Merenungkan Kembali Orientasi Hidup

Hidup kita berasal dari mana? Sebenarnya kita hidup mau ngapain? Lalu, setelah hidup ini selesai, kita akan ke mana?

 

Pertanyaan-pertanyaan klise, namun begitu penting, sehingga sering disampaikan dalam pelatihan-pelatihan atau training-training. Saya sendiri pertama kali mendapat materi ini ketika SMP. Saya juga ingat, materi ini merupakan yang paling pertama disampaikan ketika masa orientasi siswa di SMA. Mungkin hampir semua di antara kita telah menerima materi ini. Dan juga, misalkan sekarang kita ditanya hal-hal seperti ini, kita—yang sudah dewasa dan memiliki jalan hidup masing-masing—tidak akan ambil pusing. Kita yakin bahwa kita telah mengerti hidup ini, sudah menentukan jalan hidup masing-masing, memiliki cita-cita untuk menjadi orang sukses, sehingga rasanya enggan untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini kembali.

 

Namun, faktanya, banyak orang-orang yang telah dewasa, bahkan sukses, perlu merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini. Kita ambillah contoh orientasi kebanyakan orang, terutama di Indonesia, dalam hidup ini.

 

Kira-kira sebagian besar orang tua kita merencakan hidup anaknya seperti ini: menyuruh anaknya belajar giat di sekolah dasar supaya masuk SMP negeri favorit, lalu masuk SMPN 5 Bandung, setelah itu ke SMAN 3 Bandung, kuliah di ITB atau kedokteran, kemudian S2 hingga S3 di luar negeri, mengambil program dokter spesialis di RSCM atau RSHS, kerja di perusahaan asing dengan gaji 4000 dolar per bulan, menjadi GM atau Dirut atau dokter spesialis di RS terkemuka, menjadi konsulen yang diminta mengisi di mana-mana, dan sebagainya.

 

Orang tua kita merencanakan hal ini untuk kita tentu alasannya satu: agar kita menjadi orang sukes dan hidup bahagia. Ya, tentu ini menjadi tujuan hidup kita dan kebanyakan manusia bumi: bahagia.

 

Katakanlah orang sukses itu mencapai tujuannya, yaitu hidup bahagia. Kemudian, pertanyaannya adalah, setelah hidup bahagia, lalu apa?

Mesti ngapain lagi?

Apa lagi yang mesti dilakukan?

Bukankah tujuan hidup sudah tercapai? Berarti selesai sudah, tidak ada lagi yang perlu dikerjakan di dunia ini…

 

Kenyatannya, orang-orang sukses yang dikatakan hidup bahagia itu banyak juga yang sebenarnya tidak bahagia. Ary Ginanjar Agustian, dalam buku ESQ-nya mengatakan, banyak pengusaha-pengusaha sukses, dirut, owner perusahaan dengan banyak cabang, yang gagal menggapai kebahagiaan. Sebagian dikatakan telah menyesal karena telah menjadi budak pekerjaannya, sebagian tidak mengerti apa lagi yang harus dilakukan, sebagian meninggalkan perusahaan raksasanya untuk mengecat kapal pribadinya, hingga ada yang bunuh diri.

 

Sebagian besar dari mereka mengatakan telah menggapai cita-cita mereka, telah mencapai tujuan hidup mereka, lalu muncul pertanyaan di kepala mereka, “Lalu, setelah ini apa?” Saya rasa, mereka merenungkan kembali pertanyaan-pertanyaan remeh seperti “Kita berasal dari mana? Apa yang mesti kita capai dalam hidup? Setelah hidup ini kita mau ke mana?”

 

Teman-teman, tentu setiap dari kita memiliki cita-cita atau tujuan akhir dalam hidup, bukan? Ada yang ingin menjadi dosen dengan segudang penelitian, ada yang ingin menjadi profesor yang mengisi berbagai perkuliahan, ada yang ingin menjadi dokter spesialis kandungan, anak, atau penyakit dalam yang banyak pasiennya, ada yang ingin mengabdi di daerah-daerah atau pulau terpencil, ada yang ingin membuka klinik bagi mereka yang tidak mampu, ada yang ingin terjun ke dunia politik untuk memperbaiki bahkan memimpin negara, ada yang ingin bekerja di badan internasional seperti WHO, dsb.

 

Yap, itulah cita-cita mulia kita, yang kita pasang setinggi langit, dan untuk menggapainya kita terus menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. Pernahkah teman-teman bertanya, setelah cita-cita ini tercapai, lalu apa yang akan kita lakukan? Apakah kita tinggal memanen benih yang kita tanam, lalu menunggu kematian? Lalu, setelah kematian menjemput, selesaikah sudah semua cerita? Semua cinta-cita dan pencapaian kita bagaikan hanyut ditelan ombak, tak bisa kita bawa setelah kita mati…

 

Mari kita mulai dari akhir. “Let’s begin from the end,” kata Stephen Covey.

 

Orang-orang mengatakan, akhir dari kehidupan adalah kematian, sehingga mereka berusaha bahagia sepuas-puasnya sebelum ajal datang. Ini adalah kesalahan yang amat besar.

 

Akhir dari hidup manusia sangatlah jelas, yaitu salah satu dari dua: surga atau neraka. Menurut sebagian orang, ini masalah kepercayaan atau keyakinan. Bagi saya, ini adalah kenyataan yang akan dihadapi setiap manusia, dari manusia paling pertama hingga manusia paling akhir.

 

Di surga, manusia akan mendapat kebahagiaan abadi. Di neraka, yang didapat adalah kesengsaraan tiada akhir. Sekali lagi, bagi saya ini adalah kenyataan yang akan dialami setiap manusia.

 

Bila seseorang memahami ini, tidak akan ada lagi pertanyaan, “Lalu, setelah ini apa?” Karena jelas: ia akan terus berusaha mencapai tujuan akhir hidupnya, yaitu surga. Hidup sukses tidak menjamin manusia masuk surga. Harta melimpah, keluarga sejahtera, pasien banyak, gelar berderet, pengabdian yang tulus, bahkan amal saleh yang banyak pun tidak menjamin seseorang masuk surga. Itu adalah hak prerogatif Sang Pencipta Surga. Ia menilai dengan seadil-adilnya, siapa yang akan masuk surga, siapa yang akan masuk neraka. Tidak ada penilaian yang lebih adil ketimbang penilaianNya. Akibatnya, setiap orang, akan terus berjuang hingga nafas terakhir agar mendapatkan kebahagiaan abadi. Ia tidak akan pusing-pusing bertanya apa yang akan dilakukan setelah ia sukses atau cita-cita tercapai, karena sukses dan cita-cita sebenarnya adalah berhasil melewati proses penilaian Allah Yang Maha Adil dengan wajah kemenangan.

 

Untuk mecapai stasiun terakhir ini—ujung akhir dari perjalanan hidup kita—ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Kalau orang bilang “banyak jalan menuju Roma” maka “banyak jalan menuju surga Allah” juga. Sebagaimana yang dihadiskan Nabi saw., bahwa surga memiliki banyak pintu, dan orang akan masuk ke pintu berdasarkan amalan unggulannya. Salah satu pintu yang kita kenal adalah Ar Rayyan, pintu bagi orang yang senang berpuasa.

 

Dengan banyaknya jalan ini, kita bisa memilih, jalan mana yang akan kita tempuh. Kita bisa saja menempuh lebih dari satu, atau memilih fokus di satu jalan yang akan menjadi amal unggulan kita. Tuntunan dan rambu-rambu jalan ini jelas, yaitu Al Quran dan sunnah Rasulullah saw., yang tidak akan berubah hingga akhir zaman.

 

Kita bisa menempuh jalan dengan menjadi dokter yang mengabdi ke daerah, atau menjadi dosen yang membagikan ilmu, atau ulama yang memperdalam ilmu-ilmu syar’i, atau wirausahawan yang membuka lapangan kerja dan memberi nafkah masyarakat, atau pegawai kantoran yang senantiasa mengajak mitra kerjanya untuk salat dan ngaji, atau pejabat negara yang mengurangi waktu tidurnya demi mewakilkan suara umat, atau pemimpin negara yang rela mengerahkan segenap waktu dan pikirannya agar tidak ada lagi rakyatnya yang kelaparan…

 

Ada 3 hal yang menjadi prinsip dalam memilih jalan dan amalan unggulan yang akan kita optimalkan:

 

1. Niat yang ikhlas. Pastikan, apapun pekerjaan kita, apapun peran kita, semua itu ikhlas karena Allah, bukan karena diri, bukan karena keluarga, bukan karena pujian dari rakyat. Bila niat kerja kita ikhlas 120% karena Allah, kita akan bahagia dalam beramal dan totalitas, agar Allah semakin memperberat timbangan amal kebaikan kita.

 

2. Cara yang benar. Untuk ibadah-ibadah yang syar’i dan dicontohkan, seperti salat, zaka, puasa, haji, dll, tata caranya harus mengikuti sunah Rasulullah saw. Kita bisa mengkaji ayat Quran atau hadis, bisa juga dengan bertanya ulama ahli. Benar di sini juga berarti profesional, tidak merugikan orang banyak, tapi memberi manfaat yang banyak dan tidak melanggar hal-hal yang jelas dilarang oleh Allah melalui QuranNya dan hadis Rasulullah saw.

 

3. Bersungguh-sungguh. Amalan yang tertinggi tingkatnya adalah jihad. Jihad secara berarti bersungguh-sungguh. Bila kita memilih menjadi seorang pengusaha, maka kita harus bersungguh-sungguh dalam usaha kita, bila memilih menjadi seorang peneliti, maka kita harus sungguh-sungguh dalam penelitian kita, dan seterusnya. Sehingga orang-orang akan melihat, betapa profesional dan memesonanya kinerja umat Islam, seperti ketika dahulu menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan.

 

Hal yang tidak boleh dilupakan ketika kita beramal di ladang amal kita masing-masing adalah, jangan sampai kita terjebak dengan tujuan perantara. Menjadi dokter yang sukses sehingga bisa mengabdi kepada masyarakt adalah tujuan perantara. Menjadi wirausahawan yang banyak membuka lapangan kerja sehingga memberi nafkah banyak orang adalah tujuan perantara. Menjadi pengabdi negara yang menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat juga merupakan tujuan perantara. Tujuan utama, atau yang paling akhir, jelas, yaitu kebahagiaan abadi, atau kesengsaraan tiada akhir. Itu hak kita untuk memilih salah satu di antara dua itu.

 

Bila kita terjebak dengan tujuan perantara, hingga menjadikannya sebagai tujuan utama, bisa dikatakan, semua kebaikan yang kita lakukan sia-sia buat kita. Seperti orang ateis yang menggalang dana dan turun ke bencana sebagai sukarelawan. Amalannya amat bermanfaat bagi orang-orang yang ditolongnya, tapi tidak bermanfaat bagi dirinya. Para korban bencana akan berterima kasih dan bersyukur, tapi hal itu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah, karena ia tidak mengakui keberadaan penciptaNya.

 

“Mereka orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 104)

 

Yap…mari kita renungkan kembali orientasi hidup kita. Mari mulai dari akhir, akhir dari kehidupan kita. Lalu, tentukan, di akhir kehidupan nanti, kita ingin menjadi bagaimana (tentu ingin bahagia abadi, bukan?). Setelah itu, marilah kita berlomba-lomba menuju surga Allah yang seluas langit dan bumi melalui amalan-amalan unggulan kita. Bisa ini, bisa itu, bisa ini dan itu, banyak jalan menuju surga Allah!

 

Saat orang-orang tertunduk lesu karena kebingungan dengan pertanyaan “setelah ini apa?”, kita berlari ke depan, memancarkan pesona seorang Muslim yang bersungguh-sungguh memberi manfaat bagi semesta alam, sebagai jalan kita menuju kebahagiaan yang abadi…

 

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Hadid: 21)

 

-dibuat hari Jumat 17 September 2010

 

Advertisements
Categories: merenung | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: