Fitrah Konflik

Suatu ketika di SMA, saat masih aktif dalam sebuah organisasi kesiswaan, pernah materi dengan judul “Manajemen Konflik” diapaparkan. Di bangku organisasi mahasiswa, materi itu juga diberikan pada Latihan Kepemimpinan & Manajemen Mahasiswa (LKMM) tingkat fakultas. Dan pada LKMM tingkat provinsi, materi itu diberikan lagi.

Kisaran materi dalam ketiga momen itu berputar dalam lingkaran yang sama, tak ada perbedaan signifikan. Bahwa konflik adalah pertentangan, dan ada empat solusi dalam menyelesaikan konflik: kolaborasi, akomodasi, persaingan, dan menghindari konflik. Tapi bukanlah tulisan ini hendak bercerita tentang seni mengelola pertentangan itu. Materi ini sudah umum dan telah disampaikan di mana-mana.

Jika mendengar istilah manajemen konflik, tentu penekanan lebih diberikan kepada kata konflik. Lalu, ada apa dengan konflik? Besarkah pengaruh konflik dalam kehidupan sehari-hari? Pentingkah peran yang dimainkannya sehingga dirumuskan suatu teori untuk mengelola konflik?

Pada kenyataannya, konflik bagai udara. Ia melekat dalam tiap tubuh manusia, dihirup dan kemudian dikeluarkan lagi. Di mana pun, kapan pun, pertentangan menjadi peristiwa yang tidak langka. Bila kita memikirkannya sejenak, dapat disimpulkan bahwa konflik hakikatnya adalah fitrah manusia. Benarkah?

Seorang manusia adalah kerumitan yang luar biasa. Di dalamnya berkecamuk keinginan, emosi, pemikiran, pandangan, dan sebagainya. Bahkan kadang manusia sukar memahami kerumitannya sendiri. Lalu, bagaimana dengan orang lain? Tentu ia atau mereka adalah kerumitan juga. Dan simpul-simpul benang kusut yang kita miliki berbeda dengan yang dimiliki oleh orang lain. Masing-masing orang memiliki keinginan, pendapat, paradigma yang khas.

Kemudian muncullah perbedaan, dan ketika berbenturan satu sama lain, lahirlah pertentangan atau konflik. Mungkin kita lupa bahwa Tuhan begitu kreatif, dan kreativitasNya terlukis dalam tidak adanya dua manusia yang sama persis. Akibatnya, pertentangan tidak bisa dihindari—dan bukanlah hal untuk dihindari.

Namun, terkadang istilah konflik dibesar-besarkan. Seakan konflik adalah arena tinju, kita berada di sudut biru dan mereka di sudut merah. Konflik juga berarti jurang pemisah yang curam, tidak ada jembatan yang dapat dibangun untuk menghubungkan.

Seperti paham Maois yang dianut oleh para loyalis Mao Zedong. Barangsiapa yang mengangguk dalam-dalam terhadap perkataan Mao, maka ia adalah kita. Namun, siapa yang anggukannya hanya beberapa senti—tanda keraguan—atau tidak menunduk atau bahkan menggeleng, ia adalah mereka. Dan mereka adalah ahli bid’ah, kaum yang mengada-ada, musuh yang nyata, sehingga harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Juga ketika bendera palu dan arit berkibar dengan gagah. Pemerintah adalah segalanya, sesuatu yang mutlak dan absolut. Pemerintah merupakan keinginan rakyat, cerminan suara hati rakyat. Kebijakan penguasa wajib dipatuhi—tanpa perlu ada ruang diskusi.

Dari sini, konflik pun dipahami sebagai sesuatu yang menakutkan. Ketika penguasa lewat, masyarakat mesti tunduk. Kenapa, kenapa kita mesti tunduk? Huss! Sudah tidak perlu bertanya, nanti kita bisa dimasukkan ke penjara.

Beruntunglah kita tidak berada dalam suasana totaliter. Masyarakat di sini tidak akan ditambal mulutnya jika berbicara. Meja bundar diskusi terbentang lebar. Kita bisa menyampaikan pandangan tentang suatu hal dari satu sudut, dan lawan diskusi menyampaikan dari sudut lain. Awalnya sudut-sudut ini saling bertolak belakang, terletak berjauhan, dan berdiri sendiri. Namun, seiring dengan pembicaraan untuk mencapai titik temu, tergambarlah garis yang mengharmonisasikan antar sudut.

Atau ketika berada di pasar kehidupan. Dalam tawar menawar di sana, bukan hal yang baik jika menghasilkan kemenangan atau kekalahan mutlak. Kalau ada seseorang yang menang secara total, ia pun dapat membahayakan pihak yang kalah. Di sinilah: perlu ada pendinginan hati agar terbangun jalan untuk kembali berbaikan.

Meski begitu, konflik tetap saja masih menjadi hal yang patut ditakuti. Kenapa? Karena konflik mengandung resiko yang dapat hinggap sampai tujuh turunan. Dan resiko adalah sesuatu yang berbahaya, hal yang patut dihindari. Jika ada kain yang tercabik sedikit, maka itu akan dianggap sebagai robekan yang besar. Tidak perlulah ada pertentangan, supaya hidup kita aman, tenteram, damai, sentosa….

Mungkin kita perlu belajar lagi agar menjadi manusia yang benar. Menghindari konflik dengan bermain aman sama saja dengan menafikan kemanusiaan manusia. Perlu diingat bahwa kita tidak sedang berpolar di kutub masing-masing dan merusak jembatan silaturahim. Tapi kita hanyalah mengemukakan sifat kemanusiaan pribadi sendiri yang berbeda dengan pribadi lain.

Justru terkadang konflik perlu dilahirkan dengan sengaja, agar terbuka forum berbicara di sana. Agar manusia bisa memahami manusia lain yang tidak mungkin sama dengannya. Agar manusia belajar mengkonstruksikan jembatan perbedaan. Agar manusia memahami makna toleransi. Dalam beberapa kasus, justru orang-orang menjadi bangkit dari kursi malasnya, terbangun dari tidur sorenya, dan mengaktualisasikan potensinya ketika sang konflik muncul.

Ahh, tapi terkadang tetap saja konflik hal yang menakutkan. Orang-orang mungkin sengaja menghindarinya jauh-jauh karena ketakutan posisinya terancam. Ketakutan penghasilannya dikurangi. Ketakutan dipecat dari jabatan. Ketakutan ia dan keluarganya tidak bisa lagi makan enak. Ketakutan tidak bisa lagi tidur-tiduran di ranjang. Ketakutan…….

Advertisements
Categories: gagasan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: