Yabuki Joe

Perkenalkan. Aku adalah seorang remaja yang pernah dititipkan di sebuah yatim piatu. Namun ternyata tempat penampungan itu bukanlah hal yang menyenangkan, sehingga di usia 15 tahun aku pun kabur. Dari sinilah cerita legendarisku bermula, dari jalan Doya di suatu area kumuh kota Tokyo.

Ah ya, maaf lupa menyebut nama. Sejak kisah ini dimulai, Joe Yabuki adalah nama yang menjadi identitasku. Cukup dengan panggil aku Joe. Kalau begitu, nama orang tuaku Yabuki dan aku adalah anggota keluarga Yabuki dong? Entahlah. Tidak pernah tahu dan tampaknya tidak ada satu pun yang tahu, karena aku adalah seorang tokoh rekaan suatu cerita.

Hey, jangan memandangku rendah dulu. Jika Anda ke Jepang, silakan tanya orang sana—remaja atau orang tua yang berusia 30-an—tentang kisah si Joe Yabuki dalam komik Ashita no Joe. Pertama kali kisahku diterbitkan tahun 1968—sudah agak jadul memang. Manga ini juga diterjemahkan di Amerika dengan judul Tomorrow’s Joe; di Itali dengan judul Rocky Joe; di Indonesia dengan judul—aku terheran-heran kenapa diberi judul ini—Boy Action II. Rocky? Memang ada sangkut pautnya dengan Rocky Balboa? Oh ya. Komikku berakhir di tahun 1973 dan film Rocky diputar tahun 1976. Orang-orang bilang karakter Rocky sangat mirip denganku.

Di sebuah jalan Doya, kotor, sumpek, tidak terawat, aku berjalan dengan tidak acuh. Sambil bersiul dan bernyanyi, kuputar karung kecilku—satu-satuya barang yang kubawa. Kaos yang kucel, jaket yang lusuh, dan celana yang kotor adalah pakaian yang dikenakan saat itu, dan memang ini adalah favoritku dan hampir selalu kukenakan.

Aku terus menyusuri jalan. Ke mana? Tidak tahu, dan tidak penting. Tidak ada satu pun teman kupunya, tak ada rumah untuk berpulang, dan tiada keluarga yang menunggu. Sendiri di bawah kegelapan ini, tapi bukan itulah yang terpikirkan dalam senyum sombongku.

Di sini aku bertemu dengan seorang tua berbadan gempal dan mengenakan penutup mata seperti bajak laut. Ia mabuk berat dan berjalan seperti orang dungu. Tiba-tiba ia berteriak dengan antusias ketika melihatku menonjok preman-preman yang berusaha mengeroyokku di jalan Doya itu. Saat itu tidak ada kata-katanya yang dapat dimengerti. Jab! Upper cut! Straight! Semacam itulah.

Pak Tua itupun memperkenalkan diri bahwa dia adalah Danpei Tange, mantan petinju. Langsung saja ia menginginkan aku jadi anak didiknya. Aku memiliki bakat, mungkin menurutnya demikian. Tapi Joe Yabuki adalah seorang berandal. Tidak serta merta seorang pak tua pemabuk dapat menjinakkan diriku yang berontak. Tapi, Danpei tidak lelah-lelahnya untuk terus mengejarku.

Untuk mendapat uang, aku punya akal: menggelar kain di pinggir jalan, kemudian teriak keras-keras bahwa sedang menggalang dana bantuan untuk anak-anak jalanan.

Tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan sejumlah uang dengan cara tersebut. Wartawan pun datang, memotret, dan fotoku beserta anak-anak—yang sebenarnya adalah keronco-keroncoku dalam rencana ini—terpajang besar di koran. Danpei membaca koran dan mulutnya mengnga.

Benar saja. Polisi pun membawaku ke kantornya. Mungkin sebenarnya masih ada kesempatan untuk lolos dari bui, tapi jiwa lliarku masih berlari-lari. Sang opsir tidak terkesan—atau tepatnya terkesan dengan keliaranku—dan tanpa ragu mencap surat pernyataan bahwa aku mesti masuk sel.

Tak lama, mobil polisi berderung membawaku dan beberapa orang lain ke penjara. Setiba di sana, ketua gerombolan napi langsung kutantang. Namanya Nishi, seorang berwajah mirip gorila dan berbadan besar. Dengan mudah ia kukalahkan, tapi keonaran yang kubuat bersama Nisihi tidak membuat penjaga bui senang.

Kami berdua pun dipindahkan ke penjara yang lebih “ganas”. Kami langsung mendapat sambutan yang “hangat”—bahkan “panas”—dari para napi. Dalam kegelapan sel, aku dan Nishi dibuat babak belur. Tapi rupanya mereka belum tau sang berandal Joe. Ketika mereka merasa telah menang dan kembali ke kasur masing-masing, aku bangun, berjalan pelan, melakukan sedikit Dak! Dug! Duak!, mengembat kasur mereka, dan tidur. Di pagi hari, orang-orang yang kuhajar tergeletak di wc yang bau, dan orang-orang terheran melihatku bangun dari kasur yang disusun berlapis-lapis.

Tidaklah menyenangkan hidup di penjara, tentu saja. Tiap harinya harus bekerja, mencangkul sawah, sedangkan aku memimpikan kebebasan di balik kawat berduri. Mungkin karena manja atau sifat berontak yang menuntut kemerdekaan, aku merencanakan kabur, dan Nishi siap membantu.

Sedikit lagi menuju gerbang keluar. Namun seorang napi, berdiri sedikit bungkuk dan berpandangan tenang, menyelip di antara babi-babi liar yang kutunggangi—dan merubuhkan semua babi berbadan tebal itu dengan tinjunya. Tak bisa terima, aku berdiri tegak, menantang lelaki itu untuk berantem.

Namun, aku yang jagoan ini menjadi bulan-bulanannya. Seranganku tak satupun yang kena, sebaliknya, mukaku sudah memar sana-sini. Habis akal, kupasanglah kuda-kuda bertinju yang telah diajarkan oleh Danpei. Kuluncurkan pukulan jab, dan…Duakk!!

Tepat sasaran, akhirnya ia merasakan pukulanku. Sebuah pukulan jab yang diajarkan oleh secarik kertas kiriman Danpei. Demi Hari Esok, begitu tiga kata yang mengawali pesan berisi petunjuk cara melakukan pukulan. Beberapa jab kulancarkan, kena, dan kena lagi. Merasa di atas angin, upper cut asal-asalan—karena belum diajarkan oleh Danpei—kulancarkan. Ternyata kali ini ia menghindar. Tak lama, aku terkapar akibat pukulan kerasnya.

“Pukulan jabmu seperti petinju profesional, sedangkan pukulan yang lainnya seperti tepukan anak kecil. Joe Yabuki, benar-benar laki-laki yang aneh,” kata pria itu. Semenjak itu, aku terus berlatih mengikuti kertas instruksi kiriman Danpei, dengan harapan dapat mengalahkan pria itu—sipir penjara kemudian memberitahuku bahwa ia bernama Rikiishi Toru.

Penjara pun mengadakan pertandingan tinju antarnapi. Dan akhirnya, di final aku bertemu Rikiishi. Pertandingan cukup sengit, karena ternyata si Rikiishi mantan petinju jagoan, yang diusir karena pernah menyerang penonton. Kemudian, akhir bercerita bahwa kami jatuh berbarengan, hasil seri diumumkan. Pertandingan belum selesai, tapi dengan rusuh napi-napi lain berebutan masuk ring tinju. Agaknya ini membuat para opsir sedikit senang, karena para tahanan itu memiliki wadah untuk menyalurkan bakat kelahi mereka.

Selain bertanding dengan Rikiishi, ada satu lagi momen yang cukup berkesan. Yaitu ketika seorang wanita anggun yang turun dari mobil bagus datang menyaksikan pertandingan. Adalah Yoko Shiraki, putri seorang pemilik sasana tinju Shiraki, tempat Rikiishi berlatih.

Beberapa tahun kemudian aku pun dinyatakan bebas—lebih telat daripada Rikiishi dan Nishi. Kembali berjalan membawa karung dengan pakaian lusuh yang sama, tapi kali ini aku punya tujuan: sasana tinju Tange, gubuk reyot di bawah jembatan.

Menu latihan keras dihidangkan oleh Danpei setiap harinya. Selain latihan fisik, bersama Nishi aku sedikit membantu kerjaan di toko milik keluarga Hayashi. Keluarga Hayashi hanya memiliki satu anak yaitu Noriko, gadis yang usianya kurang lebih sebaya denganku.

Tapi itu semua tidaklah cukup untuk menjadi petinju. Danpei tidak diakui sebagai pelatih dan tidak mendapat izin. Bahh! Orang-orang busuk itu takut aku tumbuh menjadi aktor ring yang berbahaya. Lalu aku pun nekat: menantang seorang petinju profesional, Wolf Kanagushi, di ruang lokernya. Hasilnya: mukaku memar oleh pukulannya, dan wajah Wolf menjadi sasaran empuk jurus spesialku—cross-counter.

Wartawan ramai meliput dan kasus ini menjadi bahan pembicaraan koran. Akhirnya, karena tekanan media massa, aku berhak mengikuti pertandingan tinju. Yah, berhak untuk bertanding dengan Rikiishi.

Tapi ada satu kendala: Rikiishi berada di kelas bulu, sedangkan aku di kelas bantam yang lebih ringan berat badannya. Karena ini, Rikiishi pun puasa gila-gilaan—yang benar-benar membuatnya hampir gila. Pada akhirnya, momen itu datang; kami saling bertatap muka di atas ring. Aku tak tahu segila apa dia menurunkan berat badannya, tapi tubuhnya benar-benar terlihat kurus bagai tulang berjalan. Tapi bel berbunyi, dan aku tak boleh mengasihani rivalku.

Ia masih tetap jagoan—lebih hebat bahkan. Serangan-serangan coba kuberikan. Pertandingan pun berlangsung cukup seru dan terlihat berimbang.

Namun, pada akhirnya aku harus mengakui kembali keunggulannya. Kalah…tapi aku tersenyum, bangkit, dan menyalaminya. Tepat setelah tanganku bersalaman, ia oleng, lalu jatuh. Oleh pihak rumah sakit, diberitakan bahwa rivalku itu meninggal.

Kenapa? Kenapa bisa seorang Rikiishi Toru meniggal seperti ini? Apakah karena pukulan upper cut-ku yang terlampau keras? Ataukah karena bagian belakang kepalanya membentur tali ring? Lalu, haruskah sebuah profesi dan olahraga mengorbankan nyawa seorang makhluk? Tapi ini bukanlah kematian di atas ring yang pertama dan satu-satunya. Dan seumur hidup belum pernah sekalipun aku mengalahkan Rikiishi.

Entah seberapa besar pengaruh yang diberikan oleh kisahku, tapi orang-orang nyata di luar sana—di luar dari dunia komik—mengadakan upacara pemakaman atas Rikiishi. Hahaha, hihihi, manusia-manusia nyata memang aneh. Hihihi.

Tewasnya Rikiishi sangat memukul dan membuatku sempat hilang dari atas ring. Meski aku pun akhirnya kembali, efek trauma masih belum hilang: aku menjadi tidak bisa memukul wajah—atau hanya bisa memukul wajah dengan pelan. Pukulan keras hanya bisa kufokuskan ke perut, dan awalnya memberi beberapa kemenangan. Tapi petinju bukanlah orang bodoh, dan akhirnya aku pun harus menelan kekalahan tiga kali berturut-turut.

Frustasi, aku pun sempat berkeinginan untuk lari. Ke sudut-sudut sana, tempat ring terbentang dan bergelarnya pertandingan tinju nonformal. Orang-orang pasang taruhan, dan para petinju layaknya aktor, memukul sesuai skenario. Aku bergabung, kemudian menjadi petinju keliling—berkeliling dari satu ring ke ring lainnya di kota yang berlainan. Tapi itu pun tak lama, setelah seorang petinju bayaran memotivasiku melalui pukulan-pukulannya. Danpei pun kudatangi kembali, dan pertandingan resmi telah menanti.

Dalam suatu pertandingan nonformal, aku bertemu petinju asing bernama Carlos Rivera—tentu ini tokoh rekaan juga seperti aku—bersama Yoko Shiraki. Carlos berkulit hitam, dengan bawaan yang santai dan humoris, serta cabul—ia berusaha untuk mencium Yoko. Aku pun tertantang. Ring digelar, bel dibunyikan, dan kami  bertarung denga serius.

Si genit asal Amerika Latin ini adalah sangat kuat. Ia berada di peringkat ke-6 dunia, dan sudah lama aku tidak menikmati pertandingan semendebarkan ini. Karena suatu alasan, pertandingan pun dihentikan, dengan hasil seri. Carlos tidak puas, ia minta pertandingan dilanjutkan jika mereka bertemu di atas arena yang sebenarnya.

Orang Amerika Latin itu pun pergi, bersiap-siap untuk pertandingan besar yang akan dia lakoni: melawan juara dunia kelas bantam Jose Mendoza—yang tentu saja juga tokoh fiksi.

Karena berhasil imbang dengan peringkat 6 dunia, namaku semakin dikenal. Karirku semakin melesak setelah meng-KO-kan juara Asia-Pasifik, Ryuhi Kin asal Korea. Gelar itu berhasil kupertahankan setelah menumbangkan petinju Indonesia, Harimau.

Karena pencapaianku ini, nama Tange mulai terkenal. Sasana tinju Tange tidak lagi berupa gubuk di bawah jembatan, tapi sebuah gedung yang bersih. Beberapa anak muda datang dan Danpei mengasuh mereka. Berbagai fasilitas kaum elite pun mulai kudapatkan. Fasilitas elite? Lucu juga seorang berandalan jalan Doya di sudut kota Tokyo bisa menikmatinya.

Sekarang, saatnyalah mendaki ke anak tangga yang lebih tinggi: menantang sang juara dunia. Aku rasa fisik dan jiwaku sudah siap. Kesehatanku pun dalam keadaan yang bugar. Yah, bugar. Mungkin kecuali satu: kini aku tidak bisa mengancing bajuku sendiri….

Duduk di mobil pribadi tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan di Jepang kala itu. Dulu sudah pasti aku salah satunya, tapi kini berbeda, yah, dan ini bukanlah mimpi siang bolong. Melalui kaca dapat terlihat orang-orang di luar mobil: ada yang diam berdiri, ada yang berjalan, ada yang duduk di pinggir jalan. Salah satunya ada orang berkulit hitam dengan pakaian kucel tak terawat. Orang gila mungkin, tapi dia adalah orang asing.

Hei, hei. Itu kan Carlos Rivera! Sang petinju peringkat 6 dunia itu! Apa yang membuat kondisinya menjadi begini? Ini adalah berita yang kulewatkan: pertandingan antara Jose Mendoza dan Carlos Rivera. Sang juara dunia telah memukul KO Carlos pada ronde pertama! Tapi pukulan macam apa yang bisa membuat seseorang menjadi hilang ingatan seperti ini?

Kemudian, aku pun tahu jurus andalan Mendoza: pukulan skrup. Ketika memukul, lengannya berputar bagai skrup, memelintir kulit dan tulang korban. Tapi, mundur bukan jalan pilihan. Aku adalah Joe Yabuki, mantan berandal yang kini seorang petinju dunia.

Sebelum pertandingan digelar, aku mengunjungi gereja. Bukan untuk meminta doa, tapi untuk menyaksikan pernikahan Nishi dengan Noriko, sang anak dari keluarga Hayashi itu. Mataku melihat mereka tampak bahagia, terutama Nishi yang terlihat malu-malu.

Dulu, jauh sebelum pernikahan ini, Noriko berdiri di sebelah, di atas jemabatan, mengikuti arah pandangan mataku ke arah sungai yang kotor seperti limbah. Ia memintaku untuk berhenti dari tinju—olah raga bahaya itu. Lebih baik hidup normal, bekerja di toko milik keluarga Hayashi yang, kelak suatu saat, bisa menjadi miliknya. Kehidupan yang ia tawarkan tampak indah dan menyenangkan, tapi tidak bagiku. Hidup telah kumaknai sendiri. Dahulu aku tidak memiliki tujuan yang khusus untuk hidup—kecuali untuk makan dan menipu.

Namun kali ini berbeda. Tinju telah menjadi bagian dari diriku, menjadi bagian dari hidupku. Kegairahan ketika bertinju adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku. Lalu, semuanya bagaikan berubah menjadi pasir. Aku diam, dan Noriko terlihat sedih, berlari bersama titik-titik air matanya. Tapi kini apa yang kulihat tidaklah Noriko yang menangis dan bersedih, tapi ia tersenyum tulus ketika memasangkan cincin ke jari Nishi.

Hari puncak itu tiba. Di tengah-tengah  berdiriku, bersiap dan menenangkan diri sebelum naik ke ring, tiba-tiba Yoko masuk ke ruang ganti. Perempuan ini tahu aku mengalami parkinson, dan memintaku untuk membatalkan pertandingan. Ia mengingatkan tentang kasus Carlos Rivera, yang kini hidupnya menyedihkan, dihancurkan oleh Mendoza. Tidak tahu apa tujuan dari wanita ini, aku tidak mengacuhkannya dan menuju pintu keluar. Tapi tiba-tiba dia berlari dan menghalangiku dari pintu.

“Aku menyukaimu Joe! Aku menyukaimu!” katanya sambil meneteskan air mata.

Tertegun sejenak. Kemudian aku menunduk, dan tersenyum. “Wah, apa jadinya kalau wartawan tahu ini semua….” Apa isi hatiku kala itu, ketika seorang perempuan yang entah kenapa sering muncul dalam perjalananku—yang selalu kuanggap picik karena berdiri di samping Rikiishi—menyatakan perasaannya?

Tapi aku hanyalah tokoh ciptaan manusia, dan Tetsuya Chiba—pengarang komik ini—tidak menerangkan kondisi perasaanku. Gambaran yang terjadi berikutnya adalah kuletakkan tanganku di bahunya, dan menggesernya dari pintu. Dan aku pun berjalan menuju ring.

Bendera Jepang dan Mexico berkibar. Aku dan Danpei menatap lambang matahari terbit. Danpei menoleh ke arahku; aku tahu apa isi pikirannya. Si pak tua mengingat momen pertama kali aku dan dia bertemu. Di sebuah jalan Doya, pada suatu sudut kumuh kota Tokyo. Kami berdua bertemu yakuza, dan ia meneriakkan pukulan-pukulan dasar. Jab! Upper cut! Straight!

Kisah jalan Doya itu pertama kali terbit di Jepang tahun 1968. Masa itu adalah pergolakan keadaan sosial dan ekonomi negara. Kemiskinan dan kesenjangan sosial tengah menjadi persoalan, dan jumlah anak-anak yang tidak beruntung karena lahir dari ayah-ibu yang miskin tidak sedikit. Di tengah-tengah itu aku lahir, mewakili mereka yang tidak sedikit itu.

Apakah kelak nasib orang-orang yang sial itu? Akankah kesialan itu terus berlanjut hingga usia tua? Kondisi ini membuatku berontak. Besar di panti asuhan, tanpa dongeng pengantar tidur dari orang tua, dan tanpa kejelasan jaminan hidup. Aku berjalan di jalan Doya itu, bersiul, bernyanyi, sambil memutar-mutar karung yang entah apa isinya.

Sepanjang itu aku tersenyum sombong, seperti remaja-remaja tolol yang tidak peduli dengan masa depannya. Jika orang-orang tahu, bahwa itu adalah untuk menutupi kepedihan seorang anak yang dibuang. Aku pun tidak paham sepenuhnya ketika melakukan penipuan terhadap sumbangan anak-anak. Mengapa aku melakukannya? Apa tujuanku? Aku tidak tahu, aku tidak tahu.

“Demi hari esok! Demi hari esok!” teriak Danpei dengan mata berkaca-kaca. Itulah yang ia teriakkan agar aku mau konsisten berlatih tinju bersamanya.

Semenjak pukulan jab-ku mengenai Rikiishi, aku menemukan sesuatu yang berbeda. Kertas Demi Hari Esok dari Danpei yang berisi tentang teknik pukulan tinju kuikuti dan kulatih dengan baik. Dan setelah keluar dari penjara, aku telah memiliki tujuan, memiliki aran, dan sesuaut yang ingin dicapai: menjadi sang juara di atas ring.

Aku pun “pulang” ke gubuk sasana tinju Tange. Di sana, orang-orang tengah menunggu. Bapak-bapak dan ibu-ibu tetangga, juga anak-anak yang  tadinya kumanfaatkan untuk penipuan. Mereka tersenyum, tertawa dengan ikhlas menyambut kepulanganku. Inikah yang dinamakan keluarga? Seumur hidup baru pertama kali kurasakan seperti ini. Dan aku berbaring di atas tempat tidur, menangis, merasakan tetesan air mata. Mungkin kali ini aku tak perlu kesepiankah?

Sekarang, aku berada di sini, di atas ring tinju berhadapan dengan sang juara dunia. Ratusan atau ribuan atau bahkan lebih penonton menyaksikan Joe Yabuki berdiri. Suara mereka begitu bising, dan bersahut keras menyebut namaku. Terlihat Wolf Kanagushi ikut menonton, juga “kawan-kawanku” ketika di penjara: mereka datang untuk melihat langsung. Begitu juga para tetangga dan anak-anak, tentu mereka sedang menyaksikan melalui TV.

Ketika bel berbunyi, sang pemberontak yang dulunya tidak memiliki tujuan hidup pun maju, menyambut cita-citanya.

Kuat! Jose Mendoza sangat kuat! Pukulannya mematikan dan ia sangat pintar menghindar. Hampir tidak ada satupun pukulanku yang kena. Sebaliknya, tubuhku bagaikan sasaran tembak bagi tangannya. Pukulan skrup begitu menyakitkannya.

Aku bertahan dan terus bertahan. Teng! Teng! Teng! Bel pertanda ronde kesekian berbunyi, dan mukaku semakin babak belur. Aku berjalan dengan penglihatan sedikit rabun, dan mengeluarkan pukulan yang tidak terarah. Duaakk!! Ajaib! Pukulan dengan penglihatan yang rabun justru mengenainya.

Beberapa pukulan rabun itu kudaratkan, dan akhirnya Mendoza mulai terlihat luka-luka. Ronde-ronde saling bergantian naik ke atas panggung, dan juara dunia bukanlah seorang yang tolol. Ia mulai bisa membaca, menghindar, dan memberikan serangan balasan atas pukulan rabunku.

Akhirnya, di ronde-ronde terakhir aku kerahkan seluruh kemampuan yang tersisa. Danpei terus berteriak, begitu juga gumaman penonton yang memenuhi ruangan. Yoko berkeringat, memandang terpana seolah tak kuat. Carlos Rivera pun tiba-tiba terlihat di sisi ring, memanggil, “Yabuki….Joe Yabuki….” Semuanya sama: memberi dukungan dan semangat, dan itu semua telah menjadi energi tambaha.

Di antara wajah dan badanku yang tak lagi karuan, pukulan yang seumur hidup hanya sekali kuluncurkan pun mengenai telak Mendoza: triple cross-counter. Muka sang juara dunia berantakan, hancur, dan darah menyembur ke mana-mana. Tapi, wajahku sendiri pun penuh oleh darah akibat pukulan-pukulannya yang masih bertenaga.

Akhirnya bel terakhir berbunyi. Lima belas ronde telah terlewati, menandakan selesainya pertandingan. Sang wasit segera melerai. Kulihat Mendoza berjalan terhuyung-huyung ke sudut, begitu pula aku mengerahkan tenaga terakhir. Begitu duduk di kursi, Danpei berbicara kepadaku, sesuatu yang menghibur. Kemudian, aku memanggil Yoko yang berdiri tak jauh.

“Aku ingin kamu menyimpan ini,” kataku sambil menyerahkan sarung tinju yang telah berlumuran darah. Tangan yang kecil mengambilnya, dan ia masih terpana bersama tetesan keringat.

Kemudian, aku duduk dengan tenang di sudut. Segalanya telah kukerahkan, tidak percuma semua latihan keras dari si tua Danpei. Yah, aku telah membuat suatu pencapaian—sesuatu yang tidak terpikirkan untuk kuraih ketika liar dahulu. Aku duduk dengan tenang di sudut, merunduk, memejamkan mata, dan tersenyum dengan puas.

Selanjutnya, pemandangan yang tergapai hanyalah kabur. Kudengar wasit membacakan keputusan juri. Lalu, tidak terlalu jelas, tapi telingaku menangkap suara “Jose Mendoza”. Ruang menjadi lebih bersuara, meskipun kini telingaku hanya bisa menangkap dengan pelan.

“Lihat Mendoza. Mukanya terlihat tua. Rambutnya memutih,” sayup-sayup suara itu berbisik dari arah penonton.

Terdengar keluhan Danpei yang bernada kecewa, disusul dengan suaranya yang memanggil-manggil namaku. Tapi itu semua tidaklah lama: suara penonton, suara wasit, suara Danpei, suara Yoko. Perlahan, sekitar menjadi sunyi dan tenang. Lalu sepi.

Dan yang terlihat kemudian hanyalah putih.

 

Advertisements
Categories: narasi | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Yabuki Joe

  1. Panjang banget mas..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: