Robinhood Indonesia

h a r u – b i r u

 

kehidupan adalah perlawanan tanpa penyesalan

kesalahan hanyalah lawan kata kebenaran

selanjutnya engkau pasti tahu

 

tahun 1976 ku bertobat

semua yang ada tak selalu terlihat

jarak antar saat begitu dekat

situasilah yang memaksa dan membuat

 

kuberlari, rindukan terang

pada pekat malam kuterjang

serpihan paku, kaca dan kawat berduri

bulan tak peduli, turuti kata hati

hati menderu-deru, belenggu memburu

beradu cepat dengan peluru

 

……

Begitu tulis seorang narapidana tahun 1980, ketika ia menunggu ajalnya dalam hukuman tembak. Terlihat, barisan-barisan kata yang bernada penyesalan, atau kenangan akan masa lalunya, atau mungkin ketakutannya menghadapi eksekusi mati.

Adalah Kusni Kasdut, sang penjahat legendaris Indonesia tahun 70-an.

Lahir di keluarga miskin di Blitar, ia terkenal akan aksi pencurian dan pembunuhannya. Kasus yang paling banyak dikenang adalah pada tanggal 31 Mei 1961, ketika ia membawa jeep dan berseragam polisi palsu ke Museum Nasional Jakarta. Layaknya cerita film, ia dan rekannya, Bir Ali—nama aslinya Mohamad Ali, disebut demikian karena ia senang menenggak bir—menyandera para pengunjung dan mendaratkan peluru ke tubuh petugas museum hingga mati. Mereka pun lari bersama 11 permata.

Mungkin masih ada pula kaum tua yang mengenang cerita, ketika Kusni Kasdut menembakkan peluru dari jeepnya. Tewas pulalah Ali Bajened, seorang pengusaha sukses dan kaya raya keturunan Arab, demi tujuan perampokan di tahun 1960-an.

Kejahatannya berlangsung antara tahun 1950-1980, dan selama itulah ia keluar masuk penjara.

“Manusia tidak berhak mencabut nyawa orang dan nafsu tidak bisa dibendung dengan ancaman,” kata Sudarto—penasihat hukum Kusni—ketika palu vonis hukuman mati diketuk. Mendengar itu, grasi pun dimohonkan, tapi tidak sampai di situ. Sang penjahat kakap sempat kabur, untuk kemudian ditangkap kembali dan keputusan hakim pun tak lagi dapat ditolak.

Kusni Kasdut dianugerahi julukan penghormatan sebagai “Robin Hood” Indonesia, karena sering hasil rampokan ia bagikan kepada kaum miskin.

 

kusadari hidupku hanya menunggu

suara 12 senapan dalam satu letupan

satu aba – aba pada satu sasaran

y a i t u a j a l k u . . .

 

Itulah lirik terakhir puisinya, yang mengantarkannya kepada pengakhiran hidupnya di sebuah Februari, tanggal 16 tahun 1980.

Kisah penjahat yang bernama asli Waluyo ini terekam dengan baik dalam sebuah novel biografi. Benarlah cita-citanya. “Karena aku mau membikin sebuah legenda, Kusno,” katanya saat kabur dari bui. “…negeri ini telah lama menunggu sebuah legenda baru.” Jadilah ia legenda, hingga di bulan Juli tahun 2011 ini masih ada mahasiswa yang menulis tentangnya.

Novel biografinya bercerita tentang aksi kejahatan bercampur cerita perjuangan kemerdekaan. Ya, itulah dia: Waluyo sang mantan TKR, pejuang di masa ’45.

Pun setelah berkibar merah putih dengan perkasa, tumbuh keinginan penguasa untuk menciptakan tentara yang profesional: pengurangan jumlah hingga banyak yang di-PHK. Dan sang legenda adalah satu dari sekian orang yang tidak beruntung. Lalu setelah itu bagaimana nasibnya? Para penguasa tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu. Jalan yang legam pun dipilihnya, terdorong oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi, hingga manusia ini menjadi penjahat nomor satu di masa tersebut.

Masih kisah ini berulang, zamanlah yang menceritakannya. Berapakah jumlah pensiunan tentara yang tergusur dari rumah dinasnya, yang telah ditempati sekian tahun olehnya dan keluarga? Apa daya, para tentara muda pun mengusir senior yang telah selesai masa dinasnya. Tapi para junior ini kemudian pulang, berbaring dengan mata berkaca, karena mereka tahu, yah, mereka tahu, kelak mereka pun akan diusir oleh para junior mereka.

Adalah Robin Hood, merasakan ketidakadilan dan ingin membagikan “rejeki”nya kepada mereka yang bernasib sama. Alasan ia ingin menjadi legenda, mungkin untuk mengajarkan kepada kaum muda tentang kondisi negeri ini—yang masih kita rasakan.

Mungkin kejahatan adalah aktivitas manusia yang sangat kuno, dimulai dari pembunuhan Habil oleh Qabil. Begitu kita keluar dari pintu rumah, atau ketika malam menyapa, kecemasan pun menghampiri, memohon perlindungan dari para penjahat. Mengapa ada kejahatan? Mengapa ada penjahat? Lalu, di antara sekian bajingan yang ada di negeri ini, berapakah yang terpaksa menuruti jalan setan demi menyuapi dirinya, istrinya, dan anak-anaknya?

Bila kita bertanya: mengapa ada mereka yang sulit mencari makan? Mengapa ada mereka yang miskin? Mungkin pertanyaan tersebut lebih bersifat retoris, sehingga saya lebih memilih bertanya: mengapa mereka yang dalam kondisi sulit memilih jalan hitam nan kelam untuk mengisi perut mereka juga keluarga?

Tidak sampaikah kepada mereka ayat Allah: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”? Atau tak pernahkah ada cerita Muhammad—manusia mulia yang begitu dipuja-puja itu—mengganjal perutnya dengan batu karena kelaparan? Atau sahabat-sahabatnya yang makan siangnya berupa dedaunan karena diembargo? Atau Bilal yang ditindih dengan batu besar di bawah terik matahari nan panas? Atau keluarga Ali yang menyerahkan roti satu-satunya sebagai menu makan malam kepada orang miskin? Tidak adakah satu pun orang bergelar ulama menceritakan ini semua?

Atau, mereka sebenarnya sudah tahu, tapi lebih memilih untuk menyerah kepada keadaan? Aahh, mudah bagiku mengatakan demikian. Bukanlah saya yang keluar rumah pagi-pagi untuk mencari peruntungan di luar. Bukanlah saya yang terkatung-katung di tengah jalan tanpa ada yang memerhatikan. Bukanlah saya yang bertanya-tanya apakah masih bisa makan atau tidak. Bukanlah saya yang menangis di dalam rumah melihat anak berteriak-teriak karena kelaparan.

Meski begitu, menjelang kematiannya, Kusni Kasdut berpesan kepada anaknya, “Jangan kau ikuti jejak ayahmu ini.”

 

Perampok sekaligus pembunuh terkenal ini meminta generasi selanjutnya untuk tidak menyerah pada keadaan.

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: