#KKNM: Peristiwa Subuh

Kelopak mata sesungguhnya amat berat bagaikan bola besi. Namun, ada berbagai sebab yang membuatnya untuk segera terbuka. Apakah alarm yang begitu berisiknya—baik alarm sendiri maupun alarm orang lain—, suhu yang dingin, atau perasaan berdosa.

Ruangan yang gelap dan berwarna hitam, juga keheningan, itulah segala yang menyambut. Seketika itu juga terkirim sinyal ke otak dan hati: sinyal kecemasan dan ketidaktenangan. Lahirlah itu semua karena di sisi kanan, sedikit cahaya agaknya terasa. Langit bukan gelap seperti yang diharapkan; waktu sudahlah bukan subuh, atau berada di detik-detik subuh terakhir.

Apakah yang membuat manusia begitu lelahnya dalam kelelapan? Tidakkah terdengar suara panggilan Tuhan, yang terkumandangkan berkali-kali? Adakah sound system masjid mutunya rendah, atau lubang telinga telah tersumbat?

Tapi penyesalan tidak sampai di sana: ternyata si tukang telat itu adalah orang yang paling pertama bangun. Di kiri-kanan, juga depan-belakang atau serong kiri-serong kanan, terlihat kawan-kawannya masih terkapar. Ia pun merunduk, merenungi gelap, dan juga merenungi kesunyian di waktu yang mulai terang.

Bagaimana suasana hati? Masih tersisakah rasa bersalah dan juga berdosa? Jika ada, setidaknya hati belum ternodai sepenuhnya, belum sekeras batu granit. Walau, kecemasannya bertambah, ketika mengingat hari-hari kemarin: kawan-kawannya tidak menunjukkan muka menyesal sama sekali meski matahari telah naik.

Ayo, bangun! Ini sudah kelewat subuh. Sekarang sudah jam 5, atau jam setengah 6, atau bahkan jam 6! Waktunya salat subuh, meskipun telah terlambat. Jika dosen seringkali ngamuk dan mengusir mahasiswa yang telat, marilah berharap Tuhan masih menerima kita yang berkali-kali terlambat—terlambat setengah bahkan satu jam.

Sebenarnya mereka sudah menangkap roh kesadaran. Gelombang otak sedikitnya telah mengalir kembali dari dunia mimpi, mengirim impuls saraf ke otot lidah dan mulut untuk berkata, “Iya, iya.” “Nanti, nanti.” “Hmm, hmm.” Tapi tampaknya otak segan, atau tidak berani, menggerakkan otot kelopak mata. Apalah lagi membangunkan tubuh yang sepertinya teramat kelelahan setelah seharian beraktivitas: memberi penyuluhan, ke balai desa, silaturahim ke puskesmas, beli-beli barang, mempersiapkan games untuk anak-anak, dan juga main kartu gapleh atau nonton film horor hingga lewat tengah malam.

Jika pintu depan dibuka, langit memang memberi tahu bahwa sudah ada merah dalam dirinya. Mungkin ia tertawa atau kasihan dengan seorang pecundang yang duduk di teras sendiri, diam, dan menunduk. Tapi langit bukanlah untuk memberi belas kasih kepada manusia, dan ia pun mulai mengeluarkan matahari dari sembunyinya.

Beginikah peristiwa di subuh hari? Setiap harinya, setiap paginya? Teruskah langit memandang rendah seorang pecundang? Apa yang salah di sini? Muadzin yang terlalu pelan berkumandang? Sound system yang butut? Letak rumah yang tidak dekat?

Tapi ternyata bukanlah hanya terjadi pada subuh. Memang, manusia adalah makhluk yang paling tidak mengerti cara bersyukur. Setelah matahari tergelincir, kembalilah Tuhan memanggil. “Salat, yok!” seseorang tiba-tiba memberi ajakan yang tidak bermutu.

“Nanti, nanti,” sebuah jawaban terdengar. “Sok, sok.” “Duluan, duluan.”

Ketika bayangan tubuh sedikit lebih panjang, terdengar suara payah yang sama, ”Salat yok!”

“Nanti, nanti.” “Sok, sok.” “Duluan, duluan.”

Suara-suara yang sama terdengar lagi saat matahari—kalau matahari punya gigi pastilah ia terbahak-bahak—terbenam, dan juga waktu garis merah tidak tampak lagi di langit.

Memang, manusia adalah makhluk yang paling tidak mengerti cara bersyukur. Atau, kita masih menganggap Tuhan tidak adil; merasa nikmat yang kita terima terlalu sedikit; merasa orang lain diberi kelebihan dan bakat yang jauh lebih hebat; merasa Ia pelit dalam soal rezeki. Atau kita yang pintar dan jagoan ini sudah tidak butuh Tuhan lagi, sehigga ketika Ia memanggil kita tidak acuh?

Kondisi lingkungan berpengaruh terhadap sudut pandang seseorang tentang syukur. Tapi ini bukan urusan kota atau desa. Saat seorang mahasiswa KKNM lewat, kemudian ditanya oleh penduduk desa mau ke mana, dan dijawab mau ke masjid; penduduk desa seperti heran, “Ke masjid?” Hal yang lebih menakjubkan lagi adalah jarak masjid relatif amat dekat dan hanya beberapa langkah kaki. Namun, di saat azan sudah berkumandang, tidak terlihat warga menggegaskan diri untuk berangkat. Mereka pun memberi senyuman melihat tamu asing yang berjalan menuju masjid.

Kejadian sedikit berbeda di waktu magrib hari Kamis, terutama di malam nisfu sya’ban tanggal 16 Juli kemarin. Bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan juga bocah-bocah sibuk dengan sarung atau mukena dan sajadah. Masjid pun lebih ramai dari biasanya.

Kenapa hanya di malam Jumat atau malam nisfu sya’ban saja? Apakah masjid didirikan hanya untuk waktu-waktu tersebut? Apa memang Muhammad saw. sangat menganjurkan memenuhi masjid di malam Jumat, tapi tidak pada hari-hari lain?

Atau, coba kita bertanya kepada mereka, kenapa mereka yasinan di malam kamis dan malam nisfu sya’ban. Mungkin tidak banyak yang bisa menerangkan hadisnya—hadis dhoif/lemah tentang nisfu sya’ban—dan sisanya akan bingung. Adakah hadis tentang yasinan? Adakah Rasulullah saw. mencontohkan zikir mengucapkan tahlil berkali-kali sambil goyang kepala? Memang adakah dalil yang menyebutkan bahwa berkunjung ke makam wali akan menyuburkan rejeki? Pernahkah meraka atau kita bertanya-tanya tentang ini?

Mungkin memang sudah terlanjur, bahwa kita adalah bangsa yang senang manggut-manggut. Jika orang pintar, atau orang yang dituakan, atau orang yang berjanggut dan bersorban putih berbicara ini itu, maka mutlaklah mesti ini itu. Tidak usahlah repot bertanya-tanya, ini yang ngomong orang pinter loh, seorang kiyai, seorang haji. Perlahan, kegiatan ibadah tidak lagi dimengerti makna dan ruhnya, tidak lagi menambah atau memperkuat iman, tapi sekedar menjalankan tradisi.

Tapi langit bukanlah untuk memberi belas kasih kepada manusia. Seolah tak sabar, waktu subuh pun berlalu dengan sangat-amat-terlalu cepat. Kemudian ia pun menertawakan lagi seorang pecundang yang bermuka menyedihkan, membuka pintu depan rumah dan merenung. Agaknya ia ingat, ketika saudara-saudaranya di Palestina dibom habis. Memang tidak sulit bagi Israel untuk membantai warga Gaza yang muda dan berbahaya: cukup bom masjid di waktu subuh, karena di waktu itulah mereka berbondong-bondong salat berjamaah.

 

Tabur berbunyi gemparkan alam sunyi, berkumandang suara azan.

Mendayung memecah sepi, selang-seling sahutan ayam.

Tetapi insan kalaupun ada hanya, mata yang kantuk dipejam lagi.

Hatinya penuh benci, berdengkurlah kembali,

Begitulah perstiwa di subuh hari.

Suara insan, di alam mimpi.

 

Tabur berbunyi gemparkan alam sunyi, berkumandang suara azan.

Mendayung memecah sepi, selang-seling sahutan ayam.

Ayo bangunlah! Tunaikan perintah Allah, sujud mengharap ampunanNya.

Bersyukurlah! Bangkitlah segera! Moga mendapat, keridoanNya.

Begitulah peristiwa di subuh hari.

Setiap hari, setiap pagi….

Advertisements
Categories: merenung | 1 Comment

Post navigation

One thought on “#KKNM: Peristiwa Subuh

  1. g

    izin copy ya. Semoga engkau di beri lebih rahmat Allah .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: