Musuh atau Lawan?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekilas nampak memiliki pengertian yang sama, tapi sesungguhnya amat berbeda. Kedua kata ini memiliki persamaan, yaitu sama-sama menunjukkan pihak yang tidak satu garis dan berseberangan. Juga memiliki perbedaan, yang mungkin sering tidak kita sadari—atau sengaja untuk tidak disadari—sehingga menimbulkan hal yang berbeda dalam sikap hidup kita.

Jika dicek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (silakan dicek, jika tidak punya silakan buka KBBI online), akan terlihat bahwa musuh bersinonim dengan lawan, begitu pula sebaliknya. Namun, keduanya memiliki pengertian khas masing-masing yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Musuh juga bisa berarti sebagai sesuatu yang mengancam (kesehatan, keselamatan); yang merusakkan. Dan lawan memiliki arti khas pasangan; teman.

Dalam penggunaan sehari-hari, perbedaan makna kedua ini semakin jernih. Kita menyebut lawan kata bukan musuh kata. Tidak bisa pula ketika bermain dalam suatu pertandingan olahraga, kita menganggapnya musuh tanding, tapi lawan tanding. Kita juga secara lancar akan berkata, “Siapa lawan bicaramu tadi?” bukan, “Siapa musuh bicaramu tadi?”

Dapat disimpulkan, bahwa lawan tidaklah selalu musuh. Ketika menggunakan kata lawan, makna yang tertangkap adalah untuk menegaskan keberadaan diri kita sendiri dan orang lain; meneguhkan eksistensi masing-masing; menunjukkan suatu interaksi sosial yang saling menguatkan. Berbeda dengan musuh. Saat terucap “Ia adalah musuh saya,” pernyataan itu untuk menegaskan bahwa ia adalah negasi dari diri kita; pribadi yang saling bertentangan; tidak mungkin ada kata persatuan; satu pihak harus menghilangkan eksistensi yang lain untuk menegakkan eksistensi dirinya.

Kata-kata sering tergunakan dengan begitu saja, namun seringkah kita mencoba memahami maknanya? Atau mencoba menyadarkan pikiran akan implikasi kata yang tergunakan? Ataukah bukanlah hal yang asing jika suatu arti kata mengalami degradasi makna hingga muncul definisi baru—seperti penggunaan kata “galau” belakangan ini?

Atau sesungguhnya semua telah disadari, namun alam pikir disengajakan untuk mengubah makna untuk kepentingan pribadi. Adalah setiap lawan itu musuh. Semua lawan bisnis adalah musuh, sehingga kita harus tumbuh menjadi kekuatan monopoli yang berkuasa. Semua lawan politik adalah musuh bagi kaum politik yang lain, dan kursi kekuasaan adalah trofi yang dihadiahkan kepada pihak pemenang. Semua yang berseberangan dengan ideologi kita adalah ahli bid’ah, sesat, dan tempatnya di dasar neraka—seolah telah berfatwa bahwa kita adalah malaikat penurun azab.

Tidakkah kita menyadari bahwa pendegradasian makna tersebut menyiksa diri kita—yang membebankan kepala karena memikirkan musuh—dan juga orang yang teranggap sebagai musuh—yang harus susah payah bertahan dari serangan agar tidak musnah? Tidak, kesengsaraan bukan hanya milik pihak yang saling bertentangan. Seperti antar dua orang yang berdebat keras; amarahnya menyembur ke orang-orang yang menonton dan mereka yang sekedar lewat. Tidak selesai oleh lidah, debat pun dilanjutkan dengan ajakan kepada para pengikutnya untuk membawa pisau, peluru, dan bom. Cukuplah peristiwa perang dingin, tembok Berlin, perang Vietnam, dan revolusi Kamboja memberi pengajaran.

Kemudian, lingkaran makna diperbesar. Kawan adalah kita—yang berada dalam satu lingkaran ideologi, pemikiran, pendapat, dan pandangan. Dan musuh (tidak dikenal kata lawan di sini) adalah mereka—yang berada di luar lingkaran: yang berbeda ideologi, berbeda pemikiran, berbeda pendapat, berbeda pandangan. Bumi berbentuk bulat, sehingga hanya mampu menaungi satu lingkaran—dan yang berada di luar lingkaran adalah alien yang mesti diusir ke luar angkasa.

Sedangkan lawan adalah orang yang memiliki peran untuk menguatkan posisi yang lain. Mereka bukanlah orang yang bertolak punggung dengan kita dan berjalan menjauh, tapi berdiri berhadapan dengan kita dan berjalan ke arah yang sama.

Entah seberapa besar keleluasaan berpikir yang diberikan kepada manusia, yang jelas pemaknaan di atas telah melampaui apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dengan terang Ia berkata, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu. Maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala,” dalam kitab suci surat Fathir ayat 35.

Dan jelas pula bahwa setan adalah pihak yang memberikan “kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” Kemudian, Tuhan pula berfirman bahwa setan adalah “dari (golongan) jin dan manusia.

Musuh sejati kita adalah setan. Yaitu jin yang dalam pembuluh darah membisikkan kejahatan seperti adrenalin—membuat jantung berdebar dan nafas menderu. Dan juga manusia yang bertingkah seperti jin: membisikkan kebusukan dan menghalangi manusia dari jalan Tuhan, bagai Iblis yang berkata, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al A’raaf: 16)

Mungkin salah satu alasan adanya perubahan makna ini adalah tidak sukanya orang-orang dengan hal yang bertentangan dengan mereka. Takut, cemas, khawatir orang lain akan menurunkan kewibawaannya, membuatnya bangkrut, menghilangkan pengaruhnya, atau membuatnya bangkit dari kursi malas. Tidak berani untuk memajukan diri dengan menerima kritik dan masukan. Padahal, keberadaan lawan seolah pecut yang melesakkan potensi.

Orang-orang demikian tampaknya telah merintis jalan untuk menjadi manusia totaliter baru; Stalin baru yang tidak mengizinkan ada pertanyaan terhadap kebijakannya. Jika ada yang berani bertanya, tak perlulah kita bertanya bagaimana nasibnya kemudian.

Advertisements
Categories: gagasan | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Musuh atau Lawan?

  1. Silvi

    Jangan lupa, ketidaktahuan kita akan ilmu juga musuh kita..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: