Monthly Archives: July 2011

#KKNM: Peristiwa Subuh

Kelopak mata sesungguhnya amat berat bagaikan bola besi. Namun, ada berbagai sebab yang membuatnya untuk segera terbuka. Apakah alarm yang begitu berisiknya—baik alarm sendiri maupun alarm orang lain—, suhu yang dingin, atau perasaan berdosa.

Ruangan yang gelap dan berwarna hitam, juga keheningan, itulah segala yang menyambut. Seketika itu juga terkirim sinyal ke otak dan hati: sinyal kecemasan dan ketidaktenangan. Lahirlah itu semua karena di sisi kanan, sedikit cahaya agaknya terasa. Langit bukan gelap seperti yang diharapkan; waktu sudahlah bukan subuh, atau berada di detik-detik subuh terakhir.

Apakah yang membuat manusia begitu lelahnya dalam kelelapan? Tidakkah terdengar suara panggilan Tuhan, yang terkumandangkan berkali-kali? Adakah sound system masjid mutunya rendah, atau lubang telinga telah tersumbat?

Tapi penyesalan tidak sampai di sana: ternyata si tukang telat itu adalah orang yang paling pertama bangun. Di kiri-kanan, juga depan-belakang atau serong kiri-serong kanan, terlihat kawan-kawannya masih terkapar. Ia pun merunduk, merenungi gelap, dan juga merenungi kesunyian di waktu yang mulai terang.

Bagaimana suasana hati? Masih tersisakah rasa bersalah dan juga berdosa? Jika ada, setidaknya hati belum ternodai sepenuhnya, belum sekeras batu granit. Walau, kecemasannya bertambah, ketika mengingat hari-hari kemarin: kawan-kawannya tidak menunjukkan muka menyesal sama sekali meski matahari telah naik.

Ayo, bangun! Ini sudah kelewat subuh. Sekarang sudah jam 5, atau jam setengah 6, atau bahkan jam 6! Waktunya salat subuh, meskipun telah terlambat. Jika dosen seringkali ngamuk dan mengusir mahasiswa yang telat, marilah berharap Tuhan masih menerima kita yang berkali-kali terlambat—terlambat setengah bahkan satu jam.

Sebenarnya mereka sudah menangkap roh kesadaran. Gelombang otak sedikitnya telah mengalir kembali dari dunia mimpi, mengirim impuls saraf ke otot lidah dan mulut untuk berkata, “Iya, iya.” “Nanti, nanti.” “Hmm, hmm.” Tapi tampaknya otak segan, atau tidak berani, menggerakkan otot kelopak mata. Apalah lagi membangunkan tubuh yang sepertinya teramat kelelahan setelah seharian beraktivitas: memberi penyuluhan, ke balai desa, silaturahim ke puskesmas, beli-beli barang, mempersiapkan games untuk anak-anak, dan juga main kartu gapleh atau nonton film horor hingga lewat tengah malam.

Jika pintu depan dibuka, langit memang memberi tahu bahwa sudah ada merah dalam dirinya. Mungkin ia tertawa atau kasihan dengan seorang pecundang yang duduk di teras sendiri, diam, dan menunduk. Tapi langit bukanlah untuk memberi belas kasih kepada manusia, dan ia pun mulai mengeluarkan matahari dari sembunyinya.

Beginikah peristiwa di subuh hari? Setiap harinya, setiap paginya? Teruskah langit memandang rendah seorang pecundang? Apa yang salah di sini? Muadzin yang terlalu pelan berkumandang? Sound system yang butut? Letak rumah yang tidak dekat?

Tapi ternyata bukanlah hanya terjadi pada subuh. Memang, manusia adalah makhluk yang paling tidak mengerti cara bersyukur. Setelah matahari tergelincir, kembalilah Tuhan memanggil. “Salat, yok!” seseorang tiba-tiba memberi ajakan yang tidak bermutu.

“Nanti, nanti,” sebuah jawaban terdengar. “Sok, sok.” “Duluan, duluan.”

Ketika bayangan tubuh sedikit lebih panjang, terdengar suara payah yang sama, ”Salat yok!”

“Nanti, nanti.” “Sok, sok.” “Duluan, duluan.”

Suara-suara yang sama terdengar lagi saat matahari—kalau matahari punya gigi pastilah ia terbahak-bahak—terbenam, dan juga waktu garis merah tidak tampak lagi di langit.

Memang, manusia adalah makhluk yang paling tidak mengerti cara bersyukur. Atau, kita masih menganggap Tuhan tidak adil; merasa nikmat yang kita terima terlalu sedikit; merasa orang lain diberi kelebihan dan bakat yang jauh lebih hebat; merasa Ia pelit dalam soal rezeki. Atau kita yang pintar dan jagoan ini sudah tidak butuh Tuhan lagi, sehigga ketika Ia memanggil kita tidak acuh?

Kondisi lingkungan berpengaruh terhadap sudut pandang seseorang tentang syukur. Tapi ini bukan urusan kota atau desa. Saat seorang mahasiswa KKNM lewat, kemudian ditanya oleh penduduk desa mau ke mana, dan dijawab mau ke masjid; penduduk desa seperti heran, “Ke masjid?” Hal yang lebih menakjubkan lagi adalah jarak masjid relatif amat dekat dan hanya beberapa langkah kaki. Namun, di saat azan sudah berkumandang, tidak terlihat warga menggegaskan diri untuk berangkat. Mereka pun memberi senyuman melihat tamu asing yang berjalan menuju masjid.

Kejadian sedikit berbeda di waktu magrib hari Kamis, terutama di malam nisfu sya’ban tanggal 16 Juli kemarin. Bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan juga bocah-bocah sibuk dengan sarung atau mukena dan sajadah. Masjid pun lebih ramai dari biasanya.

Kenapa hanya di malam Jumat atau malam nisfu sya’ban saja? Apakah masjid didirikan hanya untuk waktu-waktu tersebut? Apa memang Muhammad saw. sangat menganjurkan memenuhi masjid di malam Jumat, tapi tidak pada hari-hari lain?

Atau, coba kita bertanya kepada mereka, kenapa mereka yasinan di malam kamis dan malam nisfu sya’ban. Mungkin tidak banyak yang bisa menerangkan hadisnya—hadis dhoif/lemah tentang nisfu sya’ban—dan sisanya akan bingung. Adakah hadis tentang yasinan? Adakah Rasulullah saw. mencontohkan zikir mengucapkan tahlil berkali-kali sambil goyang kepala? Memang adakah dalil yang menyebutkan bahwa berkunjung ke makam wali akan menyuburkan rejeki? Pernahkah meraka atau kita bertanya-tanya tentang ini?

Mungkin memang sudah terlanjur, bahwa kita adalah bangsa yang senang manggut-manggut. Jika orang pintar, atau orang yang dituakan, atau orang yang berjanggut dan bersorban putih berbicara ini itu, maka mutlaklah mesti ini itu. Tidak usahlah repot bertanya-tanya, ini yang ngomong orang pinter loh, seorang kiyai, seorang haji. Perlahan, kegiatan ibadah tidak lagi dimengerti makna dan ruhnya, tidak lagi menambah atau memperkuat iman, tapi sekedar menjalankan tradisi.

Tapi langit bukanlah untuk memberi belas kasih kepada manusia. Seolah tak sabar, waktu subuh pun berlalu dengan sangat-amat-terlalu cepat. Kemudian ia pun menertawakan lagi seorang pecundang yang bermuka menyedihkan, membuka pintu depan rumah dan merenung. Agaknya ia ingat, ketika saudara-saudaranya di Palestina dibom habis. Memang tidak sulit bagi Israel untuk membantai warga Gaza yang muda dan berbahaya: cukup bom masjid di waktu subuh, karena di waktu itulah mereka berbondong-bondong salat berjamaah.

 

Tabur berbunyi gemparkan alam sunyi, berkumandang suara azan.

Mendayung memecah sepi, selang-seling sahutan ayam.

Tetapi insan kalaupun ada hanya, mata yang kantuk dipejam lagi.

Hatinya penuh benci, berdengkurlah kembali,

Begitulah perstiwa di subuh hari.

Suara insan, di alam mimpi.

 

Tabur berbunyi gemparkan alam sunyi, berkumandang suara azan.

Mendayung memecah sepi, selang-seling sahutan ayam.

Ayo bangunlah! Tunaikan perintah Allah, sujud mengharap ampunanNya.

Bersyukurlah! Bangkitlah segera! Moga mendapat, keridoanNya.

Begitulah peristiwa di subuh hari.

Setiap hari, setiap pagi….

Categories: merenung | 1 Comment

#KKNM: Bocah

Burung berwarna coklat terbang dengan ringan. Satu kepak, dua kepak, tiga kepak ia lakukan, menelusuri angin yang menabrak. Sesekali ia berhenti, hinggap di dahan pohon, atau tiang listrik, atau di mana pun untuk bernyanyi memamerkan suaranya. Sinar matahari yang terbit dengan malu-malu seakan menyediakan panggung untuk konsernya. Selesai, kemudian ia berpaling, menengok sana-sini.

Sebuah rumah terlihat, di bagian depannya terbentang kain putih bertuliskan “KKNM-PPMD Integratif”. Hanya terlihat satu orang di teras, sedang duduk melihat-lihat langit pagi yang masih agak gelap. Bagian dalam rumah tidak terlihat, menyembunyikan beberapa orang yang masih terlelap dalam kegelapan. Ia melihat ke depan, ke rumah sederhana; di depannya terlihat anak kecil sedang mondar-mandir. Mungkin bocah itu tidak tahu mau ke mana, tapi ia menyengir tanpa bertanya-tanya.

Kemudian, sang burung pun melanjutkan terbangnya. Matahari mulai berani, dan langit memberi warna emas pada tumbuhan padi yang sebentar lagi dewasa. Terlihat seorang nenek berjalan pelan, membawa karung putih. Laki-laki berbaju putih membawa tangki berisi air di punggungnya, dan seekor anjing—Polang namanya—berlari-lari kegirangan bersama kekasihnya di atas sawah kering. Juga beberapa bocah, ada yang berjalan dengan pelannya, ada yang duduk di pinggiran sawah, ada juga yang sedang mengendarai motor mengangkut temannya.

Teman kita yang berwarna coklat tidak lagi mengepak; ia membentangkan sayapnya lebar-lebar, mengambil nafas. Barangkali di sela-sela istirahatnya ia sedang berpikir: apakah nasib yang sedang dibawa oleh bocah-bocah ini? Otak kecilnya tidak bisa menjawab, dan ia terus saja terbang melintasi bocah-bocah yang tertawa, mengepak kembali.

Jika saja burung itu berputar-putar terus di area sana setiap hari, mungkin ia akan mengenal setiap anak-anak yang nyengir tanpa henti-hetinya. Dan di desa itu, aktivitas para bocah tidaklah banyak. Mereka berdiri, atau duduk, atau berlari sambil membawa layangan berwarna putih. Atau naik sepeda kecil sambil memamerkan lukisan di layang-layangnya kepada mahasiswa KKN.

Di pagi hari, jika tidak sekolah—tanggal 4-16 Juli adalah waktu libur sekolah—, bocah-bocah itu mengikuti aktivitas ibunya yang tidak bekerja: nongkrong di teras rumah. Kadang jajanan rumbah (makanan seperti pecel) seharga 2000 ikut diembat. Yang lebih kecil memanyunkan bibirnya, menantang ayam yang hendak mencuri gabah yang sedang dijemur. Saat matahari sedikit naik, raket bulutangkis dikeluarkan. Siang hari, mereka hanya di rumah, atau berjalan dengan kawan, atau keliling-keliling saja tanpa tujuan pasti.

Agak sore, beberapa bocah itu mendekati pagar rumah dan bertanya, “Jakanya mana?” Kawan saya yang mereka cari itu memang favorit anak-anak. Ia ikut menggerakkan tangannya ketika anak-anak berteriak, “Hom pim pa alaium gambreng!” Ia ikut menendang bola dan pasir ke arah gawang kecil yang dijaga. Ia pun pandai melawak, dan bukan kawan kelompok KKNnya saja yang ia buat tertawa. Jika ia mengembangkan bakatnya, saya rasa anak-anak di sana pun bisa ngakak sampai berguling-guling.

Saya bukanlah orang yang senang layang-layang, karena benagnya tipis dan berbahaya—sebenarnya karena tidak bisa menerbangkannya. Dua atau tiga mahasiswa KKNM kadang-kadang suka pergi ke sawah, hanya untuk diambil layang-layangnya oleh bocah-bocah dan akhirnya rusak karena talinya putus atau basah. Pada hari-hari tertentu, terlihat mereka asik mengernyitkan mata ke langit, fokus pada titik putih yang tersambung dengan benang di tangan mereka.

Polos, lugu, lucu, dan tanpa dosa? Kira-kira itulah kata-kata sifat yang terpikir oleh kita saat membayangkan anak kecil. Mungkin benar, tapi mungkin juga tidak. Barangkali lebih tepat jika menyebut mereka sebagai kertas HVS yang telah tercorat-coret oleh berbagai tinta. Warnanya bermacam-macam, juga ketebalannya. Ada yang begitu mudah dihapus, ada pula yang bersifat permanen.

Apa yang membuat seorang bocah mendapat coretan tinta merah, biru, atau hijau? Apa pula yang membuatnya tercoret dengan rapih dan teratur atau abstrak dan berantakan? Kadang, nasib seorang anak dapat terperkirakan, atau sudah tertentukan, dari lingkungan ia lahir. Orang tua yang brengsek akan menurunkan kebrengsekannya kepada keturunannya. Ayah yang mempertaruhkan hidupnya untuk mencuri akan menanamkan pengertian kepada anak bahwa tindakan itu adalah kepahlawanan. Ibu yang berpikir bahwa anaknya kan menjadi babu karena keluarganya adalah babu semua, pun telah menuliskan nasib ke jiwa sang anak.

Ini baru tinta yang berasal dari orang tua, yang sering kali kalah ketebalannya oleh tinta sekitarnya—terutama pergaulan. Lingkungan seperti apa yang kini terus mewarnai anak-anak? Lagu-lagu cinta? Goyangan penyanyi dangdut? Air mata artis sinetron? Kata-kata seperti “anjing” dan “goblok”? Tayangan pemuas birahi yang menyebar dari hp ke hp?

Bocah-bocah di tempat saya KKNM bermain gapleh dan kartu dengan sombongnya di teras rumah. Kata-kata yang tidak menyenangkan telinga adalah bahasa sehari-hari. Seorang kawan kelompok KKNM, mahasiswa asal Malaysia keturunan Cina, diseru oleh anak-anak di sana, “Miyabi! Miyabi!”

Di sisi lain, seorang bocah, yang baru mengikuti hari pertama orientasi SMP Negeri 1, menjadi pemandu saya di area wisata Citumang—wana wisata body rafting di daerah Citumang, dekat desa Cibenda, dikelola oleh Perhutani dan karang taruna setempat. Ia berbicara dengan sopan dan lancar, bahasanya baik, dan kata-katanya bergaya ala anak berpendidikan di kota. Sepanjang perjalanan diceritakanlah rasa semangatnya dengan acara orinteasi di hari-hari berikutnya, yang berupa bakti sosial, senam kesehatan, dan perkemahan. Terlalu dini untuk menarik kesimpulan, tetapi setidaknya kesan yang diberikan oleh Yoga berbeda dibanding dengan bocah-bocah lain.

Jika memang mereka adalah kertas putih yang siap menerima coretan abstrak atau lukisan indah, tidak adilkah dunia? Apakah anak-anak, yang kemampuannya baru sebatas menerima bukan menolak, hanyalah korban pendidikan orang tua dan lingkungan? Mungkin tidak. Sering kita melihat setitik cahaya, yang bersinar terang dan makin lama makin terang, di tengah-tengah lingkaran suram.

Seiring pertambahan usia, otak manusia makin bekerja dan tumbuhlah kemampuan untuk berpikir, memilah mana yang benar dan salah, baik dan buruk. Hanya saja sayangnya, walau manusia dianugerahkan otak yang—katanya—lebih dahsyat kapasitasnya dibanding komputer paling canggih di dunia, tidak semua mengerti bagaimana menggunakannya. Bodohkah mereka? Yah, lebih baik jika pertanyaan itu ditujukan kepada diri sendiri.

Bicara tentang keadilan, setidaknya semua di sini masih mendapatkannya, dibanding dengan yang di ujung dunia sana—tempat seorang bocah duduk sendirian, lemas, merunduk, dan di belakangnya seekor burung pemakan bangkai tengah menunggu.

Categories: merenung | Leave a comment

#KKNM: Evaluasi Malam

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah, Tuhan yang menganugerahkan matahari yang memberi penerangan, sehingga manusia tak perlu senter untuk pergi bekerja. Puji syukur pula terang matahari tidak abadi; ia bersinar dengan perkasa di siang, dan bersembunyi pada malam. Datanglah waktu malam sebagai pakaian, istirahat, dan juga introspeksi atas seharian yang telah dikerjakan.

Begitulah: tiap malam kelompok KKNM mengadakan evaluasi atas apa yang sudah dilaksanakan di hari itu. Sekitar 20 orang berkumpul, membentuk lingkaran, kemudian membicarakan apa yang sudah dan apa yang akan dikerjakan. Entah apakah setiap kelompok KKNM mengadakan pertemuan tiap malam, tapi itulah yang menjadi agenda rutin kelompok saya.

“Evaluasi malam ini pertahankan aja,” kata seseorang pada suatu malam. “Dengan ini kita jadi bisa mengevaluasi bareng-bareng yang telah terlaksana hari ini. Juga kita bisa tahu apa yang sudah dikerjakan oleh yang lain.”

Memang tidak selalu ada kegiatan khusus dalam hari-hari KKNM. Ada hari yang memang seharian kosong selain makan dan tidur. Kalau ada kegiatan pun, seperti anak sekolah dasar, sudah selesai sebelum zuhur atau paling lama hingga jam 14. Dalam satu hari ada beberapa yang harus dikerjakan, sehingga dibentuk beberapa grup agar bisa diselesaikan dalam satu waktu. Yang tidak punya tugas khusus—biasanya yang mendapat giliran piket—duduk di rumah berjaga sambil minum teh hangat.

Topik pembicaraan pada kumpul malam tak banyak berubah: laporan aktivitas tiap grup dan rencana untuk masa depan. Ada hal yang cukup luar biasa di sini, yang jarang dilakukan oleh evaluasi–evaluasi lainnya, yaitu dilakukan setiap hari, setiap malam. Jarak yang dekat, bukan, tepatnya tinggal di tempat yang sama (satu rumah atau dua rumah yang bersebelahan) mendukung agenda ini sepenuhnya.

Bosan? Tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi: evaluasi dilakukan di rumah mereka, di tempat istirahat mereka, di tempat mereka bermalas-malasan. Masa mau menghindar dengan cara bersembunyi di kolong kasur?

Kemudian, pertemuan ini pun tidak lagi diartikan sebagai evaluasi yang formal dan kaku. Bukanlah lagi materi pembicaraan mesti sesuatu yang menyangkut pekerjaan dan didiskusikan sambil mengernyit. Perlahan, lingkaran ini pun menjadi agenda silaturahim.

Bagaiamana tidak. Setiap hari bertemu dan kran komunikasi terbuka. Meski yang dibahas adalah sesuatu yang membosankan, komunikasi intens antar orang-orang itu pun melahirkan proses saling mengenal, tidak, mungkin lebih ke arah saling memahami. Dari sini lahir pula perhatian: awareness atas setiap kegiatan, permasalahan, dan keluhan teman sekelompoknya. Sehingga, evaluasi tidaklah sekedar memenuhi tugas berupa presentasi laporan pertanggungjawaban dan menunggu perintah selanjutnya dari komandan, tanpa peduli kesibukan dan kesulitan rekan sebelahnya.

Kita harus percaya, atau terpaksa percaya, bahwa manusia terdiri dari sel-sel yang hidup, bukan skrup dan kabel yang mati. Dalam mengerjakan tugasnya, manusia memerlukan sesuatu yang manusiawi, seperti simpati, empati, perhatian, pengertian, kepercayaan, dan pemahaman. Dan materi genetik bukanlah hal sederhana seperti program komputer: jika erorr maka cukup dikode ulang.

Manusia pun mempunyai kebutuhan—saya tekankan di sini “kebutuhan”—untuk bersuara dan menyampaikan pendapat. Kebutuhan berbicara ini bagaikan benda padat kepanasan—atom-atomnya bergerak cepat mendesak hingga terjadi pemuaian. Karena, tiap manusia adalah keunikan spesifik yang tidak pernah sama dengan keunikan manusia yang lain. Ketika menyebut “H”, warna suara, intensitas, tinggi-rendah, dan nada dalam pengucapannya berbeda-beda. Apalah lagi jika bersuara untuk menyampaikan pemikiran, karena buah pikiran itu adalah sesuatu yang kompleks—begitu kompleksnya hingga orang itu belum tentu memahami sepenuhnya pemikirannya sendiri.

Keadaan seperti inilah yang digarisbawahi oleh industri, perusahaan, organisasi, atau negara yang ingin memperoleh kemajuan progresif.

Ada perusahaan tipe “A” yang menganut sistem terpusat. Segala peraturan dan kebijakan disusun oleh “atas”. Manajemen, keputusan, arah perusahaan menuruti satu kemutlakan: gimana bos. Tapi terjadi kemacetan di sini, karena supir pembawa gerak perusahaan yang berjumlah sedikit harus menyetiri karyawan yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Lalu, muncullah teori “Z”. Kisah ini bermula dari kondisi perusahaan yang sedang gawat. Seorang pemuda pun diangkat menjadi manajer pabrik, dan ia langsung mengajak seluruh pekerja untuk rapat. Perusahaan saingan akan menghabisi kehidupan pabrik ini, begitu ia menjelaskan. Sebuah studi tentang permintaan konsumen pun dibahas. Dijelaskan pula bahwa pabrik mesti ini dan begini, agar itu dan begitu.

Untuk pertama kalinya para pekerja manggut-manggut, baru mengerti kenapa mereka harus bekerja seperti ini dan begini. Sebelumnya, mereka hanya mengerjakan perintah atasan saja. Tak ada alasan untuk menjadi bagian dari sistem perusahaan karena mereka sama sekali tidak dilibatkan. Bagaikan robot yang telah diprogram secara mati, tugas mereka hanyalah menurut agar tidak dipotong gaji.

Bagaimana denga sistem yang ada di Indonesia? Goenawan Mohamad punya pendapat yang menarik, bahwa negeri ini bukanlah tipe A juga bukan penganut teori Z. Yang telah tertanam di sini adalah tipe “D” yang terkenal: Datang, Duduk, Diam, Damai. Entah karena hobi pemerintah untuk memanjakan rakyat, atau ambisi mereka untuk menjadi legenda atau hero, atau faktor kesengajaan agar tetap terpelihara orang-orang tolol yang kan terus mengangkat mereka jadi pemimpin. Rakyat atau masyarakat selalu dipandang sebagai objek dan takkan pernah sebagai subjek. Sebaliknya, birokrat pun menjadi juru selamat, memberikan pertolongan tanpa perlu mengajak si yang ditolong berdialog dan memberi pengertian apapun.

Program ini dikeluarkan dan barang itu diproduksi, lalu diberikanlah kepada masyarakat. Pihak penerima tidak mengerti—karena penjelasan yang ada sangatlah minim—sehingga terbengkalailah program ini dan barang itu pun dijadikan bahan bakar sampah.

Kembali ke KKNM. Di suatu siang di pinggir gerbang tol Moh. Toha, seorang kawan bercerita tentang ketua kelompk KKNM suatu desa. Ketua itu adalah orang yang sangat baik dan memiliki niat yang teramat mulia. Ia memberlakukan jam malam untuk mencegah fitnah antara laki-laki dan perempuan. Kemudian, di atas jam 21, lampu harus sudah dimatikan agar tidak ada lagi interaksi antar lawan jenis. Kebijakan yang luar biasa? Ya, tapi sayangnya ditentukan secara sepihak. Akibatnya? Tidak ada silaturahim pada evaluasi malam, melainkan keinginan para anggotanya untuk cepat-cepat pulang.

Categories: merenung | Leave a comment

#KKNM: Teman?

Menarik memang jika kita membayangkan suatu kondisi yang mengharuskan sekelompok orang, dengan latar yang berbeda-beda, hidup bersama dalam jangka waktu tertentu.  Bila melihat keadaan sosial secara umum, bisa terlihat bahwa suatu kelompok atau komunitas atau masyarakat daerah tertentu terpetak-petakan. Apa yang menjadi latar belakang terbentuknya suatu perkumpulan atau komunitas? Tentu terbentuk oleh sejumlah orang yang saling berkumpul, dan adanya kesamaan di antara mereka menjadi alasan. Kemudian, perkumpulan ini menjadi lingkaran nyaman tersendiri; masing-masing lingkaran kadang terpisah dengan yang lain.

Ambillah contoh sekelompok mahasiswa satu angkatan jurusan yang sama. Misalnya jumlah mahasiswa seratus; kita akan melihat dalam seratus itu ada beberapa kelompok bermain; beberapa kelompok belajar—yang bisa sama dengan kelompok bermain atau tidak.

Mengapa terjadi kelompok-kelompok itu yang saling terpisah? Mungkin terjadi secara alamiah: mereka yang merasa memiliki persamaan saling tarik-menarik bagai magnet, dan lahirnya nuansa kenyamanan.

Lalu, kembali dengan yang di atas, bagaimana jika beberapa orang—yang sama sekali tidak mengenal, memiliki lingkaran yang berbeda, dan bergaris sejarah yang tak saling bertemu—hidup bersama? Tingginya antusiasme penikmat acara-acara semacan Penghuni Terakhir atau Big Brother menunjukkan suatu ketertarikan sendiri untuk menyaksikannya.

Suasana ini tidak berbeda dengan yang dirasakan oleh yang sedang menjalani kegiatan KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa). Setidaknya 28 hari akan dihabiskan oleh sekitar 20 mahasiswa, berasal dari fakultas dan lingkaran bermain-belajar yang berbeda, secara bersama-sama. Mereka tinggal di daerah yang sama, di rumah yang sama (satu atau dua rumah), dan itu semua dalam waktu sebulan kurang.

Kira-kira apakah yang kan terjadi? Mungkin setiap mahasiswa di sini bagaikan titik dengan karakteristik masing-masing dan saling berjarak. Kemudian sifat itu saling berbenturan, dan sini dapat menghasilkan 3 kemungkinan: menjadi berlekatan, tetap diam di area masing-masing, atau bahkan saling berjauhan. Kondisi pertama dapat tercapai jika karakteristik masing-masing dapat menerima dan mentoleransi karakter yang berbeda—tidak perlu suatu karakter berubah mengikuti karakter lain—dan terbentang garis kerjasama. Kondisi kedua terjadi jika ada penerimaan dan toleransi, tapi garis kebersamaan gagal—atau enggan—untuk dibentuk. Dan kejadian ketiga menunjukkan benturan itu sangat kuat dengan momentumnya masing-masing, hingga terpental.

Tidaklah sedikit terdengar cerita yang mengaminkan peristiwa ketiga. Namun, anggaplah bahwa masing-masing cukup mau menerima sifat-sifat di luar diri dan lingkarannya, dan garis kompromi pun terjalin. Hubungan baik terbentuk, dan jalinan kerjasama berlangsung dengan harmonis. Tapi, seberapa kuat jalinan itu? Adakah garis-garis penghubung itu menjadi penarik antar titik sehingga berlekatan? Akankah pula toleransi dan kompromi ini berlanjut melampaui sekedar hubungan mitra kerja—yaitu menjadi teman?

Istilah “teman” mungkin cukup menarik. Apa maksud dari teman dan apa saja batas-batasnya? Apakah yang membuat seseorang bisa disebut sebagai teman atau sekedar kenalan atau rekan kerja? Pada hari kesekian, ada anggota kelompok KKNM—mahasiswa Unpad asal Malaysia—yang ragu-ragu meminjam barang dari Puskesmas dan malah menyuruh saya. Alasannya, “Karena kamu udah teman dengan dokter Eka. Sedangkan saya bukan.” “Emang apa artinya teman? What is the meaning of friend?” tanya saya. “Friend itu…,” dia melakukan peraga dengan merangkulkan tangan ke temannya.

“Teman” atau friend, dalam Dictionary.com, diartikan sebagai seseorang yang melekat dengan yang lain oleh rasa afeksi/kasih sayang atau hubungan pribadi. Demikian juga yang dijelaskan oleh kamus Merriam Webster. Sedangkan “kenalan” atau acquaintance—berdasarkan referensi yang sama—adalah seseorang yang diketahui oleh orang lain tapi bukan teman dekat.

Kita dapat menyebut seseorang sebagai teman jika garis-garis penghubung itu tidak hanya ditopang oleh logika kompromi, tapi juga feeling, bahkan afeksi. Lalu, apakah semua orang yang kita anggap sebagai “teman” sesungguhnya telah mendapat tempat di feeling kita? Mungkin saja kita telah terlanjur menganggap orang-orang, yang sesungguhnya sebatas kenalan atau mitra pekerjaan, sebagai teman dengan mudahnya—tanpa terbentangpun ikatan hati. Atau kita terlalu tabu menggunakan istilah feeling, karena sering dikonotasikan sebagai perasaan tertentu terhadap lawan jenis.

Proses berteman memiliki ciri khasnya pada setiap individu, bergantung pada sifat orang tersebut dan kebiasaan sekitar. Ambil contoh proses pertemanan yang terjadi di kelompok KKNM saya: awalnya saling senyum, menyengirkan gigi malu-malu, memberi candaan ringan, sedikit serius bila saling bercakap, dan kondisi canggung agaknya masih ada. Setelah beberapa hari, sudah tak ada lagi rasa malu-malu seperti kucing, segan, atau canggung. Senyuman yang tadinya berupa cengiran kini menjadi tawa yang terbahak-bahak, dan pembicaraan pun beralih dari keseriusan menjadi humor. Kadang pun tak ragu lagi untuk menyindir kelemahan orang—yang tidak mungkin dilakukan ke orang yang baru dikenal karena dikhawatirkan menyinggung. Bahkan kata-kata kasar telah menjadi bumbu komunikasi.

Begitulah kenyataannya: awalnya anggota kelompok KKNM satu sama lain berstatus masih kenalan, dan sekarang……teman? Ahh, saya tidak ingin terlalu terburu-buru. Walaupun sudah terhirup atmosfer keakraban, tapi toh ini hanya sebulan. Setelah itu, masihkan kan ada suasana “pertemanan” seperti yang dialami sekarang di pelosok desa? Atau, begitu KKNM selesai, dan semuanya kembali ke lingkaran masing-masing, dan setelah sebulan-dua bulan tidak bertemu, suasana mundur kembali: senyum tipis menyengir, alis berkerut ketika mengobrol, dan canggung?

Masa depan tidaklah untuk diketahui, tapi untuk diperkirakan. Tentu mengandung berbagai kemungkinan, dan kemungkinan-kemungkinan itu tergantung kenyataan hari ini. Satu jalan yang telah dirintis oleh 28 hari KKNM ini kan akhirnya bercabang dalam jumlah yang hingga sekarang (tulisan ini dibuat pada hari ke-23) belum diketahui.

Pesimiskah kita? Terlepas dari apapun masa depan yang Ia tuliskan, setidaknya 28 hari ini telah membuat suatu proses kelahiran: benih relasi antarmanusia yang awalnya terdiam malu, kini telah tumbuh menjadi pohon kayu yang masih terus menjulang ke langit.

Categories: merenung | Leave a comment

Menghukum Diri

Seorang yang menjalani proses pendidikan secara formal pasti pernah mengalami momen yang disebut dengan “ospek” atau “MOS” atau “masa orientasi”. Saya sendiri sudah menjalani itu semua hingga tahap universitas. Saat SMP, masa orientasi terbilang damai. Ketika SMA, barulah “penyiksaan” itu dimulai. Kemudian, di masa awal kampus orientasi itu dilanjutkan—meskipun, karena saya kuliah di fakultas kedokteran Unpad, ospeknya terbilang “damai”.

Semua itu memiliki persamaan yang khas pada masa orientasi siswa/mahasiswa di Indonesia, yaitu evaluasi dan hukuman. Terlepas panitia sengaja agar sang anak baru melakukan kesalahan atau tidak, rasanya kurang afdol jika dalam sesuatu yang disebut “orientasi siswa/mahasiswa” tidak ada kedua hal tersebut. Setidaknya, menurut pengalaman pribadi, tercatat satu jenis kesalahan yang sama dan paling sering dilakukan sehingga menjadi bahan evaluasi andalan: terlambat.

Tidak hanya di dunia perorientasian, tapi juga dalam training atau pelatihan. Tersebutlah semacam Latihan Kepemimpinan Siswa ketika SMA, atau Latihan Kepemimpinan dan Manajemen untuk mahasiswa, atau pendas-diklat lainnya. Rata-rata, panitia akan mengingatkan dengan tegas soal kedisiplinan waktu. Peserta ditegur dengan keras—terutama kalau kesalahan ini berulang dilakukan—dan kadang hukuman diberikan. Lalu panitia berwajah tak mengenakkan pun bilang, “Saya ga mau kesalahan ini terulang!” Atau semacam itulah.

Ketika berada di masa-masa ini, saya termasuk yang sering diberi hukuman, hingga rela stand by di tempat 30 menit sebelum acara dimulai—agar tidak telat. Sekian tahun kemudian, posisi pun berubah—kini sayalah pihak yang mengevaluasi. Punggung diluruskan, bahu ditegakkan, dan tangan melipat ketika melihat para peserta terlambat. Kawan-kawan yang kondisinya seperti saya pun diam dengan dingin, melotot ke arah sekerumunan yang menunduk merasa bersalah.

Namun, apa pengaruhnya bagi saya dan mereka, juga teman-teman? Jujur, bagi saya ketelatan masih melekat dalam diri ketika rapat—bahkan rapat yang saya pimpin—dan saya ternyata bukanlah satu-satunya! Beberapa teman saya pun demikian: telah puas dievaluasi dan dihukum karena telat, puas juga melotot dan menegur peserta yang telat, tapi di luar itu semua karakter asli seolah kembali. Dan ini semua menjadi menggelikan, bahwa ketepatan waktu hanya ada ketika disiksa atau menjadi panitia penyiksaan.

Apakah kita datang tepat waktu karena takut dihukum, seperti tepat waktu masuk kuliah agar tidak diusir oleh dosen? Atau kita hanya tepat waktu di momen-momen tertentu saja, seperti diklat dan pelatihan? Kemudian, bila sedang tidak menjadi peserta yang terikat oleh aturan panitia, dan kita tahu tak akan ada yang memberi hukuman, tak perlu lagi ada kata disiplin?

Mungkin memang benar. Salah satu yang dianugerahkan kepada manusia adalah nafsu, yang sering menjadi blunder bagi keturunan Adam sendiri. Peristiwa pembunuhan pertama di planet bumi oleh anak Adam cukuplah menjad saksi atas keliaran nafsu. Manusia pun menjadi lepas, bebas, dan bergelantungan dari satu pohon ke pohon lain dengan lincah semenjak diusir dari surga. Kemudian, dirasalah perlunya suatu aturan untuk membatasi sosok liar manusia. Dengan adanya peraturan ini, jadilah manusia saling mengawasi, dan kemerdekaan berbuat onar pun terminimalisasi.

Begitu juga dengan kedisiplinan. Misalnya kita berkeinginan untuk berbuat ini di jam ini; jika tak dikerjakan toh takkan ada yang protes. Juga ketika mengadakan rapat. Ngapain buru-buru datang, paling yang lain bakal telat juga, dan kawan-kawan adalah orang-orang baik: mereka takkan marah apalagi menghukum. Atas dasar inilah sebagian orang melihatnya sambil geleng-geleng kepala, “Ckckck, dasar orang Indonesia!”

Apakah yang salah di sini? Benarkah ketidakdisiplinan adalah nasib yang terkodekan dalam genetika orang Indonesia? Tidak cukupkah segala tetek-bengek “masa orientasi”, diklat”, atau “pendas” mengajari orang Indonesia? Atau ini akibat warisan mental masyarakat yang terjajah? Konon, Van den Bosch menetapkan sistem “Tanam Paksa” karena tidak percaya dengan para petani pribumi yang goblok-goblok itu mampu mengatur tanahnya sendiri tanpa peraturan keras.

Jika kemalasan dan nafsu lebih kita cintai daripada nilai kebaikan dalam kedisiplinan, kalau begitu kenapa tidak membuat aturan untuk diri sendiri saja? Kita pikirkan masak-masak, kita tulis peraturan ini, teriakkan keras-keras dalam hati, kemudian coba lakukan. Jika ternyata gagal, maka keberanian untuk menghukum diri sendiri mesti muncul.

Jangan salah sangka dulu. “Menghukum” di sini berbeda dengan “menyiksa”. Bukanlah kita mesti seperti orang-orang Iran, yang mencambuk punggung mereka sendiri dengan besi untuk memperingati pembunuhan terhadap Husein. Yang manusia perlukan bukanlah itu, tapi suatu hukuman yang pada hakikatnya melatih atau menambah amalannya. Seorang Umar bin Khatab menginfakkan ladangnya karena meninggalkan suatu amalan. Rasulullah saw. memperbanyak rakaat duha jika meninggalkan salat malam karena sakit dan lain-lainnya (tersebut dalam hadis riwayat Muslim).

Jika ada suatu kedisiplinan yang oleh kita sendiri langgar, ada banyak “hukuman” yang bermanfaat. Misalnya saja memperbanyak baca Quran, menambah nominal sedekah, memperbanyak rakaat salat duha/malam, menambah jam waktu belajar dan membaca, dan sebagainya. Atau yang memperkuat jasmani seperti push up atau sit up 2 seri, atau lari selama 20 menit, atau jalan jongkok. Tujuannya bukan hanya untuk membuat jera, tapi juga agar setiap pribadi sadar betul untuk bertanggung jawab atas tiap perilakunya.

Tapi, yah, tentu saja! Menghukum diri sendiri, atau dalam bahasa Arab disebut muaqobah, takkan ampuh bagi yang miskin komitmen yang tidak memiliki keberanian. Sejarah menyebutkan, komitmen dan jiwa pemberani hanya dimiliki oleh para pahlawan.

Masihkan negeri ini memiliki potensi untuk melahirkan para pahlawan?

Categories: gajelas | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: