Menghukum Diri

Seorang yang menjalani proses pendidikan secara formal pasti pernah mengalami momen yang disebut dengan “ospek” atau “MOS” atau “masa orientasi”. Saya sendiri sudah menjalani itu semua hingga tahap universitas. Saat SMP, masa orientasi terbilang damai. Ketika SMA, barulah “penyiksaan” itu dimulai. Kemudian, di masa awal kampus orientasi itu dilanjutkan—meskipun, karena saya kuliah di fakultas kedokteran Unpad, ospeknya terbilang “damai”.

Semua itu memiliki persamaan yang khas pada masa orientasi siswa/mahasiswa di Indonesia, yaitu evaluasi dan hukuman. Terlepas panitia sengaja agar sang anak baru melakukan kesalahan atau tidak, rasanya kurang afdol jika dalam sesuatu yang disebut “orientasi siswa/mahasiswa” tidak ada kedua hal tersebut. Setidaknya, menurut pengalaman pribadi, tercatat satu jenis kesalahan yang sama dan paling sering dilakukan sehingga menjadi bahan evaluasi andalan: terlambat.

Tidak hanya di dunia perorientasian, tapi juga dalam training atau pelatihan. Tersebutlah semacam Latihan Kepemimpinan Siswa ketika SMA, atau Latihan Kepemimpinan dan Manajemen untuk mahasiswa, atau pendas-diklat lainnya. Rata-rata, panitia akan mengingatkan dengan tegas soal kedisiplinan waktu. Peserta ditegur dengan keras—terutama kalau kesalahan ini berulang dilakukan—dan kadang hukuman diberikan. Lalu panitia berwajah tak mengenakkan pun bilang, “Saya ga mau kesalahan ini terulang!” Atau semacam itulah.

Ketika berada di masa-masa ini, saya termasuk yang sering diberi hukuman, hingga rela stand by di tempat 30 menit sebelum acara dimulai—agar tidak telat. Sekian tahun kemudian, posisi pun berubah—kini sayalah pihak yang mengevaluasi. Punggung diluruskan, bahu ditegakkan, dan tangan melipat ketika melihat para peserta terlambat. Kawan-kawan yang kondisinya seperti saya pun diam dengan dingin, melotot ke arah sekerumunan yang menunduk merasa bersalah.

Namun, apa pengaruhnya bagi saya dan mereka, juga teman-teman? Jujur, bagi saya ketelatan masih melekat dalam diri ketika rapat—bahkan rapat yang saya pimpin—dan saya ternyata bukanlah satu-satunya! Beberapa teman saya pun demikian: telah puas dievaluasi dan dihukum karena telat, puas juga melotot dan menegur peserta yang telat, tapi di luar itu semua karakter asli seolah kembali. Dan ini semua menjadi menggelikan, bahwa ketepatan waktu hanya ada ketika disiksa atau menjadi panitia penyiksaan.

Apakah kita datang tepat waktu karena takut dihukum, seperti tepat waktu masuk kuliah agar tidak diusir oleh dosen? Atau kita hanya tepat waktu di momen-momen tertentu saja, seperti diklat dan pelatihan? Kemudian, bila sedang tidak menjadi peserta yang terikat oleh aturan panitia, dan kita tahu tak akan ada yang memberi hukuman, tak perlu lagi ada kata disiplin?

Mungkin memang benar. Salah satu yang dianugerahkan kepada manusia adalah nafsu, yang sering menjadi blunder bagi keturunan Adam sendiri. Peristiwa pembunuhan pertama di planet bumi oleh anak Adam cukuplah menjad saksi atas keliaran nafsu. Manusia pun menjadi lepas, bebas, dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain dengan lincah semenjak diusir dari surga. Kemudian, dirasalah perlunya suatu aturan untuk membatasi sosok liar manusia. Dengan adanya peraturan ini, jadilah manusia saling mengawasi, dan kemerdekaan berbuat onar pun terminimalisasi.

Begitu juga dengan kedisiplinan. Misalnya kita berkeinginan untuk berbuat ini di jam ini; jika tak dikerjakan toh takkan ada yang protes. Juga ketika mengadakan rapat. Ngapain buru-buru datang, paling yang lain bakal telat juga, dan kawan-kawan adalah orang-orang baik: mereka takkan marah apalagi menghukum. Atas dasar inilah sebagian orang melihatnya sambil geleng-geleng kepala, “Ckckck, dasar orang Indonesia!”

Apakah yang salah di sini? Benarkah ketidakdisiplinan adalah nasib yang terkodekan dalam genetika orang Indonesia? Tidak cukupkah segala tetek-bengek “masa orientasi”, diklat”, atau “pendas” mengajari orang Indonesia? Atau ini akibat warisan mental masyarakat yang terjajah? Konon, Van den Bosch menetapkan sistem “Tanam Paksa” karena tidak percaya dengan para petani pribumi yang goblok-goblok itu mampu mengatur tanahnya sendiri tanpa peraturan keras.

Jika kemalasan dan nafsu lebih kita cintai daripada nilai kebaikan dalam kedisiplinan, kalau begitu kenapa tidak membuat aturan untuk diri sendiri saja? Kita pikirkan masak-masak, kita tulis peraturan ini, teriakkan keras-keras dalam hati, kemudian coba lakukan. Jika ternyata gagal, maka keberanian untuk menghukum diri sendiri mesti muncul.

Jangan salah sangka dulu. “Menghukum” di sini berbeda dengan “menyiksa”. Bukanlah kita mesti seperti orang-orang Iran, yang mencambuk punggung mereka sendiri dengan besi untuk memperingati pembunuhan terhadap Husein. Yang manusia perlukan bukanlah itu, tapi suatu hukuman yang pada hakikatnya melatih atau menambah amalannya. Seorang Umar bin Khatab menginfakkan ladangnya karena meninggalkan suatu amalan. Rasulullah saw. memperbanyak rakaat duha jika meninggalkan salat malam karena sakit dan lain-lainnya (tersebut dalam hadis riwayat Muslim).

Jika ada suatu kedisiplinan yang oleh kita sendiri langgar, ada banyak “hukuman” yang bermanfaat. Misalnya saja memperbanyak baca Quran, menambah nominal sedekah, memperbanyak rakaat salat duha/malam, menambah jam waktu belajar dan membaca, dan sebagainya. Atau yang memperkuat jasmani seperti push up atau sit up 2 seri, atau lari selama 20 menit, atau jalan jongkok. Tujuannya bukan hanya untuk membuat jera, tapi juga agar setiap pribadi sadar betul untuk bertanggung jawab atas tiap perilakunya.

Tapi, yah, tentu saja! Menghukum diri sendiri, atau dalam bahasa Arab disebut muaqobah, takkan ampuh bagi yang miskin komitmen yang tidak memiliki keberanian. Sejarah menyebutkan, komitmen dan jiwa pemberani hanya dimiliki oleh para pahlawan.

Masihkan negeri ini memiliki potensi untuk melahirkan para pahlawan?

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: