Joan Baez Bernyanyi, “We Shall Overcome”

Seorang gadis ramping berdiri bersama gitar. Ia di sana bersama rambut hitamnya, di hadapan hingga 200 ribu manusia. Beberapa mikrofon berebutan ke arah bibirnya, menyambut mulutnya yang mulai terbuka lebar. Jemari pun berayun dalam senar-senar gitar, dan dengan suara vibrato, lambat dan sedih, tapi menghanyutkan, ia pun bernyanyi:

We shall overcome, we shall overcome

We shall overcome, someday

O, deep in my heart, I do believe

We shall overcome, someday

 

We walk hand in hand, we walk hand in hand

We walk hand in hand, someday

O, deep in my heart, I do believe

We shall overcome, someday

 

We are not afraid, we are not afraid

We are not afraid today

O, deep in my heart, i do believe

We shall overcome someday

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata-kata yang terurai dalam nyanyian Joan Baez pun memimpin massa, yang terdiri dari 75-80% keturunan Afrika, dan sisanya kaum kulit putih dan minoritas lain. Mereka berbaris di hari Rabu, 28 Agustus 1963, dalam aksi bersejarah di Washington. Hadir pula Bapak persamaan hak Amerika, Martin Luther King, Jr., di Monumen Peringatan Lincoln. Orang-orang pun bergemuruh setelah Bapak itu menyampaikan pidato legendarisnya: “I Have a Dream”.

“Aku memiliki mimpi hari ini! Aku memiliki mimpi hari ini!” serunya. “Akhirnya bebas! Akhirnya bebas! Terima kasih Tuhan Yang Mahakuasa! Akhirnya kita bebas!”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata-kata itu seakan menjadi ruh bagi orang-orang negro—yang di kala itu menjadi objek penindasan dan ketidakadilan. Kemudian, We Shall Overcome pun menjadi lagu kebangsaannya. Jika ada penindasan hak sipil, jika ada protes menuntut hak persamaan, jika lahir ketidakadilan, lagu ini lah terjelma sebagai sound track momen-momen perjuangan.

Asal mula di tahun 1900, lirik-lirik ini bagian dari lagu gereja: “I’ll overcome someday”, hingga akhirnya melebar dalam adaptasi. Dalam momen March on Washington for Jobs and Freedom, kata-kata itu terdengar syahdu dalam aliran nada Joan Baez—saat itu ia berusia 22 tahun. Pada 1965, orang nomor satu AS saat itu, Lyndon Johnson, bersumpah untuk memperjuangkan persamaan hak pilih, dengan janji terakhirnya: “We shall overcome”. Juga, mungkin lagu itu merekatkan kembali generasi terdahulu dengan memori “Minggu Berdarah”—di sebuah 1972, Irlandia Utara—yang menghasilkan tetesan darah 26 pejuang hak sipil oleh prajurit Inggris.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Afrika Selatan pun tidak mau ketinggalan, di saat gerakan anti-apartheid membahana pada tahun 1993, sebagai Voice of Peace. Atau di masa komunisme menunjukkan kecacatannya: Uni Soviet pecah—meski di tahun itu belum “formal”—dan mahasiswa Cekoslovakia meluncurkan sebuah “Revolusi Damai”, atau lebih dikenal sebagai Velvet Revolution, akhir 1989. Atau saat Joan Baez bertanya dalam suaranya yang sayu: “Apa yang terjadi pada hujan?”, di kala itu: bom-bom AS berjatuhan—bagai hujan—di Vietnam.

 

 

 

 

 

 

 

 

Apakah pengaruh sebuah lagu dalam revolusi? Adakah pidato “Aku memiliki mimpi!” King membawa perubahan?

Perjuangan memang manis dikunyah dalam kenangan atau catatan-catan sejarah, tapi amat pahit dalam peristiwanya. King dibunuh pada 1968, setelah ia menggunakan “we shall overcome” untuk terakhir kalinya. Joan Baez harus menetap di tahanan lebih dari sebulan saat ia menunjukkan ketidaksepakatannya dengan perang Vietnam. Juga, tentu saja, volume-volume darah yang tak pernah ditimbang oleh sejarawan dalam tiap revolusi.

Tapi, kepahitan bukanlah sifat yang kekal. Kini kita tak asing dengan orang-orang negro di AS yang memamerkan kekayaannya. Kisah kediktatoran Soviet dengan penjara-penjara suramnya pun telah berakhir. Tidak terdengar lagi berita perseteruan antara Irlandia dan Inggris. Dan Vietnam telah menemukan “kebebasannya”—meski tidak semua rakyatnya merasa bebas dengan “kebebasan” tersebut.

Kedamaian, ketenangan, ketentraman, berakhirkah revolusi? Ternyata tidak. Meski penulis sendiri sedang duduk-duduk santai menikmati air jeruk dalam “kedamaian, ketenangan, ketentraman”, tapi di sana, di sana, dan di sana, revolusi masih melanjutkan ceritanya.

Dan cerita pun berulang: revolusi seakan menuntut darah untuk mengucur. Seakan suatu syarat wajib, bukan? Kebebasan kaum negro pun takkan didapat tanpa darah Martin Luther King, kemerdekaan Indonesia hanya mimpi jika para pahlawan terlalu takut untuk mengorbankan darah mereka, dan para pemuda Palestina rela mengalirkan habis darah mereka demi kemerdekaan di dunia—juga akhirat.

Sedikit menakutkan memang, tapi tidak perlu takut ketika kelak Ia—Yang Menghidupkan dan Mematikan kita—bertanya untuk apa darah dikucurkan, jika yang kita perjuangkan adalah kebenaran. InsyaAllah.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Al Baqarah: 30)

Advertisements
Categories: gagasan | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Joan Baez Bernyanyi, “We Shall Overcome”

  1. Aji mas zam-zam

    Saya sangat trimakasih atas cerita diatas🙏🙏🙏🙏🙏🙏
    Isaya menjadi terharu dengan yang telah anda ceritakan😢😢😭😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: