Hari yang Malas

Pagi itu cerah benar. Suara burung terdengar jelas seperti hari-hari biasa. Cahaya kekuningan menyilaukan siapa saja yang melihatnya. Oh, pagi sudah telat ternyata. Mungkin jam di hp telah menunjukkan pukul 8 pagi.

Hari, seorang remaja tanggung berumur 16 tahun, terbangun memandang langit kamarnya. Benar, saat itu jam 8—tepatnya lebih 7 menit. Huaahh…hari apa ini? Duh, aku kok bisa lupa sama hari ya….

Ia turun melalui tangga menuju meja makan, bertepatan dengan suara, “Har, ayo bangun! Sarapan.” Ibunya telah berpakaian rapih dan necis dengan jas putihnya, bersiap pergi. Pemandangan sepiring nasi beserta telor ceplok, sosis, dan sayuran mengingatkannya akan hari-hari kemarin: menu yang sama, meja yang sama, suara ibu yang sama, dan hari pun akan sama saja dengan sebelumnya.

“Ayah sudah pergi, bu?” tanya sang anak sambil mengambil sendok dengan malas. “Sudah dari tadi. Kamu ga ke mana-mana hari ini?” Hari menggeleng. Ibu itu pun mengambil tasnya dan menuju halaman yang bising dengan suara mesin mobil. “Ibu pergi dulu ya. Jangan lupa kunci semua pintu kalau kamu pergi….” Hp sang ibu berbunyi dari dalam tas. Wah, pagi-pagi udah ada pasien aja, pikir Hari.

Tak lama ibunya pun menghilang. Sarapan paginya tidak dihabiskan—bukan karena tidak suka, tapi bosan dengan rasa yang itu-itu aja. Hari pun memandang TV di seberang meja, lalu beralih ke bawah: DVD player berwarna abu-abu dengan setumpuk plastik pembungkus DVD bajakan di atasnya, dan DVDnya sendiri bertumpuk di sebelah—setelah dibereskan oleh ibunya.

Semua DVD yang aku beli sudah habis ditonton, kata Hari dalam hati. Pandangannya kembali ke TV. Ini hari Kamis, berarti acara TV pun ga akan ada yang spesial. Di atas karpet yang terbentang di depan lemari TV, sebuah mesih berwarna putih dan dua joystick terlihat diam dengan tenang—pasti habis diberesin olen Ibu juga. Semua game PS3 yang aku punya sudah dimainin, bahkan ada yang sudah ditamatkan sebanyak 5 kali. Di atas meja kecil di sebelah karpet itu tergeletak beberapa buku komik. Bosan dibaca berulang kali, dan hari ini belum ada nomor baru yang keluar.

Hmm, kalau begitu hari ini ngapain ya…?

Sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Hari bangun, kemudian sarapan, lalu menonton acara televisi. Jika acara tidak lagi menyenangkannya, ia beralih bermain PS3. Tapi tim Master League PES 2011 yang dimainkannya sudah terlampau hebat. Sekali main bisa sampai 5-0, 6-0. 8-0. Merasa tidak ada tantangan, komik di meja sebelahnya pun diembat. Hari sudah hapal kalau di halaman sekian si tokoh utama akan bilang begini, kemudian di halaman ini muncul si ini, dan di halaman sekian ada peristiwa begini. Jenuh, DVD yang baru dibeli pun dibuka. Sekitar 30 menit kemudian, matanya sudah berat dengan omongan si aktor dan aktris. Lalu ia pun tertidur.

Hari bangun dengan mata berkunang-kunang. Dilihatnya jam dinding, yang menunjukkan pukul setengah 2 siang. Tadi aku habis ngapain? Ah ya, DVD playernya belum dimatiin. Ia meraih laptop, menyalakannya, dan mulai asik dengan berbagai situs jejaring sosial. Sambil cengar-cengir ia mengomentari status temannya dan meng-RT kicauan berbagai orang. Situs-situs semacam kaskus dan mangareader pun tak mau ketinggalan. YM dibuka, walau orang-orang enggan chatting dengannya hingga jarum jam ke arah setengah 4 sore.

Kelelahanlah bola matanya, kemudian ia berbaring, dan tertidur kembali. Jam 6 sore, ia bangun dengan kepala berputar-putar. Awalnya dikira ia akan gila karena tidur sore, tapi ingatannya menunjukkan ia masih sehat: ya ampun, aku belum makan dari siang! Ibu adalah seorang yang rajin buka praktek, dan biasanya pulang jam 8. Ayah apalagi: general manager yang gila kerja, paling cepat pulang jam 9 malam.

Ia bisa saja menghangatkan makanan di kulkas, tapi tidak selera, sehingga motor Tigernya pun dinyalakan. Malam ini enaknya makan di mana ya? Bersama helm ia melaju, dan jam setengah 8 sudah kembali. Malam adalah waktu siaran tv yang menghibur, sehingga remote pun langsung diraih.

Acara reality show berakhir jam setengah 11. Kedua orang tuanya terlelap tak lama setelah mereka pulang, dan Hari pun bersiap untuk menyusul ke alam mimpi. Selesai sudah cerita hari ini.

Tunggu, tunggu dulu. Apa saja yang telah Hari lakukan seharian? Sama persis—atau dengan sedikit variasi—dengan hari kemarin: bangun tidur, makan, nonton, main PS, baca komik, internetan, makan, nonton, tidur lagi. Hari bahkan lupa untuk mandi hari itu, apalagi salat.

Lima hari ini hanya itu-itu saja kegiatan Hari. Kemonotonan ini mulai membuatnya cemas. Ia ragu untuk tidur, karena, karena…setelah bangun esoknya, apa saja yang akan kulakukan seharian? Sama persis lagi semacam hari ini? Libur sekolah masih seminggu lebih, dan benarkah 2 minggu ini kuhabiskan hanya untuk bangun-makan-tidur?

Tidak ada kegairahan sama sekali dalam hidupnya sekarang. Bingung mesti berbuat apa, karena tak ada kewajiban yang perlu dikerjakan. “Aku mesti ngapain selama liburan ini?” tanyanya dalam hati.

Kejadian ini bukanlah yang pertama. Tiap kali libur akhir semester selalu begini. Kewajiban belajar selesai, ia libur dan bebas, dan kedua orang tuanya masih sibuk bekerja. Padahal, keragu-raguan seperti ini tidak pernah timbul ketika kegiatan sekolah berlangsung. Adanya tuntutan membuatnya mengerti apa yang mesti dikerjakan, dan Hari menjadi bergairah. Berbagai tantangan yang diberikan oleh aljabar, mekanika Newton, dan teori Arrhenius membuatnya sibuk siang malam. Waktu seolah begitu pelit, dan tentu saja tak ada kesempatan untuk bertanya “hari ini mau ngapain”.

Karena ia adalah orang yang rajin, temannya pun mengajak untuk ikut mentoring. Hari pun ikut-ikutan saja. Agaknya kegiatan itu membuatnya menjadi sadar beragama. Selama sekolah berjalan, salat zuhur tak pernah ia sendiri, meskipun sisanya—karena sudah di luar arena sekolah—masih sering salat sendiri. Meskipun masih terbata-bata, setidaknya ada satu halaman Al Quran yang ia baca dalam 3 hari.

Orang tuanya bangga ketika mereka dipanggil awal-awal saat pembagian rapor. Atas belajar kerasnya hingga tak jarang begadang, Hari termasuk 5 besar. Ayah dan ibunya pun memberinya hadiah. Ya, inilah pencapaiannya, dan ia merasa berhak untuk mendapat hadiah yang lain: libur.

Tapi kini, Hari pun bertanya, apa artinya libur? Makna apa yang tersimpan di hari libur? Ketika pembagian rapor, baginya hari libur adalah “hari bebas”. Bebas dari segala beban dan aktivitas yang menjenuhkan seperti akademik. Hari libur juga berarti “hari bersenang-senang” atau “hari bermain”. Dan ia telah memiliki semuanya: bebas, senang, main.

Tentu kita bebas memilih melakukan apa saja saat libur, karena tak ada tuntutan dan tugas. Lalu, jika kita mengartikan hari libur sebagai waktu bebas atau bersenang-senang, jadi kita mau melakukan apa? Akankah harus muncul orang-orang seperti Hari—yang makna dalam setiap harinya tercabik-cabik?

Mungkin di sinilah letak kesalahan Hari. Jika hari libur memfasilitasi kita terbebas dari kegiatan sekolah atau kerja, berarti ia memberi kita kesempatan untuk mengisinya dengan kegiatan lain. Sekolah dan kerja hanyalah satu kegiatan, dan masih banyak kegiatan—bahkan kewajiban—yang harus dikerjakan dalam hidup. Tidakkah Hari tersadar atau mencoba bertanya apa saja kewajiban itu?

Mungkin di sinilah letak kesalahan Hari. Ia pikir bermalas-malasan sebagai hadiah kerja kerasnya adalah hal yang menyenangkan. Ternyata, hari yang malas adalah hadiah yang cenderung menyiksa. Di hari biasa, ia tumbuh sebagai orang yang “hidup” karena hidupnya yang produktif. Tapi di hari libur, kekosongan menggerogoti tubuhnya—terus menjalar ke otak dan jantung—hingga ia menjadi orang yang “mati”. Tidakkah ia berpikir bahwa kesibukan memfasilitasinya untuk menjadi “orang hidup”, sedangkan kesenggangan waktu memfasilitasi setan untuk “membunuh”nya?

Sebagaimana orang bijak bilang: jika tidak menyibukkan diri dengan amal kebaikan, kita pun akan disibukkan dengan kemaksiatan. Haruskah manusia seperti budak, disibukkan oleh setan dan hawa nafsunya sendiri?

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: