Memilih Karir untuk Kesuksesan Pribadi, juga Negeri

Hari Rabu, 26 januari 2011 sektiar pukul 10.30, di Asrama Pajajaran 2, di suatu kamar lantai 2, terjadi ‘diskusi hangat’.

 

“What social justice issue emerge in vaccine production by a multinational pharmaceutical company based on microbe from developing countries?”

“Itu jawabnya E: location of the vaccine production.”

“Hah? Kenapa?”

“Ini tentang kasus Namru. Maneh inget ga?”

“Namru?”

“Iya. Laboratorium penelitian medis amerika yang ada di Indonesia. Waktu itu pernah ada peneliti Indonesia yang membawa virus flu burung Indonesia ke Amerika. Terus dibuat vaksin oleh Amerika, dijual deh ke Indonesia dengan harga mahal.”

“Oohh, jadi kenapa penelitiannya engga di Indonesia aja ya?”

“Iya. Tapi ceuk aing mah ga apa-apa da. Kan itu hak peneliti untuk mengirim virusnya ke luar negeri.”

“Yahh, tapi itu kan merugikan negeri sendiri. Vaksin yang dibuat dan dijual Amerika pasti mahal. Padahal itu virusnya berasal dari negeri kita sendiri. Kenapa mesti bayar mahal. Merugikan negara namanya…”

 

Masih tersimpan dalam memori kita, bukan, mengenai kasus wabah flu burung? Dalam buku karangannya sendiri, ‘Saatnya Dunia Berubah’, dikisahkan perjuangan Menteri Kesehatan kabinet Indonesia Bersatu I—Siti Fadilah Supari—menentang pengiriman virus H5N1 Indonesia ke WHO. Hal ini dikarenakan beliau tahu, bahwa virus itu akan dikirim ke perusahaan farmasi AS, yang kemudian akan mengolah virus itu menjadi vaksin. Kemudian, vaksin itu akan dijual dengan harga mahal ke negara-negara yang sedang wabah flu burung—yaitu negara yang mengirim mikroba mereka sendiri. Beliau pun berpikir, mengapa negara yang memiliki hak paten terhadap virus penyebab penyakit, tidak mendapat apa-apa—malah mesti membayar mahal. Sebaliknya, negara AS mendapatkan untung besar.

 

Dalam buku ‘harian’ beliau tersebut, diceritakan bagaimana perjuangan habis-habisan beliau menentang kebijakan WHO yang merugikan Indonesia. Jika ingin mengetahui lebih lanjut, silakan membeli buku tersebut di toko buku kesayangan Anda^^

 

Sedikit tambahan. Dalam suatu seminar yang diadakan oleh FKDF mengenai flu babi, dr. Titi sebagai narasumber juga mengisahkan bagaimana Menkes tersebut menolak untuk membeli vaksin flu babi yang dijual AS. Beliau yakin, kasus flu babi bukanlah wabah pandemik, melainkan hanya dibesar-besarkan oleh media.

……

 

Hari yang sama, pukul 12.13, Dani Ferdian menghampiri dan berkata, “Kam, saya minta tolong ya. Ini tolong isi kuesioner.”

“Kalo saya ngisi bakal dapat apa, Dan?”

“Dapat pahala (insyaAllah).”

 

Lalu saya pun mengisi kuesioner seputar rencana responden setelah lulus menjadi dokter nanti.

 

Rencana setelah lulus menjadi dokter nanti. Yahh, apa rencana saya? Saya mau ke mana? Akan menjadi dokter seperti apa saya nanti? Saya pribadi memperkirakan, mayoritas responden (yaitu mahasiswa FK Unpad) akan memilih untuk mengambil spesialis.

 

Sebenarnya banyak sekali pilihan profesi setelah seseorang lulus menjadi dokter. Bahkan, banyak juga dokter yang tidak menjadi klinisi. Saya secara pribadi memilih berkeinginan menjadi birokrat (eksekutif), yang akan bekerja di Dinas atau Departemen Kesehatan.

 

Mungkin ini pertanyaan yang membosankan, tapi ada baiknya kita renungkan lagi. Setelah lulus nanti, saya ingin bekerja sebagai apa? Ingin menjadi orang yang bagaimana? Punya kesibukan apa? Pilihannya sangatlah banyak.

 

Di antara pilihan-pilihan itu, tiap orang tentu memiliki keinginan yang sama, yaitu ‘kesuksesan karir pribadi’. Ambil contoh alumni-alumni di suatu institut negeri. Saya tidak mengambil data ilmiahnya, tapi dari apa yang didengar, kebanyakan lulusannya memiliki keinginan untuk bekerja di perusahaan asing. Perusahaan minyak asing atau semacamnya, yang akan mengirim pekerjanya ke timur tengah, atau Eropa, dengan gaji USD 4000 per bulan. Tidak hanya sebatas menjadi pekerja, mimpi untuk menduduki posisi penting di perusahaan asing itu pun berusaha untuk diwujudkan.

 

Yah, walaupun beberapa perusahaan asing itu adalah company yang menyedot sumber daya alam Indonesia, yang—saya dengar—kebanyakan keuntungannya untuk negara mereka sendiri.

 

Selain itu, siapa yang tidak berkeinginan untuk bekerja dan tinggal di luar negeri? Di Eropa atau Amerika, atau Uni Emirat Arab, yang negaranya begitu maju dan tata kotanya indah. Bersih, udaranya sejuk, fasilitas jauh lebih maju dibanding Indonesia.

 

Itu semua tidaklah salah. Bahkan pencapaian yang luar biasa. Siapa pun berhak memiliki impian yang tinggi tentang jenjang karir dan kehidupannya. Tiap manusia tentu ingin hidup sukses, kebutuhan terpenuhi, memiliki keluarga bahagia yang amat terfasilitasi, kemudian anaknya juga mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari orang tuanya.

 

Selamat berusaha menggapai mimpi dan cita-cita. Tapi, ketika berada di kesuksesan tersebut, cobalah merenung, tidakkah kita berkeinginan memberikan manfaat untuk negeri ini, meskipun sedikit?

 

Kita orang-orang luar biasa karena ingin sukses (hanya orang-orang menyedihkanlah yang tidak ingin sukses) dan berusaha mewujudkannya dengan cara yang halal. Dan, kita juga menginginkan negeri ini sukses—seperti kita—bukan?

 

Sebaliknya, untuk mengabdi kepada negeri, tidak perlu melupakan cita-cita kesuksesan pribadi. Sejarah menceritakan, kebanyakan orang-orang yang mengubah dunia adalah mereka yang sukses secara pribadi.

 

Intinya, apa pun pekerjaan nanti, cobalah memberikan manfaat untuk negeri ini. Dan, ketika mempertimbangkan karir, pilihlah yang tidak akan merugikan negara. Menjadi sukses banyak jalannya, tidak harus merugikan negeri. Bahkan kesuksesan pribadi dapat dicapai dengan menyukseskan negeri.

 

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain” (Al Hadits)

 

26 Januari 2011, pukul 18:57

@rumah setelah salat magrib

-pukul 12.15: mahasiswa FK Unpad angkatan 2008 bersorak gembira setelah diumumkan bahwa tidak ada ujian esok

-pukul 14.52: jari kaki memar gara-gara terpelesat saat main tenis meja di bale 4


*Pertanyaan menarik: siapakah peneliti Indonesia yang membawa virus H5N1 Indonesia—meskipun telah dilarang oleh Depkes—ke WHO?

Advertisements
Categories: gajelas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: