Monthly Archives: February 2011

naluri bersaing

“Oh, begitu. Aku tak pernah berpikir hal ini bisa terjadi.” Kepala sang professor terlihat tertunduk. Rambutnya yang jabrik berwarna putih seluruhnya, mungkin menunjukkan usianya yang tua.

“Amu dan Imu yang aku ciptakan adalah robot yang baik. Tapi keturunannya…” Ia tidak berbicara tanpa menengadahkan kepalanya. Tubuh yang bungkuk seakan serasi dengan wajah murungnya yang menatap lantai.

“Tolonglah lakukan sesuatu,” pinta Shizuka yang baru saja datang dari masa depan.

“Mungkin aku yang salah telah memasukkan naluri bersaing ke dalam pikiran mereka.” Sang pencipta robot akhirnya memalingkan kepalanya melihat dua ciptaannya, sang Adam dan Hawa robot negeri Mekatopia, Amu dan Imu.

“Apa yang kamu maksud dengan naluri bersaing?” Shizuka yang masih seusia anak kelas 4 SD bertanya dengan polos.

“Itu adalah naluri yang menginginkan dirinya lebih baik dari orang lain. Kalau semua bersaing, mereka akan mendapatkan kemajuan di dalam hidupnya. Tapi kalau ini disalahartikan, yang terjadi adalah peperangan,” kata professor yang namanya tak pernah disebutkan dalam cerita ini.

“Yang kuat akan menindas yang lemah, sehingga terjadi hukum rimba. Jauh berbeda dengan masyarakat yang aku dambakan. Aku akan mengubah otak mereka.” Dengan susah payah pencipta robot itu berdiri.

“Profesor baik-baik saja?” Tanya Shizuka melihat pria berpakaian jas putih berjalan tidak stabil.

“Tenagaku memang sudah lemah. Tapi tak apa-apa asal bisa mengubah pikiran mereka.”

Shizuka harap-harap cemas memandang profesor yang  mulai bekerja dengan mesin-mesinnya yang rumit. Jauh dari negeri Mekatopia, di planet Bumi, teman-temannya sedang berjuang menghadang tentara-tentara robot Mekatopia yang hendak menjajah bumi. Nobita mencucurkan keringat setiap kali ia menembak musuh. Begitu juga dengan kucing setianya, Doraemon, dan para sahabatnya, Giant dan Suneo.

Mereka hanya berempat melawan jutaan robot, yang datang menginvasi bumi untuk menjadikan manusia sebagai budak. Yap, demi menghapus perbudakan sesama robot, mereka pun mengincar manusia.

——

Kang Rihan yang baru saja menikah mengutip laporan dari majalah The Economist tentang Gross National Happiness (GNH) atau “indeks persepsi kebahagiaan”. Salah satu poin hasil laporan itu menyajikan perbandingan indeks kebahagiaan dengan rentang waktu. Kurva indeks kebahagiaan terhadap usia menunjukkan bentuk “U”.

Indeks kebahagiaan berada di nilai yang tinggi mulai dari usia kanak-kanak hingga sebelum usia 20. Lalu mulai usia 20-an kurva nya terus turun terjun bebas hingga mencapai titik nadirnya di usia 30-40. Lalu nilainya tetap rendah walau perlahan meningkat hingga di akhir usia 40-an. Lalu kembali naik tajam seperti nilai sebelumnya di umur belasan.

Apa yang menarik dari kurva tersebut? The Economist dengan analisisnya yang lebih lanjut menyimpulkan bahwa usia 20-40 an di mana pada umumnya orang tidak bahagia. Di masa itu seseorang penuh dengan ambisi, cita-cita, dan target yang harus dikejar. Kebahagiaan dikalkulasi dan dikuantifikasi menjadi nilai dan ukuran-ukuran tertentu. Ada yang berambisi mencapai jenjang karir tertentu, ada yang mengkuantifikasikannya dalam sejumlah uang, ada yang mengukurnya dengan target gelar akademis tertentu. Dan saat itulah pada umumnya orang merasa jauh tidak bahagia dibanding masa kanak-kanaknya yang “fearless” maupun masa tuanya yang “less expectation and more acceptance”.

Membaca note ini, saya pun mengangguk tanda setuju, karena saya saat ini sedang berada di posisi bawah dari kurva tersebut. Dan saya yakin, bukan hanya saya, tapi juga teman-teman di sekitar saya. Teman-teman satu fakultas, teman-teman belajar, teman-teman bermain, yap, semua menunjukkan kecenderungan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi “penuh dengan ambisi, cita-cita, dan target yang harus dikejar”. Ada yang sudah berambisi menjadi pengusaha, menjadi peneliti, menjadi trainer, menjadi anggota WHO, mengambil spesialis ini itu, dan sebagainya.

Bahkan seorang kawan saya (yang dirinya sendiri bilang akan menikah di usia akhir 20an) dalam blognya menceritakan tentang temannya, yang menunjukkan pesona seorang mahasiswa dari luar, namun ternyata memiliki “naluri bersaing” yang tinggi. Diceritakan ketika berambisi mendapat posisi tertentu, ia akan menghalangi siapa pun yang juga ingin berada di posisi tersebut.

Bayangkan…naluri bersaing untuk mencapat target atau ambisi tertentu sudah terpupuk sejakmahasiswa, saat segala sesuatu masih begitu “ideal”. Saat-saat di mana segala fasilitas disediakan oleh orang tua, kuliah dibiayai, diberi uang bulanan atau mingguan untuk makan atau sekedar jajan, tidak berpikir harus berbuat apa agar memiliki penghasilan. Bagaimana kelak kalau naluri bersaing ini terus tumbuh hingga kita masuk ke dunia kerja, ke “realita sesungguhnya”, saat kita dituntut untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi hidups secara mandiri.

Apakah naluri bersaing itu buruk? Tidak, kawan. Seperi kata sang pencipta Amu dan Imu, bahwa dengan adanya kompetisi, manusia akan berkembang. Tembok Cina tidak akan pernah berdiri dengan gagah apabila tidak ada ancaman dari suku Mongol.

It is from their foes, not their friends, that cities learn the building of high walls –Aristophanes

Persaingan tidak pernah buruk, bila selama memanfaatkannya kita mengingat tujuan. Apa tujuan kita? Benarkah dengan menjatuhkan orang lain, atau dengan memperbudak orang lain, tujuan kita tercapai? Jika ya, saatnya kita berhenti untuk duduk sejenak. Tarik nafas dalam-dalam, dan biarkan tubuh dalam posisi relax. Apa tujuan saya selama ini?

——

Setelah proses pengubahan otak selesai, robot-robot pernjajah itu pun lenyap, sama sekali tak berbekas. Bumi pun tidak jadi dijajah oleh robot pada tahun 1987 (tahun komik ini terbit di Jepang). Bagaimana jadinya negeri Mekatopia?

“Tentunya menjadi negeri yang luar biasa seperti surga…” jawab Doraemon menjawab pertanyaan Nobita.

Pada akhirnya, kondisi negeri Mekatopia tidak pernah diceritakan oleh Fujiko F. Fujio. Menjadi negeri yang luar biasa? Mungkin saja, jika naluri menjatuhkan orang lain benar-benar telah dihapuskan, hingga yang tersisa adalah keinginan untuk maju bersama-sama…

Selasa, 8 Februari 2010 pk 18:00

@Rumah

-Menjelang keberangkatan ke Magelang untuk (kembali) belajar cinta

Categories: pembelajaran | Tags: , | Leave a comment

Adalah Mahasiswa

“Aduh, maaf ya, saya ga bisa ikut. Saya mau ada rapat BEM nanti malam,” begitu isi sms yang diketik oleh Victoria.

“Hah? Rapat malam-malam? Rapat apa sih?” Michelle pun membalas.

“Rapat upgrading kemahasiswaan. Deadlinenya bentar lagi nih, 3 minggu lagi. Jadi bakal rapat tiap hari,” dengan cepat Victoria menjawab.

“Cepek dehh, kan baru kemaren kamu rapat ngebahas itu. Lagian ini kan malam minggu! Masa rapat sih?? Ngalahin kuliah ini mah.”

“Iya, kan aku udah bilang tadi kalo bakal rapat tiap hari. Lagian mau hari Senin kek, Minggu kek, ini kan demi kemahasiswaan yang lebih baik. Harus totalitas!” balasan yang menggebu-gebu pun dikirim.

“Iya deh iya, mahasiswi Victoria. Bener ga mau ikut nonton? Ya udah deh, aku ajak Anna aja,” pesan ini mengakhiri obrolan mereka berdua.

 

“Halo! Halo, Anna, kamu di mana?” karena malas untuk sms, Michelle pun menelpon.

“Halo Michelle. Ini aku lagi makan di Sushi Tai sama yayang John.”

“Ya ampun, kalian mesra banget sih. Minggu kemaren kalian makan di Hayangmasak, sekarang makan sushi. Cie, cie, suit, suit.”

“Apa deh ini ganggu orang pacaran aja. Kenapa Cel, kamu lagi sendirian ya? Kenapa ga ajak yayang kamu aja, Paul?”

“Ahh, kamu kan tahu dia ga mau diganggu hari liburnya. Lagi berkutat sama gamenya!!”

“Ckckck, kamu sih pake pacaran ama gamer segala. Jadi deh gini, hihihi. Ya udah deh. Selamat menyendiri in this beautipul weekend. Hihihihi.”

“Beatipul! Dasar orang sunda ga bisa ngomong ep! Yahh, sendiri lagi deh. Duh gimana ya. Telpon yayang aja deh”

 

“Halo, ya? Kenapa Cel? Aduh maaf ya ga bisa. Aku sekarang lagi mau namatin Viral Fantasy XIV nih. Kenapa? Iya, kan baru namatin sekali, belum dua kali. Maaf ya, nanti deh kalo aku udah namatin. Yah, yah, daah.” Tak lama kemudian hp Paul kembali bordering.

“Halo Frederick, ya kenapa? Hah! Lagi ada pameran Fundam!! Di mana? Di mana? Oke, gw ke sana sekarang!”

 

“Paul, kamu mau ke mana?”

“Mau ke tempat temen, Ma. Nanti Paul pulang agak malam.”

“Paul, coba kamu perhatin adikmu itu, Lee. Dia udah dua kali mengulang kuliahnya. Kalo begini terus bisa-bisa dia di-DO.”

“Aduh, Ma. Itu sih gara-gara dianya aja yang ga pernah belajar. Nongkrong terus sama teman-temannya yang brengsek. Ngeband lah, maen skate board lah, ngedugem lah.”

“Iya. Sebelum kamu ke tempat temenmu, coba cari ke mana dia. Dari kemaren malam dia belum pulang juga.”

Sambil menghela nafas panjang, Paul membalas, “Iya deh, Ma. Kemaren Lee bilang pergi ke mana?”

“Katanya sih mau ketemu Smith di jalan Gado-Gado. Tolong ya nak, ajak dia pulang.”

 

Tak lama, Paul pun melihat Lee sedang asik ngerokok di pinggir jalan Gado-Gado. “Lee! Kamu ke mana aja? Mama nyariin tuh.”

“Eyaahh, biasa bang. Lagi hepi-hepi ma temen-temen. Refreshing habis kuliah terus kemaren. Gluk, gluk, gluk,” jawab Lee sambil menenggak botol berwarna hijau.

“Duhh, kamu mabok lagi ya. Pulang gih, pulang!”

“Ga bisa sekarang, bang! Ntar malem deh. Janji ini mah, sumpah demi alex.”

“Heeehhh…” setelah menghela nafas panjang lagi, Paul pun pergi.

 

“Ckckck, gini deh kalo punya kakak yang perhatian,” kata Smith yang duduk di sebelah Lee sambil menghisap batangan berwarna putih dengan nikmat.

“Alaahh, paling dia ke sini gara-gara disuruh mama. Eh, tadi berapa tuh nomor ayam kampus kondang kita?”

“Nih. Pokoknya lo bilang aja temen gw. Jamin dapet potongan harga, hahahaha…”

“Oke, bos. Tapi nih cewek bener-bener muasin ga?”

“Tunggu sampe lo denger jeritannya. “ Mereka berdua pun larut dalam gelak tawa.

“Eh, ngomong-ngomong tentang kakak, lo juga punya kan? Sejurusan juga kan sama lo. Anak tahun ke-4 kan? Gw denger dia ikut demo kemaren.”

“Yah, biasalah. Tipe mahasiswa berisik. Tiap hari kerjaannya neriakin ‘Hidup Mahasiswa!’”

“Hidup Mahasiswa!” tiru Lee yang segera disambut dengan tawa.

“Duh, baru aja dibilangin dia langsung nelpon. Halo? Ya, di mana aja boyeehh. He-eh, nanti pulang, sumpah demi alex.”

 

“Bener ya kamu pulang malam ini. Ayah dari kemaren nyariin. Gimana bangsa ini mau maju kalo generasi mudanya kayak kamu. Apa? Beda lah, saya ga pulang karena sekarang lagi di sekre BEM, nyusun rencana aksi Senin besok. Udah pokoknya beda sama kamu yang cuma nyusahin negeri ini!” Setelah menutup telpon, tanpa menunda lagi Bryan langsung mengetik sms.

 

‘JARKOM (JANGAN PUTUS!). Senin siang kita akan aksi ke Gedung Soto terkait kasus korupsi dan membela hak warga Mangga Batu yang dizalimi haknya oleh pemerintah. Selasa kita akan bakti sosial ke Kampung Gajah Duduk yang baru saja terkena banjir. Atribut mahasiswa lengkap. Karena mahasiswa tak pernah berhenti mengabdi untuk negeri!’

 

Tidak sampai satu menit, muncul sms balasan, “Maaf, saya mau belajar karena 3 minggu lagi UTS. Pokoknya saya ga mau diganggu. Gimana mau mengabdi untuk negeri kalo kuliah aja ga beres.”

 

Bryan tersenyum simpul membaca sms balasan itu. Tiba-tiba terdengar bunyi ketokan di pintu sekre BEM. Setelah pintu terbuka, seorang lelaki berbaju putih menampakkan diri sambil berkata, “Assalamu’alaykum akhi. Alhamdulillah sudah azan. Silakan bersiap-siap untuk salat isya.” Di luar terlihat beberapa mahasiswa berjanggut keluar dari sekrenya untuk menuju masjid.

 

Mubarok, yang tadi mengajak anak-anak yang sedang panas-panasnya diskusi di sekre BEM untuk salat, menyusul teman-temannya yang berjalan dengan tenang menuju sumber azan. Tak lama, ia pun menggulung lengan baju dan celananya untuk berwudu. Setelah azan selesai berkumandang, ia pun mengangkat kedua tangannya untuk salat tahiyatul masjid dengan wajah pasrah menunduk ke bawah.

——

 

Kira-kira, itulah gambaran mahasiswa saat ini, di berbagai kampus, berbagai jurusan. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda, kesibukan yang berbeda, interest yang berbeda, dan nilai-nilai kehidupan yang berbeda.

 

Namun, di balik semua perbedaan itu, mereka meiliki kesamaan. Sama untuk tiap kampus dan tiap program studi, yaitu merekalah yang kelak akan menentukan kemajuan negeri ini. Di antara merekalah akan lahir menteri-menteri, direktur PLN atau Telkom atau Pertamina, wakil rayat di senayan, bahkan mungkin dari merekalah akan muncul pemimpin negeri ini di tahun 20XX.

 

Bagaimana nasib negeri ini kelak di masa mendatang? Mudah menebaknya, tinggal melihat kondisi kampus dan mahasiswa sekarang ini.

 

Rabu, 2 Februari 2011 pukul 22.22

@rumah

-berita lagi rame menyiarkan bentrokan warga Mesir di Tahrir Square

Categories: gajelas | Leave a comment

ke manakah mimpi-mimpi itu pergi?

Dahulu kala, ketika kaki begitu pendek untuk melangkah, namun tidak ragu berlari-lari dalam kegirangan…dan juga ketika tangan tidak sampai untuk menjangkau telinga sendiri, namun tak pernah diam mencoba meraih segala sesuatu…

Masa yang sedikit memalukan untuk dikenang, namun tak ada satu pun yang menertawakan, walaupun aku bebas memimpikan apa saja. Apa saja, apa pun mimpi itu, yang membuat aku yang sekarang terkekeh karena merasa konyol mendengarnya.

Saya ingat cita-citaku ketika kecil, yaitu ingin menjadi pahlawan super. Diiringi lagu “Go! Go! Power Ranger!”, tangan kanan kudekatkan ke arah mulut seakan dapat memanggil Zordon. Tubuh pun dibungkukkan, tangan kanan dan tangan kiri berlekatan di belakang tubuh, lalu sambil meneriakkan “Kamehameha!” kedua tangan kutolakkan ke depan, membayangkan sinar terang yang mampu meluluhlantakkan musuh-musuh di hadapan. “Debu-debu intan!” pukulan khas Hyoga dalam serial saint seiya pun tidak kalah meramaikan suasana canda tawa para bocah.

Begitu polosnya aku mengimpikan untuk menjadi seperti mereka. Tanpa rasa malu pun kupamerkan posisi-posisi jagoan kebanggaan di hadapan orang tuaku. Aahh…ke manakah mimpi-mimpi itu kini? Dahulu, berbagai jurus para jagoan kutiru sebisa mungkin agar kelak dapat berubah menjadi pahlawan kebenaran. Tapi kini, itu semua hanyalah kenangan, diiringi tawa ringan saat mengingatnya.

“Kalo udah gede mau jadi apa?”

“Mau jadi pilot!”

“Jadi presidenn..”

“Mau jadi profesor yang bikin pesawat terbang..”

Segala berbagai macam cita-cita diucapkan, dan kebanyakan diucapkan secara asal. Dipikir-pikir, kalau saat itu ada yang bertanya, “Kenapa pingin jadi ini? Kenapa pingin jadi itu?” Saya pasti bingung menjawabnya, atau sekedar menjawab, “Pingin ajaa..”

Aahh…ke manakah mimpi-mimpi itu? Apakah mereka sebatas vibrasi pita suara anak-anak?

Seiring bertambahnya usia, aku pun mulai menyadari, bahwa dunia nyata tidak seindah angan-angan. Tidak mungkin menjadi pahlawan super, atau pembela kebenaran, karena mereka hanyalah tokoh rekaan. Untuk menjadi pilot atau presiden pun tidak semudah yang dibayangkan ketika masih kanak-kanak dahulu.

Yahh, masa anak-anak, adalah masa paling bebas untuk bermimpi. Tidak akan ada satu orang pun yang menganggapnya aneh atau menertawakan. Meskipun saat dewasa kini kita sudah mulai berpikir rasional, setidaknya kita bisa mengambil keteladanan dari anak-anak, yaitu kepolosan dan kebebasan untuk bermimpi.

“Menarilah dan terus tertawa. Walau dunia tak seindah surge.” Yap, meskipun dunia tak seindah bayangan kita ketika masih kecil, itu bukan alasan bagi kita untuk berhenti menari dan tertawa. Cita-cita adalah suatu hal yang hanya dapat dicapai dengan perjuangan berat. Dan, hal yang berat itu hanya bisa dirasakan ringan bila kita menjalaninya sambil bernyanyi, menari, tersenyum…hanya bisa dilalui dengan mudah bila dinikmati dengan riang gembira.

Ke manakah mimpi-mimpi itu? Tidak, mereka tidak pergi ke mana-mana, karena mimpi-mimpi indah itu masih ada di sini. Bedanya, mimpi-mimpi itu kini jauh lebih indah, dan jauh lebih tinggi dibandingkan cita-cita polos kanak-kanak. Dengan cita-cita yang lebih indah ini, kita bisa menikmati hidup sesuai yang kita inginkan, bahkan kita mampu mengubah dunia, melalui cita-cita tinggi kita.

7 tahun yang lalu, 13 tahun yang lalu…mimpi apa yang paling kuinginkan saat itu? Mungkin sekarang bentuk dari mimpi itu berubah, tapi “isi” dan kekuatan untuk meraih mimpi itu masih sama. Tidak pernah berubah.

Ke manakah mimpi-mimpi itu? Engkau tidak ke mana-mana. Engkau masih di sini, di lubuk hatiku terdalam.

 

Rabu, 2 Februari 2010 jam 00.30

@my own house

-jam 23.30 Bosky tiba-tiba datang ke rumah

-Tanri dan Zufron sudah terlelap sedjak djam 21.30

-Dua bocal labil a.k.a Hamda dan Redo asik nonton MegaMind

-entah kenapa telah memecahkan sebutir telor dan sebuah gelas, mungkin karena udah ngantuk

Categories: merenung | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: