#KKNM: Masa-Masa Membahagiakan

Setiap orang tentu memiliki area kenyamanannya masing-masing. Zona kenyamanan ini merupakan tempat yang paling enak untuk nongkrong, tidur-tiduran, istirahat, dan adalah ia hal yang sangat berat untuk ditinggalkan. Contoh saja kalau ada orang yang telah tinggal di kamar hotel yang nyaman dalam waktu lama, tentu ia akan merasa berat bila harus pindah. Tapi mungkin ketidaknyamanan itu bukanlah selamanya. Jika orang tadi telah lama lagi tinggal di tempat yang baru, pelan-pelan namun dengan yakin hatinya pun akan jadi terbiasa juga. Kemudian, hal yang biasa itu perlahan pun menjadi suatu kenyamanan yang baru.

Jika seseorang keluar dari zona nyamannya, sesungguhnya ia sedang membuat zona nyaman yang baru. Agaknya teori yang sering disampaikan oleh motivator ini ada benarnya. Awalnya, sangatlah tidak nyaman ketika harus menetap sebulan di sebuah desa yang begitu asing, bersama orang-orang yang tidak dikenal baik pula. Dan hal ini tidaklah hanya dialami oleh penulis sendiri, tapi juga oleh banyak orang yang sedang menjalani KKNM. Segala keasingan yang ada di sekitar seolah membuat diri sendiri menjadi terasing.

Tapi perlahan, ketidaknyamanan itu semakin semu. Hari-hari tidak terlewat begitu saja tanpa penemuan makna baru. Senyum tipis, kata-kata yang canggung, tawa yang dibuat-buat, tundukan malu-malu terhadap orang yang baru dikenal kemudian berubah. Kelompok KKNM bukanlah lagi orang yang baru dikenal, tapi kemudian menjadi kawan, lalu menjadi kawan dekat. Mungkin penyebab perkawanan ini adalah karena tidak adanya pilihan lain. Tinggal bersama sebulan bersama mereka di sudut desa, tentu segala sesuatu harus dibuat menyenangkan. Berteman, atau menjadikan orang lain sebagai teman, menjadi cara termudah untuk membangun kenyamanan itu.

Lalu, pertemanan itu semakin erat beriringan dengan waktu dan kegiatan yang dilakukan bersama. Senyum yang ikhlas, canda yang tak lagi dibuat-buat, semakin dapat dipahaminya kekhasan karakter masing-masing pun semakin memudarkan lingkaran ketidaknyamanan itu. Saat satu sama lain saling berlarian, mengambil foto, berenang dalam aliran sungai atau laut, melompat dari ketinggian atau mendaki bukit, adalah saat-saat yang mengubah warna lingkaran itu menjadi warna kenyamanan. Tapi ternyata warna kenyamanan itu pun semakin menegas, mencerah, dan melahirkan warna kebahagiaan.

Dan tidaklah itu hanya dialami satu atau dua orang tertentu. Banyak kawan penulis yang bercerita tentang pengalaman tak terlupakannya ketika KKNM. Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa KKNM adalah momen untuk selalu dikenang. Semua orang berkata bahwa waktu yang diberikan terlalu singkat dan ingin KKNM lagi. Masa-masa ketidaknyamanan pun lenyap dan sudah tak bisa diingat lagi. Yang ada kini hanyalah masa-masa membahagiakan.

Ada banyak faktor yang membuat kegiatan sebulan di desa itu menjadi begitu berkesan, walau memang tidak semua kelompok demikian. Tapi, apakah sebenarnya yang membuat 28 hari tersebut menjadi momen yang yang membahagiakan?

Kebahagiaan, merupakan hal yang sangat diinginkan oleh setiap manusia, tanpa terkecuali. Apapun diusahakan agar seorang dapat bahagia. Seorang ayah berangkat pagi-pagi ke kantor dan tak jarang pulang kelewat malam tujuannya itu: agar keluarganya dapat hidup bahagia. Seorang ibu menyuruh anaknya belajar giat dan kuliah di kampus bagus pun memiliki tujuan yang sama: agar anak tersebut kelak dapat bahagia. Penjahat merancang pencurian dengan cerdiknya dan penipu melancarkan aksinya tanpa belas kasih juga sama: ingin hidup mereka bahagia.

Jika ditanyakan apa makna sebenarnya dari bahagia, setiap pikiran akan punya jawaban masing-masing. Menurut KBBI, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan. Apakah segala yang dikerahkan dalam keringat manusia adalah untuk mendapatkan suatu keadaan atau perasaan?

Di sini ada dua keadaan yang mirip tapi berbeda: senang dan tenang. Untuk bisa senang, seseorang pun melakukan upayanya untuk bersenang-senang. Walau pekerjaan yang berat menumpuk dan banyak tekanan dari atasan, semua hal itu dilupakan dengan berhura-hura. Kesenangan didapatkan di sana, tapi tidaklah selamanya. Begitu pesta berakhir, ternyata masalah yang ada tidak terselesaikan sama sekali. Mereka pun mengerti adalah percuma untuk berusaha lari dari beban hidup. Agar dirinya terbebas, jalannya cuma satu: menyelesaikannya.

Mungkin bukan kesenanganlah hakikat yang dicari. Saat bersenang-senang, belum tentu ia bahagia, belum tentu hatinya tenang dan tentram. Sedangkan, untuk mendapatkan ketenangan tidaklah selalu harus didapat dengan kesenangan yang semu.

Kapankah seseorang merasa tenang? Ketika segala tugas dan kerjaan berakhir, ketika mendapat hasil memuaskan dari yang telah diusahakan, ketika semua bentuk yang menyusahkan tak lagi menghimpit. Di saat tenang, ada rasa kedamaian di sana. Tidak perlu lagi merisaukan kesenangan yang bersifat sementara. Menemukan ketenangan bukanlah melarikan kaki dari kenyataan, tapi melangkahkannya ke depan untuk menyelesaikannya.

Bukanlah hal yang baru, banyak ditemukan pengusaha sukses, atau bos perusahaan besar, atau orang yang kebanyakan uang, tidak menemukan kebahagiaan. Ada juga yang mengisahkan orang-orang besar itu mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan, atau memilih untuk mengecat kapal pribadinya, atau bingung untuk berbuat apa. Adakah titik kebahagiaan di sana?

Juga bukanlah hal yang baru, banyak orang yang pekerjaan dan status sosialnya biasa saja, bahkan di bawah, tapi tidak ditemukan kesedihan dan kecemasan dalam air mukanya. Walau dengan materi yang secukupnya, tapi cahaya kebahagiaan lebih terang pada mereka.

Mungkin bukan kesenanganlah yang dicari oleh manusia, tapi ketenangan. Dan ketenangan ternyata tidak bisa dibeli dengan pesta pora dan emas mengkilap.

Masa-masa yang membahagiakan adalah ketika bersama sang kekasih. Adalah tidak untuk terlupakan ketika berada bersama orang-orang yang dikasihi. Bukan hanya karena mereka adalah orang yang memiliki hubungan darah atau berada di tempat khusus dalam hati atau terikat dalam perasaan rumit yang disebut dengan cinta. Tapi juga dengan keberadaan mereka, atau sekedar melihat mereka, sungai ketenangan mengalir. Kemudian, perasaan tenang itu pun makin menguat dan meniupkan kebahagiaan.

Mengenai orang yang dicintai, Muhammad saw. berkomentar, “Engkau (akan dikumpulkan di surga) bersama orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari-Muslim).

Ada cerita yang menarik tentang orang yang dicintai:

Ada seorang lelaki mengunjungi saudaranya di suatu desa. Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk menemuinya. Ketika sampai, utusan itu berkata,”Hendak kemanakah engkau?‟ “Aku hendak menemui saudaraku yang berada di desa ini,” jawab lelaki itu. ”Apakah engkau menginginkan suatu nikmat tertentu yang hendak kau dapatkan darinya?‟ “Tidak, aku hanya mencintainya karena Allah,” jawab lelaki itu.”Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Masa-masa membahagiakan adalah bersama orang yang disayangi dan dicintai. Bersama mereka terdapat ketenangan dan melahirkan kebahagiaan. Bersama mereka telah terlewati berbagai hal: tertawa dalam canda, bermain dalam larut malam, berenang-renang di arus sungai, menikmati kesyahduan sawah yang hijau, menikmati makanan buatan sendiri yang sederhana, berfoto ria dalam terpaan ombak laut selatan. Bersama mereka tali keluarga tersusun secara alami tanpa paksaan. Ketenangan dan kebahagiaan, di ketidakkekalan dunia yang sebenarnya serapuh kaca.

Tidakkah seseorang ingin berbahagia kembali bersama orang-orang tercinta di surga yang seluas langit dan bumi?

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: