, sekitar usia 6-7 tahun, mengenakan baju koko dan menunduk dengan polos, ketika Abah memanggilnya dengan nama Okto. Benar namanya Okto? Ternyata bukan—ia dipanggil begitu karena mirip Oktovianus Maniani.

“Oya perkenalkan, ini temen akang,” katanya sembari menunjuk si pemuda. “Kita doakan supaya dia cepat dapat…”

“Jodoohhh!!” sahut beberapa bocah menyelesaikan kata-kata Abah. Agaknya si pemuda ikutan cengar-cengir, tidak menampakkan kemurungan.

“Kita udah lama ga mentoring, ya?” tanya Abah melanjutkan. “Ini akang khusus bawa temen ke sini. Sekarang kita dengarkan tausiyah darinya….” Sontak si pemuda kaget. Ia mencoba-coba cari bahan tausiyah di situs dakwatuna lewat ponselnya. Duh! Kenapa situsnya ga bisa dibuka sih??

Mic kabel pun segera dialihkan ke tangannya. Bingung apa yang mau diberikan, dan tidak ada satu pun bahan dipegang, serta hampir kosongnya ilmu di kepala, pemuda murung itu pun mencoba untuk ngalor-ngidul. “Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, saya benar-benar berbahagia bisa berjumpa teman-teman….”

Setidaknya yang ia ucapkan bukanlah sebuah hipokrisi. Anak-anak bukanlah benda langka di kota tempat ia dibesarkan. Tapi, anak-anak berair wajah yang cerah, terutama antusiasme mereka untuk menimba ilmu dan taat beragama, bukanlah hal yang mudah ditemukan.

Sebutlah anak-anak yang tumbuh di rumah besar dan disuguhi oleh beragam alat permainan, semacam XBOX, PS3, atau iPad; adalah hal sulit menemukan mereka terlihat antusias dalam menjalankan perintah Tuhan. Dan, bukan hal yang mudah pula menjumpai sang orang tua memotivasi sepenuh hati agar sang anak tumbuh menjadi pensyukur nikmat. Atau anak-anak berpakaian lusuh, yang berhari-hari tidak dicuci dan tidak memiliki baju ganti. Setiap malam mereka duduk di trotoar, menunduk, berpandangan kosong, dan melayang dengan nikmat. Penganiayaan bukanlah barang baru, dan untuk itu tampaknya mereka cukup sabar—atau lebih tepat disebut pasrah. Dan tidak mudah juga berharap agar mereka cukup bersabar atas penderitaan dunia, dan menyandarkan semuanya kepada Yang Maha Pemurah. Tentu, karena Tuhan tidak bisa dilihat, bukan? Yang terlihat hanyalah rokok, uang kertas dari bule pencari jablay, dan kaleng silinder berisi lem.

“Teman-teman, bulan Ramadan adalah bulan yang membahagiakan…,” lanjut si pemurung. “Kalau teman-teman melihat televisi yang biasa diisi sinentron, sekarang banyak program islaminya….” Tiba-tiba Abah berbisik, “Di sini ga ada tv….” Anak-anak pun bersahut membenarkan.

Ah, ya, bagus, bagus. Infeksi sinetron dan media tidak menular ke sini. “Juga, di bulan Ramadan ini orang-orang yang biasanya bangun jam 6 atau jam 7, sekarang bangun sebelum subuh….” Abah pun berbisik lagi, bahwa anak-anak di sana setiap harinya—baik Ramadan atau bukan—bangun jam 3 subuh untuk salat malam.

Ah, ya, bagus, bagus. Sungguh luar biasa. “Jangan seperti Abah ya, yang biasanya bangun setelah subuh, hahahah,” lanjut sang pemuda, meledek dirinya sendiri.

“Teman-teman, kebahagiaan ini hanya di bulan Ramadan. Kapan lagi, selain di bulan Ramadan, televisi, papan iklan, dan radio semuanya bernuansa islami. Selain bulan Ramadan, kita tidak bisa lagi melihat Irfan Bachdim memakai peci dan baju koko….”

Setelah tausiyah yang ke mana-mana itu beres, acara dilanjutkan dengan games missing Quran. Lagi-lagi pemuda itu yang diminta untuk ngisi. Sambil membuka Al Quran, ia membaca potongan surat juz 30: an naba, an naziat, al insyiqaq, al fajr. Beramai-ramai anak-anak berebutan untuk menjawab, sehingga ia bingung harus menunjuk yang mana. Beberapa bocah yang beruntung dipanggil ke depan, menemui Abah yang merogoh kardus satu lagi, mengambil poster dan jilbab sebagai hadiah.

Agaknya, di momen selama kurang lebih satu jam itu, kemurungan si pemuda berkurang. Bahkan, ada setitik kebahagiaan di sana. Suatu kesempatan yang jarang dapat bertemu dengan anak-anak—yang sebagian masih dalam usia belum balig—namun terpancar cahaya Illahi dari raut wajahnya. Senyuman dan tawa lepas, tidak sekedar lepas, tapi juga mengalirkan semilir ketentraman. Ah, dari manakah ketentraman itu didapat, kalau bukan dari Tuhan?

Yang perlu diingat adalah bahwa panti itu merupakan tempat penampungan. Sebagian besar dari jalanan: tempat bocah-bocah itu pernah menggelandang. Orang-orang timur itu, diceritakan oleh Abah, adalah para pengungsi dari perang saudara. Dan, tidak semua dari bocah-bocah itu adalah bagai titisan malaikat. Bahwa sebagian dari mereka masih ada yang mencuri—hanya untuk sekedar jajan—tentu adalah hal yang menyakitkan. Karena panti itu tidaklah mengubah kenyataan: bahwa mereka adalah orang-orang yang berada dalam kondisi sulit. Penjatahan makanan di sana, juga pendidikan keras si bapak singlet putih, tidaklah mengurangi kesulitan tersebut. Atau, berapa yang sudah tidak respek terhadap orang tua sendiri karena telah membuang mereka di panti itu?

Tapi tetap saja, setidaknya adanya mereka mampu memunculkan suatu kebahagiaan. Di luar berbagai kemurungan dan kerumitan dunia, masih ada, di sudut sana, anak-anak usia SD dan SMP bangun jam 3 subuh untuk memasak. Beramai-ramai pun masakan buatan sendiri disantap. Setelah itu, Al Quran menemani: mereka menargetkan khatam Quran sekali, dua kali, atau tiga kali di bulan mulia ini. Beberapa bersuara keras, mengulang hapalan Quran. Dalam itu semua, ketentraman lahir, kemudian beranak-pinak menjadi kebahagiaan.

Bocah-bocah Al Kautsar, sesuai namanya: mungkin, dan semoga, mereka adalah para pengisi telaga kebahagiaan kelak. Lagipula, siapakah yang mampu memberikan anak-anak tersebut—dan manusia pada umumnya—kebahagiaan selain Tuhan?

Advertisements
Categories: narasi, pembelajaran | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Cerita Anak-Anak (1): Bocah-Bocah Al Kautsar

  1. ooch

    pemurung??? O_o # gk percaya, hhe
    keren2 bahasanya..
    dibukuin kam..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: