#KKNM: Evaluasi Malam

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah, Tuhan yang menganugerahkan matahari yang memberi penerangan, sehingga manusia tak perlu senter untuk pergi bekerja. Puji syukur pula terang matahari tidak abadi; ia bersinar dengan perkasa di siang, dan bersembunyi pada malam. Datanglah waktu malam sebagai pakaian, istirahat, dan juga introspeksi atas seharian yang telah dikerjakan.

Begitulah: tiap malam kelompok KKNM mengadakan evaluasi atas apa yang sudah dilaksanakan di hari itu. Sekitar 20 orang berkumpul, membentuk lingkaran, kemudian membicarakan apa yang sudah dan apa yang akan dikerjakan. Entah apakah setiap kelompok KKNM mengadakan pertemuan tiap malam, tapi itulah yang menjadi agenda rutin kelompok saya.

“Evaluasi malam ini pertahankan aja,” kata seseorang pada suatu malam. “Dengan ini kita jadi bisa mengevaluasi bareng-bareng yang telah terlaksana hari ini. Juga kita bisa tahu apa yang sudah dikerjakan oleh yang lain.”

Memang tidak selalu ada kegiatan khusus dalam hari-hari KKNM. Ada hari yang memang seharian kosong selain makan dan tidur. Kalau ada kegiatan pun, seperti anak sekolah dasar, sudah selesai sebelum zuhur atau paling lama hingga jam 14. Dalam satu hari ada beberapa yang harus dikerjakan, sehingga dibentuk beberapa grup agar bisa diselesaikan dalam satu waktu. Yang tidak punya tugas khusus—biasanya yang mendapat giliran piket—duduk di rumah berjaga sambil minum teh hangat.

Topik pembicaraan pada kumpul malam tak banyak berubah: laporan aktivitas tiap grup dan rencana untuk masa depan. Ada hal yang cukup luar biasa di sini, yang jarang dilakukan oleh evaluasi–evaluasi lainnya, yaitu dilakukan setiap hari, setiap malam. Jarak yang dekat, bukan, tepatnya tinggal di tempat yang sama (satu rumah atau dua rumah yang bersebelahan) mendukung agenda ini sepenuhnya.

Bosan? Tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi: evaluasi dilakukan di rumah mereka, di tempat istirahat mereka, di tempat mereka bermalas-malasan. Masa mau menghindar dengan cara bersembunyi di kolong kasur?

Kemudian, pertemuan ini pun tidak lagi diartikan sebagai evaluasi yang formal dan kaku. Bukanlah lagi materi pembicaraan mesti sesuatu yang menyangkut pekerjaan dan didiskusikan sambil mengernyit. Perlahan, lingkaran ini pun menjadi agenda silaturahim.

Bagaiamana tidak. Setiap hari bertemu dan kran komunikasi terbuka. Meski yang dibahas adalah sesuatu yang membosankan, komunikasi intens antar orang-orang itu pun melahirkan proses saling mengenal, tidak, mungkin lebih ke arah saling memahami. Dari sini lahir pula perhatian: awareness atas setiap kegiatan, permasalahan, dan keluhan teman sekelompoknya. Sehingga, evaluasi tidaklah sekedar memenuhi tugas berupa presentasi laporan pertanggungjawaban dan menunggu perintah selanjutnya dari komandan, tanpa peduli kesibukan dan kesulitan rekan sebelahnya.

Kita harus percaya, atau terpaksa percaya, bahwa manusia terdiri dari sel-sel yang hidup, bukan skrup dan kabel yang mati. Dalam mengerjakan tugasnya, manusia memerlukan sesuatu yang manusiawi, seperti simpati, empati, perhatian, pengertian, kepercayaan, dan pemahaman. Dan materi genetik bukanlah hal sederhana seperti program komputer: jika erorr maka cukup dikode ulang.

Manusia pun mempunyai kebutuhan—saya tekankan di sini “kebutuhan”—untuk bersuara dan menyampaikan pendapat. Kebutuhan berbicara ini bagaikan benda padat kepanasan—atom-atomnya bergerak cepat mendesak hingga terjadi pemuaian. Karena, tiap manusia adalah keunikan spesifik yang tidak pernah sama dengan keunikan manusia yang lain. Ketika menyebut “H”, warna suara, intensitas, tinggi-rendah, dan nada dalam pengucapannya berbeda-beda. Apalah lagi jika bersuara untuk menyampaikan pemikiran, karena buah pikiran itu adalah sesuatu yang kompleks—begitu kompleksnya hingga orang itu belum tentu memahami sepenuhnya pemikirannya sendiri.

Keadaan seperti inilah yang digarisbawahi oleh industri, perusahaan, organisasi, atau negara yang ingin memperoleh kemajuan progresif.

Ada perusahaan tipe “A” yang menganut sistem terpusat. Segala peraturan dan kebijakan disusun oleh “atas”. Manajemen, keputusan, arah perusahaan menuruti satu kemutlakan: gimana bos. Tapi terjadi kemacetan di sini, karena supir pembawa gerak perusahaan yang berjumlah sedikit harus menyetiri karyawan yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Lalu, muncullah teori “Z”. Kisah ini bermula dari kondisi perusahaan yang sedang gawat. Seorang pemuda pun diangkat menjadi manajer pabrik, dan ia langsung mengajak seluruh pekerja untuk rapat. Perusahaan saingan akan menghabisi kehidupan pabrik ini, begitu ia menjelaskan. Sebuah studi tentang permintaan konsumen pun dibahas. Dijelaskan pula bahwa pabrik mesti ini dan begini, agar itu dan begitu.

Untuk pertama kalinya para pekerja manggut-manggut, baru mengerti kenapa mereka harus bekerja seperti ini dan begini. Sebelumnya, mereka hanya mengerjakan perintah atasan saja. Tak ada alasan untuk menjadi bagian dari sistem perusahaan karena mereka sama sekali tidak dilibatkan. Bagaikan robot yang telah diprogram secara mati, tugas mereka hanyalah menurut agar tidak dipotong gaji.

Bagaimana denga sistem yang ada di Indonesia? Goenawan Mohamad punya pendapat yang menarik, bahwa negeri ini bukanlah tipe A juga bukan penganut teori Z. Yang telah tertanam di sini adalah tipe “D” yang terkenal: Datang, Duduk, Diam, Damai. Entah karena hobi pemerintah untuk memanjakan rakyat, atau ambisi mereka untuk menjadi legenda atau hero, atau faktor kesengajaan agar tetap terpelihara orang-orang tolol yang kan terus mengangkat mereka jadi pemimpin. Rakyat atau masyarakat selalu dipandang sebagai objek dan takkan pernah sebagai subjek. Sebaliknya, birokrat pun menjadi juru selamat, memberikan pertolongan tanpa perlu mengajak si yang ditolong berdialog dan memberi pengertian apapun.

Program ini dikeluarkan dan barang itu diproduksi, lalu diberikanlah kepada masyarakat. Pihak penerima tidak mengerti—karena penjelasan yang ada sangatlah minim—sehingga terbengkalailah program ini dan barang itu pun dijadikan bahan bakar sampah.

Kembali ke KKNM. Di suatu siang di pinggir gerbang tol Moh. Toha, seorang kawan bercerita tentang ketua kelompk KKNM suatu desa. Ketua itu adalah orang yang sangat baik dan memiliki niat yang teramat mulia. Ia memberlakukan jam malam untuk mencegah fitnah antara laki-laki dan perempuan. Kemudian, di atas jam 21, lampu harus sudah dimatikan agar tidak ada lagi interaksi antar lawan jenis. Kebijakan yang luar biasa? Ya, tapi sayangnya ditentukan secara sepihak. Akibatnya? Tidak ada silaturahim pada evaluasi malam, melainkan keinginan para anggotanya untuk cepat-cepat pulang.

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: