Chrysanthemum (Pun Berfilosofi)

Sabtu, 9 Juli 2011, saya turun dan merasa haus. Rumah makan tempat pemberhentian bus itu punya stand-stand jajanan di depan pintu masuknya, di antaranya ada yang memamerkan cooling box. Di dalam kotak pendingin itu tersimpan botol-botol minuman. Dengan agak heran, mata saya tertuju ke botol yang bertuliskan Nutri Sari. Hmm, ternyata merk ini jual minuman botol juga toh. Beberapa detik kemudian produk dagang itu sudah digenggam tangan.

“Delapan ribu lima ratus,” kata seorang ibu penjaga setelah saya menanyakan harganya. Entah karena warung jualan itu yang edan memasang harga atau memang sebesar itulah harga yang dipasang oleh pabrik minum terkenal itu, tetap saya merasa heran. Awalnya muncul ekspektasi rasa jeruk ketika tutup botol mulai dibuka, tapi ternyata bukan. Teh, dengan aroma yang sangat tidak asing.

Benar saja: pinggiran botol itu tertulis “Chrysanthemum”. Tapi bukan itu bagian yang menarik. Tertulis juga bahwa bunga itu memiliki hubungan dengan Confucius, sang bijak dari Cina itu.

Tersebut dalam beberapa sumber bahwa bunga itu pertama kali dibudidayakan 3000 tahun lalu, sektiar 15 abad sebelum masehi. Adalah Tao Yan Ming sang penyair, yang pertama kali menanamnya, dan diberikanlah nama Ju-Xian (City of Chrysanthemum) terhadap kota kelahirannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada abad ke-4 masehi, para biksu Buddha membawa serta bunga ini dalam perjalanan mereka ke Jepang—dan segera menjadi segel kerajaan. Kemudian, kepopulerannya pun bertambah, ketika ia diperkenalkan di Eropa di 1688 dan Amerika di 1798. Bunga yang terlihat cerah, dan orang-orang yang melihatnya pun menjadi ceria. Ah, apa nama bunga itu? Warna kuningnya begitu menyala dan terang, seolah sebuah sumber cahaya. Bagai emas, eh? Seorang Swedia bernama Carolus Linneus—belakangan ia dikenal sebagai Bapak Taxonomi Modern—memberinya nama “Chrysanthemum” yang berasal dari bahasa Yunani: chrys (emas) dan anthemon (bunga). Golden flower ‘bunga emas’!

Bunga ini ternyata sangat difavoritkan oleh para penggemar bunga. Chrysantemum, atau bunga seruni dalam bahasa Indonesia, menduduki peringkat ke-2—setelah mawar—dalam dunia perbungaan. Di negeri asalnya pun ia adalah anggota resmi dari Empat Tanaman Agung bersama 3 bunga lainnya: anggrek, bambu, dan plum. Chrysanthemum dikenal sebagai tanaman herbal yang dapat memperpanjang umur, dan juga bila direbus akan menjadi minuman manis oriental: teh chrysantemum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tingginya hanya 50-150 cm, tapi itu tak mengurangi keindahannya. Kita nikmati bentuknya dalam berbagai variasi ketika mekar. Tidak cukup sampai di situ variasinya, karena bunga ini dibagi menjadi 9 kategori berdasarkan mahkota.

Dalam meditasi, orang-orang berusaha mencari ketenangan. Begitu juga dengan Confucius, ia menulis tentang Chrysantemum ketika dunia berada pada 500 sebelum masehi. Dan adalah Chrysantemum menjadi objek meditasi sang filsuf dalam menemukan jawaban kebijaksanaan.

Setelah mendapat sambutan meriah oleh kaisar Jepang saat itu, ia pun diberi kehormatan sebagai simbol di kerajaan matahari terbit. Apakah karena bunga ini mutlak membutuhkan cahaya yang disemburkan oleh dewi Amaterasu? Atau terpesonanya sang raja dan ia menemukan kebahagiaan ketika memandangnya? Simbol kebahagiaan itu pun menamai posisi tertinggi Jepang sebagai “tahta chrysantemum”, yang kini tengah diduduki oleh Kaisar Akihito.

 

 

 

 

 

 

 

“Jika Anda ingin bahagia sepanjang zaman, tanamlah bunga chrysanthemum,” begitu pepatah cinta mengajarkan.

Selain kebahagiaan, Chrysantemum sering dimaknai sebagai keceriaan, optimisme, dan cinta. Atau, mekarnya sang bunga emas di bulan November mungkin juga menandakan harapan dan kelahiran baru. Dan ia adalah pertanda bahwa musim gugur telah datang, di kala dedaunan yang lain telah berjatuhan. Mahkota bunga ini mekar, seolah menumbuhkan harapan dan sifat optimis di antara kematian dan kekeringan.

Apakah arti bunga dalam makna hidup dan lahir? Apa maknanya bagi kehidupan sebuah kerajaan? Apa pula pengaruhnya bagi kebahagiaan dan keceriaan rakyat kerajaan itu? Saya bukanlah kenalan kaisar Jepang. Tapi mungkin saja maksud dari penggunaan bunga emas sebagai simbol adalah agar kerajaanya menjadi negeri yang bahagia. Agar negerinya tetap mekar walaupun tumbuhan-tumbuhan lain sedang kering. Atau agar bunga itu mengajarkan kebahagiaan dan keceriaan pada rakyat. Sebuah kelahiran yang baru, menandakan lahirnya sebuah harapan baru.

Mungkin pula Confucius paham bahwa yang selama ini diinginkan dan dicari oleh manusia dalam hidup adalah kebahagiaan. Dan dalam kebijakan—yang didapat entah dengan cepat atau dengan proses yang lama atau tidak didapat sama sekali—manusia pun mengangguk, bahwa kebahagiaan yang mereka cari bukanlah kesenangan, melainkan ketenangan. Itu juga mungkin asalan Confucius gemar bermeditasi: untuk menemukan ketenangan, untuk meraih kebahagiaan hidup sejati.

Dalam ketenangan seseorang menemukan kebahagiaan, itulah yang hendak diajarkan oleh bunga chrysan. Bukan hanya mahkota yang membuat kita tenang ketika memandangnya, tapi juga di dalamnya—jaringan, sel, molekul-molekul, dan kode-kode DNA yang berbaris menyusun genetik ketenangan—suatu ciptaan sempurna dari Tuhan, yang menurut Andra And The Backbone, “begitu sempurna”.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah,” begitu kata Tuhan dalam Al Quran surat Ar Rad ayat 28. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Walaupun arti dari namanya adalah bunga emas, warnanya tidaklah selalu kuning keemasan. Ada yang berwarna putih, ungu, dan merah, tapi tetap: bunga itu memberikan kesegaran dan cinta. Begitu pula dengan manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidaklah ia harus selalu menjadi pelita, menerangi siapa pun yang berada dalam naungannya. Untuk menjadi emas tidak perlu berwarna kuning keemasan, karena dunia memerlukan warna-warni lain untuk menghindari kemonotonan. Adakah dengan tidak menjadi emas kita tidak bisa memberi kebahagiaan bagi makhluk lain? Ternyata tidak, karena setiap manusia membawa warna masing-masing, dan warna-warna itu, layaknya padang bunga, memberi kebahagiaan dan cinta dengan ciri khas masing-masing.

Advertisements
Categories: gagasan | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Chrysanthemum (Pun Berfilosofi)

  1. Reblogged this on Radinbahrulalam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: