naluri bersaing

“Oh, begitu. Aku tak pernah berpikir hal ini bisa terjadi.” Kepala sang professor terlihat tertunduk. Rambutnya yang jabrik berwarna putih seluruhnya, mungkin menunjukkan usianya yang tua.

“Amu dan Imu yang aku ciptakan adalah robot yang baik. Tapi keturunannya…” Ia tidak berbicara tanpa menengadahkan kepalanya. Tubuh yang bungkuk seakan serasi dengan wajah murungnya yang menatap lantai.

“Tolonglah lakukan sesuatu,” pinta Shizuka yang baru saja datang dari masa depan.

“Mungkin aku yang salah telah memasukkan naluri bersaing ke dalam pikiran mereka.” Sang pencipta robot akhirnya memalingkan kepalanya melihat dua ciptaannya, sang Adam dan Hawa robot negeri Mekatopia, Amu dan Imu.

“Apa yang kamu maksud dengan naluri bersaing?” Shizuka yang masih seusia anak kelas 4 SD bertanya dengan polos.

“Itu adalah naluri yang menginginkan dirinya lebih baik dari orang lain. Kalau semua bersaing, mereka akan mendapatkan kemajuan di dalam hidupnya. Tapi kalau ini disalahartikan, yang terjadi adalah peperangan,” kata professor yang namanya tak pernah disebutkan dalam cerita ini.

“Yang kuat akan menindas yang lemah, sehingga terjadi hukum rimba. Jauh berbeda dengan masyarakat yang aku dambakan. Aku akan mengubah otak mereka.” Dengan susah payah pencipta robot itu berdiri.

“Profesor baik-baik saja?” Tanya Shizuka melihat pria berpakaian jas putih berjalan tidak stabil.

“Tenagaku memang sudah lemah. Tapi tak apa-apa asal bisa mengubah pikiran mereka.”

Shizuka harap-harap cemas memandang profesor yang  mulai bekerja dengan mesin-mesinnya yang rumit. Jauh dari negeri Mekatopia, di planet Bumi, teman-temannya sedang berjuang menghadang tentara-tentara robot Mekatopia yang hendak menjajah bumi. Nobita mencucurkan keringat setiap kali ia menembak musuh. Begitu juga dengan kucing setianya, Doraemon, dan para sahabatnya, Giant dan Suneo.

Mereka hanya berempat melawan jutaan robot, yang datang menginvasi bumi untuk menjadikan manusia sebagai budak. Yap, demi menghapus perbudakan sesama robot, mereka pun mengincar manusia.

——

Kang Rihan yang baru saja menikah mengutip laporan dari majalah The Economist tentang Gross National Happiness (GNH) atau “indeks persepsi kebahagiaan”. Salah satu poin hasil laporan itu menyajikan perbandingan indeks kebahagiaan dengan rentang waktu. Kurva indeks kebahagiaan terhadap usia menunjukkan bentuk “U”.

Indeks kebahagiaan berada di nilai yang tinggi mulai dari usia kanak-kanak hingga sebelum usia 20. Lalu mulai usia 20-an kurva nya terus turun terjun bebas hingga mencapai titik nadirnya di usia 30-40. Lalu nilainya tetap rendah walau perlahan meningkat hingga di akhir usia 40-an. Lalu kembali naik tajam seperti nilai sebelumnya di umur belasan.

Apa yang menarik dari kurva tersebut? The Economist dengan analisisnya yang lebih lanjut menyimpulkan bahwa usia 20-40 an di mana pada umumnya orang tidak bahagia. Di masa itu seseorang penuh dengan ambisi, cita-cita, dan target yang harus dikejar. Kebahagiaan dikalkulasi dan dikuantifikasi menjadi nilai dan ukuran-ukuran tertentu. Ada yang berambisi mencapai jenjang karir tertentu, ada yang mengkuantifikasikannya dalam sejumlah uang, ada yang mengukurnya dengan target gelar akademis tertentu. Dan saat itulah pada umumnya orang merasa jauh tidak bahagia dibanding masa kanak-kanaknya yang “fearless” maupun masa tuanya yang “less expectation and more acceptance”.

Membaca note ini, saya pun mengangguk tanda setuju, karena saya saat ini sedang berada di posisi bawah dari kurva tersebut. Dan saya yakin, bukan hanya saya, tapi juga teman-teman di sekitar saya. Teman-teman satu fakultas, teman-teman belajar, teman-teman bermain, yap, semua menunjukkan kecenderungan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi “penuh dengan ambisi, cita-cita, dan target yang harus dikejar”. Ada yang sudah berambisi menjadi pengusaha, menjadi peneliti, menjadi trainer, menjadi anggota WHO, mengambil spesialis ini itu, dan sebagainya.

Bahkan seorang kawan saya (yang dirinya sendiri bilang akan menikah di usia akhir 20an) dalam blognya menceritakan tentang temannya, yang menunjukkan pesona seorang mahasiswa dari luar, namun ternyata memiliki “naluri bersaing” yang tinggi. Diceritakan ketika berambisi mendapat posisi tertentu, ia akan menghalangi siapa pun yang juga ingin berada di posisi tersebut.

Bayangkan…naluri bersaing untuk mencapat target atau ambisi tertentu sudah terpupuk sejakmahasiswa, saat segala sesuatu masih begitu “ideal”. Saat-saat di mana segala fasilitas disediakan oleh orang tua, kuliah dibiayai, diberi uang bulanan atau mingguan untuk makan atau sekedar jajan, tidak berpikir harus berbuat apa agar memiliki penghasilan. Bagaimana kelak kalau naluri bersaing ini terus tumbuh hingga kita masuk ke dunia kerja, ke “realita sesungguhnya”, saat kita dituntut untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi hidups secara mandiri.

Apakah naluri bersaing itu buruk? Tidak, kawan. Seperi kata sang pencipta Amu dan Imu, bahwa dengan adanya kompetisi, manusia akan berkembang. Tembok Cina tidak akan pernah berdiri dengan gagah apabila tidak ada ancaman dari suku Mongol.

It is from their foes, not their friends, that cities learn the building of high walls –Aristophanes

Persaingan tidak pernah buruk, bila selama memanfaatkannya kita mengingat tujuan. Apa tujuan kita? Benarkah dengan menjatuhkan orang lain, atau dengan memperbudak orang lain, tujuan kita tercapai? Jika ya, saatnya kita berhenti untuk duduk sejenak. Tarik nafas dalam-dalam, dan biarkan tubuh dalam posisi relax. Apa tujuan saya selama ini?

——

Setelah proses pengubahan otak selesai, robot-robot pernjajah itu pun lenyap, sama sekali tak berbekas. Bumi pun tidak jadi dijajah oleh robot pada tahun 1987 (tahun komik ini terbit di Jepang). Bagaimana jadinya negeri Mekatopia?

“Tentunya menjadi negeri yang luar biasa seperti surga…” jawab Doraemon menjawab pertanyaan Nobita.

Pada akhirnya, kondisi negeri Mekatopia tidak pernah diceritakan oleh Fujiko F. Fujio. Menjadi negeri yang luar biasa? Mungkin saja, jika naluri menjatuhkan orang lain benar-benar telah dihapuskan, hingga yang tersisa adalah keinginan untuk maju bersama-sama…

Selasa, 8 Februari 2010 pk 18:00

@Rumah

-Menjelang keberangkatan ke Magelang untuk (kembali) belajar cinta

Advertisements
Categories: pembelajaran | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: