Monthly Archives: January 2011

Meng-insepsi-kan diri

Nah, kalo yang satu ini kita pasti udah pada tau kan? Apa? Belum tau? Wahh, ternyata anda kuper sekali, film seterkenal ini aj tidak tau…

 

Okelah, supaya lebih mengena ke tulisan-tulisan berikutnya, sekaligus supaya ga penasaran lagi bagi yang belum tau film ini, saya akan menyampaikan sedikit sinopsisnya. Begini ceritanya…

 

*jreng..jreng..jreng

 

Dom Cobb (Leonardo DiCaprio), seorang pencuri yang terampil dan terbaik, mencuri rahasia berharga dari pikiran bawah sadar yaitu mimpi. Ia mencuri mimpi seseorang dengan suatu teknologi, yang membuat ia mampu memasuki mimpi seseorang dan mampu mengaturnya seseuai yang ia kehendaki. Cobb telah membuat kemampuan langkanya untuk menjadi pencuri bergensi di dunia tetapi juga membuatnya menjadi buronan internasional dan mengorbankan semua yang ia cintai.

Saat ini Cobb ditawari dibebaskan dari tuduhan kriminal panjangnya. Tugas terakhir ini akan mengembalikan kehidupan normalnya hanya jika dia bisa melakukan hal yang mustahil. Adalah Saito (Ken Watanabe), seorang CEO perusahaan internasional, yang menawarinya pekerjaaan tersebut. Tugas yang diberikan bukanlah mencuri ide dari pikiran seseorang, yang biasa ia lakukan. Namun, yang harus ia lakukan adalah “menanamkan suatu ide” ke seorang pewaris perusahaan raksasa saingan perusahaannya Saito, yaitu Robert Fischer, Jr. (Cillian Murphy).

Dalam menjalankan misinya, Cobb punya satu tim yang terdiri dari Ariadne (Ellen Page), Arthur (Joseph Gordon-Levitt) dan Eames (Tom Hardy), dan Yusuf (Dileep Rao).

Sayangnya di saat yang bersamaan Cobb harus berurusan dengan istrinya (Marion Cotillard) yang ternyata lebih suka tinggal di alam mimpi daripada dalam kehidupan nyata dan ia berusaha meyakinkan Cobb untuk tetap tinggal di alam mimpi ini. Celakanya lagi untuk mencapai harapannya ini, istri Cobb nekat bunuh diri di alam mimpi yang akhirnya membuat Cobb harus berurusan dengan hukum karena kematian yang terjadi di alam mimpi itu.

 

******

 

Film ini meninggalkan kesan luar biasa bagi yang telah menontonnya. Terlepas dari cinematography dan efek-efek fimnya yang mencengangkan, hal yang paling mambuat saya geleng-geleng kepala adalah ide ceritanya. “Inception” secara bahasa berarti “pendirian atau permulaan dari suatu kegiatan”, yang di cerita ini diartikan sebagai “penanaman suatu ide”, yang akan menginisiasi seseorang untuk melakukan suatu kegiatan berdasarkan ide yang telah ditanamkan tersebut.

 

Awalnya mungkin kita bertanya-tanya, apa yang istimewa dari penanaman suatu ide? Apakah itu hal yang luar biasa, seluar biasa film yang menceritakannya? Menanamkan suatu ide, pernahkan kita kepikiran akan hal itu?

 

Ya, ternyata ini adalah hal yang sangat luar biasa, bahkan sangat mengerikan. Ide adalah sesuatu yang bisa menggerakkan seseorang berbuat sesuatu, bisa suatu kebaikan atau kejahatan. Tentu kita tidak mengingkari, kalau lampu yang setiap hari kita nyalakan sebagai penerangan, awalnya bukanlah sebuah benda nyata, tapi sebuah ide. Begitu juga dengan pesawat, mobil, telepon genggam, komputer, bahkan kamar mandi, kesemuanya itu pada awalnya bukanlah benda nyata yang setiap hari bisa kita nikmati, tapi sebuah imajinasi yang melayang-layang di dalam pikiran seseorang, atau ide.

 

Bila di dalam pikiran atau kepala seseorang tertanam suatu ide, yang begitu amat-sangat kuat, maka hampir tidak ada sesuatu pun yang mampu menghalanginya merealisasikan ide tersebut. Dalam film ini, dikisahkan proses penanaman ide melalui mimpi sampai ke mimpi tingkat tiga, bahkan empat. Tujuannya adalah agar ide tersebut semakin melekat, semakin kuat memengaruhi kebijakan yang akan dilakukan orang tersebut. Di cerita “Inception” ini dikisahkan kalau ide yang ditanamkan adalah agar seorang pewaris perusahaan raksasa membubarkan perusahaan tersebut. Bisa terbayang, hanya dengan sebuah ide, perusaan luar biasa besar yang asetnya mungkin bernilai jutaan dolar dibubarkan dengan begitu mudahnya. Ini baru penanaman ke owner perusahaan, bagaimana bila suatu ide ditanamkan ke seorang pemimpin negara, misalnya Amerika, untuk memulai perang dengan rivalnya, misalnya Rusia? Perang dunia II menyisakan kisah tragis tentang para korban perang juga rakyat sipil yang ikut terkena getahnya. Di zaman sekarang, perang tidak hanya menggunakan senapan mesin atau pesawat bomber, tapi juga nuklir.

 

Kembali ke soal penanaman suatu ide. Awalnya saya kira film itu hanya kisah fiktif belaka, melekatkan suatu ide dengan masuk ke mimpi seseorang, hingga ke mimpi tingkat tiga. Tapi, hal ini membuat saya merenungkan suatu kata yang disebut dengan “ide”.

 

Ide bisa muncul kapan saja, baik itu yang biasa-biasa saja, konyol, luar biasa, hingga mengerikan. Proses keluarnya ide pun bermacam-macam dan kadang tanpa kita sadari, dan itu pun bervariasi di setiap orang. Ide bisa muncul saat kita sedang duduk santai di kursi malas kita, atau ketika sedang berbaring, atau ketika sedang jalan-jalan, atau ketika melihat sesuatu, atau kita sedang berpikir keras. Dan, ide bisa muncul begitu saja ke dalam kepala tanpa pentrigger khusus, kadang bersifat luar biasa, tapi dengan mudahnya kita lupakan. Karena itulah, imajinasi, atau ide yang sifatnya konstruktif atau positif, meskipun tampaknya konyol, ada baiknya kita catat di buku catatan khusus. Hal inilah yang dilakukan Bill Gates, seorang owner perusahaan komputer terbesar di dunia, Microsoft…

 

Kuatnya suatu ide atau pemikiran, akan menggerakkan seseorang berbuat sesuatu. Segala aktivitas kita, atau hal yang kita lakukan, itu bermula dari lintasan-lintasan ide atau pikiran di dalam otak kita, yang kemudian menggerakkan tangan kita, kaki kita, atau lidah kita. Pikiran jugalah yang menentukan nasib hidup seseorang. Apa-apa yang ada di dalam pikiran orang sukses dengan orang gagal pasti berbeda. Orang sukses memiliki pikiran-pikiran positif atau produktif, sehingga pikiran itulah yang akan mendorongnya melakukan hal positif atau produktif. Sebaliknya, orang gagal lebih banyak berpikir negatif, dan itulah yang mendorongnya untuk berbuat yang negatif.

 

Ada quote yang bagus: “Tindakan Anda bergantung dari pikiran Anda”. Dan, yang lebih hebat lagi adalah “Anda akan mendapatkan apa yang Anda pikirkan meskipun Anda tidak menginginkannya.” Inilah yang disebut dengan Law of Attraction. Pikiran kita akan meng-attract hal-hal di sekitar kita berdasarkan apa yang kita pikirkan. Kita akan mendapatkan hal-hal yang positif atau menyenangkan, bila apa yang dalam pikiran kita juga hal-hal yang positif atau menyenangkan. Ada banyak yang meragukan hukum ini, karena “saya sudah terus memikirkan hal-hal yang saya inginkan, tapi kenapa yang saya dapat justru hal-hal yang tidak saya inginkan?” Ada satu lagi tambahan di hukum ini, yaitu “Kita akan mendapatkan hal yang kita fokuskan.” Mungkin kita sering memikirkan hal-hal yang diinginkan, tapi justru kita lebih fokus terhadap hal yang tidak kita inginkan. Kita berusaha terus mengarahkan pikiran ke hal-hal yang positif, tapi lintasan-lintasan hal yang negatif begitu kuat, sehingga kita lebih fokus terhadap hal yang negatif itu, bukan hal yang positif.

 

Pementor saya pernah bilang, selintas hal negatif saja masuk ke dalam pikiran kita, hal itu akan terus-menerus terngiang-ngiang dalam kepala kita. Misalnya, secara selintas saja dengan tidak sengaja kita melihat hal yang bersifat pornografi. Hanya selintas, tapi pikiran itu terus menerus terulang dalam pikiran kita—sehebat apa pun antivirus yang kita miliki. Pikiran inilah yang kemudian melahirkan ide untuk kembali menikmati pornografi, atau bahkan merealisasikannya. Jadi, pikiran atau ide yang terlintas dalam pikiran kita adalah hal yang sangat penting dalam menentukan aksi-aksi yang kita lakukan.

 

Bagaimana agar kita senantiasa berpikir atau memunculkan ide-ide positif? Kita tentu sudah sering mendengar istilah Positive Thinking di buku-buku motivasi kesayangan kita. Misalnya, seringlah munculkan kata-kata positif di dalam pikiran, seperti “aku hebat” atau “hari ini hari yang luar biasa” atau “kuliah hari ini akan indah, seindah wajahku” atau “dengan ketampananku, akan melancarkan segala pekerjaanku” dan sebagainya. Contoh yang lain lagi, tentu akan berbeda kondisi seseorang yang ketika bangun tidur yang ada di pikirannya “kuliah lagi…kuliah lagi…” dengan orang yang meneriakkan “SEMANGAT PAGI!!” di dalam kepalanya. Atau, pikiran “Jatinangor lagi…Jatinangor lagi…” akan menghasilkan pribadi yang berbeda dengan pikiran “tunggu aku, Jatinangor, akan kujemput cita-citaku!!”

 

Hal termudah memunculkan positive feeling, selain memaksakan diri untuk berpikir positif, adalah membiasakan diri mendengar atau melihat hal-hal yang positif. Apa yang kita dengar secara terus-menerus biasanya akan memasuki alam bawah sadar, dan kita akan mengatakan ulang atau bahkan melakukan apa yang sering kita dengar tanpa sadar. Contohnya, bila kita nonton film terjemah bahasa inggris berkali-kali, dalam kehidupan sehari kadang secara refleks kita meniru kata-katanya ketika berbicara bahasa inggris. Kalo kita mendengar suatu lagu berkali-kali meskipun bukan lagu yang kita suka, misalnya lagu Keong Kepanasan, tanpa sadar pun kita akan menyenandungkannya. Yang lebih dahsyat lagi, dr. Hanny Rono Sulistyo dalam suatu seminar di Unsoed mengatakan, bila janin yang masih dalam kandungan sudah didengarkan cerita Nabi Yusuf, maka bertahun-tahun setelah lahir—meskipun selama itu ia tidak diceritakan lagi kisah itu—orang tersebut akan merasa deja vu atau tahu sendirinya kisa Nabi Yusuf tersebut.

 

Apa yang ktia dengar, apa yang kita lihat, bahkan apa yang ada di sekeliling kita, akan memengaruhi ide yang ada di dalam kepala kita. Karena itulah amat disarankan mencari pergaulan yang positif, karena itu akan membentuk pola pikir kita. Ada yang mengatakan “Kalau ingin tahu sifat seseorang, maka lihatlah sifat teman-temnnya.”

 

Namun, di buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu, ada kekuatan yang lebih dahsyat ketimbang positive thinking, yaitu positive feeling, perasaan atau kondisi hati yang positif. Secara tidak sadar, pikiran kita akan sangat dipengaruhi kondisi emosi kita. Bila kita mengeluhkan wajah yang kurang putih, kita menjadi kesal, dan itu akan memengaruhi pikiran kita. Kita akan menganggap orang-orang di sekitar tidak senang melihat wajah kita. Akhirnya, bila tanpa sengaja seseorang menabrak kita, yang keluar adalah kata-kata, “Kamu kalo ga suka liat muka saya yang biasa aja dong, ga usah pake nabrak-nabrak!”

 

Sebaliknya, bila kondisi hati kita tenang, tentram, bahagia, itu akan membuat pikiran kita juga tenang, yang ada di dalam kepala kita adalah hal-hal positif. Kita pun akan berjalan dengan mantap, tegap, tenang, semampai, gemulai, sehingga kalo ada orang melihat kita, dengan mantap kita akan berkata, “Oh, tidak, saya bukan artis, ga usah minta tanda tangan yak.”

 

Bagaimana agar memunculkan positive feeling? Pikiran bisa kita paksakan agar berpikir positif, namun memaksakan suasana hati bukanlah hal mudah,  karena hati kita tidak pernah berbohong. Di dalam Quantum Ikhlas, dipaparkan beberapa cara agar menumbuhkan positive feeling, hanya menurut saya, ada hal yang lebih praktis ketimbang cara yang dipaparkan buku itu.

 

Kapan suasana hati kita tenang? Mungkin kita jawab saat sedang libur panjang. Namun efeknya tidak lama, karena suasana tentram itu bisa segera hilang ketika berada di penghujung hari libur. Bahkan masih H-2, kita sudah mengeluh, “Ohh, tidak!! Liburan tinggal besok…gimana dong, gimana nih…” Kondisi umum yang membuat emosi kita tenang adalah ketika kita telah mengerjakan pekerjaan atau ujian dengan baik, ketika kita membuat atasan kerja senang, ketika kita telah melakukan hal luar biasa, ketika kita menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, ketika kita telah menolong orang lain hingga ia mengucapkan terima kasih, atau ketika kita membuat status FB lalu banyak yang nge-like. Kesimpulannya, hati kita tenang, bila kita telah melakukan hal-hal yang bermanfaat, positif, dan berguna.

 

Contoh yang lain. Akan berbeda suasana hati seseorang yang dalam sehari ia tilawah Quran dengan yang tidak, yang salat penuh 5 kali sehari dengan yang tidak, yang rajin puasa sunah dengan yang tidak, yang memulai hari dengan salat subuh berjamaah dengan yang tidak, yang bangun untuk salat malam dengan yang tidak.

 

Yap…seseorang akan memiliki hati yang tenang atau positive feeling bila ia mengingat Allah dan melaksanakan apa yang Ia perintah atau sunahkan, sedangkan seseorang akan berhati gelisah atau negative feeling bila ia berbuat dosa. Hati, atau nurani kita, bersifat fitrah, berdasarkan fitrah Allah atau sunatullah, dan hati kita tidak pernah berbohong. Mungkin secara logika, kita bisa membenarkan tindakan kita, namun hati kita tetap akan resah, bila itu adalah perbuatan yang tidak diridoi oleh Penciptanya.

 

Bila kita telah memutuskan sesuatu atau melakukan sesuatu, mari kita lihat kondisi hati kita, apakah ia tenang, atau ia gelisah? Lalu, ketika tidur, apakah tidur kita nyenyak, atau dihantui perasaan bersalah? Seorang koruptor bisa saja hidup enak dengan uangnya, namun tidurnya tidak akan nyenyak karena hatinya terus meneriakkan rasa bersalah.

 

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar Ra’d: 28)

 

Hati yang tenang, tentram, positif, akan menghasilkan pikiran atau ide yang positif. Inilah yang disebut dengan self inception, atau penanaman ide ke diri sendiri. Agar ide itu begitu kuat dan dilanjutkan dengan tindakan, maka harus dimulai dari hati. Kita tidak akan kesulitan menghadirkan ide-ide positif, bila hati kita sudah positif.

 

Lalu, bagaiman menanamkan ide ke orang lain? Ya, caranya sama, agar ide yang kita tanamkan begitu kuat, maka sentuhlah hatinya. Di film Inception sendiri, agar ide tertanam kuat di dalam kepala Fischer Jr, Cobb memanfaatkan momen ayahnya yang meninggal, peristiwa yang amat menyayat hati Fischer Jr. Bila hati tergerak, maka itu adalah momen yang paling tepat menanamkan ide. Orang bilang, orang yang paling mudah kita pengaruhi atau kita tanamkan ide adalah orang yang memiliki ikatan emosional dengan kita, yahh, katakanlah orang yang mencintai kita. Seburuk dan sejahat apa pun suatu ide, selama itu diucapkan oleh orang yang dia cintai, maka itu bagaikan suara seruling malaikat.

 

Begitu juga bila kita ingin memberikan pikiran positif atau mengajak kepada kebaikan, cara yang paling jitu adalah dengan memulai dari hatinya dulu. Inilah yang memunculkan istilah da’wah dengan hati.

 

Jadi, bila kita ingin setiap tindakan, kebiasaan, karakter, atau pribadi yang positif, lakukanlah self inception. Mulai dari hati. Hati kita tidak pernah bohong, mana yang baik dan mana yang buruk. Hati yang positif akan menghasilkan pikiran yang positif. Pikiran yang bahagia dan positif, akan memengaruhi tindakan kita. Lebih jauh, tindakan akan memengaruhi kebiasaan, karakter, hingga nasib.

 

Orang yang berhati tenang akan tenang hidupnya, akan tenang matinya, dan akan tenang kehidupan akhiratnya, insyaAllah.

 

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al Fajr: 27-30)

 

dibuat Senin 20 September 2010, setelah selesai membaca buku “Quantum Ikhlas” dan menikmati film “Inception”

Advertisements
Categories: gagasan | 1 Comment

Merenungkan Kembali Orientasi Hidup

Hidup kita berasal dari mana? Sebenarnya kita hidup mau ngapain? Lalu, setelah hidup ini selesai, kita akan ke mana?

 

Pertanyaan-pertanyaan klise, namun begitu penting, sehingga sering disampaikan dalam pelatihan-pelatihan atau training-training. Saya sendiri pertama kali mendapat materi ini ketika SMP. Saya juga ingat, materi ini merupakan yang paling pertama disampaikan ketika masa orientasi siswa di SMA. Mungkin hampir semua di antara kita telah menerima materi ini. Dan juga, misalkan sekarang kita ditanya hal-hal seperti ini, kita—yang sudah dewasa dan memiliki jalan hidup masing-masing—tidak akan ambil pusing. Kita yakin bahwa kita telah mengerti hidup ini, sudah menentukan jalan hidup masing-masing, memiliki cita-cita untuk menjadi orang sukses, sehingga rasanya enggan untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini kembali.

 

Namun, faktanya, banyak orang-orang yang telah dewasa, bahkan sukses, perlu merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini. Kita ambillah contoh orientasi kebanyakan orang, terutama di Indonesia, dalam hidup ini.

 

Kira-kira sebagian besar orang tua kita merencakan hidup anaknya seperti ini: menyuruh anaknya belajar giat di sekolah dasar supaya masuk SMP negeri favorit, lalu masuk SMPN 5 Bandung, setelah itu ke SMAN 3 Bandung, kuliah di ITB atau kedokteran, kemudian S2 hingga S3 di luar negeri, mengambil program dokter spesialis di RSCM atau RSHS, kerja di perusahaan asing dengan gaji 4000 dolar per bulan, menjadi GM atau Dirut atau dokter spesialis di RS terkemuka, menjadi konsulen yang diminta mengisi di mana-mana, dan sebagainya.

 

Orang tua kita merencanakan hal ini untuk kita tentu alasannya satu: agar kita menjadi orang sukes dan hidup bahagia. Ya, tentu ini menjadi tujuan hidup kita dan kebanyakan manusia bumi: bahagia.

 

Katakanlah orang sukses itu mencapai tujuannya, yaitu hidup bahagia. Kemudian, pertanyaannya adalah, setelah hidup bahagia, lalu apa?

Mesti ngapain lagi?

Apa lagi yang mesti dilakukan?

Bukankah tujuan hidup sudah tercapai? Berarti selesai sudah, tidak ada lagi yang perlu dikerjakan di dunia ini…

 

Kenyatannya, orang-orang sukses yang dikatakan hidup bahagia itu banyak juga yang sebenarnya tidak bahagia. Ary Ginanjar Agustian, dalam buku ESQ-nya mengatakan, banyak pengusaha-pengusaha sukses, dirut, owner perusahaan dengan banyak cabang, yang gagal menggapai kebahagiaan. Sebagian dikatakan telah menyesal karena telah menjadi budak pekerjaannya, sebagian tidak mengerti apa lagi yang harus dilakukan, sebagian meninggalkan perusahaan raksasanya untuk mengecat kapal pribadinya, hingga ada yang bunuh diri.

 

Sebagian besar dari mereka mengatakan telah menggapai cita-cita mereka, telah mencapai tujuan hidup mereka, lalu muncul pertanyaan di kepala mereka, “Lalu, setelah ini apa?” Saya rasa, mereka merenungkan kembali pertanyaan-pertanyaan remeh seperti “Kita berasal dari mana? Apa yang mesti kita capai dalam hidup? Setelah hidup ini kita mau ke mana?”

 

Teman-teman, tentu setiap dari kita memiliki cita-cita atau tujuan akhir dalam hidup, bukan? Ada yang ingin menjadi dosen dengan segudang penelitian, ada yang ingin menjadi profesor yang mengisi berbagai perkuliahan, ada yang ingin menjadi dokter spesialis kandungan, anak, atau penyakit dalam yang banyak pasiennya, ada yang ingin mengabdi di daerah-daerah atau pulau terpencil, ada yang ingin membuka klinik bagi mereka yang tidak mampu, ada yang ingin terjun ke dunia politik untuk memperbaiki bahkan memimpin negara, ada yang ingin bekerja di badan internasional seperti WHO, dsb.

 

Yap, itulah cita-cita mulia kita, yang kita pasang setinggi langit, dan untuk menggapainya kita terus menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. Pernahkah teman-teman bertanya, setelah cita-cita ini tercapai, lalu apa yang akan kita lakukan? Apakah kita tinggal memanen benih yang kita tanam, lalu menunggu kematian? Lalu, setelah kematian menjemput, selesaikah sudah semua cerita? Semua cinta-cita dan pencapaian kita bagaikan hanyut ditelan ombak, tak bisa kita bawa setelah kita mati…

 

Mari kita mulai dari akhir. “Let’s begin from the end,” kata Stephen Covey.

 

Orang-orang mengatakan, akhir dari kehidupan adalah kematian, sehingga mereka berusaha bahagia sepuas-puasnya sebelum ajal datang. Ini adalah kesalahan yang amat besar.

 

Akhir dari hidup manusia sangatlah jelas, yaitu salah satu dari dua: surga atau neraka. Menurut sebagian orang, ini masalah kepercayaan atau keyakinan. Bagi saya, ini adalah kenyataan yang akan dihadapi setiap manusia, dari manusia paling pertama hingga manusia paling akhir.

 

Di surga, manusia akan mendapat kebahagiaan abadi. Di neraka, yang didapat adalah kesengsaraan tiada akhir. Sekali lagi, bagi saya ini adalah kenyataan yang akan dialami setiap manusia.

 

Bila seseorang memahami ini, tidak akan ada lagi pertanyaan, “Lalu, setelah ini apa?” Karena jelas: ia akan terus berusaha mencapai tujuan akhir hidupnya, yaitu surga. Hidup sukses tidak menjamin manusia masuk surga. Harta melimpah, keluarga sejahtera, pasien banyak, gelar berderet, pengabdian yang tulus, bahkan amal saleh yang banyak pun tidak menjamin seseorang masuk surga. Itu adalah hak prerogatif Sang Pencipta Surga. Ia menilai dengan seadil-adilnya, siapa yang akan masuk surga, siapa yang akan masuk neraka. Tidak ada penilaian yang lebih adil ketimbang penilaianNya. Akibatnya, setiap orang, akan terus berjuang hingga nafas terakhir agar mendapatkan kebahagiaan abadi. Ia tidak akan pusing-pusing bertanya apa yang akan dilakukan setelah ia sukses atau cita-cita tercapai, karena sukses dan cita-cita sebenarnya adalah berhasil melewati proses penilaian Allah Yang Maha Adil dengan wajah kemenangan.

 

Untuk mecapai stasiun terakhir ini—ujung akhir dari perjalanan hidup kita—ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Kalau orang bilang “banyak jalan menuju Roma” maka “banyak jalan menuju surga Allah” juga. Sebagaimana yang dihadiskan Nabi saw., bahwa surga memiliki banyak pintu, dan orang akan masuk ke pintu berdasarkan amalan unggulannya. Salah satu pintu yang kita kenal adalah Ar Rayyan, pintu bagi orang yang senang berpuasa.

 

Dengan banyaknya jalan ini, kita bisa memilih, jalan mana yang akan kita tempuh. Kita bisa saja menempuh lebih dari satu, atau memilih fokus di satu jalan yang akan menjadi amal unggulan kita. Tuntunan dan rambu-rambu jalan ini jelas, yaitu Al Quran dan sunnah Rasulullah saw., yang tidak akan berubah hingga akhir zaman.

 

Kita bisa menempuh jalan dengan menjadi dokter yang mengabdi ke daerah, atau menjadi dosen yang membagikan ilmu, atau ulama yang memperdalam ilmu-ilmu syar’i, atau wirausahawan yang membuka lapangan kerja dan memberi nafkah masyarakat, atau pegawai kantoran yang senantiasa mengajak mitra kerjanya untuk salat dan ngaji, atau pejabat negara yang mengurangi waktu tidurnya demi mewakilkan suara umat, atau pemimpin negara yang rela mengerahkan segenap waktu dan pikirannya agar tidak ada lagi rakyatnya yang kelaparan…

 

Ada 3 hal yang menjadi prinsip dalam memilih jalan dan amalan unggulan yang akan kita optimalkan:

 

1. Niat yang ikhlas. Pastikan, apapun pekerjaan kita, apapun peran kita, semua itu ikhlas karena Allah, bukan karena diri, bukan karena keluarga, bukan karena pujian dari rakyat. Bila niat kerja kita ikhlas 120% karena Allah, kita akan bahagia dalam beramal dan totalitas, agar Allah semakin memperberat timbangan amal kebaikan kita.

 

2. Cara yang benar. Untuk ibadah-ibadah yang syar’i dan dicontohkan, seperti salat, zaka, puasa, haji, dll, tata caranya harus mengikuti sunah Rasulullah saw. Kita bisa mengkaji ayat Quran atau hadis, bisa juga dengan bertanya ulama ahli. Benar di sini juga berarti profesional, tidak merugikan orang banyak, tapi memberi manfaat yang banyak dan tidak melanggar hal-hal yang jelas dilarang oleh Allah melalui QuranNya dan hadis Rasulullah saw.

 

3. Bersungguh-sungguh. Amalan yang tertinggi tingkatnya adalah jihad. Jihad secara berarti bersungguh-sungguh. Bila kita memilih menjadi seorang pengusaha, maka kita harus bersungguh-sungguh dalam usaha kita, bila memilih menjadi seorang peneliti, maka kita harus sungguh-sungguh dalam penelitian kita, dan seterusnya. Sehingga orang-orang akan melihat, betapa profesional dan memesonanya kinerja umat Islam, seperti ketika dahulu menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan.

 

Hal yang tidak boleh dilupakan ketika kita beramal di ladang amal kita masing-masing adalah, jangan sampai kita terjebak dengan tujuan perantara. Menjadi dokter yang sukses sehingga bisa mengabdi kepada masyarakt adalah tujuan perantara. Menjadi wirausahawan yang banyak membuka lapangan kerja sehingga memberi nafkah banyak orang adalah tujuan perantara. Menjadi pengabdi negara yang menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat juga merupakan tujuan perantara. Tujuan utama, atau yang paling akhir, jelas, yaitu kebahagiaan abadi, atau kesengsaraan tiada akhir. Itu hak kita untuk memilih salah satu di antara dua itu.

 

Bila kita terjebak dengan tujuan perantara, hingga menjadikannya sebagai tujuan utama, bisa dikatakan, semua kebaikan yang kita lakukan sia-sia buat kita. Seperti orang ateis yang menggalang dana dan turun ke bencana sebagai sukarelawan. Amalannya amat bermanfaat bagi orang-orang yang ditolongnya, tapi tidak bermanfaat bagi dirinya. Para korban bencana akan berterima kasih dan bersyukur, tapi hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah, karena ia tidak mengakui keberadaan penciptaNya.

 

“Mereka orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 104)

 

Yap…mari kita renungkan kembali orientasi hidup kita. Mari mulai dari akhir, akhir dari kehidupan kita. Lalu, tentukan, di akhir kehidupan nanti, kita ingin menjadi bagaimana (tentu ingin bahagia abadi, bukan?). Setelah itu, marilah kita berlomba-lomba menuju surga Allah yang seluas langit dan bumi melalui amalan-amalan unggulan kita. Bisa ini, bisa itu, bisa ini dan itu, banyak jalan menuju surga Allah!

 

Saat orang-orang tertunduk lesu karena kebingungan dengan pertanyaan “setelah ini apa?”, kita berlari ke depan, memancarkan pesona seorang Muslim yang bersungguh-sungguh memberi manfaat bagi semesta alam, sebagai jalan kita menuju kebahagiaan yang abadi…

 

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Hadid: 21)

 

-dibuat hari Jumat 17 September 2010

 

Categories: merenung | Leave a comment

Aktif Mewarnai

Ada yang pernah mendengar kalimat itu? Mungkin beberapa di antara kita sudah sangat familiar dengan kalimat itu, terutama pengurs DKM Asy-Syifaa’ 2010…yap, itu adalah bagian dari visi DKM Asy-Syifaa’ 2010. Visi lengkapnya adalah “Menjadikan DKM Asy-Syifaa’ Sebagai Keluarga yang Terbina, Mandiri, dan Aktif Mewarnai FK Unpad dalam Kesinergisan”

Ada 5 poin penting dar visi itu, yaitu KELUARGA, TERBINA, MANDIRI, AKTIF MEWARNAI, SINERGIS. Nah, saya sedikit ingin berbagi pandangan mengenai makna AKTIF MEWARNAI.

Sebenarnya, kita membawa warna apa dalam FK Unpad ini? Dan juga kenapa kita mesti memberi warna tersendiri?

Warna yang ingin kita siramkan adalah warna nilai-nilai Islami. Meskipun mayoritas mahasiswa FK Unpad adalah muslim, tapi mungkin tidak semuanya dalam kehidupan kesehariannya, terutama di lingkungan kampus FK, terhiasi dengan nilai-nilai Islami.

Nilai-nilai Islami yang dimaksud di sini adalah hal-hal simple dan dasar, seperti mengajak salat saat waktu salat datang, mengajak mereka untuk salat tepat waktu dan berjamaah, menyebarkan salam, senyum, dan nilai-nilai Islami lainnya. Dan, FK Unpad adalah lingkugan potensial yang tidak boleh disia-siakan.

Kalau kita lihat, dinamika kemahasiswaan FK Unpad sangat beragam. Bisa dibilang, dari pandangan saya pribadi, cita-cita senat untuk membuat 100% mahasiswa FK Unpad menjadi mahasiswa yang aktif mulai menunjukkan hasilnya. Partisipasi mahasiswa FK Unpad untuk mengikuti aktivitas kemahasiswaan sangat tinggi, dan mungkin tidak salah kalau saya menyebut angkanya hampir mencapai 100%. Ada yang aktif di senat itu sendiri, ada yang aktif di UKM fakultas—yang kalau kita lihat dalam skala fakultas, sangat banyak dan beragam—ada yang di BEM, BPM, dll. Mungkin partisipasi tertinggi adalah di UKM fakultas, yang banyak macamnya sehingga mungkin hampir mewakili semua minat mahasiswa FK. Adanya variasi wadah aktualisasi diri, sekaligus kultur FK Unpad sendiri yang menganggap “mahasiswa aktivis” memiliki kedudukan yang, istilahnya, berprestise, membuat aktivitas kemahasiswaan menjadi dinamis dan padat.

Tingginya angka aktivitas mahasiswa, sesungguhnya, adalah peluang terbesar untuk menjadikannya sebagai pintu masuk nilai-nilai Islami. Mahasiswa yang rela mengorbankan waktunya untuk berkegiatan bahkan ikut berpikir dalam kemahasiswaan, cenderung memiliki semangat pembelajaran yang tinggi. Hal-hal apa pun yang dianggap sebagai nilai yang dapat mengembangkan potensinya akan diserap dalam-dalam. Suatu kondisi “pembelajaran tinggi” inilah yang seharusnya dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk “diwarnai” dengan nilai-nilai Islami. Mereka para aktivis, yang cenderung berpikir kritis, akan mudah menerima berbagai inspirasi, dan kita harus meyakinkan mereka bahwa Islam adalah inspirasi terbaik dalam hidup ini. Ya, inspirasi terbaik, bahkan bukan hanya di masa mahasiswa, tapi di sepanjang waktu hingga masa hidup seorang manusia berakhir.

Lalu, bagaimana kita, kader-kader Asy-Syifaa’ (yang saya tekankan di sini adalah KADER bukan pengurus, karena pengertian kader dan pengurus beda. Kader adalah mereka yang mengikuti pembinaan dan kaderisasi Asy-Syifaa’, sedangkan pengurus adalah yang daftar dan ikut wawancara kepengurusan) dapat mewarnai para mahasiswa yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing? Sekali lagi saya tekankan, nilai-nilai Islami di sini adalah hal-hal dasar dan simple, bukan hal-hal khusus seperti ta’lim, pengajian, ceramah, tahsin quran, dll.

Contoh mudah hal yang bisa kita warnai adalah musyawarah mahasiswa baru-baru ini. Bagaimana kita bisa mewarnai musma dengan nilai-nilai Islami, padahal kan itu bukan majelis taklim, bukan forum mentoring, dan tidak semuanya muslim?? Oh, banyak sekali yang bisa kita warnai. Saudari kita, Tazkia, pernah membuat note tentang musma yang tidak menghiraukan waktu magrib, padahal, salat magrib adalah ibadah wajib yang primer dan kita semua tahu itu. Nah, sudah menjadi peran dan tanggung jawab kita, kader Asy-Syifaa’ yang hadir di musma itu, mengingatkan forum tersebut untuk break salat magrib. Sebagai peserta musma, kita bisa angkat tangan dan memberi masukan untuk menghentikan musma sementara waktu. Karena itu adalah musyawarah mahasiswa, semua pendapat mahasiswa yang hadir seharusnya didengar dan dilaksanakan bila forum menyepakatinya. Lebih ampuh lagi pewarnaannya kalau kita adalah pimpinan musyawarah itu, yang memiliki suara yang menjadi pusat perhatian forum. Pemimpin forum akan sangat mudah memberi masukan untuk mem-break musma sementara untuk salat.

Khusus tentang pimpinan forum, lebih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan kalau kita memegang amanah tersebut. Misalnya, kita memimpin suatu rapat senat atau UKM nonDKM atau kepanitiaan, kita dapat dengan mudah meminta peserta rapat laki-laki untuk duduk di sebelah kanan dan peserta rapat perempuan duduk di sebelah kiri. Tanpa kita jelaskan kalau itu bertujuan mencegah ikhtilat (bercampur baur ikhwan-akhwat), mungkin sebagian besar dari mereka akan “iya iya aja”.

Kalau kita memimpin rapat yang lebih besar lagi (nonDKM), kita bisa meminta peserta untuk tilawah sebelum mulai rapat atau memulai rapat dengan basmalah. Dan, saya tidak pernah menemukan ada peserta nonis yang protes karena adanya tilawah quran.

Tapi, hal-hal strategis itu mungkin hanya bisa kita lakukan kalau kita memegang posisi strategis. Ya, benar, karena sekali lagi “kita” yang dimaksud adalah KADER ASY-SYIFAA’ bukan pengurus. Kader Asy-Syifaa’ tidak harus menjadi pengurus, yang penting ia mengikuti pembinaan kaderisasi Asy-Syifaa’. Bahkan, kondisi dakwah kampus yang ideal adalah kader-kader lembaga dakwah bisa menyebar di berbagai posisi strategis di kampus, misalnya di BEM, BPM, senat, UKM-UKM yang massanya banyak, dll. Namun, tidak memegang posisi strategis dan hanya menjadi staf juga bisa menjadi langkah pewarnaan yang progresif kalau kita tidak hanya terpaku berdakwah di dalam masjid saja.

Atau, kita tidak perlu berada dalam organisasi, kepanitiaan, atau acara formal untuk mewarnai FK Unpad. Ketika ngobrol, diskusi, belajar bareng, bahkan maen, seharusnya bisa menjadi momen-momen berharga untuk mewarnai dengan nilai-nilai Islami. Artinya, seorang kader dakwah, dalam cerita kita kader Asy-Syifaa’, tidak boleh eksklusif dan mestinya bisa bergaul dengan berbagai kalangan. Karena, kalau hanya bergaul dengan sesama kader saja dan menghindari yang bukan kader, yaah, jadi dia mewarnai siapa?

Intinya, aktif mewarnai tidak harus berupa kegiatan-kegiatan formal seperti mengadakan taklim, ceramah, mentoring, belajar baca quran, dll. Tapi, dalam aktivitas kepanitiaan, organisasi lain, belajar bareng, bahkan ketika maen, kita aktif memberi warna-warna Islam, dengan salam, mengucapkan perkataan yang baik, mengingatkan untuk salat, atau bisa lebih progresif lagi kalau kita memegang posisi strategis di sebuah forum/kepanitiaan/organisasi.

Di zaman ini, kader-kader Asy-Syifaa’ seharusnya tidak lagi dikenal sekedar sebagai “orang-orang masjid” tapi sebagai muslim yang berbaur dan aktif dalam berbagai kegiatan sebagai “pemberi warna”. Warna terang yang cahayanya takkan padam meskipun orang-orang kafir benci.

 

tulisan ini dibuat Senin 15 Maret 2010, di awal-awal kepengurusan DKM Asy-Syifaa’ FK Unpad 2010

Categories: gajelas | Leave a comment

BORN TO BE LEADER, FIGHT LIKE A WARRIOR

Selalu menarik untuk membahas segala hal yang berhubungan dengan kepemimpinan. Kepemimpinan menjadi hal yang mutlak untuk ada, mempertimbangkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Adalah menjadi kecenderungan setiap manusia untuk berkelompok, berkumpul dalam komunitas tertentu, dengan berbagai tujuan. Ada yang karena untuk melindungi diri, memenuhi kebutuhan hidup, juga karena memiliki latar berlakang yang sama, memiliki tujuan yang sama, atau bahkan mempunyai musuh bersama. Dan, adalah suatu kecenderungan juga (lebih tepat lagi fitrah, alamiah) di tengah-tengah kumpulan atau komunitas itu tumbuh/lahir/ditunjuk seorang pemimpin.
Kata-kata yang terakhir menjadi bagian lain menarik untuk dibahas juga. Bagaimana adanya pemimpin? Lahir atau dilahirkan?

Bila kita mengamati pemimpin-pemimpin yang ada, mungkin kita dapat menyimpulkan bahwa pemimpin dapat lahir ataupun dilahirkan. Suatu keadaan tertentu, yang memerlukan pemecahan masalah dan penyelesaian, umumnya melahirkan pemimpin, karena kebutuhan kondisi tersebut. Atau juga, suatu komunitas atau kumpulan, yang terbentuk karena suatu hal. Umumnya komunitas tersebut akan melahirkan (baca: menunjuk) salah satu di antara mereka untuk memimpin. Kondisi lainnya, ada seorang yang memiliki tujuan tertentu, atau bisa disebut visi. Visi atau tujuan tersebut dia sampaikan ke orang-orang, dan sebagian atau semua orang tersebut mau mengikutinya karena dapat menerima visi tersebut. Atau juga, dengan visi tersebut, orang itu melakukan tindakan atau pekerjaan, lalu orang-orang melihatnya, menerimanya, dan mau ikut bekerja bersamanya, untuk mencapai tujuan tertentu tersebut.

Dapat dikatakan, proses “kelahiran” pemimpin dapat terjadi secara “alamiah” maupun “buatan”. Buatan, yang lahir melalui proses pemilihan atau penunjukan. Alamiah, orang-orang mengikuti pemimpin tersebut karena dapat menerima atau sepaham dengan tujuan pemimpin tersebut. Kita juga dapat mengambil kesimpulan, bahwa tidak semua orang berkesempatan pada proses yang pertama. Namun pada proses yang kedua, setiap orang (atau sebagian orang) akan melewatinya.

Lahir sebagai pemimpin, itu adalah takdir setiap umat manusia, bahkan sebelum lahir ke dunia. Menjadi pemimpin (khalifah) bagi bumi, itulah tugas manusia. Artinya, setiap manusia yang lahir pasti menjadi pemimpin, atau lebih tepatnya, adalah seorang pemimpin. Di antara para pemimpin itu, ada yang menjadi pemimpin bagi mereka, dan di antara pemimpin-pemimpin itu, ada pula yang menjadi pemimpin bagi mereka.

Semua manusia adalah pemimpin, namun sebagian dari mereka menjadi pemimpin bagi mereka, hanya sebagian. Dan sebagian itu adalah orang-orang dengan criteria tertentu saja, atau bisa disebut orang-orang pilihan. Namun intinya tidak berubah, bahwa setiap orang adalah pemimpin. Masing-masing individu (sebenarnya) memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin bagi yang lain, tapi tentu saja, dalam kepemimpina, ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang yang dipimpin itu juga adalah pemimpin.

Pada hakikatnya, kepemimpinan tidak harus bersifat structural. Bisa saja orang yang menjadi staff adalah pemimpin yang sesungguhnya, karena kerjanya, kontribusinya, kemampuannya untuk menggerakkan orang-orang dan memecahkan masalah, dll. Orang yang secara structural disebut ketua atau kepala belum tentu seorang pemimpin. Bisa saja ia mendapatkan jabatan tersebut karena keturunan atau koneksi, padahal yang memimpinnya adalah orang lain, sedangkan ia hanya duduk dan mengamati saja.

Orang yang dipimpin juga pemimpin bagi dirinya sendiri untuk mematuhi instruksi pemimpinnya dan melakukan tugasnya dengan maksimal. Layaknya seorang prajurit, yang tidak ragu untuk menaati perintah dan melaksanakannya bahkan bila perlu mengorbankan jiwanya. Seorang pemimpin pun adalah seorang prajurit dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang berupa mengatur, mengorganisasi, dan menggerakkan. Sifat totalitas, itulah sifat yang diperlukan dalam mengerjakan suatu pekerjaan atau amanah. Layaknya sifat itu perlu dimiliki setiap manusia, yang berarti setiap pemimpin.

Dapat disimpulkan, bahwa mansia dilahirkan untuk menjadi pemimpin, bagi bumi, dirinya sendiri, dan/atau bagi sebagian yang lain, tergantung perannya. Dan semua manusia pasti merupakan seorang prajurit, karena pemimpin yang hakiki hanyalah Allah, Tuhan Semesta Alam. Manusia diciptakan dan dilahirkan untuk memimpin layaknya seorang pemimpin, dan berjuang layaknya seorang prajurit.

 

tulisan ini saya buat sebagai syarat mengikuti Latihan Kepemimpinan dan Manajerial Mahasiswa (LKMM) yang diselengarakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Wilayah 2, Juli 2009

Categories: gagasan | Leave a comment

Cinta Abadi di Lembah Kasih

Andai kehendak Illah begitu mudah untuk diketahui
siapa sangka keringat ini akan membasahi cinta yang kami rasakan
namun aku tak pernah berpikir apa yang akan kami temui kelak
yang ada hanyalah langkah-langkah kaki yang begitu berat untuk diangkat
dan mata-mata yang ingin sekali mengatakan bahwa dirinya telah putus asa
apakah puncak itu ada?
adakah cinta abadi tumbuh?
di sini bukanlah tempat bagi hati yang lemah
karena yang lemah hanya akan menyusahkan
di sini juga bukanlah tempat orang-orang yang putus asa
karena yang hadir di sini bukanlah jiwa-jiwa yang cengeng

warna coklat, warna tanah…
warna hijau, warna daun…
seakan-akan mereka hanyalah angin tak bersuara belaka
tak kami kenal, tak kami ingin tahu
karena kami hanya ingin maju, maju, dan terus maju
sebelum jiwa ini berhenti untuk mengharapkan kasih

cinta Illahi, yang ingin kami rasakan dalam keringat kami, dalam air mata kami
yang kami rindukan selama ini
hingga akhirnya bumi ini seutuhnya menantikan cinta ini,
cinta yang ditaburkan oleh keindahan bunga edelweiss dan negeri awan di puncak pangrango

9 orang dalam 9 jam di tengah-tangah kabut yang turun
aku tidak menyesalinya, tidak akan pernah
karena aku telah mempelajari cinta di lembah kasih
lembah Mandala Wangi

 

-tulisan ini dibuat hari Senin 13 Juli 2009 setelah turun gunung Pangrango

Categories: merenung | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: