#KKNM: Bocah

Burung berwarna coklat terbang dengan ringan. Satu kepak, dua kepak, tiga kepak ia lakukan, menelusuri angin yang menabrak. Sesekali ia berhenti, hinggap di dahan pohon, atau tiang listrik, atau di mana pun untuk bernyanyi memamerkan suaranya. Sinar matahari yang terbit dengan malu-malu seakan menyediakan panggung untuk konsernya. Selesai, kemudian ia berpaling, menengok sana-sini.

Sebuah rumah terlihat, di bagian depannya terbentang kain putih bertuliskan “KKNM-PPMD Integratif”. Hanya terlihat satu orang di teras, sedang duduk melihat-lihat langit pagi yang masih agak gelap. Bagian dalam rumah tidak terlihat, menyembunyikan beberapa orang yang masih terlelap dalam kegelapan. Ia melihat ke depan, ke rumah sederhana; di depannya terlihat anak kecil sedang mondar-mandir. Mungkin bocah itu tidak tahu mau ke mana, tapi ia menyengir tanpa bertanya-tanya.

Kemudian, sang burung pun melanjutkan terbangnya. Matahari mulai berani, dan langit memberi warna emas pada tumbuhan padi yang sebentar lagi dewasa. Terlihat seorang nenek berjalan pelan, membawa karung putih. Laki-laki berbaju putih membawa tangki berisi air di punggungnya, dan seekor anjing—Polang namanya—berlari-lari kegirangan bersama kekasihnya di atas sawah kering. Juga beberapa bocah, ada yang berjalan dengan pelannya, ada yang duduk di pinggiran sawah, ada juga yang sedang mengendarai motor mengangkut temannya.

Teman kita yang berwarna coklat tidak lagi mengepak; ia membentangkan sayapnya lebar-lebar, mengambil nafas. Barangkali di sela-sela istirahatnya ia sedang berpikir: apakah nasib yang sedang dibawa oleh bocah-bocah ini? Otak kecilnya tidak bisa menjawab, dan ia terus saja terbang melintasi bocah-bocah yang tertawa, mengepak kembali.

Jika saja burung itu berputar-putar terus di area sana setiap hari, mungkin ia akan mengenal setiap anak-anak yang nyengir tanpa henti-hetinya. Dan di desa itu, aktivitas para bocah tidaklah banyak. Mereka berdiri, atau duduk, atau berlari sambil membawa layangan berwarna putih. Atau naik sepeda kecil sambil memamerkan lukisan di layang-layangnya kepada mahasiswa KKN.

Di pagi hari, jika tidak sekolah—tanggal 4-16 Juli adalah waktu libur sekolah—, bocah-bocah itu mengikuti aktivitas ibunya yang tidak bekerja: nongkrong di teras rumah. Kadang jajanan rumbah (makanan seperti pecel) seharga 2000 ikut diembat. Yang lebih kecil memanyunkan bibirnya, menantang ayam yang hendak mencuri gabah yang sedang dijemur. Saat matahari sedikit naik, raket bulutangkis dikeluarkan. Siang hari, mereka hanya di rumah, atau berjalan dengan kawan, atau keliling-keliling saja tanpa tujuan pasti.

Agak sore, beberapa bocah itu mendekati pagar rumah dan bertanya, “Jakanya mana?” Kawan saya yang mereka cari itu memang favorit anak-anak. Ia ikut menggerakkan tangannya ketika anak-anak berteriak, “Hom pim pa alaium gambreng!” Ia ikut menendang bola dan pasir ke arah gawang kecil yang dijaga. Ia pun pandai melawak, dan bukan kawan kelompok KKNnya saja yang ia buat tertawa. Jika ia mengembangkan bakatnya, saya rasa anak-anak di sana pun bisa ngakak sampai berguling-guling.

Saya bukanlah orang yang senang layang-layang, karena benagnya tipis dan berbahaya—sebenarnya karena tidak bisa menerbangkannya. Dua atau tiga mahasiswa KKNM kadang-kadang suka pergi ke sawah, hanya untuk diambil layang-layangnya oleh bocah-bocah dan akhirnya rusak karena talinya putus atau basah. Pada hari-hari tertentu, terlihat mereka asik mengernyitkan mata ke langit, fokus pada titik putih yang tersambung dengan benang di tangan mereka.

Polos, lugu, lucu, dan tanpa dosa? Kira-kira itulah kata-kata sifat yang terpikir oleh kita saat membayangkan anak kecil. Mungkin benar, tapi mungkin juga tidak. Barangkali lebih tepat jika menyebut mereka sebagai kertas HVS yang telah tercorat-coret oleh berbagai tinta. Warnanya bermacam-macam, juga ketebalannya. Ada yang begitu mudah dihapus, ada pula yang bersifat permanen.

Apa yang membuat seorang bocah mendapat coretan tinta merah, biru, atau hijau? Apa pula yang membuatnya tercoret dengan rapih dan teratur atau abstrak dan berantakan? Kadang, nasib seorang anak dapat terperkirakan, atau sudah tertentukan, dari lingkungan ia lahir. Orang tua yang brengsek akan menurunkan kebrengsekannya kepada keturunannya. Ayah yang mempertaruhkan hidupnya untuk mencuri akan menanamkan pengertian kepada anak bahwa tindakan itu adalah kepahlawanan. Ibu yang berpikir bahwa anaknya kan menjadi babu karena keluarganya adalah babu semua, pun telah menuliskan nasib ke jiwa sang anak.

Ini baru tinta yang berasal dari orang tua, yang sering kali kalah ketebalannya oleh tinta sekitarnya—terutama pergaulan. Lingkungan seperti apa yang kini terus mewarnai anak-anak? Lagu-lagu cinta? Goyangan penyanyi dangdut? Air mata artis sinetron? Kata-kata seperti “anjing” dan “goblok”? Tayangan pemuas birahi yang menyebar dari hp ke hp?

Bocah-bocah di tempat saya KKNM bermain gapleh dan kartu dengan sombongnya di teras rumah. Kata-kata yang tidak menyenangkan telinga adalah bahasa sehari-hari. Seorang kawan kelompok KKNM, mahasiswa asal Malaysia keturunan Cina, diseru oleh anak-anak di sana, “Miyabi! Miyabi!”

Di sisi lain, seorang bocah, yang baru mengikuti hari pertama orientasi SMP Negeri 1, menjadi pemandu saya di area wisata Citumang—wana wisata body rafting di daerah Citumang, dekat desa Cibenda, dikelola oleh Perhutani dan karang taruna setempat. Ia berbicara dengan sopan dan lancar, bahasanya baik, dan kata-katanya bergaya ala anak berpendidikan di kota. Sepanjang perjalanan diceritakanlah rasa semangatnya dengan acara orinteasi di hari-hari berikutnya, yang berupa bakti sosial, senam kesehatan, dan perkemahan. Terlalu dini untuk menarik kesimpulan, tetapi setidaknya kesan yang diberikan oleh Yoga berbeda dibanding dengan bocah-bocah lain.

Jika memang mereka adalah kertas putih yang siap menerima coretan abstrak atau lukisan indah, tidak adilkah dunia? Apakah anak-anak, yang kemampuannya baru sebatas menerima bukan menolak, hanyalah korban pendidikan orang tua dan lingkungan? Mungkin tidak. Sering kita melihat setitik cahaya, yang bersinar terang dan makin lama makin terang, di tengah-tengah lingkaran suram.

Seiring pertambahan usia, otak manusia makin bekerja dan tumbuhlah kemampuan untuk berpikir, memilah mana yang benar dan salah, baik dan buruk. Hanya saja sayangnya, walau manusia dianugerahkan otak yang—katanya—lebih dahsyat kapasitasnya dibanding komputer paling canggih di dunia, tidak semua mengerti bagaimana menggunakannya. Bodohkah mereka? Yah, lebih baik jika pertanyaan itu ditujukan kepada diri sendiri.

Bicara tentang keadilan, setidaknya semua di sini masih mendapatkannya, dibanding dengan yang di ujung dunia sana—tempat seorang bocah duduk sendirian, lemas, merunduk, dan di belakangnya seekor burung pemakan bangkai tengah menunggu.

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: