Kekuatan Persamaan

Untuk pertama kalianya ketiga sosok raksasa—mungkin ini gambaran yang tepat untuk mereka di saat itu—bertemu bersama secara langsung. Seorang dari mereka, Presiden Franklin D. Roosevelt, amat menginginkan pertemuan itu terjadi. Karena itulah, konferensi tersebut dilaksanakan di tempat yang cukup nyaman bagi Stalin, yaitu kedutaan Uni Soviet di Teheran. Demi pertemuan ini, orang nomor satu di Uni Soviet rela naik pesawat—ini merupakan penerbangan satu-satunya bagi Stalin yang takut untuk terbang. Inggris sedikit geger. Perdana Menteri Churcill sempat meminta diadakan persiapan khusus untuk berkompromi dengan Stalin di Cairo, walaupun tidak berjalan sesuai harapan.

Pada akhirnya, perundingan selama empat hari tersebut berjalan tanpa kendala berarti. USSR bersedia untuk melakukan kerja sama militer sepenuhnya dengan AS dan Inggris. “Operasi Neptunus” meletus di Normandy, Perancis. Hasil pun ditentukan oleh 24.000 pasukan terjun payung dan 160.000 tentara amfibi—ini disebutkan sebagai invasi amfibi terbesar dalam sejarah—yang mendarat di lima sektor pantai Normandy.

Hasil perang telah tertentukan. Pada April 1945, tentara Jerman yang gagah perkasa itu kewalahan menghadang pasukan Soviet di Timur dan Sekutu Barat di Barat. Di akhir April, kota Berlin jatuh, Hitler mengakhiri hidupnya bersama sang istri, dan Nazi menyerah pada awal Mei.  Bendera palu dan arit berkibar di ibukota Jerman, dan berakhirlah Perang Dunia II, suatu momen sejarah yang hingga kini masih asyik untuk disimak.

Ketika di Iran, Stalin sempat curiga bahwa Roosevelt dan Churchill akan berdamai dengan sang Fuhrer. Sebenarnya ia khawatir, karena tahu, akan sangat sulit berhadapan dengan kekuatan kubu Axis sendirian. Tidak, ia tidak bisa sendiri di perang ini. Harus ada kombinasi kekuatan yang besar, jauh lebih besar ketimbang kekuatan musuh sendiri, agar kemenangan yang mutlak menjadi bagian dari catatan sejarah.

Tapi bagaimana? Kita pun, jika hidup di tahun ketegangan itu, juga akan menuliskan tanda tanya yang besar. Joseph Vissarionovich Stalin adalah kaisar negara komunis raksasa, pengikut Marxisme, dan penerus Lenin. Sedangkan Franklin Delano Roosevelt adalah presiden Amerika Serikat, negeri penganut ajaran nabi kapitalisme, Adam Smith. Dan Sir Winston Leonard Spencer-Churchill serta Inggris merupakan sekutu setia AS. Kapitalisme dan Komunisme—yang sedang dalam masa jayanya—tidak mungkin bersatu di kala itu. Meraka bagai langit dan bumi, awan dan ombak.

Meskipun demikian, sejarah tetap menuliskan kisah kekalahan Nazi dan kemenangan Sekutu. Timur dan Barat bersatu. Apakah karena mereka telah terhapusnya berbagai perbedaan dalam diri mereka?

Ternyata tidak. Timur tetap dengan sosialismenya, dan Barat tetap dengan budaya royalnya. Mereka memiliki perbedaan yang besar, tapi juga terdapat persamaan yang besar. Kala itu, perbedaan tidak ditiadakan. Kegagahan perbedaan dikesampingkan oleh persamaan, yang semula mungkin agak kecil, tapi mereka besarkan bersama-sama.

“Tanpa produksi Amerika, PBB tidak akan pernah memenangkan perang,” begitu pendapat Stalin tentang saingannya. Pada Pertemuan Makan Malam Tripartite, Churcill menganugerahkan “Pedang Stalingrad” sebagai hadiah kemenangan Soviet di Stalingrad. Stalin pun bersulang, “Untuk teman seperjuangan saya, Winston Churchill.” Dan hal yang sama diberikan kepada Roosevelt. Tergambar dalam foto mereka sedang duduk bersebelahan, seperti pensiunan tentara yang sedang duduk santai bersama secangkir teh mengenang masa dinas.

Adalah kejadian-kejadian yang ganjil di antara penguasa dengan haluan yang bertolak belakang. Mungkin “pertemanan” di atas takkan pernah terjadi jika tidak ada Hitler, jika tidak ada Nazi, jika tidak ada Perang Dunia II. Perkataan “cara termudah membuat persatuan adalah dengan membuat musuh bersama” tampaknya sangat jitu menggambarkan kondisi ini. Ini semua karena ada sesuatu yang membuat mereka bergerak bersama-sama, yaitu persamaan—dalam hal ini adalah musuh yang sama.

Walaupun, “pertemanan” Tiga Kekuatan ini bukanlah yang kekal, karena pena mereka diisi oleh tinta kepentingan. Gelombang Perang Dingin begitu dahsyatnya hingga berkibarlah perlombaan senjata nuklir. Jerman pecah menjadi Timur dan Barat, tarik-menarik terus menggerogoti rakyat, hingga Tembok Berlin runtuh di 1990.

Sehebatt inikah kekuatan yang dihasilkan oleh persamaan? Jika memang demikian, apakah ada alasan bagi kita untuk saling berpolar dalam jurang perbedaan?

Seperti antardirektur perusahaan yang saling bersaing dalam produk mereka. Ada yang berusaha habis-habisan agar ia selalu menjadi nomor satu, sehingga menjatuhkan saingan adalah hal yang mutlak. Tapi ada juga bos perusahaan besar yang duduk dalam satu meja makan dengan rival besarnya di malam minggu. Kadang bersama istri dan anak-anak, di sana mereka makan makanan yang enak, minum minuman yang lezat, dan beradu humor.

Mengapa bisa demikian? Tahulah mereka memiliki perbedaan, tapi juga ada persamaan aksiomatis yang mereka pahami bersama: bahwa kerja keras dilakukan agar hidup mereka terjamin, bisa memberi makan enak dan baju bagus untuk istri, dan menyekolahkan anak hingga ke jenjang tertinggi. Mereka memandang satu sama lain sebagai lawan bukan musuh. Dan tujuan berbisnis dengan progresif bukanlah untuk membuat saingan jatuh hingga melarat.

Kerumitan pun seharusnya bisa dihindari jika para selebriti politik mengerti bahwa lebih banyak persamaan di antara mereka. Penulis yakin politik praktis mereka memiliki tujuan yang luhur: Indonesia sejahtera. Beda memang jika tujuannya bukanlah demikian, melainkan aktualisasi diri atau kepentingan pribadi atau kekuasaan dan pengaruh.

Ohh…kekuasaan. Berapa banyakkah jurus kebohongan diluncurkan demi kekuasaan? Berapa banyakkah uang haram dihamburkan demi kekuasaan? Berapa banyakkah palu hakim salah ketok demi kekuasaan? Berapa banyakkah darah merembes demi kekuasaan? Berapa banyakkah….?

Lalu, bagaimana dengan umat Islam? Ah, ya, mungkin perbedaan yang ada terlalu kompleks sehingga persatuan seperti garis horizon yang amat jauh—kompleksitas yang kita buat sendiri. Atau mungkin kita sendiri menafikan tujuan besar yang hakikatnya sama. Atau terlalu jarang kita mempelajari Al Quran, yang di sana disebutkan bahwa persaudaraan adalah karunia Allah.

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Al Anfaal: 63)

Advertisements
Categories: gagasan | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: