Monthly Archives: August 2011

Nyanyian Burung BulBul

Terkisah sebuah bukit beralaskan padang rumput yang hijau, di sana tegak sebuah kastil megah dengan hiasan yang berwarna-warni. Jika mengintip ke dalam, tampak beberapa anak berpakaian putih bersih disertai jubah mengkilap sedang berlari-larian. Ketika lelah, lari dihentikan, dan mereka mulai menganggu bocah perempuan yang tenggelam dalam rangkaian bunga. Orang-orang dewasa yang lewat pun mencoba menghentikan, dan tak sulit untuk menemukan cap kebangsawanan di pakaian mereka. Para bangsawan perlente itu pun meletakkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan ketenangan bagi seorang bayi mungil yang tertidur dalam ayunan.

Tak satupun makhluk kerajaan sana yang tak mengenal Raja sebagai manusia berpakaian paling mewah. Mahkota emas berkilat batu mulia sana-sini hanyalah aksesori jubah beliau yang mengkilap bagai mentari. Sang Ratu pun tak pernah mau kalah, dan beliau tak bosan-bosannya membandingkan kemewahan dirinya dengan suami. Dan itu semua belum dilengkapi dengan singgasana berukiran rumit dan sempurna. Konon, ruang singgasana tak pernah gelap karena selalu diterangi oleh cahaya perhiasannya.

Sekitar sepekan sekali, atau sepekan dua kali, kegemerlapan pesta memenuhi ruang dansa. Seluruh lampu yang terbuat dari kristal dinyalakan—seolah cahayanya menandingi surya pagi. Suara seruling, tabuh gendang, dan dawai senar mengiringi para tamu yang larut dalam tawa. Semua orang meloncat, semua orang menari, dan semua orang terbahak-bahak, hingga Raja pun tak segan lagi menaruh sedikit kehormatannya di malam itu. Ketika larut malam telah lewat, para tamu undangan berjalan menuju kereta sambil terhuyung. Muka mereka memerah, dan tiada lagi yang teringat dari malam itu, kecuali suara supir yang mengatakan bahwa mereka telah sampai di rumah.

Karena kebahagiaan telah melekat, kerajaan itu pun menjuluki diri mereka sendiri sebagai “Kerajaan Kebahagiaan”, dengan logo kastil beserta sinar matahari, melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Namun, pada suatu waktu, pesta yang telah dijadwalkan tiba-tiba ditiadakan. Sang Raja jatuh sakit, dan terkapar tanpa gerakan di ranjang. Tubuhnya menggigil meskipun sedang musim panas, wajahnya memerah bagai habis dirias, dan matanya pucat seperti foto pajangan. Telah berhari-hari kondisi demikian dialami orang nomor satu itu, dan penghuni kastil pun panik. Berbagai dokter dari berbagai sudut negeri pun didatangkan, tapi tak kunjung pula Raja mampu berdiri.

Di tengah kepanikan yang tak terarah, seorang pria berkaca mata penjaga perpustakaan mencoba menenangkan keadaan. Ia mengatakan telah tertulis dalam suatu buku bahwa hidup seekor burung bulbul langka di kerajaan itu. Dikatakan bahwa nyanyian burung itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sepertinya, cerita itu bukan dongeng belaka. Di kalangan rakyat, menyebar luas desas-desus tentang nyanyian seekor burung titisan malaikat yang menyembuhkan segala penderitaan.

Perintah untuk menangkap hewan penyembuh itu pun dikeluarkan. Agak sulit bagi tentara kerajaan untuk menemukannya, karena ia selalu hinggap di atas bukit di waktu subuh, dan menghilang entah ke mana ketika matahari naik. Meskipun begitu, para pasukan yang telah terlatih itu pun berhasil membawa pulang seekor burung bulbul dalam sangkar.

“Hai BulBul, telah tiba kepadaku berita tentang nyanyianmu yang membawa berkah,” kata si penjaga rak buku.

“Bukanlah keberkahan itu adalah nyanyianku,” jawab BulBul. “Tapi aku hanya bertanggung jawab atas tugas yang diberikan oleh Sang Maha.”

“Jika demikian, tunjukkanlah tanggung jawab atas tugas muliamu kepada kami semua. Telah berhari-hari Raja berbaring tanpa daya, bermacam dokter telah didatangkan, tapi tampaknya tinggal engkaulah sang harapan.”

“Mengapa aku harus menyembuhkannya?”

“Karena jika engkau berhasil menyembuhkannya,” timpal ajudan Raja dengan geram, “timbunan emas akan mejadi sarapanmu sehari-hari. Tapi jika tidak, engkaulah yang akan menjadi sarapan kami!”

“Aku tidak bisa sarapan dengan emas,” kata BulBul dengan tenang. “BulBul tidak pernah membutuhkan emas, dan tidak takut jika harus menjadi sarapanmu. Tapi, baiklah. Sang Maha memerintahkanku untuk selalu menyembuhkan yang memebutuhkan tanpa memandang siapa.” Kemudian, rangkaian nada-nada pun mengalir memenuhi ruangan.

Pohon-pohon kini telah menghijau,

nan indah, nan rimbun, nan rindang,

membentangkan kesyahdauan di bukit-bukit kerajaan kebahagiaan.

Oh, tapi sungguh malang, Raja sang Kerajaan Kebahagiaan yang maha kaya

tidaklah bahagia kini, dan tidaklah keindahan pohon-pohon untuk dihayatinya.

Kini siapakah dia yang telah berbahagia,

Raja maha kaya yang telah terikat dengan ranjangnya,

atau si miskin yang berbaring di bawah keteduhan pepohonan Sang Maha?

Suara burung itu begitu nyaring, merdu, dan jernih bagai sungai. Bendera di ruangan berkibar seolah ikut bergetar, para manusia terhipnotis dalam khayalan lautan awan, dan para pemusik mencoba untuk mengiringi nyanyiannya, tapi tidak bisa!

Begitu nyanyian berakhir, gigilan Raja tak lagi terlihat. Matanya tak lagi pucat, dan dengan segera Raja bangkit. Ia pun menoleh ke arah burung.

“Wahai BulBul, mulialah Engkau. Akan kupastikan semua makhluk hidup di kerajaan ini menghormatimu, seperti mereka menghormatiku. Sekarang, sebutkanlah hadiah keinginanmu,” kata Raja.

“Kemuliaan bukanlah aku, melainkan yang telah menganugerahkan suara kepadaku. Kehormatan bukanlah hanya untukku, tapi untuk setiap makhluk yang memiliki keikhlasan nan suci. Hadiah keinginanku hanyalah agar terbang bebas kembali ke bukit tempat tinggalku,” jawab BulBul dengan suara nyaringnya.

“Emas dan perhiasan akan kuberi. Jika engkau memiliki makanan kesukaan maka sebutkan saja, pelayanku akan menghidangkannya. Tapi tidak kuizinkan kau untuk pergi. Tinggallah di kastil ini, dan sangkarmu akan dipercantik, hingga tak ada yang mengalahkan kecantikannya kecuali singgasanaku. Perintahku ini telah kukeluarkan, dan semua makhluk di sini menjadi saksi dan wajib mematuhinya,” Raja kemudian berdiri, meninggalkan kamar dan menuju ruang kerjanya.

Begitulah. BulBul tinggal di dalam kastil, di dalam sangkar terindah yang pernah ada. Ia digantung di dekat singgasana Raja, sehingga setiap kali Raja membutuhkan hiburan, BulBul pun akan dimintanya bernyanyi. Ketika pesta pekanan pun BulBul diagungkan seperti Raja. Nyanyiannya membuat mulut para tamu undangan menganga, tak sadar karena jiwanya berenang bersama alunan nada tersebut.

Suatu ketika, Raja kembali merasa tidak enak badan. Muncul kebiasaan yang unik pada dirinya:  Raja selalu menambah porsi makannya, ia tak henti-hentinya minum air, dan sering pula bangun tengah malam untuk buang air kecil. Jika biasanya energi selalu hadir di tengah hingar bingar pesta, kini tubuhnya lemas tak berdaya.

Burung BulBul diminta bernyanyi untuk memberi kesembuhan, tapi tidak satupun kondisinya membaik, malah semakin menjadi-jadi. Raja yang terkenal akan badannya yang besar dan perutnya yang tambun, kini terlihat kurus dan lunglai. Ia mulai mengeluhkan kepala yang berputar-putar, dan hilangnya sensasi rasa pada tangan dan kakinya. Pada satu waktu, kakinya tergores pisau yang tergeletak—yang membuatnya memarahi seluruh penghuni kastil—dan, setelah dibersihkan, lukanya tak kunjung pula sembuh. Malah, warna kulit kakinya yang dahulu paras merona kini menghitam bagaikan arang.

BulBul pun diminta bernyanyi berulang-ulang, agar penyakit aneh sang Raja bisa tersembuhkan. Tapi sekalipun tak ada tanda-tanda harapan. Raja meminta burung itu bernyanyi kembali, kemudian harmoni merdu namun sendu mengayunkan sudut-sudut ruangan:

Duhai singgasana nan megah, dapatkah kau menceritakan makhluk yang lebih tolol,

ketimbang orang yang serakah dalam kerakusannya?

Duhai singgasana nan megah, dapatkah kau menceritakan makhluk yang lebih tolol,

ketimbang orang yang tak sesal jua karena tak menyadari kerakusannya?

Duhai singgasana nan megah, kini kulihat kau tertawa tekekeh-kekeh,

rasa tawa yang telah lama kau tahan begitu lama terhadap empumu.

Dan kini, marilah kita tertawa dengan lepas,

dan biarkan seluruh makhluk di kerajaan ini menertawakan,

makhluk yang paling tolol, yang binasa dalam kerakusannya.

HAHAHAHAHAHAHAH!

“Burung tolol! Kenapa nyanyianmu kini tidaklah lagi menyembuhkanku?” bentak Raja.

“Bukanlah ia tidak menyembuhkan, tapi penyakit Tuan yang tidak dapat disembuhkan.”

“Apa katamu?”

“Tidakkah sadar, bahwa penyakit yang Tuan alami sekarang akibat keserakahan Tuan sendiri?”

“Jaga mulutmu, burung tolol!”

“Begitu banyak makanan bergemuk dan minuman manis dihidangkan di kastil ini. Dan kalian semua pun makan dengan begitu rakus. Sesungguhnya kalian telah kenyang, tapi masih tak henti makanan disantap, hingga membuat perut kalian semua menggelembung.” kata BulBul, masih dengan suara nyaringnya. “Padahal, di luar kastil ini, ada banyak pula manusia yang bernafas seperti Tuan, tapi tak pernah makan seperti Tuan makan, bahkan hampir tak makan sama sekali.

“Tuan menyebut kerajaan ini adalah Kerajaan Kebahagiaan. Tetapi yang bahagia hanyalah Raja dan keluarganya, bangsawan, dan penghuni kastil. Pernahkah Tuan keluar dari kastil ini untuk bertemu dengan rakyat Tuan?”

“Tidak! Untuk apa aku, Sang Raja yang perkasa, menemui rakyat jelata yang hina!” Raja berkata dengan geram.

“Tahukah Tuan, ke mana aku pergi setelah subuh dari bukitku? Setiap hari aku mengelilingi kerajaan, mencari dan menyembuhkan rakyat Tuan. Aku nyanyikan harmoni kedamaian dan kekuatan, dengan itu mereka bersyukur atau kesembuhan yang diberikan. Hampir seluruh rakyat di luar sana dalam kondisi menyedihkan, seolah mereka telah melakukan kesalahan karena lahir sebagai rakyat jelata.”

“Aku Raja yang mulia, pemilik Kerajaan Kebahagiaan! Setiap hari aku selalu makan makanan yang bergizi! Tetapi kenapa sekarang aku berpenyakit yang tiada bisa tersembuhkan!?”

“Duhai, beginilah nasib seorang manusia yang tolol. Kebanyakan mereka, karena kerakusan, mengganggap sesuatu hal yang berlebihan adalah kemuliaan. Padahal, Sang Maha telah mencipta semesta dengan seimbang. Ia juga meminta berkali-kali agar kita menengok semesta ini, adakah sesuatu yang tidak seimbang? Sungguh binasa mereka yang merusak keseimbangan Sang Maha, yang mengurangi ataupun yang melebihkan.

“Sekarang Tuan mengidap penyakit kelebihan makanan akibat kerakusan sendiri. Dan, sunggguh kasihan, penyakit karena kerakusan tiadalah ada obatnya,” kata BulBul dengan nada sendu.

“Aku Raja! Orang paling kaya di kerjaan ini! Akan aku panggil dokter dari seluruh dunia untuk menyembuhkanku!” bentak Raja.

“Silakanlah lakukan kehendak sesukamu. Tapi sayang sekali. Kaki Tuan yang menghitam akan semakin membusuk, hingga harus dipotong. Jadilah engkau Raja tanpa kaki—sungguh menyedihkan. Dan tidaklah hanya sampai di situ. Perlahan tapi pasti, seluruh tubuhmu tergerogoti, hingga engkau meninggal dalam keadaan menjijikkan dan tak satupun mau menguburmu. Bahkan, para leluhur sebelummu pun akan jijik dengan pewaris mereka yang begitu tolol.”

“Terkutuk engkau! Engkaulah yang akan kubinasakan! Kubakar kau hidup-hidup, dan dagingmu akan menjadi sarapan seluruh penghuni kastil!” Raja berdiri, dan mukanya memerah.

“Sesukamu, karena tugasku telah berakhir. Aku telah menyembuhkan rakyatmu yang menderita, dan memberi peringatan kepada Raja tolol. Hanyalah ku berharap para penerusmu tidak menutup mata dari sejarah ini dan tidak setolol dirimu.”

BulBul pun kemudian dibakar hidup-hidup. Tak lama ramalan BulBul terkabul: kaki Raja harus dipotong agar kehitamannya tak menyebar ke tubuhnya. Tapi, tak lama kemudian pula sang Raja meninggal dengan kondisi menyedihkan.

Mendengar burung BulBul dibakar, rakyat diam-diam marah dan diam-diam pula mereka menghimpun kekuatan. Amarah rakyat, seperti gelas, kemudian pecah menjadi pemberontakan. Dan para penghuni kastil yang berperut tambun terlena dalam kelelapan pesta pora. Kerajaan Kebahagiaan itu pun jatuh, bertepatan dengan terbitnya matahari di ufuk timur.

Advertisements
Categories: narasi | Leave a comment

Cerita Anak-Anak (2): Bocah Jalanan

Bagaimanakah prolog cerita seorang manusia dimulai? Segala sesuatu yang menjadi kisah tersendiri tentu memiliki permulaan, begitu pula dengan kisah hidup manusia. Seperti cerita-cerita drama atau teatrikal, alur suatu babak sering dipengaruhi oleh alur babak sebelumnya dan memengaruhi alur babak setelahhnya. Karena itu, mengetahui awal mula suatu cerita bagai menemukan jalur tali yang membentuk simpul.

Hal tersebut tidak berbeda bagi cerita yang dituliskan oleh bocah-bocah, di sana, di suatu pinggiran jalan.

Adalah senyuman polos khas anak jalanan, yang didapat oleh pemuda berwajah suram yang berjalan dengan ragu. Sebenarnya, bukanlah ditujukan kepada sang pemuda senyuman itu diuraikan, tapi kepada Abah Charly sang juragan sate, yang kerap kali berperan seolah pengasuh mereka.

Malam itu sekitar jam sembilan malam, dan trotoar pinggiran jalan Inggit Garnasih, atau biasa disebut Pelana, masih berisik. Pedagang-pedagang buah masih setia menunggu gerobaknya. Tukang jajanan kaki lima juga masih nangkring. Alfamart masih diisi banyak orang, dan bocah-bocah berwajah kucel dan berkulit kotor karena tidak pernah mandi berlarian menuju Abah. Juragan sate maranggi pun menyahut dengan hangat.

Di tengah jalan, seorang bocah pendek, bontot, berjalan dengan mulut menganga sambil membawa kertas yang terbakar. “Siapa dia?” tanya pemuda suram. Namun Abah yang telah lama mengasuh bocah-bocah jalanan Pelana pun menggeleng. Tak lama, wajah-wajah polos yang kucel dan kotor penuh debu bermunculan.

“Aa’. Aa’. Ini saya luka. Tolong diobatin,” rengek seorang perempuan kecil. Ia berjalan dengan bertelanjang kaki menghampiri kawan-kawannya di depan Alfamart. “Dea,” kata si suram. “Kamu dari mana? Koq kemarin-kemarin ga keliatan?”

“Baru datang, tadi dianterin orang tua. Aa’, ini luka yang waktu itu aa’ obatin ga sembuh,” ia semakin merengek, terduduk di trotoar, dan menunjukkan kelingkingnya. “Mana? Mana?” pemuda suram mencoba melihatnya. Kurang lebih seminggu yang lalu ia pernah meneteskan alkohol dan betadine ke kelingking yang luka terinjak sepatu.

“Dea, sendal yang Abah kasih waktu itu mana?” tanya Abah.

“Iya, Dea, sendalnya mana?” tambah si pemuda. Seorang bocah laki-laki yang selalu mengenakan jaket menunjukkan kantong kresek yang berisi sandal. “Ini sandalnya, A’,” kata bocah itu yang bernama Dadi.

“Kenapa ga dipake sandalnya, Dea? Nah kan, lukanya jadi ga sembuh-sembuh,” kata pemuda suram sambil menjatuhkan beberapa tetes betadine, menutupnya dengan kapas, dan mengikatnya dengan tensoplas. “Sandalnya dipake, ya. Kalo engga, lukanya ga akan sembuh-sembuh.”

Mata mungil, wajah imut, rambut yang licin sebenarnya membuat bocah perempuan itu terlihat lucu dan menawan. Berapa usianya? Hmm, mungkin sekitar 10 tahun. Akhirnya, sandal karet berwarna pink dikeluarkan dari kresek dan diinjak oleh kaki kecil. Pemuka suram itu masih saja mengelus-ngelus rambut Dea yang licin, merasa gemas, seolah bocah itu adalah kucing Persia.

Sebenarnya amatlah menyesakkan, mengetahui bocah mungil itu (usianya sepentaran dengan anak kelas 4-5 SD) telah melakukan hubungan seksual, dan dia bukanlah satu-satunya. Abah Charly bilang hanya satu bocah perempuan di sana yang mengaku belum pernah berhubungan badan. Ada juga seorang anak laki-laki sebaya dengan anak kelas 2-3 SMP, entah berapa kali telah berhubungan kelamin dan gonta-ganti pasangan, ia sudah mengeluarkan nanah dalam kencingnya. Rasa nyerinya pun dikeluhkan menjalar hingga ke ginjal.

“Dea, tadi datang ke sini diantar orang tua?” si pemuda bertanya. Bocah itu mengangguk. “Sekarang orang tua Dea di mana?”

“Di rumah.”

“Engga pulang ke rumah aja, Dea, kumpul sama orang tua?”

“Engga,” jawab anak itu, menandakan bahwa kehidupan jalanan adalah pilihannya.

Bocah-bocah saling berteriak dengan lepas, dan kehadiran tiga orang dewasa di sana—Abah Charly, pemuda bermuka suram, dan si rambut tipis—membuat orang-orang yang lewat merasa tertarik untuk melihat-lihat. Di suatu sisi, beberapa anak duduk dengan tenang, merunduk, mendekatkan hidung ke kaosnya. Di balik pakaian itu—baju biru pendukung Persib—tersembunyi kaleng silinder berisi lem aibon.

Mereka terdiam, seakan menikmati aroma zat perekat berwarna kekuningan itu memasuki hidung, saluran pernafasan, hingga otak. Beberapa bahkan menghirupnya dengan terang-terangan, melekatkan kaleng silinder itu ke hidung secara langsung.

“Jefri, sini Jefri,” si muka suram memanggil seorang bocah buceri—bule ngecet sendiri. “Masih memar, ga? Coba liat.”

“Udah mendingan.”

“Ya udah, sini, sini. Aa’ olesin thrombopob lagi ya.”

Setidaknya bocah buceri itu memiliki sepasang mata yang lebih segar. Ketika pertama kali si suram dan si buceri bertemu—di trotoar seberang Pasar Baru—rambut bocah itu belum pirang, tapi matanya terlihat sayu. Ucapannya terpatah-patah. “’Kamu mabok, ya?’” tanya Abah, ketika itu. “’Engga, engga mabok. Orang mabok mah jalannya gini nih,’” Jefri menirukan gaya jalan orang teler. Lalu ia kembali, berkata dengan terputus-putus, dan memasang mata sayu di tengah keremangan malam.

Setelah diolesi thrombopob, buceri kembali mondar-mandir, sambil menghirup lem aibon di balik kaos Persibnya. Kenapa matamu memar, tanya Abah kepada Jefri suatu waktu. Karena sendawa di depan orang, terus saya dipukul, jawabnya dengan nada tak bersalah.

Si rambut tipis juga terlihat asik mengobati luka-luka luar yang dialami oleh bocah-bocah lain. “Aa’, mau diplester kayak Dea,” rengek seorang bocah bernama Umi. “Ga usah, ini dibiarkan terbuka supaya cepat kering,” kata rambut tipis. “Ga mau! Ga mau! Pokoknya harus dikasih kapas dan diplester!”

“Kamu namanya siapa?” tanya Abah ke bocah bontot berwajah hitam yang tadi membawa kertas terbakar. “Kamu baru ya di sini?”

“Dia gagu, ga bisa bicara A’,” seru seorang bocah.

“Namanya Fajar,” sahut bocah lain

“Orang tuanya nyariin terus, tapi dia ga mau pulang.”

Memang benar. Si bontot itu cuma bisa menyebut “A’! A’!” sambil menunjuk ke suatu arah, dan tidak ada seorang pun yang mengerti apa maksudnya.

Malam itu, Fajar yang tidak bisa mingkem terlihat ke sana kemari, tapi Nurdin—seorang bocah berjaket kuning yang tidak pernah mandi—tidak nampak. Bocah itu begitu manja, hingga pernah pada suatu waktu ia nempel terus ke Abah, seolah juragan sate itu adalah ibu yang akan menyusuinya. Mata Nurdin selalu tampak sayu dan pucat. Hobinya adalah ngelem, dan pandangan matanya tiada arti. “’Nurdin mah suka nge-dextro terus,’” lapor kawannya pada suatu malam ke Abah. Pernah juga terlihat wajahnya begitu teler—seolah jiwanya sedang berenang-renang di negeri khayalannya.

“Ya! Sini semuanya kumpul! Kita kumpul di sana aja ya!” kata-kata Abah menggerakkan bocah-bocah itu duduk dengan rapi di depan sebuah toko yang sudah tutup. “Ya, ayo semuanya kumpul,” kata-kata payah itu diucapkan oleh pemuda suram yang mencoba ikut-ikutan.

Tak lama, Abah menjelaskan tentang tata cara puasa dan hal-hal yang membatalkannya. “Puasa dilakukan dari subuh sampe magrib. Kalo puasa ga boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa: makan, minum, melakukan hubungan seksual, merokok, ngelem.” Anak-anak mendengarkan sambil cengar-cengir, jail ke satu sama lain. Lalu, satu per satu anak-anak itu pun belajar mengucapkan doa buka puasa dan niat berpuasa.

“Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta’aalaa,” ucap pemuda suram mencoba mengajarkan seorang bocah.

“Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sayati…” ucap bocah itu.

“Haadzihis sanati,” ulang si pemuda.

“Haadzihis sayati,” ulang si bocah.

“Haadzihis sa-na-ti.”

“Haadzihis sa-ya-ti.”

“SA-NA-TI!”

“SA-YA-TI!”

Saat kata-kata doa itu asik diteriakkan, beberapa bocah yang duduk dibelakang punya keasikan lain: merokok. Saat seorang selesai menghisapnya dengan nikmat, langsung rokok itu dioper ke temannya. Setelah temannya selesai, rokok itu pun dioper kepada yang lain. Begitu seterusnya.

Hari Jumat itu, 5 Agustus 2011, mencatat alur cerita bocah-bocah jalanan di Pelana. Bagaimanakah prolog cerita hidup mereka dimulai? Apakah awal mula cerita bagi mereka begitu menyedihkan, hingga tiap adegan dalam hidup mereka selalulah pantas untuk ditangisi?

Prolog kehidupan tidaklah sesuatu yang bisa dipilih oleh manusia. Ia sudah ditentukan, dan telah tertentukan sebelum manusia itu lahir. Apakah ia lahir dari orang tua pemulung sampah atau gelandangan, atau memiliki kecacatan tubuh, atau kehadirannya tidak diinginkan oleh sang orang tua, adalah itu semua beragam pembuka cerita milik beragam manusia.

Dan, seperti aksi teatrikal, babak pertama pun memengaruhi adegan-adegan berikutnya. Karena kisah kehidupan adalah bukanlah lingkaran-lingkaran yang tak berhubungan satu sama lain, melainkan adalah mata-mata rantai yang terus sambung-menyambung. Jika begitu, tidak adilkah dunia, selalu menyisakan ketetapan pahit bagi para pelakon cerita kehidupan ini?

Setidaknya, cerita kehidupan merupakan drama paling unik. Ia bukanlah kisah picisan yang tiap detil skenarionya tak pernah bisa diubah. Jika babak pertama cerita hidup ini telah tertentukan sebagaimana adanya, maka merupakan potensi manusia untuk menyusun batu bata cerita baru pada adegan berikutnya.

William Shakespeare pernah berkata dalam salah satu karya teaternya:

Seluruh dunia ini adalah panggung,

dan semua pria dan wanita hanyalah pemain.

Mereka memiliki pintu keluar dan masuknya;

dan satu orang di masanya memainkan banyak peran…

Setiap laki-laki dan perempuan adalah pemain dalam panggung drama kehidupannya, tapi tidak hanya itu: mereka sekaligus juga sutradara dan penulis skenarionya. Walau permulaan kisah telah menjadi ketepan, tapi saat itu juga manusia memiliki pilihan: menentukan jalan cerita babak kehidupan selanjutnya sesuai kehendaknya.

Dalam Al Quran, Tuhan memberikan manusia kebebasan untuk memilih kehidupan: “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,” (Asy-Syams: 8).

Ada banyak prolog cerita kehidupan manusia yang tidak menggembirakan, bahkan begitu menyedihkan. Tapi itu bukanlah hal yang penting. Adalah semua itu urusan Tuhan yang mengehendakinya, dan urusan manusia adalah menentukan episode-episode kehidupan selanjutnya.

Namun, bocah-bocah jalanan dia atas adalah sekelompok orang-orang yang terlanjur. Hakikatnya mereka memiliki pilihan: beberapa di antara mereka memiliki orang tua yang hidup dengan cukup layak. Tapi merekalah yang memilih untuk hidup di jalanan karena berbagai alasan: menginginkan kebebasan, tidak tahan dengan orang tua tiri, atau sudah terlanjur terjerat dalam kehidupan jalanan. Kemudian, kehidupana jalanan ternyata tidak selamanya membahagiakan, hingga jalan-jalan kebahagiaan instan pun menjadi pilihan: ngelem, merokok, dan seks bebas.

Keterlanjuran-keterlanjuran itulah yang harus segera dilepaskan dari sendi-sendi mereka. Tapi mereka hanyalah anak-anak, tidak sepenuhnya memahami kebutuhan asasi mereka dan terbatasnya kekuatan yang dimiliki. Karena itulah, diperlukan orang-orang yang paham dan memiliki kekuatan, berperan seperti malaikat turun dari langit, seperti Abah Charly dalam cerita di atas.

Masih adakah masa depan untuk mereka? Ah ya, tentu ada, karena mereka adalah pelakon sekaligus sutradara kehidupan mereka. Tapi mereka hanyalah anak-anak, yang miskin pendidikan, moral, dan harta. Di sinilah muncul peran para sutradara tambahan, yang mau mengorbankan sebagian waktu dan tenaganya untuk mereka yang kurang beruntung.

“Kasihan ya mereka. Sudah hidup sengsara di dunia, dan bisa-bisa mereka sengsara juga di akhirat,” kata Abah, mengomentari tingkah laku bocah-bocah jalanan yang gemar merokok, ngelem, berhubungan seks bebas, dan tidak tahu tata cara salat. Tapi subuh itu, Sabtu 6 Agustus 2011, kertas-kertas iklan digelar sebagai sajadah, mukena dibagikan, dan azan dikumandangkan di pinggiran jalan Pelana. Walau masih mereka salat sambil cekikikan dan saling mendorong-menendang, setidaknya tinta harapan sedang dicoba untuk ditorehkan di skenario hidup para bocah jalanan.

 

Categories: narasi, pembelajaran | 1 Comment

Cerita Anak-Anak (1): Bocah-Bocah Al Kautsar

Sekitar jam setengah sembilan malam atau lebih, mobil Yaris hitam parkir dengan kagok di halaman suatu masjid di Lembang. Keluarlah dua orang: seorang pemuda murung dan seorang juragan sate, Abah Charly namanya. Tapi ternyata ia bukan sembarang juragan sate. Dengan semangat, Abah mengambil dua kardus dari bagasi, dan satu kardus lagi diangkat dengan susah payah oleh si pemurung.

“Dulu kondisinya ga kayak gini. Sekarang jadi bagus karena udah ada donatur yang nyumbang,” bisik Abah ke sang pemuda, begitu bangunan bercat oranye-putih tegak di hadapan mereka. Bentuknya seperti flat, dengan empat lantai termasuk lantai dasarnya. Di satu sudut, terpasang spanduk biru bermodelkan dua bocah berpeci dan berjilbab, bertuliskan “Panti Al Kautsar”.

Abah Charly menengadah ke lantai empat sambil teriak. Muncullah kepala-kepala kecil di lantai atas tersebut. “Awas, nanti jatuh,” seru Abah. Antara bocah-bocah dengan Abah terjadi saling menyahut, hingga muncul seorang bapak-bapak bersinglet putih.

“Langsung saja ke atas,” katanya. Pak singlet putih itu pun langsung mengambil salah satu kardus yang dibawa oleh Abah. Tiga orang itu kemudian menaiki tangga, terlihat beberapa bocah di berdiri di pinggir. Begitu di puncak, pemuda murung mengikuti jalan cepat Abah dengan agak kebingungan: mau dibawa ke mana ini?

Ujung lorong itu adalah ruangan, yang pintunya dibuka oleh seorang bocah, dan sang juragan sate masuk tanpa ragu, diikuti pengikutnya dengan ragu. Ruangan itu ternyata semacam aula, ukurannya pas dipakai seminar atau kuliah, atau taman kanak-kanak karena penuh dengan bocah-bocah, laki-laki dan perempuan. Ah, bukan taman kanak-kanak, karena tampaknya banyak yang seusia sekolah dasar bahkan SMP.

Abah Charly meletakkan dua kardus yang tadi dibawa ke dekatnya duduk—persis di depan dan tengah ruangan. Akhirnya anak muda yang masih murung mengerti, bahwa si Abah sudah terbiasa datang ke sana, layaknya tempat bermainnya, dan para bocah di sana tampak merindukannya. Senyuman polos khas anak-anak, lebar, nyengir, ada juga yang malu-malu—mungkin karena melihat pemuda murung yang sebenarnya ganteng itu—adalah sambutan yang diberikan saat pemilik sate maranggi itu masuk.

Dengan segera dan tanpa keraguan, mic ruangan itu disambar oleh Abah. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh!”

Bocah-bocah menjawab, tepatnya berteriak, dengan serentak. “Alhamdulillah…akhirnya kita bertemu kembali…akang minta maaf kalau ga datang waktu ulang tahun panti….” lanjut Abah.

Tali rafia yang mengikat satu kardus di dekatnya dilepas. “Ini akang bawain sabun cuci. Ada banyak nih. Seneng ga?”

“Senaaaannggg!!”

“Terus ini ada satu paket dua sabun mandi, sampo, sikat gigi buat masing-masing…cukuplah ya sampe lebaran nanti….” Anak-anak menjawabnya dengan tawa cengengesan.

Abah pun melanjutkan pembicaraan yang tidak terlalu didengar si pemuda, karena ia asyik memfoto dan memperhatikan kepolosan bocah-bocah di sana. Selain beragam usia, tampaknya ada yang datang dari luar Jawa juga. Terlihat beberapa bocah berkulit hitam khas Indonesia timur—laki-laki dan perempuan. Seorang bocah kecil laki-laki bertampang timur, sekitar usia 6-7 tahun, mengenakan baju koko dan menunduk dengan polos, ketika Abah memanggilnya dengan nama Okto. Benar namanya Okto? Ternyata bukan—ia dipanggil begitu karena mirip Oktovianus Maniani.

“Oya perkenalkan, ini temen akang,” katanya sembari menunjuk si pemuda. “Kita doakan supaya dia cepat dapat…”

“Jodoohhh!!” sahut beberapa bocah menyelesaikan kata-kata Abah. Agaknya si pemuda ikutan cengar-cengir, tidak menampakkan kemurungan.

“Kita udah lama ga mentoring, ya?” tanya Abah melanjutkan. “Ini akang khusus bawa temen ke sini. Sekarang kita dengarkan tausiyah darinya….” Sontak si pemuda kaget. Ia mencoba-coba cari bahan tausiyah di situs dakwatuna lewat ponselnya. Duh! Kenapa situsnya ga bisa dibuka sih??

Mic kabel pun segera dialihkan ke tangannya. Bingung apa yang mau diberikan, dan tidak ada satu pun bahan dipegang, serta hampir kosongnya ilmu di kepala, pemuda murung itu pun mencoba untuk ngalor-ngidul. “Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, saya benar-benar berbahagia bisa berjumpa teman-teman….”

Setidaknya yang ia ucapkan bukanlah sebuah hipokrisi. Anak-anak bukanlah benda langka di kota tempat ia dibesarkan. Tapi, anak-anak berair wajah yang cerah, terutama antusiasme mereka untuk menimba ilmu dan taat beragama, bukanlah hal yang mudah ditemukan.

Sebutlah anak-anak yang tumbuh di rumah besar dan disuguhi oleh beragam alat permainan, semacam XBOX, PS3, atau iPad; adalah hal sulit menemukan mereka terlihat antusias dalam menjalankan perintah Tuhan. Dan, bukan hal yang mudah pula menjumpai sang orang tua memotivasi sepenuh hati agar sang anak tumbuh menjadi pensyukur nikmat. Atau anak-anak berpakaian lusuh, yang berhari-hari tidak dicuci dan tidak memiliki baju ganti. Setiap malam mereka duduk di trotoar, menunduk, berpandangan kosong, dan melayang dengan nikmat. Penganiayaan bukanlah barang baru, dan untuk itu tampaknya mereka cukup sabar—atau lebih tepat disebut pasrah. Dan tidak mudah juga berharap agar mereka cukup bersabar atas penderitaan dunia, dan menyandarkan semuanya kepada Yang Maha Pemurah. Tentu, karena Tuhan tidak bisa dilihat, bukan? Yang terlihat hanyalah rokok, uang kertas dari bule pencari jablay, dan kaleng silinder berisi lem.

“Teman-teman, bulan Ramadan adalah bulan yang membahagiakan…,” lanjut si pemurung. “Kalau teman-teman melihat televisi yang biasa diisi sinentron, sekarang banyak program islaminya….” Tiba-tiba Abah berbisik, “Di sini ga ada tv….” Anak-anak pun bersahut membenarkan.

Ah, ya, bagus, bagus. Infeksi sinetron dan media tidak menular ke sini. “Juga, di bulan Ramadan ini orang-orang yang biasanya bangun jam 6 atau jam 7, sekarang bangun sebelum subuh….” Abah pun berbisik lagi, bahwa anak-anak di sana setiap harinya—baik Ramadan atau bukan—bangun jam 3 subuh untuk salat malam.

Ah, ya, bagus, bagus. Sungguh luar biasa. “Jangan seperti Abah ya, yang biasanya bangun setelah subuh, hahahah,” lanjut sang pemuda, meledek dirinya sendiri.

“Teman-teman, kebahagiaan ini hanya di bulan Ramadan. Kapan lagi, selain di bulan Ramadan, televisi, papan iklan, dan radio semuanya bernuansa islami. Selain bulan Ramadan, kita tidak bisa lagi melihat Irfan Bachdim memakai peci dan baju koko….”

Setelah tausiyah yang ke mana-mana itu beres, acara dilanjutkan dengan games missing Quran. Lagi-lagi pemuda itu yang diminta untuk ngisi. Sambil membuka Al Quran, ia membaca potongan surat juz 30: an naba, an naziat, al insyiqaq, al fajr. Beramai-ramai anak-anak berebutan untuk menjawab, sehingga ia bingung harus menunjuk yang mana. Beberapa bocah yang beruntung dipanggil ke depan, menemui Abah yang merogoh kardus satu lagi, mengambil poster dan jilbab sebagai hadiah.

Agaknya, di momen selama kurang lebih satu jam itu, kemurungan si pemuda berkurang. Bahkan, ada setitik kebahagiaan di sana. Suatu kesempatan yang jarang dapat bertemu dengan anak-anak—yang sebagian masih dalam usia belum balig—namun terpancar cahaya Illahi dari raut wajahnya. Senyuman dan tawa lepas, tidak sekedar lepas, tapi juga mengalirkan semilir ketentraman. Ah, dari manakah ketentraman itu didapat, kalau bukan dari Tuhan?

Yang perlu diingat adalah bahwa panti itu merupakan tempat penampungan. Sebagian besar dari jalanan: tempat bocah-bocah itu pernah menggelandang. Orang-orang timur itu, diceritakan oleh Abah, adalah para pengungsi dari perang saudara. Dan, tidak semua dari bocah-bocah itu adalah bagai titisan malaikat. Bahwa sebagian dari mereka masih ada yang mencuri—hanya untuk sekedar jajan—tentu adalah hal yang menyakitkan. Karena panti itu tidaklah mengubah kenyataan: bahwa mereka adalah orang-orang yang berada dalam kondisi sulit. Penjatahan makanan di sana, juga pendidikan keras si bapak singlet putih, tidaklah mengurangi kesulitan tersebut. Atau, berapa yang sudah tidak respek terhadap orang tua sendiri karena telah membuang mereka di panti itu?

Tapi tetap saja, setidaknya adanya mereka mampu memunculkan suatu kebahagiaan. Di luar berbagai kemurungan dan kerumitan dunia, masih ada, di sudut sana, anak-anak usia SD dan SMP bangun jam 3 subuh untuk memasak. Beramai-ramai pun masakan buatan sendiri disantap. Setelah itu, Al Quran menemani: mereka menargetkan khatam Quran sekali, dua kali, atau tiga kali di bulan mulia ini. Beberapa bersuara keras, mengulang hapalan Quran. Dalam itu semua, ketentraman lahir, kemudian beranak-pinak menjadi kebahagiaan.

Bocah-bocah Al Kautsar, sesuai namanya: mungkin, dan semoga, mereka adalah para pengisi telaga kebahagiaan kelak. Lagipula, siapakah yang mampu memberikan anak-anak tersebut—dan manusia pada umumnya—kebahagiaan selain Tuhan?

Categories: narasi, pembelajaran | 1 Comment

#KKNM: Masa-Masa Membahagiakan

Setiap orang tentu memiliki area kenyamanannya masing-masing. Zona kenyamanan ini merupakan tempat yang paling enak untuk nongkrong, tidur-tiduran, istirahat, dan adalah ia hal yang sangat berat untuk ditinggalkan. Contoh saja kalau ada orang yang telah tinggal di kamar hotel yang nyaman dalam waktu lama, tentu ia akan merasa berat bila harus pindah. Tapi mungkin ketidaknyamanan itu bukanlah selamanya. Jika orang tadi telah lama lagi tinggal di tempat yang baru, pelan-pelan namun dengan yakin hatinya pun akan jadi terbiasa juga. Kemudian, hal yang biasa itu perlahan pun menjadi suatu kenyamanan yang baru.

Jika seseorang keluar dari zona nyamannya, sesungguhnya ia sedang membuat zona nyaman yang baru. Agaknya teori yang sering disampaikan oleh motivator ini ada benarnya. Awalnya, sangatlah tidak nyaman ketika harus menetap sebulan di sebuah desa yang begitu asing, bersama orang-orang yang tidak dikenal baik pula. Dan hal ini tidaklah hanya dialami oleh penulis sendiri, tapi juga oleh banyak orang yang sedang menjalani KKNM. Segala keasingan yang ada di sekitar seolah membuat diri sendiri menjadi terasing.

Tapi perlahan, ketidaknyamanan itu semakin semu. Hari-hari tidak terlewat begitu saja tanpa penemuan makna baru. Senyum tipis, kata-kata yang canggung, tawa yang dibuat-buat, tundukan malu-malu terhadap orang yang baru dikenal kemudian berubah. Kelompok KKNM bukanlah lagi orang yang baru dikenal, tapi kemudian menjadi kawan, lalu menjadi kawan dekat. Mungkin penyebab perkawanan ini adalah karena tidak adanya pilihan lain. Tinggal bersama sebulan bersama mereka di sudut desa, tentu segala sesuatu harus dibuat menyenangkan. Berteman, atau menjadikan orang lain sebagai teman, menjadi cara termudah untuk membangun kenyamanan itu.

Lalu, pertemanan itu semakin erat beriringan dengan waktu dan kegiatan yang dilakukan bersama. Senyum yang ikhlas, canda yang tak lagi dibuat-buat, semakin dapat dipahaminya kekhasan karakter masing-masing pun semakin memudarkan lingkaran ketidaknyamanan itu. Saat satu sama lain saling berlarian, mengambil foto, berenang dalam aliran sungai atau laut, melompat dari ketinggian atau mendaki bukit, adalah saat-saat yang mengubah warna lingkaran itu menjadi warna kenyamanan. Tapi ternyata warna kenyamanan itu pun semakin menegas, mencerah, dan melahirkan warna kebahagiaan.

Dan tidaklah itu hanya dialami satu atau dua orang tertentu. Banyak kawan penulis yang bercerita tentang pengalaman tak terlupakannya ketika KKNM. Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa KKNM adalah momen untuk selalu dikenang. Semua orang berkata bahwa waktu yang diberikan terlalu singkat dan ingin KKNM lagi. Masa-masa ketidaknyamanan pun lenyap dan sudah tak bisa diingat lagi. Yang ada kini hanyalah masa-masa membahagiakan.

Ada banyak faktor yang membuat kegiatan sebulan di desa itu menjadi begitu berkesan, walau memang tidak semua kelompok demikian. Tapi, apakah sebenarnya yang membuat 28 hari tersebut menjadi momen yang yang membahagiakan?

Kebahagiaan, merupakan hal yang sangat diinginkan oleh setiap manusia, tanpa terkecuali. Apapun diusahakan agar seorang dapat bahagia. Seorang ayah berangkat pagi-pagi ke kantor dan tak jarang pulang kelewat malam tujuannya itu: agar keluarganya dapat hidup bahagia. Seorang ibu menyuruh anaknya belajar giat dan kuliah di kampus bagus pun memiliki tujuan yang sama: agar anak tersebut kelak dapat bahagia. Penjahat merancang pencurian dengan cerdiknya dan penipu melancarkan aksinya tanpa belas kasih juga sama: ingin hidup mereka bahagia.

Jika ditanyakan apa makna sebenarnya dari bahagia, setiap pikiran akan punya jawaban masing-masing. Menurut KBBI, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala yang menyusahkan. Apakah segala yang dikerahkan dalam keringat manusia adalah untuk mendapatkan suatu keadaan atau perasaan?

Di sini ada dua keadaan yang mirip tapi berbeda: senang dan tenang. Untuk bisa senang, seseorang pun melakukan upayanya untuk bersenang-senang. Walau pekerjaan yang berat menumpuk dan banyak tekanan dari atasan, semua hal itu dilupakan dengan berhura-hura. Kesenangan didapatkan di sana, tapi tidaklah selamanya. Begitu pesta berakhir, ternyata masalah yang ada tidak terselesaikan sama sekali. Mereka pun mengerti adalah percuma untuk berusaha lari dari beban hidup. Agar dirinya terbebas, jalannya cuma satu: menyelesaikannya.

Mungkin bukan kesenanganlah hakikat yang dicari. Saat bersenang-senang, belum tentu ia bahagia, belum tentu hatinya tenang dan tentram. Sedangkan, untuk mendapatkan ketenangan tidaklah selalu harus didapat dengan kesenangan yang semu.

Kapankah seseorang merasa tenang? Ketika segala tugas dan kerjaan berakhir, ketika mendapat hasil memuaskan dari yang telah diusahakan, ketika semua bentuk yang menyusahkan tak lagi menghimpit. Di saat tenang, ada rasa kedamaian di sana. Tidak perlu lagi merisaukan kesenangan yang bersifat sementara. Menemukan ketenangan bukanlah melarikan kaki dari kenyataan, tapi melangkahkannya ke depan untuk menyelesaikannya.

Bukanlah hal yang baru, banyak ditemukan pengusaha sukses, atau bos perusahaan besar, atau orang yang kebanyakan uang, tidak menemukan kebahagiaan. Ada juga yang mengisahkan orang-orang besar itu mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan, atau memilih untuk mengecat kapal pribadinya, atau bingung untuk berbuat apa. Adakah titik kebahagiaan di sana?

Juga bukanlah hal yang baru, banyak orang yang pekerjaan dan status sosialnya biasa saja, bahkan di bawah, tapi tidak ditemukan kesedihan dan kecemasan dalam air mukanya. Walau dengan materi yang secukupnya, tapi cahaya kebahagiaan lebih terang pada mereka.

Mungkin bukan kesenanganlah yang dicari oleh manusia, tapi ketenangan. Dan ketenangan ternyata tidak bisa dibeli dengan pesta pora dan emas mengkilap.

Masa-masa yang membahagiakan adalah ketika bersama sang kekasih. Adalah tidak untuk terlupakan ketika berada bersama orang-orang yang dikasihi. Bukan hanya karena mereka adalah orang yang memiliki hubungan darah atau berada di tempat khusus dalam hati atau terikat dalam perasaan rumit yang disebut dengan cinta. Tapi juga dengan keberadaan mereka, atau sekedar melihat mereka, sungai ketenangan mengalir. Kemudian, perasaan tenang itu pun makin menguat dan meniupkan kebahagiaan.

Mengenai orang yang dicintai, Muhammad saw. berkomentar, “Engkau (akan dikumpulkan di surga) bersama orang yang kamu cintai.” (HR. Bukhari-Muslim).

Ada cerita yang menarik tentang orang yang dicintai:

Ada seorang lelaki mengunjungi saudaranya di suatu desa. Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk menemuinya. Ketika sampai, utusan itu berkata,”Hendak kemanakah engkau?‟ “Aku hendak menemui saudaraku yang berada di desa ini,” jawab lelaki itu. ”Apakah engkau menginginkan suatu nikmat tertentu yang hendak kau dapatkan darinya?‟ “Tidak, aku hanya mencintainya karena Allah,” jawab lelaki itu.”Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Masa-masa membahagiakan adalah bersama orang yang disayangi dan dicintai. Bersama mereka terdapat ketenangan dan melahirkan kebahagiaan. Bersama mereka telah terlewati berbagai hal: tertawa dalam canda, bermain dalam larut malam, berenang-renang di arus sungai, menikmati kesyahduan sawah yang hijau, menikmati makanan buatan sendiri yang sederhana, berfoto ria dalam terpaan ombak laut selatan. Bersama mereka tali keluarga tersusun secara alami tanpa paksaan. Ketenangan dan kebahagiaan, di ketidakkekalan dunia yang sebenarnya serapuh kaca.

Tidakkah seseorang ingin berbahagia kembali bersama orang-orang tercinta di surga yang seluas langit dan bumi?

Categories: merenung | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: