Adalah Mahasiswa

“Aduh, maaf ya, saya ga bisa ikut. Saya mau ada rapat BEM nanti malam,” begitu isi sms yang diketik oleh Victoria.

“Hah? Rapat malam-malam? Rapat apa sih?” Michelle pun membalas.

“Rapat upgrading kemahasiswaan. Deadlinenya bentar lagi nih, 3 minggu lagi. Jadi bakal rapat tiap hari,” dengan cepat Victoria menjawab.

“Cepek dehh, kan baru kemaren kamu rapat ngebahas itu. Lagian ini kan malam minggu! Masa rapat sih?? Ngalahin kuliah ini mah.”

“Iya, kan aku udah bilang tadi kalo bakal rapat tiap hari. Lagian mau hari Senin kek, Minggu kek, ini kan demi kemahasiswaan yang lebih baik. Harus totalitas!” balasan yang menggebu-gebu pun dikirim.

“Iya deh iya, mahasiswi Victoria. Bener ga mau ikut nonton? Ya udah deh, aku ajak Anna aja,” pesan ini mengakhiri obrolan mereka berdua.

 

“Halo! Halo, Anna, kamu di mana?” karena malas untuk sms, Michelle pun menelpon.

“Halo Michelle. Ini aku lagi makan di Sushi Tai sama yayang John.”

“Ya ampun, kalian mesra banget sih. Minggu kemaren kalian makan di Hayangmasak, sekarang makan sushi. Cie, cie, suit, suit.”

“Apa deh ini ganggu orang pacaran aja. Kenapa Cel, kamu lagi sendirian ya? Kenapa ga ajak yayang kamu aja, Paul?”

“Ahh, kamu kan tahu dia ga mau diganggu hari liburnya. Lagi berkutat sama gamenya!!”

“Ckckck, kamu sih pake pacaran ama gamer segala. Jadi deh gini, hihihi. Ya udah deh. Selamat menyendiri in this beautipul weekend. Hihihihi.”

“Beatipul! Dasar orang sunda ga bisa ngomong ep! Yahh, sendiri lagi deh. Duh gimana ya. Telpon yayang aja deh”

 

“Halo, ya? Kenapa Cel? Aduh maaf ya ga bisa. Aku sekarang lagi mau namatin Viral Fantasy XIV nih. Kenapa? Iya, kan baru namatin sekali, belum dua kali. Maaf ya, nanti deh kalo aku udah namatin. Yah, yah, daah.” Tak lama kemudian hp Paul kembali bordering.

“Halo Frederick, ya kenapa? Hah! Lagi ada pameran Fundam!! Di mana? Di mana? Oke, gw ke sana sekarang!”

 

“Paul, kamu mau ke mana?”

“Mau ke tempat temen, Ma. Nanti Paul pulang agak malam.”

“Paul, coba kamu perhatin adikmu itu, Lee. Dia udah dua kali mengulang kuliahnya. Kalo begini terus bisa-bisa dia di-DO.”

“Aduh, Ma. Itu sih gara-gara dianya aja yang ga pernah belajar. Nongkrong terus sama teman-temannya yang brengsek. Ngeband lah, maen skate board lah, ngedugem lah.”

“Iya. Sebelum kamu ke tempat temenmu, coba cari ke mana dia. Dari kemaren malam dia belum pulang juga.”

Sambil menghela nafas panjang, Paul membalas, “Iya deh, Ma. Kemaren Lee bilang pergi ke mana?”

“Katanya sih mau ketemu Smith di jalan Gado-Gado. Tolong ya nak, ajak dia pulang.”

 

Tak lama, Paul pun melihat Lee sedang asik ngerokok di pinggir jalan Gado-Gado. “Lee! Kamu ke mana aja? Mama nyariin tuh.”

“Eyaahh, biasa bang. Lagi hepi-hepi ma temen-temen. Refreshing habis kuliah terus kemaren. Gluk, gluk, gluk,” jawab Lee sambil menenggak botol berwarna hijau.

“Duhh, kamu mabok lagi ya. Pulang gih, pulang!”

“Ga bisa sekarang, bang! Ntar malem deh. Janji ini mah, sumpah demi alex.”

“Heeehhh…” setelah menghela nafas panjang lagi, Paul pun pergi.

 

“Ckckck, gini deh kalo punya kakak yang perhatian,” kata Smith yang duduk di sebelah Lee sambil menghisap batangan berwarna putih dengan nikmat.

“Alaahh, paling dia ke sini gara-gara disuruh mama. Eh, tadi berapa tuh nomor ayam kampus kondang kita?”

“Nih. Pokoknya lo bilang aja temen gw. Jamin dapet potongan harga, hahahaha…”

“Oke, bos. Tapi nih cewek bener-bener muasin ga?”

“Tunggu sampe lo denger jeritannya. “ Mereka berdua pun larut dalam gelak tawa.

“Eh, ngomong-ngomong tentang kakak, lo juga punya kan? Sejurusan juga kan sama lo. Anak tahun ke-4 kan? Gw denger dia ikut demo kemaren.”

“Yah, biasalah. Tipe mahasiswa berisik. Tiap hari kerjaannya neriakin ‘Hidup Mahasiswa!’”

“Hidup Mahasiswa!” tiru Lee yang segera disambut dengan tawa.

“Duh, baru aja dibilangin dia langsung nelpon. Halo? Ya, di mana aja boyeehh. He-eh, nanti pulang, sumpah demi alex.”

 

“Bener ya kamu pulang malam ini. Ayah dari kemaren nyariin. Gimana bangsa ini mau maju kalo generasi mudanya kayak kamu. Apa? Beda lah, saya ga pulang karena sekarang lagi di sekre BEM, nyusun rencana aksi Senin besok. Udah pokoknya beda sama kamu yang cuma nyusahin negeri ini!” Setelah menutup telpon, tanpa menunda lagi Bryan langsung mengetik sms.

 

‘JARKOM (JANGAN PUTUS!). Senin siang kita akan aksi ke Gedung Soto terkait kasus korupsi dan membela hak warga Mangga Batu yang dizalimi haknya oleh pemerintah. Selasa kita akan bakti sosial ke Kampung Gajah Duduk yang baru saja terkena banjir. Atribut mahasiswa lengkap. Karena mahasiswa tak pernah berhenti mengabdi untuk negeri!’

 

Tidak sampai satu menit, muncul sms balasan, “Maaf, saya mau belajar karena 3 minggu lagi UTS. Pokoknya saya ga mau diganggu. Gimana mau mengabdi untuk negeri kalo kuliah aja ga beres.”

 

Bryan tersenyum simpul membaca sms balasan itu. Tiba-tiba terdengar bunyi ketokan di pintu sekre BEM. Setelah pintu terbuka, seorang lelaki berbaju putih menampakkan diri sambil berkata, “Assalamu’alaykum akhi. Alhamdulillah sudah azan. Silakan bersiap-siap untuk salat isya.” Di luar terlihat beberapa mahasiswa berjanggut keluar dari sekrenya untuk menuju masjid.

 

Mubarok, yang tadi mengajak anak-anak yang sedang panas-panasnya diskusi di sekre BEM untuk salat, menyusul teman-temannya yang berjalan dengan tenang menuju sumber azan. Tak lama, ia pun menggulung lengan baju dan celananya untuk berwudu. Setelah azan selesai berkumandang, ia pun mengangkat kedua tangannya untuk salat tahiyatul masjid dengan wajah pasrah menunduk ke bawah.

——

 

Kira-kira, itulah gambaran mahasiswa saat ini, di berbagai kampus, berbagai jurusan. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda, kesibukan yang berbeda, interest yang berbeda, dan nilai-nilai kehidupan yang berbeda.

 

Namun, di balik semua perbedaan itu, mereka meiliki kesamaan. Sama untuk tiap kampus dan tiap program studi, yaitu merekalah yang kelak akan menentukan kemajuan negeri ini. Di antara merekalah akan lahir menteri-menteri, direktur PLN atau Telkom atau Pertamina, wakil rayat di senayan, bahkan mungkin dari merekalah akan muncul pemimpin negeri ini di tahun 20XX.

 

Bagaimana nasib negeri ini kelak di masa mendatang? Mudah menebaknya, tinggal melihat kondisi kampus dan mahasiswa sekarang ini.

 

Rabu, 2 Februari 2011 pukul 22.22

@rumah

-berita lagi rame menyiarkan bentrokan warga Mesir di Tahrir Square

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: