#KKNM: Teman?

Menarik memang jika kita membayangkan suatu kondisi yang mengharuskan sekelompok orang, dengan latar yang berbeda-beda, hidup bersama dalam jangka waktu tertentu.  Bila melihat keadaan sosial secara umum, bisa terlihat bahwa suatu kelompok atau komunitas atau masyarakat daerah tertentu terpetak-petakan. Apa yang menjadi latar belakang terbentuknya suatu perkumpulan atau komunitas? Tentu terbentuk oleh sejumlah orang yang saling berkumpul, dan adanya kesamaan di antara mereka menjadi alasan. Kemudian, perkumpulan ini menjadi lingkaran nyaman tersendiri; masing-masing lingkaran kadang terpisah dengan yang lain.

Ambillah contoh sekelompok mahasiswa satu angkatan jurusan yang sama. Misalnya jumlah mahasiswa seratus; kita akan melihat dalam seratus itu ada beberapa kelompok bermain; beberapa kelompok belajar—yang bisa sama dengan kelompok bermain atau tidak.

Mengapa terjadi kelompok-kelompok itu yang saling terpisah? Mungkin terjadi secara alamiah: mereka yang merasa memiliki persamaan saling tarik-menarik bagai magnet, dan lahirnya nuansa kenyamanan.

Lalu, kembali dengan yang di atas, bagaimana jika beberapa orang—yang sama sekali tidak mengenal, memiliki lingkaran yang berbeda, dan bergaris sejarah yang tak saling bertemu—hidup bersama? Tingginya antusiasme penikmat acara-acara semacan Penghuni Terakhir atau Big Brother menunjukkan suatu ketertarikan sendiri untuk menyaksikannya.

Suasana ini tidak berbeda dengan yang dirasakan oleh yang sedang menjalani kegiatan KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa). Setidaknya 28 hari akan dihabiskan oleh sekitar 20 mahasiswa, berasal dari fakultas dan lingkaran bermain-belajar yang berbeda, secara bersama-sama. Mereka tinggal di daerah yang sama, di rumah yang sama (satu atau dua rumah), dan itu semua dalam waktu sebulan kurang.

Kira-kira apakah yang kan terjadi? Mungkin setiap mahasiswa di sini bagaikan titik dengan karakteristik masing-masing dan saling berjarak. Kemudian sifat itu saling berbenturan, dan sini dapat menghasilkan 3 kemungkinan: menjadi berlekatan, tetap diam di area masing-masing, atau bahkan saling berjauhan. Kondisi pertama dapat tercapai jika karakteristik masing-masing dapat menerima dan mentoleransi karakter yang berbeda—tidak perlu suatu karakter berubah mengikuti karakter lain—dan terbentang garis kerjasama. Kondisi kedua terjadi jika ada penerimaan dan toleransi, tapi garis kebersamaan gagal—atau enggan—untuk dibentuk. Dan kejadian ketiga menunjukkan benturan itu sangat kuat dengan momentumnya masing-masing, hingga terpental.

Tidaklah sedikit terdengar cerita yang mengaminkan peristiwa ketiga. Namun, anggaplah bahwa masing-masing cukup mau menerima sifat-sifat di luar diri dan lingkarannya, dan garis kompromi pun terjalin. Hubungan baik terbentuk, dan jalinan kerjasama berlangsung dengan harmonis. Tapi, seberapa kuat jalinan itu? Adakah garis-garis penghubung itu menjadi penarik antar titik sehingga berlekatan? Akankah pula toleransi dan kompromi ini berlanjut melampaui sekedar hubungan mitra kerja—yaitu menjadi teman?

Istilah “teman” mungkin cukup menarik. Apa maksud dari teman dan apa saja batas-batasnya? Apakah yang membuat seseorang bisa disebut sebagai teman atau sekedar kenalan atau rekan kerja? Pada hari kesekian, ada anggota kelompok KKNM—mahasiswa Unpad asal Malaysia—yang ragu-ragu meminjam barang dari Puskesmas dan malah menyuruh saya. Alasannya, “Karena kamu udah teman dengan dokter Eka. Sedangkan saya bukan.” “Emang apa artinya teman? What is the meaning of friend?” tanya saya. “Friend itu…,” dia melakukan peraga dengan merangkulkan tangan ke temannya.

“Teman” atau friend, dalam Dictionary.com, diartikan sebagai seseorang yang melekat dengan yang lain oleh rasa afeksi/kasih sayang atau hubungan pribadi. Demikian juga yang dijelaskan oleh kamus Merriam Webster. Sedangkan “kenalan” atau acquaintance—berdasarkan referensi yang sama—adalah seseorang yang diketahui oleh orang lain tapi bukan teman dekat.

Kita dapat menyebut seseorang sebagai teman jika garis-garis penghubung itu tidak hanya ditopang oleh logika kompromi, tapi juga feeling, bahkan afeksi. Lalu, apakah semua orang yang kita anggap sebagai “teman” sesungguhnya telah mendapat tempat di feeling kita? Mungkin saja kita telah terlanjur menganggap orang-orang, yang sesungguhnya sebatas kenalan atau mitra pekerjaan, sebagai teman dengan mudahnya—tanpa terbentangpun ikatan hati. Atau kita terlalu tabu menggunakan istilah feeling, karena sering dikonotasikan sebagai perasaan tertentu terhadap lawan jenis.

Proses berteman memiliki ciri khasnya pada setiap individu, bergantung pada sifat orang tersebut dan kebiasaan sekitar. Ambil contoh proses pertemanan yang terjadi di kelompok KKNM saya: awalnya saling senyum, menyengirkan gigi malu-malu, memberi candaan ringan, sedikit serius bila saling bercakap, dan kondisi canggung agaknya masih ada. Setelah beberapa hari, sudah tak ada lagi rasa malu-malu seperti kucing, segan, atau canggung. Senyuman yang tadinya berupa cengiran kini menjadi tawa yang terbahak-bahak, dan pembicaraan pun beralih dari keseriusan menjadi humor. Kadang pun tak ragu lagi untuk menyindir kelemahan orang—yang tidak mungkin dilakukan ke orang yang baru dikenal karena dikhawatirkan menyinggung. Bahkan kata-kata kasar telah menjadi bumbu komunikasi.

Begitulah kenyataannya: awalnya anggota kelompok KKNM satu sama lain berstatus masih kenalan, dan sekarang……teman? Ahh, saya tidak ingin terlalu terburu-buru. Walaupun sudah terhirup atmosfer keakraban, tapi toh ini hanya sebulan. Setelah itu, masihkan kan ada suasana “pertemanan” seperti yang dialami sekarang di pelosok desa? Atau, begitu KKNM selesai, dan semuanya kembali ke lingkaran masing-masing, dan setelah sebulan-dua bulan tidak bertemu, suasana mundur kembali: senyum tipis menyengir, alis berkerut ketika mengobrol, dan canggung?

Masa depan tidaklah untuk diketahui, tapi untuk diperkirakan. Tentu mengandung berbagai kemungkinan, dan kemungkinan-kemungkinan itu tergantung kenyataan hari ini. Satu jalan yang telah dirintis oleh 28 hari KKNM ini kan akhirnya bercabang dalam jumlah yang hingga sekarang (tulisan ini dibuat pada hari ke-23) belum diketahui.

Pesimiskah kita? Terlepas dari apapun masa depan yang Ia tuliskan, setidaknya 28 hari ini telah membuat suatu proses kelahiran: benih relasi antarmanusia yang awalnya terdiam malu, kini telah tumbuh menjadi pohon kayu yang masih terus menjulang ke langit.

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: